Aitai

Aitai
Episode 18



"Hentikan!! Ini hanya sebuah permainan!!" bentak Natsuha. Raja diam terkejut mendapati reaksi Natsuha yang bagi dirinya itu sungguh berlebihan. Seumur hidup Raja, ia tak pernah membentak darah dagingnya!! Ada rasa tak terima di lubuk hati Raja yang terdalam.


"Ayolah Chichi...permainan ini memang penuh risiko bukan? Semua orang yang berlatih pedang, pasti akan merasakan tergores atau tertusuk. Bukankah itu hal yang biasa?" kata Taki menyeringai penuh kemenangan.


"Kau sadar, sedang berlatih dengan siapa?!" bentak Natsuha marah besar.


"Hentikan!! Benar kata Taki. Itu hal yang biasa. Kenapa kau sekasar itu pada Putraku Natsuha!!" kini Raja justru marah pada Natsuha.


"Ampuni hamba Yang Mulia...hamba hanya ingin menghindarkan Anda dari cedera yang lebih parah dari ini" jawab Natsuha membungkuk penuh permohonan maaf.


"Taki, bersiaplah sebentar lagi, kau dan Mizu akan diarak ke pemukiman Rakyat" kata Raja tegas. Taki tersenyum sinis pada Natsuha, lalu menghormat pada Raja lalu bergegas ke kediamannya. Semua kerumunan mulai lengang. Raja dibantu Eun Sha berdiri tegap lalu menghampiri sang Perdana Menteri.


"Aku tahu, dia juga Putramu Natsuha. Tapi ingatlah baik-baik bahwa dia adalah darah dagingku. Jika kau membentak Putraku seperti tadi, itu seperti kau melemparkan kotoran sampah ke wajahku"


"Seumuuur hidupku, aku tak pernah meninggikan suaraku pada Anak-anakku. Jadi maklumlah jika aku kini marah besar padamu, karena hari ini kau membentak Putraku" kata Raja sambil menatap tajam ke manik mata Natsuha.


Pria itu tak berani membalas sorotan mata tajam Rajanya ia hanya kembali membungkuk dan memohon maaf atas kelancangannya kali ini. Raja hanya mengangguk lalu menepuk bahu Natsuha dan pergi dari hadapan Pria itu. Natsuha menengadah, menatap Ratunya tak jauh dari tempatnya berdiri. Ratu berjalan dan menatap Natsuha penuh arti.


"Natsuha... Kekerasan hanya akan mendidik Anak menjadi keras kepala dan membangkang. Nasihati anakmu dengan bijak. Terkadang, nasehat itu justru akan tersampaikan dengan baik, jika penyampaiannya juga dilakukan dengan baik. Bersikaplah lembut pada Taki maupun Mizu..." kata Ratu sambil bergegas menyusul Raja.


Ah..., apa salah Natsuha? Ia hanya ingin menyelamatkan Wanita yang telah lama ia cintai dari rasa malu seumur hidupnya. Salahkah ia jika mendidik Taki yang bengal sesuai dengan standar didikannya? Ini hanya tentang perbedaan cara mendidik anak bukan? Natsuha memejamkan mata sejenak lalu mendongak ke langit...


"Natsuha..." suara Kimiko membuatnya berbalik dan menatap sosok Kakaknya itu.


"Kau melihatnya juga?" tanya Natsuha sendu sambil menundukkan kepala.


"Apa kata Ratu benar Natsuha. Perbedaan pola didikmu dengan Raja, akan menghasilkan reaksi yang berbeda pada Anak-anak kita. Ini tak sepenuhnya salahmu. Kau baru pertama kali bukan, menjadi Chichi, anggap saja...kau sedang berlatih menjadi Chichi sejati. Lakukan dengan sepenuh hati" kata Kimiko menepuk kepala Natsuha lembut.


"Apa ini benar Kimiko? Kenapa kau bisa sebijak ini hmm?" tanya Natsuha menggamit tangan Kimiko yang bertengger di kepalanya.


"Satu lagi. Jangan pernah menepuk kepalaku lagi seperti tadi. Aku bukan bocah Laki-laki lagi. Kau mengerti? Aku ini seorang Chichi" kata Natsuha sambil menaik turunkan kedua alisnya sambil menatap jenaka Kimiko.


"Apa? Kau akan terus menjadi bocah Laki-laki manis, bagiku mengerti," goda Kimiko menjewer telinga Natsuha tanpa menyakiti.


"Terima kasih. Untuk pertama kalinya kau menunaikan kewajibanmu sebagai seorang Ane" kata Natsuha menggenggam tangan Kimiko lembut.


