Aitai

Aitai
Keputusan Menyakitkan



"Keadaannya sudah stabil. Kau jangan khawatir" kata Raja Keito pada Adikku. Natsuha menatapku penuh kelegaan lalu berkata.


"Bisakah kami bicara empat mata sebentar? Ada hal yang penting ingin hamba sampaikan kepada Selir Kimiko" kata Natsuha yang dijawab dengan anggukan oleh Raja Keito. Suamiku meninggalkan kami bicara empat mata.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Jadi kau merasa bersalah? Yah, setidaknya aku patut berterima kasih padamu karena jika penyakit ini tak datang padaku, maka hubunganku dengan Raja akan selamanya hambar" jawabku sekenanya. Dia membuat posisiku semakin terancam karena dia tahu apa yang telah lama kurencanakan.


"Ya, kau memang harus berterima kasih padaku terutama pada Ratu. Aku dan beliau meminta Raja untuk menerimamu kembali. Tapi ingat satu hal Kimiko"


"Ini, kesempatan terakhirmu. Kau harus tahu di mana posisimu. Jangan coba-coba menyenggol kedudukan Ratu fokuslah untuk memperbaiki rumah tanggamu dengan Raja. Cobalah berdamai dengan Ratu buang jauh-jauh niat jahatmu itu" kata Natsuha panjang lebar.


Aku menatapnya datar sulit bagiku untuk menghilangkan pemikiran bahwa penyebab ketidak bahagiakanku adalah Ratu!! Pertama, Jea Jangna mampu menggeser kedudukanku di hati Keito. Karena itulah aku bunuh Gadis itu. Kedua, Eun Sha!! Dia membuat Raja hanya menatap dirinya!! Hanya ada Eun Sha dimata Keito. Aku merasa menjadi sesuatu yang tak berharga.


Benarkah aku tak layak dicintai? Benarkah aku tak layak mendapatkan kesetiaan Keito hingga ia tak mampu berpaling dari Eun Sha? Sungguh sakit hati ini ketika jabatanku sebagai Ratu di cabut dengan paksa, digantikan oleh Wanita yang merusak hidupku. Hancur semua pengharapanku ketika kudengar dari balik jeruji penjara Istana, bahwa Raja Keito membebaskan semua Selirnya.


Aku berjuang untuk tidak kehilangan akal saat itu. Tidak!! Hidupku tidak boleh seburuk ini. Aku akan mendapatkan Suamiku kembali!! Itulah yang aku pikirkan.


"Katakan pada Ratu, lebih baik aku mati dari pada harus berdamai dengan Wanita yang menghancurkan hidupku"


"Pikirkan baik-baik kata-kataku Kimiko. Sampai setetes air mata keluar lagi dari mata Ratu, kau akan berurusan denganku" kata Natsuha datar namun penuh penekanan. Ia pergi begitu saja sambil memberi penghormatan pada Raja di ambang pintu.


Dadaku terasa sesak lagi tapi rasa sesak itu menghilang ketika ia, Suamiku datang padaku dengan sebuah senyuman.


"Beristirahatlah" katanya sambil membelai rambutku.


"Hamba dengar Ratu meminta Anda menerima hamba kembali Yang Mulia. Apa itu artinya hamba akan memiliki banyak waktu bersama Anda kembali ?" kurasa pertanyaanku membuat Keito menegang. Apa dia akan marah? Apa sebesar itukah kebenciannya padaku?


Raja Keito berjalan sambil terus berpikir menyusuri koridor Istana hendak menuju kediaman Ratu Eun Sha. Otaknya ingin segera menemui belahan jiwanya tapi kakinya berjalan tak tentu arah.


Hamba dengar Ratu meminta Anda menerima hamba kembali Yang Mulia. Apa itu artinya hamba akan memiliki banyak waktu bersama Anda kembali?


