Aitai

Aitai
Dia Atau Dirinya?



Heo Dipyo mengangkat dagu sang Putri agar kedua mata Putri Ha-Neul Arang hanya tertuju padanya.


Deg


Deg


Deg


Ha-Neul merasakan debaran jantung yang berdentam dentum tak karuan.


“Bukankah aku sudah memohon maaf padamu? Apa kau sedang membalas perbuatanku, karena itu kau menerima rencana pernikahanmu dengan Hyun-Jae?” ratap Heo Dipyo merana.


“Aku telah melupakan keberadaanmu” jawab Ha-Neul jujur sekaligus tegas. Sorot mata berapi-api muncul di mata Heo Dipyo.


“Kau ingin lari dari ku. Lari dari kenyataan bahwa dari dulu kau mencintai Heo Dipyo. Hanya karena seorang Gadis yang di bayar Ayahandamu, kau secepat kilat ingin membuangku dari hidupmu.”


“Pergilah Heo, kita bisa dapat masalah jika terus berdua seperti ini” jawab Ha-Neul berusaha melepaskan diri tapi Laki-laki bersurai hitam itu justru semakin erat mencengkeramnya.


“Begini saja. Bibir bisa berkata bohong Ha-Neul bagaimana jika kau membuktikan kata-kataku, dengan satu cara? Jiwamu yang akan berteriak mengatakan kau, mencintaiku” tegas Heo Dipyo, mencengkeram tengkuk sang Putri, mendekatkan wajahnya ke wajah Ha-Neul hingga bibir keduanya pun semakin mendekat.


SriiiIIIIIing


Tiba-tiba sebuah benda tajam menempel tepat di leher Heo Dipyo.


“Siapa yang mengizinkanmu menyentuh milikku?!” seru seseorang membuat Heo gagal melakukannya.


“Dari awal Putri Ha-Neul adalah milik saya Tuan Muda” jawaban Heo Dipyo membuat ujung pedang Hyun-Jae sedikit menggoresnya hingga berdarah.


“Mari kita pastikan saja Putri memilih siapa diantara kita. Cepat lepaskan, agar Putri memilih tanpa tekanan” kata Hyun-Jae memberi perintah. Maka Heo Dipyo melepaskan cengkeramannya. Ha-Neul mundur menjauh baik dari Heo Dipyo maupun Hyun-Jae.


Ha-Neul...kedua Laki-laki ini mencoba memastikan kedudukan mereka di hatimu. Tapi..., kenapa rasanya berbeda? Kenapa sangat berbeda? Hati Hamari merasakan kejanggalan. Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul di kepala Hamari. Itu bukan ingatan Hamari tapi ingatan Ha-Neul.


“Berhenti memfitnah orang tuaku Heo Dipyo. Ini yang dipikirkan seorang Ha-Neul. Kau tidak benar mencintaiku tapi hanya terobsesi padaku. Kau!! Memaksakan kehendakmu, setiap keinginanmu, tapi selalu mengabaikan segala harapanku padamu. Hubungan kita sudah hancur bahkan sebelum Hyun-Jae masuk dalam hidupku!” teriak Ha-Neul histeris.


Hyun-Jae lengah sehingga Heo Dipyo sempat mengambil pedangnya dari dalam sarung pedang yang melekat di pinggangnya. Ha-Neul terkejut melihat Heo Dipyo mengayunkan pedang ke arah leher Hyun-Jae. Tapi refleks seorang Hyun-Jae di atas rata-rata sehingga ia bisa menggunakan pedang di tangannya sebagai pertahanan.


Traaang!!


Taang!!


Tang !!


Berulang kali terdengar suara pedang beradu. Heo Dipyo menggiring musuhnya menuju Ha-Neul. Ia langsung meraih pinggang sang Putri hingga membentur tubuhnya. Hyun-Jae naik pitam!! Ia berusaha membuat jarak antara Ha-Neul dan Heo Dipyo dengan membidik bahu Heo Dipyo yang menempel pada Ha-Neul.


Tipuannya di ketahui Heo terbukti ia tak bergeming sedikitpun. Ujung pedang Hyun-Jae terhenti tepat di atas bahu Heo Dipyo takut justru akan melukai Ha-Neul. Dengan tangkas Heo Dipyo membuat pedang ditangan Hyun-Jae terjatuh!! Heo mencoba menghunuskan pedang ke perut Hyun-Jae tapi Ha-Neul menggigit tangan Heo yang tak memberi kesempatan baginya kabur. Setelah terlepas, Ha-Neul berlari, memeluk Hyun-Jae.


Heks!!


A....gh...


Bola mata Hyun-Jae membulat mendapati Ha-Neul yang tertusuk pedang. Para pengawal segera masuk ke kediaman Putri Ha-Neul tapi terlambat!! Heo Dipyo sudah kabur.