"Mizu dan Taki...maksudku Mari dan Hiroshi. Aku sangat mengkahwatirkan mereka" kata Natsuha menatap kalut Kakaknya.


"Khawatir? Kenapa?"


"Mereka memiliki perasaan khusus terhadap Raja dan Ratu"


"Wajar bukan? Jika seorang Anak mencintai kedua orang tuanya?"


"Jika itu yang terjadi, aku tidak akan berusaha menghalangi mereka. Ini perasaan khusus. Perasaan yang hanya dimiliki oleh Laki-laki dan Perempuan" kata Natsuha sedikit kikuk untuk menjelaskan.


"Maksudmu...mereka jatuh cinta pada kedua orang tua mereka sendiri?!" pekik Kimiko membelalakkan mata.


"Menteri Natsuha...apa benar yang dikatakan Ratu dan Raja? Bahwa...Taki... adalah Putra Mahkota? Dia...Otouto Kotoko?!" kata Kotoko berkaca-kaca.


"Tuan Putri...belum diberitahu?" tanya Kimiko keheranan. Kotoko hanya menggeleng ia sangat terpukul.


"Iya Tuan Putri. Taki adalah Putra Mahkota Hiroshi. Otoutosan" jawab Natsuha hati-hati. Kotoko hanya diam sambil menangis lirih ia langsung berlari kearah kediamannya. Salah seorang dayang mengejarnya tapi yang satu lagi tertahan.


"Katakan padaku kenapa Putri Kotoko sangat syok mengetahui kebenaran Taki?"


"Karena...Tuan Putri Kotoko...menaruh hati pada Pangeran, Menteri..." jawab sang dayang lalu memohon diri untuk menyusul sang Putri.


Deg!!


Natsuha tersungkur ke belakang. Satu lagi kenyataan yang harus ia ketahui. Putri Mari menaruh hati pada Raja, Pangeran Hiroshi menaruh hati pada Ratu, jauh lebih kompleks dengan adanya Kotoko, yang menaruh hati pada Adiknya sendiri.


"Apa yang sedang terjadi disini Ane? Kenapa semua menjadi sangat rumit?" kata Natsuha tak tahu harus berbuat apa lagi.


"Memang susah meluruskan benang kusut Natsuha...tapi jika kita memotong sedikit saja pangkal masalahnya, maka kita bisa mengurainya...satu persatu. Berpikirlah, dengan kepala dingin. Mengerti?" kata Kotoko kembali menepuk kepala Natsuha.


Di kediaman Raja, Ratu Eun Sha bergegas mengobati luka sayatan di lengan Raja. Lukanya tidak terlalu dalam.


"Putri Mari ingin menghadap!!" kata sang pengawal Istana dari pintu luar.


"Mari? Pasti dia sangat mengkhawatirkan Anda Yang Mulia..." kata Eun Sha senang.


"Masuk" seru Raja dengan senyuman. Senang. Maka Mari datang memasuki kediaman Raja dengan wajah cemasnya.


"Chichi, apa Chichi baik-baik saja?" tanya Mari dengan mata berkaca-kaca.


"Kemarilah. Ini sayatan kecil, tidak akan terjadi apa pun yang buruk padaku. Kalian memang terlalu mencemaskanku" kata Raja melirik pada Ratunya lalu pada Putrinya. Eun Sha dengan telaten mengusapkan ramuan ke luka sayatan di lengan Raja.


Seharusnya akulah yang berada di posisi itu.


"Kalau begitu, hamba mohon diri" pamit Mizu enggan melihat kebersamaan antara Raja dan Ratu.


"Kau tidak ingin bersama Haha dan Chichi lebih lama lagi?” tawar Eun Sha dengan senyuman mengembang.


"Sewaktu kau kecil, kau selalu ingin terus bersama Haha...Chichi...Kotoko juga Hiroshi. Chichi sangat merindukan masa-masa itu" kata Raja Keito mengenang masa lalu.


"Kimiko...apa kau, pernah bertemu dengan Haha Kimiko?" tanya Eun Sha merasa bersalah untuk tidak mempertemukan Mari dengan Ibunya Kimiko.


"Belum, apa beliau jarang berkunjung, untuk menemui Chichi? Bukankah...Haha Kimiko adalah Haha Mizu juga?"


"Ada hal besar, yang membuat Chichimu lama tidak bertemu kembali dengan Haha Kimiko. Tapi itu masa lalu. Jadi, apa kau ingin menemuinya sekarang?" tawar Eun Sha bersemangat.