Berulang kali suara Selir Kimiko yang lemah penuh pengharapan atas jawabanku terngiang-ngiang di telinga. Aku menikahinya karena alasan politik. Orang Tuaku menikahkanku di usia muda tanpa cinta. Pertama kali aku mulai mengenal cinta ketika ku lihat seorang Gadis cantik penuh pesona sedang menari.


Ketika itu terjadi, pernikahanku dan Kimiko telah dirancang. Dia, Gadis cantik bernama Jea Jangna selalu datang dalam mimpiku dan selalu kurindukan. Aku mulai membenci Kimiko, saat ia dengan sengaja meminta Chichiku mempercepat pernikahan kami. Tidak...aku yang masih belia memberontak, aku mulai bersiasat untuk menikah dengan Jangna secepat mungkin dan menjadikannya Selirku. Takdir berkehendak lain takdir sedang memihak Kimiko.


Gadis yang ingin ku miliki selamanya ternyata juga menyusun rencananya. Di hari pernikahan kami, juga dihari penobatannya menjadi Selir...ia lebih memilih mengejar ambisinya menjadi Sakuhyunja di banding menjadi Selirku. Ia tahu, dengan menarikan tarian Istana dalam keadaan tak suci lagi akan berakibat fatal tapi ia tetap melakukannya.


Aku mencarinya dengan memerintahkan pengawalku untuk mencarinya di mana tarian Istana dimulai. Aku merasa ada kejanggalan dalam tarian Istana kali ini. Seorang penari Istana mengenakan topeng menari dengan anggun penuh pesona. Caranya menatapku...caranya menari...caranya menyatu dengan melodi membuatku menyadari bahwa sosok itu sangatlah mirip dengan Jangna ku.


Semua pandangan hanya tertuju padanya karena pesonanya. Tanpa disangka penari bertopeng terus bergerak, terus menari meski musik iringan telah berhenti bahkan ketika penari lainnya mengakhiri tariannya. Kedua mata, hidung, dan bibirnya mengucurkan darah segar tanpa henti hingga sang Gadis penari bertopeng terjatuh lemas di lantai. Jantungku berpacu cepat!! Aku segera berlari meninggalkan singgasana, membuka topeng yang menutupi wajah sang Penari Istana.


"Jangna...Jangna!! Bangun!!" ya...aku berteriak histeris sambil memeluknya penuh kepedihan tak peduli baju kebesaranku yang bersimbah darah.


"Jangna!!" bayangan masa laluku tentang kekasih masa laluku terekam jelas di kepala ini. Hey, kenapa...aku berhenti di tempat ini? Bukankah aku...ingin menemui Ratuku? Kenapa aku justru berdiri di depan ruang meditasiku? Ada apa dengan otakku kali ini. Mengesalkan!!


"Hormat hamba Yang Mulia" sapa seseorang sambil membungkuk takzim. Dayang Hikari...Dayang kesayangan Ratuku berada di sini? Tapi kenapa?


"Ada apa gerangan kau kemari? Apa ada pesan dari Ratu untukku?” entah kenapa senyuman mengembang terbit di bibirku kali ini disela kegalauanku.


"Sebenarnya...Yang Mulia Ratu...berada di dalam"


"Ah, jadi dia telah menungguku. Apa dia sudah lama berada di dalam sana ?"


"Iya Yang Mulia" jawaban Hikari membuatku semakin bersemangat tanpa keraguan ku masuki ruang meditasi dan mendapati Ratuku duduk tenang bermeditasi.


"Apa kau menungguku di sini dalam waktu yang lama?" tanyaku sambil merengkuhnya dari belakang. Hey, apa dia sedang sakit? Tubuhnya sangat dingin kali ini. Eun Sha membuka matanya lalu melepaskan diri dari rengkuhanku. Ia menatapku datar...dan dingin. Kenapa aku merasa dia bukan Eun Sha yang biasanya?


"Aku memang menunggumu Yang Mulia" jawab Eun Sha memberi hormat. Tak biasanya Eun Sha memberi penghormatan padaku disaat kami hanya berdua begini.