“Ha-Neul...” Hyun-Jae tak membiarkan Ha-Neul memejamkan mata. Ia menggendong Gadis itu, lalu mencari Tabib Istana.


Ya, rasanya...berbeda. Ketika bersama Chichi Keito, perasaan itu adalah...rasa hormat dan sayang pada seorang Chichi. Lalu perasaanku dengan Heo Dipyo...,bukan juga cinta. Jantungku berdegup kencang karena rasa tak berdayaku, rasa takutku dan cemas berbaur menjadi satu. Aku baru menyadari hari ini...jantungku berdegup hanya untuknya. Batin Hamari hampir kehilangan kesadaran.


Tatapan intensnya hanya tertuju pada pemuda tampan yang sedang memperjuangkan hidupnya.


Untuk Hyun-Jae...jika aku bisa memilih...tetaplah bersamaku Hyun...Jae...tambah kata hati Hamari sebelum benar-benar kehilangan kesadaran sepenuhnya. Saat itu, Hyun-Jae terus berlari mencari Tabib Istana sambil menggendong pujaan hatinya.


Hamari berjalan di sebuah taman yang indah.


“Putri Ha-Neul...kenapa disini? Tempatmu bukanlah disini” suara seorang Wanita membuatnya menoleh ke samping.


“Aku tidak tahu kenapa berada di sini” jawab Hamari kaget.


“Anda adalah satu-satunya Putri dalam keluarga Anda. Jadi, siapa pun Suami Anda kelak, ia akan mewarisi Tahta. Mohon kebijakannya Putri, hanya boleh ada satu matahari di dalam hidup Calon Ratu Negeri ini” kata Wanita tersebut.


Perlahan, mata Hamari terbuka dan mendapati Hyun-Jae tertidur pulas dalam posisi duduk, disampingnya.


Putri, hanya boleh ada satu matahari di dalam hidup Calon Ratu Negeri ini


Deg!!


Terus terngiang apa kata-kata Wanita dalam mimpinya. Hamari mendengar suara seseorang membuka pintunya, Gadis itu memejamkan mata kembali dalam sekejap. Seseorang mendekat, dan menepuk bahu Hyun-Jae.


“Bagaimana keadaan Putriku?” tanya sang Raja pada calon Menantunya itu setelah benar-benar membuka kedua matanya.


“Masih belum sadarkan diri. Tapi sebentar lagi Tabib akan memeriksa keadaan Putri kembali Yang Mulia” jawab Hyun-Jae tidak enak hati.


“Kau terlihat begitu resah ada masalah apa?”


“Yang Mulia pilihan Anda benar-benar membuahkan petaka bagi Putri Anda sendiri. Bagaimana jika suatu saat nanti muslihat yang menyeret hamba itu terkuak? Bagaimana sikap Putri terhadap hamba nantinya?” keluh Hyun-Jae yang selalu dihantui mimpi buruk setelah peristiwa percobaan pembunuhan.


“Ini bukan urusanmu Hyun-Jae. Sejak awal kau tidak terlibat jadi kenapa kau merasa ikut terlibat?”


“Tapi hamba masuk ke dalam lingkaran permainan Anda.”


“Aku harap kita tidak perlu membahas hal ini lagi. Ini adalah rencanaku. Jadi ini adalah dosaku. Biar aku yang menanggungnya sendiri. Kau hanya perlu menjaga Putriku sebaik mungkin” tandas Raja, sambil berlalu begitu saja.


“Heo, kau...jelaskan padaku kenapa kau, memegang benda berlumuran darah seperti itu?!” tanya seorang Pria tergopoh-gopoh menatap Putranya yang terlihat kacau balau.


“Ayah..., Ha-Neul membenciku. Dia termakan oleh tipu daya Raja dan Calon Suaminya itu. Bahkan tak satu pun yang aku katakan padanya dipercayainya. Aku...tidak bisa membiarkannya Ayah, dia harus tahu kenyataan sebenarnya. Jika tidak, bantu aku merebut Tahta agar aku mendapatkan Putri Ha-Neul dengan mudah”


“Kau mau melakukan pemberontakan? Hanya demi memiliki Gadis yang bahkan tidak peduli padamu lagi?! Sekali kau berbuat, jika kau kalah seluruh keluargamu akan dihukum gantung!! Pikirkan sebelum bertindak. Jika kau merasa tidak akan menang, lebih baik kau cari Gadis lain saja dan lupakan keinginanmu untuk memberontak” jawab sang Saudagar menggelengkan kepala.