Jika aku menolak untuk bertemu, pasti Ratu akan terus menempel pada Raja seperti seekor lintah. Tidak!! Hanya aku yang boleh berada disisinya. Mau sampai kapan kalian hidup dalam fatamorgana? Menganggapku sebagai Anak kalian yang telah mati?! Akan kutegaskan suatu saat nanti bahwa akulah Jeajangna!!


"Ya, siapa tahu, hamba bisa mengingat masa lalu hamba bersama seluruh keluarga" kata Mizu tersenyum kecil.


"Mizu" potong Raja Keito sambil menatap Mari yang kini berdampingan dengan Eun Sha.


"Ya, Yang Mulia"


"Jika...itu bisa membahagiakan Chichi dan Haha, hamba bersedia" kata Mizu dengan senyum simpul.


"Baiklah. Mari, sekarang temuilah Hahamu Kimiko" sambut Raja Keito dengan tawa penuh kelegaan. Mari dan Eun Sha memberi penghormatan untuk memohon diri.


Eun Sha berjalan bersama Mari menuju kediaman Selir Kimiko tanpa sadar, mereka telah diawasi sepasang mata.


"Tunggu sebentar" kata Mari setelah melihat kolam ikan di taman Istana.


Kolam ini...aku sangat mengenal kolam ikan ini? Seolah, aku sering melalui hariku di kolam ikan ini. Tapi...untuk apa aku berada disini? Bukankah aku terlalu sibuk berlatih menari?


Ugh!!


Erang Mari sambil memegang kedua pelipisnya dengan jemari tangannya.


"Mari? Hamari? Apa kau baik-baik saja?" tanya Eun Sha panik.


"Hamba...hanya merasa pusing Yang Mulia.." balas Mari lemah.


"Ayo kembali ke kediamanmu"


"Ti-tidak. Hamba...tetap ingin bertemu dengan Haha Kimiko. Jangan bawa hamba kembali ke kediaman hamba...tolong..." pinta Mari memelas.


"Baikah. Tapi kita untuk sementara duduk dulu disini sampai kau, benar-benar membaik" jawab Eun Sha tak mau kalah. Mari hanya mengangguk, membiarkan dirinya dipapah oleh Eun Sha. Dengan penuh kasih, Eun Sha membaringkan kepala Mari di atas pangkuannya lalu mencoba memijit kepala Mari.


Kenapa...aku merasa pernah tidur di pangkuan seseorang seperti saat ini? Aku...seolah merindukan saat-saat itu. Apa itu Haha Kimiko? Rasanya...berada di pangkuan Ratu Eun Sha begitu nyaman. Batin Mari seolah enggan untuk beranjak dari pangkuan sang Ibu.


Taki berbaring di atas pohon yang letaknya tak jauh dari kediamannya. Matanya menangkap sosok Eun Sha dan Mizu berjalan beriringan. Mata sendu Taki tak dapat menyembunyikan kecemburuannya. Ia juga ingin sedekat itu dengan sang Ratu tapi bagaimana caranya?


"Apa ini kelakuan calon Pewaris Tahta kerajaan? Hmm?" suara seseorang mengagetkan Taki hingga hampir saja ia terpeleset jatuh tapi kedua tangannya mampu menggapai pohon dengan cepat.


"Putri Kotoko," kata Taki tersenyum simpul. Ia malah melompat dari pohon membuat Kotoko terperanjat menghadapi tingkah Taki.


"Apa kau betah disini?" tanya Kotoko berusaha menyamarkan keterkejutannya.


"Ya, hamba bisa terus berlatih pedang sesuka hati" kata Taki dengan seringai puas ketika mengingat kembali apa yang telah ia lakukan terhadap Raja Keito.


"Aku tidak menyangka, kau adalah Hiroshi...Otouto" kata Kotoko tak kuasa menahan diri untuk menangis.


"Otouto? Aku?" tanya Taki menunjuk hidungnya.


"Ya, aku Ane, untukmu, dan kau Otouto untukku" kata Kotoko sambil menghapus air matanya.


"Itu aneh untukku. Apa kau menerima begitu saja? Bisa saja, ini hanya sekedar salah orang bukan?" kata Taki sangat santai.


"Bahkan Ojie pun mengakui kebenarannya" kata Kotoko tak mengerti.