"Kau sedang sakit? Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal? Seharusnya Tabib datang untuk memeriksa kesehatanmu jika kau mengatakannya dari awal Eun Sha" marahku padanya. Bisa-bisanya dia memikirkan kesehatan Kimiko sementara dirinya sedang tidak enak badan seperti ini.


"Yang Mulia...ini bukan saatnya memanggil Tabib. Ada hal penting hingga membuat hamba menunggu Anda cukup lama di sini" cegah Eun Sha ketika aku hendak memanggil Dayang Hikari. Aku menoleh padanya sejenak lalu menatapnya penuh tanda tanya.


"Hal penting apa?"


"Selir Kimiko"


"Bisakah kita bicarakan tentang kita saja jika sedang berdua begini?!" protesku kesal. Dia tidak pernah tahu betapa tersiksanya aku tanpa berada di sisinya, dan harus berada di suatu tempat bersama Wanita yang bahkan kucintai pun tidak.


"Apa Anda lupa? Selir Kimiko Istri Anda juga. Anda punya tanggung jawab yang sama terhadapnya. Bersikaplah adil terhadap Kimiko yang Mulia” kata Eun Sha tegas menatapku dengan tatapan menghakimi.


"Dimana letak kesalahanku? Katakan"


"Anda mengabaikannya selama beberapa tahun"


"Aku mengabaikannya karena dosanya padamu. Apa aku salah jika menghukumnya demikian?"


"Dia berusaha untuk menjadi baik. Hargailah usahanya Yang Mulia"


"Dia dan Selir yang lainnya telah aku bebaskan. Dan hanya dirinyalah yang bersikeras untuk tetap bersamaku. Dimana letak kesalahanku Eun Sha? Katakan"


"Dia terlalu mencintai Anda Yang Mulia hingga tak mungkin untuk melepaskan Anda sedetik pun jua. Cobalah mengerti perasaannya"


"Lantas apa demi perasaannya kau tega mengabaikan rasa hatiku? Apa kau pikir, aku tak pernah memberinya kesempatan? Dua kali kesempatan. Dua kali Eun Sha!! Dan dia kecewakan aku sebanyak itu juga"


"Hamba tidak ingin berdebat lagi Yang Mulia. Inilah keputusan hamba. Anda memiliki dua orang Istri maka adil rasanya jika bulan ini Anda harus berada di kediaman Selir Kimiko dan di bulan berikutnya Anda bersama hamba"


"Bagus, jika Suamiku ini sadar akan posisinya" kata Wanitaku itu sambil mengalungkan kedua tangannya di leherku hingga kami saling memandang.


"Hamba memberi keputusan ini lantaran hamba sedang berusaha menunaikan kewajiban hamba sebagai seorang Istri. Hamba berusaha, mengingatkan Suami hamba yang tersesat untuk kembali ke jalan yang lurus" kata-katanya justru membuatku diam membeku.


Eun Sha tidaklah bersalah. Aku yang salah. Aku yang menempatkannya di posisi yang serba salah. Aku tahu ketika aku mendekat pada Kimiko hatinya yang lembut mulai tersayat. Ya, aku berpura-pura tak tahu jika ia menangis saat itu. Jika ia ingin ku pandang sebagai Wanita yang tegar, maka seperti itulah sudut pandangku terhadapnya saat ini.


Kenapa kau tidak memiliki sedikit saja keegoisan Eun Sha? Kenapa kau sebaik ini hingga membuat luka di hatimu semakin dalam? Apa yang kuperbuat di masa lalu hingga kini aku menjadi Pria seberuntung ini? Aku beruntung memilikimu tak sanggup aku mengatakannya secara terang-terangan di hadapannya. Aku hanya memeluknya dan tak ingin melepaskannya.


"Jika itu keinginanmu, maka akan kulakukan. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana lagi terhadap Wanita itu. Aku lepaskan, dia justru berusaha mengakhiri hidupnya di balik jeruji penjara. Aku biarkan tetap menjadi Istriku, dia justru memperumit hidupku" keluhku sambil membenamkan kedua mataku di bahu mungilnya.