Bagaimanapun juga Raja telah berbaik hati pada Istri dan Putranya ketika dalam kandungan. Meskipun ketahuan telah memiliki hubungan dengan saudagar seperti dirinya, karena dalam keadaan berbadan dua, sang selir hanya dicopot kedudukannya sebagai Selir lalu diusir dari Istana.


“Aku yakin bisa memenangkan peperangan ini Ayah...akan kugunakan seluruh tenaga dan pikiranku untuk memulai. Status pelajar yang aku miliki, akan membuka pintu kehancuran Raja” kekeh Heo Dipyo kehilangan kewarasannya.


“Jelaskan dulu ini darah milik siapa?!” bentak sang Ayah frustasi.


“Aku ingin menghabisi Hyun-Jae tapi Ha-Neul menghalangi dan membuatnya tertusuk pedang itu. A-aku menumpahkan darah kekasihku sendiri Ayah...” tangis Heo Dipyo antara marah sekaligus menyesal.


“Jadi kau menusuk Putri Ha-Neul? Kenapa kau datang kemari bodoh?! Mereka bisa menemukanmu disini!!” maki sang Ayah memukul tengkuk Putranya jengkel setengah mati. Anak itu cerdas dalam bidang mata pelajaran apa pun tapi akan berubah jadi bodoh jika berhubungan dengan yang namanya Gadis.


“Eun Deok!! Kemari kau!!” panggil sang Ayah pada budaknya.


“Ya Tuan”


“Kubur pedang itu, setelah kau sembunyikan Tuan Muda di gubuk yang terletak di bukit. Jangan pulang sampai tugasmu selesai.” perintahnya.


“Ayah jangan lakukan ini padaku. Bagaimanapun aku harus merebut kembali milikku!!” teriak Heo Dipyo mengetahui Eun Deok di bantu tiga budak lainnya menyeret sang Tuan Muda.


“Tidak biasanya Heo membuat keributan Suamiku, ada apa ini?”


“Jika tidak kita kendalikan mulai dari sekarang Putra kita akan menjadi pengkhianat besar. Sudah ku katakan berulang kali padamu jangan berlebihan memanjakan Anak itu” keluh sang Suami hampir terkena serangan jantung.


“Memang dia melakukan kesalahan apa sampai kau kurung begitu? Tidak bisakah di bicarakan baik-baik?”


“Dia menusuk Putri Ha-Neul!! Karena keinginan memiliki Putri Ha-Neul tidak dapat terwujud, sekarang dia menusuknya!! Ini hasil didikanmu Oh Nari!!” marah sang Suami membanting apa pun dihadapannya.


“Satu lagi. Jangan katakan pada siapa pun, Putra kita pulang kemari. Jika kau masih menginginkan nyawa Putramu selamat” tegas sang Suami. Gugup dan ketakutan itulah yang dihadapi sang Suami karena ini kasus yang besar, menyangkut keluarga Kerajaan.


“Tuan Besar...Do Jin Ah, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda” kata seorang pelayan sambil menyerahkan surat penggeledahan Kerajaan.


“Katakan sebentar lagi aku akan menemui mereka” Do Jin Ah mencoba menyamarkan kegugupannya sambil menghela nafas dalam. Ia berjalan perlahan bersama sang Istri.


Dalam perjalanan menuju bukit, Eun Deok dan tiga budak lainnya, di hadang beberapa pasukan dengan pakaian serba hitam. Mereka terbunuh karena ditebas oleh para pasukan serba hitam tersebut. Heo Dipyo berjalan mundur, tapi tak bisa berkutik lagi ketika kawanan pasukan itu melingkarinya, mengacungkan senjata mereka tepat di depannya. Heo keheranan ketika salah satu pasukan tersebut, justru menebas tali pengikat di kedua pergelangan tangannya dengan pedang.


Seseorang datang dari belakang sepertinya dialah pimpinan dari pasukan terbukti mereka semua memberi hormat pada orang tersebut.


“Perdana Menteri Kiri Kwon Jae He?!” Heo Dipyo terkejut bukan main. Pria yang disebut-sebut itu tersenyum sinis pada Heo Dipyo.


“Sudah kukatakan berulang kali ikutlah menjadi Anak buahku. Kau akan sangat berguna untuk perkembangan kekuatan fraksi kiri. Tapi kau selalu menolak hanya karena seorang Gadis yang bahkan sebentar lagi akan dinikahkan oleh Tuan Muda Hyun-Jae”


“Apa maumu Paman?”


“Mauku? Pasti sejalan dengan keinginan hatimu Heo. Menguasai Tahta. Kau, akan kujadikan Raja dari Negeri ini tapi kau, harus tunduk pada kepentingan fraksi kiri. Kau tak perlu lagi berpikir dua kali..., bukankah sakit? Maksudku, rasa sakit hati ketika dikhianati itu.” Tawaran ini membuat Heo menjadi goyah. Dengan menurunkan Tahta Raja yang sekarang, artinya ada kesempatan besar merebut kembali Ha-Neul.