"Sampai kapan pun, aku bukan Hiroshi. Aku adalah Taki. Mereka bisa mengubah identitasku, tapi tak bisa mengubah kenyataan bahwa aku bukanlah Hiroshi"


"Taki. Sebenarnya aku pun tak terima jika kau, adalah bagian dari keluargaku. Tapi kenyataannya, kau memang Hiroshi kami"


"Hanya karena wajahku, sama dengan wajah anak kecil dalam lukisan yang Chichi Natsuha tunjukkan? Tidak...bisa saja itu hanya kebetulan, kami berdua mirip. Aku, tidak punya ingatan tentang masa laluku"


"Terlepas dari kau benar anak mereka atau bukan, cobalah untuk menyenangkan hati mereka. Karena Haha Eun Sha, dan Chichi Keito selalu merindukan kehadiran Hiroshi kembali dalam kehidupan mereka berdua. Terlalu banyak kehilangan yang dialami mereka. Tolong jangan tambahkan beban lagi untuk mereka" kata Kotoko


bersungguh-sungguh.


"Aku menginginkan Ratu selalu berada disisiku. Jadi aku, tidak akan membuatnya bersedih"


"Kalau begitu, jadilah Putra yang baik untuknya" kata Kotoko yang ternyata, justru membuat Taki memiliki sebuah siasat.


"Baiklah, mari kita bersiap-siap, Raja memerintahkan kita untuk bersedia diarak di depan seluruh Rakyat"


"Aku percayakan kebahagiaan Chichi dan Haha di tanganmu Hiroshi..." bahkan senyuman Kotoko mampu membuat Hiroshi melupakan siasat liciknya terhadap Raja dan Ratu.


Taki, dan Mizu diarak menggunakan tandu. Mereka senantiasa tersenyum, lalu melambai kearah seluruh Rakyat. Mereka diperkenalkan sebagai Mari dan Hiroshi. Seluruh Rakyat bersorak mengelu-elukan Putra Mahkota dan Putri yang sempat hilang. Di belakang tandu Mari dan Hiroshi, Kotoko juga melambai dengan anggun.


Tak jauh dari arak-arakan Putri dan Pangeran, dengan kompak Raja dan Ratu melambai pada Rakyatnya. Kini, Taki dan Mizu telah resmi diperkenalkan oleh Raja dan Ratu pada Rakyat, sebagai Putri Mari, dan Putra Mahkota Hiroshi. Tidak ada lagi nama Mizu apa lagi Taki.


Di tengah suka cita, muncullah empat ninja yang menyerang Ratu!! Hiroshi segera memerintahkan para pembawa tandu yang ia naiki untuk menurunkannya. Raja, Natsuha dan Hiroshi menghadang para ninja.


Tang!!


Tran tang!!


Tang!!


Katana Raja terus menghantam pedang sang ninja. Kecurangan pun terjadi...Raja hanya memiliki satu macam senjata!! Tapi ninja itu memiliki dua pedang. Pedang di tangan kanan ninja mampu ditangkis Raja dengan baik tapi pedang di tangan kiri ninja sanggup menggores tangan kanan Raja yang digunakan untuk menahan pedang sang ninja.


Aaargh!!


"Yang Mulia!!" terik Eun Sha ketakutan. Air mata Eun Sha mengalir deras melihat Suaminya yang telah ia obati, kini semakin bertambah parah lukanya akibat serangan sang ninja. Eun Sha berlari kearah Raja meskipun Raja berteriak.


"Jangan!!" tapi Eun Sha tetap berlari untuk melindungi Raja tanpa satu pun senjata. Sang Ninja mengayunkan dua senjatanya kearah perut Sang Raja tapi Eun Sha lah yang menghadang.


Zraaaash!!


Arrrgh !!


Pekikan yang sangat ia kenal membuat mata Eun Sha yang terpejam terbuka lebar. Dihadapan Eun Sha, melihat Natsuha berdiri tegap menghadang serangan, menyelamatkan Raja dan Ratunya. Pekikan itu terdengar ketika sebuah pedang menusuk tepat di paha Natsuha. Tangan kanan Natsuha yang menahan pedang sang ninja, mulai gemetaran!! Tapi tangan kirinya, mulai mengepal dan meninju tepat di hati sang Ninja hingga ninja tersebut jatuh ke belakang.


Tanpa rasa takut akan rasa sakit yang harus dialaminya, Natsuha segera mencabut pedang yang masih menancap kuat di pahanya. Pedang yang berlumuran darahnya, kini ia lemparkan secepat kilat hingga menancap tepat di dahi sang Ninja!!


Kini ninja tinggal dua orang saja.


Dengan amarah membabi buta, Hiroshi menangkis pedang sang Ninja. Ia mengetahui bahwa ninja tersebut akan menyerangnya kembali dengan pedang di tangan kanannya. Tapi sebelum itu terjadi, Hiroshi menendang perut dan lutut sang ninja. Ninja itu pun jatuh tersungkur.