"Semua adalah ujian Yang Mulia. Jika Anda dapat menerima Kimiko sepenuhnya, maka segalanya menjadi lebih mudah"


"Bagaimana jika justru sebaliknya? Dia pernah berusaha mengakhiri hidupmu Eun Sha. Tak menutup kemungkinan ia akan mengulang hal yang sama"


"Tidak. Kali ini, tidak akan terjadi. Asalkan Anda mau mengikuti aturannya. Bersamanyalah selama sebulan, bahagiakanlah dirinya, jangan pernah membandingkan hamba dengannya di hadapannya. Jangan pernah memikirkan hamba di saat Anda sedang bersamanya"


"Yang terakhir aku tidak bisa berjanji. Itu...sangat sulit. Aku sudah terbiasa berada di sisimu akan sangat canggung jika tiba-tiba...aku bersamanya" jawabku tak yakin.


"Anda bisa. Karena Anda Laki-laki. Banyak Laki-laki di luar sana berselingkuh di belakang Istrinya. Mereka bisa melakukannya, kenapa Anda tidak? Lagi pula Anda bisa melakukannya secara terang-terangan" jawab Istriku itu dengan tanpa dosa. Berani-beraninya dia menyamakanku dengan Pria lain? Aku ini setia.


Setiap tikungan ada itu dulu...sekarang aku ini Pria setia yang sesungguhnya.


"Kau!!" pekikku kesal menghempaskan kedua tangannya dari leherku, lalu aku pergi meninggalkannya dengan penuh amarah.


Ketika Raja Keito pergi begitu saja, Eun Sha berdiri diam membeku. Terdengar isak tangis dari sudut ruang meditasi yang tersembunyi. Eun Sha menoleh ke belakang ia berjalan dan menemui seseorang yang wujudnya sama persis dengannya.


Eun Sha palsu menghapus air mata Ratu Eun Sha dengan tatapan prihatin.


"Apa Anda menyesali keputusan Anda Yang Mulia?" tanya Eun Sha palsu, pada Ratu Eun Sha. Bibir Ratu Eun Sha bergetar hebat berusaha menahan tangis.


"Tidak. Terima kasih atas bantuanmu. Tapi kenapa kau menuduh Suamiku berselingkuh? Dia terlihat sangat marah. Bagaimana jika dia tidak datang padaku di bulan ke dua karenamu" rengek Ratu Eun Sha pada Eun Sha palsu yang hanya tersenyum kecil. Perlahan...wujud Eun Sha palsu berubah menjadi sosok Jin Sizuka.


"Dia terlalu mencintai Anda. Jangan menangis seperti bayi Yang Mulia. Seorang Ratu tidak boleh terlihat rapuh seperti ini" jawab Sizuka memperingatkan Eun Sha.


"Yang Mulia...ijinkan Hamba terus mendampingi Anda" tambah Sizuka membuat Eun Sha terdiam sejenak.


"Untuk apa?"


"Untuk melindungi Anda dari Kimiko"


"Aku bisa menjaga diriku sendiri"


"Wanita itu lebih berbisa dari seekor ular Yang Mulia. Hamba terpaksa memaksa untuk melindungi Anda kali ini. Karena perintah dari Suami hamba" kata Sizuka dengan raut wajah sedih.


"Suami? Maksudmu leluhur Keito?" tanya Eun Sha yang langsung dijawab dengan gelengan Sizuka.


"Dia bukan manusia. Dia sangat murka ketika tahu, bahwa hamba telah membantu kejahatan. Meski dia tahu bahwa hamba ditipu, hingga mau membantu tetap saja hukuman ini dia berikan"


"Tolong terima bantuan hamba Yang Mulia...ini akan sangat membantu hamba agar hamba di bolehkan berkumpul kembali dengan Suami dan Anak-anak hamba" kini Sizuka lah yang merengek pada Eun Sha.