“Asalkan kau mampu membuat Ha-Neul menjadi milikku seutuhnya, akan kulakukan apa pun yang kau minta” kekeh Heo Dipyo mulai merancang aksi pemberontakan sesungguhnya.


Ayah...kau pikir aku tak memiliki kekuatan untuk memberontak bukan? Sekarang, aku akan tunjukkan seberapa besar kekuatan yang aku miliki...Heo Dipyo mulai bersumpah pada dirinya sendiri. Akan menunjukkan kekuatannya, tanpa bantuan sang Ayah yang tidak mau mendukung Putranya sendiri.


Suatu hari di Istana, Ha-Neul meminta dayang Gu Baek-Na berjalan-jalan di taman. Ha-Neul mulai bosan karena harus terus tiduran miring. Kali ini..., ia ingin menghirup udara pagi. Sebuah rangkaian bunga berwarna warni disodorkan seseorang tepat di depannya. Ha-Neul melirik lengan kokoh yang terulur dari arah belakang. Gadis itu berbalik, dan mendapati si tampan Hyun-Jae tersenyum indah.


Bahkan entah kenapa, Hyun-Jae kini terlalu berkilau baginya.


“Apa kau tidak menyukai bunga yang kupetik untukmu ini?” tanya Hyun-Jae heran karena Ha-Neul justru mundur dan menutup matanya seolah silau akan sesuatu.


“Dalam rangka apa Hyun-Jae ku ini memberiku satu buket bunga hmm??” tanya Ha-Neul setelah bisa beradaptasi dengan calon Suaminya yang berkilauan itu sambil merebut buket bunga yang hampir saja dibuang oleh Hyun-Jae.


“Tiga hari lagi aku akan menjadi Suamimu. Tentu saja akan lebih baik kalau berlatih mulai dari sekarang bukan?” goda Hyun-Jae membuat Ha-Neul tersipu.


Ha-Neul...beri aku petunjuk. Apa pilihanku dalam hidupmu sudah tepat? Bagaimanapun suatu hari nanti aku akan pergi dan kau yang akan menjalani kehidupan ini batin Hamari bimbang. Kata-kata Raja dan Hyun-Jae mempengaruhi Hamari.


“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Hyun-Jae penasaran. Tapi pembicaraan mereka terhenti ketika beberapa Gadis Anak dari para Menteri datang berkunjung untuk menengok keadaan Putri Ha-Neul.


“Hormat kami Putri Ha-Neul, apa kabar Anda?” tanya salah satu dari ke tujuh Gadis cantik itu menghormat takzim.


“Aku mulai membaik terima kasih perhatian kalian semua” jawab Ha-Neul santun. Ekor matanya terus mengawasi enam Gadis cantik yang sibuk menggiring Hyun-Jae menjauh dari dirinya.


“Berhubung kalian sudah datang, ayo kita minum teh bersama” ajak Ha-Neul semanis mungkin. Tapi ucapannya malah di abaikan oleh ke tujuh Gadis itu. Mereka berebut mencari celah untuk berbicara pada Hyun-Jae dan ada juga yang berusaha untuk menyentuhnya dengan berbagai strategi.


Berhati-hatilah Tuan Putri. Akan ada banyak Gadis cantik disana. Anda harus benar-benar menggenggam erat tangan Tuan Muda. Jika tidak, kadar ketampanannya bisa menimbulkan masalah untuk Anda. Tepatnya, untuk hati Anda suara dayang Gu Baek-Na justru terngiang di telinga Ha-Neul sekarang.


Entah kenapa ada dorongan dari lubuk hati terdalam untuk mengenyahkan seluruh Gadis itu dari sisi Hyun-Jae. Sebegitu tak terimakah Ha-Neul? Ataukah...Hamari? Siapa sebenarnya yang condong hatinya pada Pria tampan bernama Hyun-Jae? Ha-Neul, atau Hamari? Tidak ingin pusing siapa yang hatinya condong ke siapa? Yang jelas jantungnya mulai ingin meledak! Jika ini dibiarkan, Ha-Neul tak akan bisa tidur nyenyak.


Ha-Neul mendekat lalu menggandeng tangan Hyun-Jae tentu saja dengan sedikit menggeser posisi berdiri para Gadis cantik itu.


“Hey, kalian benar-benar ingin menjengukku atau ingin mendekati Calon Suamiku?” teguran frontal Ha-Neul membuat Hyun-Jae tertawa senang.


Jangan tertawa ataupun tersenyum di depan Gadis mana pun bodoh!! Jangan sampai mereka jatuh hati padamu!


protes kata hati Hamari.