Raja Keito melangkah begitu cepat ke arah kediaman Selir Kimiko tapi ketika ia hendak menuju pintu, Raja memerintahkan semua pengawal yang menjaga kediaman Selir Kimiko untuk tidak memberi tahukan ke datangannya. Wajah Raja memucat seketika. Keringat dingin mengucur dari dahinya.


Berulang kali kakinya di paksakan untuk kembali melangkah tapi sia-sia...kakinya seperti di lem. Ini semua karena masa lalu yang terlalu membekas di dalam ingatannya. Masa lalu yang tak ingin ia ingat tapi terus ter bayangkan hingga hari ini. Bayangan kelam...masa silam. Dimana Putra Mahkota di paksa untuk menikah dengan Seorang Putri dari Kerajaan seberang.


Yang paling ia benci, ketika ia di paksa untuk memberikan Raja seorang cucu. Banyak alasan, bahkan lebih memilih untuk mengurusi urusan Negara. Ia berpikir dengan demikian ia tak perlu lagi mendengar omelan Chichinya. Tapi ia salah. Raja yang kala itu telah menjadi Kaisar tetaplah pihak yang berkuasa.


Ia di seret untuk memenuhi kewajibannya memberikan seorang Putra Mahkota pada Kerajaan ini. Berulang kali ia menolak, yang ada Keito muda di pukuli menggunakan kayu rotan hingga kakinya tak mampu lagi untuk berdiri.


Ibu Keito menangis histeris melihat keadaan Putranya.


"Kau ingin Hahamu ini mati perlahan melihatmu terus disiksa? Hmm?" mendengar rintihan sang Ibu Keito segera menggelengkan kepala. Ia tak kuasa turut menitikkan air mata.


"Haha mohon Keito...turuti saja perintah Chichimu. Berikan dia seorang Putra Mahkota. Haha tidak ingin melihatmu terus di siksa seperti ini. Sembilan bulan aku mengandungmu, bukan ini yang aku harapkan terjadi pada Putraku"


"Jika aku harus melihat dirimu mati karena disiksa seperti ini, lebih baik kau tidak pernah terlahir ke dunia" geram sang Ibu Suri menatap tajam pada kedua mata Putranya.


"Sekarang berikan jawabanmu Keito. Kau ingin terus memberontak dan melihat Haha mati di hadapanmu sekarang, atau kau turuti saja perintah Chichimu"


"Andaikan pilihannya adalah apakah hamba ingin terlahir sebagai Putra Mahkota atau seorang rakyat jelata, maka pilihan hamba tentu menjadi rakyat jelata, yang mampu mengatur hidupnya sendiri" jawab Keito penuh kemarahan.


Tes


Tes


"Haha!!" pekik Keito ketika melihat sang Ibu menggores lehernya sedikit. Itu tidak mematikan, hanya untuk menakut-nakuti.


"Hentikan!! Akan hamba turuti apa Titah Kaisar" pada akhirnya bibir Keito mengatakan apa, yang tidak ingin ia katakan. Semenjak itu hidupnya menjadi bak di Neraka. Ia mulai mencari Wanita-wanita lain yang mirip dengan Jea Jangna.


"Yang Mulia...kenapa Anda tidak masuk? Kenapa tidak ada yang memberi tahu hamba perihal kedatangan Anda?" lamunan Raja Keito buyar seketika, ketika muncul di hadapannya Selir Kimiko.


"Aku hanya...ingin melihat keadaanmu. Setelah itu baru aku akan kembali bermeditasi"


"Yang Mulia, tetaplah di sisi hamba kali ini" kata Selir Kimiko lembut melangkah menghampiri sang Raja. Namun Raja terlihat panik dan ia melangkahkan kaki mundur menjauhi Kimiko.


"Beri aku waktu untuk menyesuaikan diri denganmu. Aku hanya akan bermeditasi sebentar saja" jawab Raja Keito sambil berbalik menuju ruang meditasinya.