Aitai

Aitai
Episode 9



Dayang Do hwa menyelinap masuk ke dalam kediaman Kasim Akio untuk memberitahukan bahwa Ratu memanggilnya. Setelah keduanya sampai ke kediaman sang Ratu, mereka melihat Ratu sedang serius membaca sebuah surat dengan wajah tegang sekaligus murka.


"Yang Mulia...Anda memanggil hamba?" tegur Kasim Akio begitu melihat kedua tangan sang Ratu bergetar hebat.


"Kasim...geledah rumah Menteri Natsuha sekarang!! Lalu bunuh Selir Eun Sha sekaligus Putranya" perintah Ratu Kimiko membuat mata sang Kasim terbelalak lebar.


"Bukankah beliau sudah lama menghilang Yang Mulia? Lalu...kenapa hamba harus menyelinap ke dalam kediaman Menteri Natsuha? Apa hubungannya Yang Mulia?" tanya Kasim Akio tergagap. Bagaimana ia bisa menggeledah rumah orang yang sudah banyak berjasa pada seluruh anggota keluarganya? Dia bukan orang yang tidak tahu cara membalas budi baik seseorang.


"Apa kurang jelas kata-kataku Kasim!! Eun Sha menghilang karena ulah Natsuha yang menyabotase rencana kita, menculik Eun Sha!! Dia berani main belakang dengan Kakaknya sendiri dan menyembunyikan Eun Sha!!" kata sang Ratu menggebu-gebu.


"Tapi..."


"Aku tidak terima penolakan Kasim!! Lakukan, atau keluargamu kubuat menderita!!" ancam Ratu.


"Daulat Ratu..." kata Kasim sambil memohon diri.


Selir Eun Sha terbangun dari mimpi buruk, menghapus peluh sambil menepuk-nepuk keningnya yang basah dengan lengan kimononya.


"Selir!!" teriak sang dayang panik.


"Ada apa? Kenapa kau sepanik itu?" tanya Eun Sha penuh tanda tanya.


"Ayo kita lari lewat pintu belakang" kata sang Dayang Fushaby menarik lengan Eun Sha agar Ia segera berdiri.


"Fushaby, tunggu dulu. Jangan paksa aku berlari...aku tidak kuat untuk itu " tolak Eun Sha melepaskan diri dari genggaman tangan Fushaby.


"Akan hamba beri tahu kenapa Anda harus berlari sekarang Selir, percayalah pada hamba...sebelum Anda kehilangan banyak hal" kata Fushaby, menyamarkan kata darurat pada setiap katanya. Eun Sha terpaksa menurut, dan berusaha berlari semampunya.


Baru berlari keluar dari pintu belakang, Eun Sha sudah meringis kesakitan.


"Kuatkan diri Anda...ayo" kata sang dayang membantu Eun Sha untuk berlari. Mereka menuju ke arah hutan untuk menghindari sesuatu.


"Hah Hah ka-kata-kan...pa-da-ku sek- sekarang!! Kenapa kau...menggiringku ke-si-ni?" tanya Eun Sha terengah-engah masih terus berlari kecil diiringi sang dayang.


"Ratu. Hamba yakin, itu utusan Ratu yang datang. Mereka memberi surat perintah penggeledahan kediaman Menteri Natsuha, saat beliau tidak ada. Pasti Ratu sudah mengendus keberadaan Anda di sana" jawab Fushaby panjang lebar sambil sesekali dirinya menoleh ke belakang.


"Berhenti!!" teriak seseorang dari kejauhan. Melihat Kasim Akio berteriak dari kejauhan, membuat Eun Sha semakin yakin dugaan Fushaby benar adanya. Eun Sha dan dayang Fushaby berlari mempercepat langkah kaki. Saat Fushaby yakin tidak ada yang melihat keberadaan mereka berdua, Fushaby segera menyelundupkan Eun Sha di sebuah sumur mati yang dangkal.


"Selir, apa pun yang terjadi, jangan pernah keluar dari sini sebelum semua aman" pesan Fushaby sambil berlari, mengambil banyak kayu dan dedaunan yang telah menguning guna menutupi tubuh Eun Sha. Fushaby meletakkan banyak batang kayu tak beraturan di atas kepala sang Selir tak lupa menaburkan banyak dedaunan kuning untuk menambah kesan kotor.


Tidak akan ada orang yang curiga dengan sesuatu yang kotor dan tak terawat bukan? Fushaby segera berlari mendengar derap langkah para prajurit sang Kasim Akio.


WuSSsssss


Jleeeeb!!


Sebuah panah beracun, menancap di tulang kering kaki Fushaby bagian belakang. Gadis itu mengerang dan jatuh tersungkur. Ninja yang mengejar dayang tersebut langsung meremas kuat-kuat lengan sang dayang hingga menambah penderitaan Gadis yang sedang sekarat.


"Dimana Selir Eun Sha? Katakan!!" gertak sang Ninja.


"Se-Selir...terpisah dari saya" jawab Fushaby penuh keyakinan meski nyawanya dalam bahaya.


"Dimana kalian mulai terpisah?" tanya Ninja itu melepaskan cengkeraman dari sang Dayang. Maka dayang itu pun menunjukkan arah asal-asalan.


Jleeeeb!!


Sebuah pisau besar menancap tepat di perut Fushaby!! Para ninja itu langsung berlari kearah yang ditunjuk sang dayang lalu meninggalkannya begitu saja.


"Fushaby!! Apa yang terjadi? Katakan?!" pekik Sang Raja yang berlari memeriksa siapa yang sedang terluka di hadapannya. Natsuha yang mengiringi sang Raja, langsung terkejut bukan main. Ia gelisah...dimana ada Fushaby pasti disitu juga ada Eun Sha karena begitulah perintahnya pada sang Dayang.


"Yang Mulia..." kata Fushaby lemah...sambil menunjuk kearah sumur.


"Pergilah...ke sumur itu...Yang Mu...Lia..." kata Fushaby di sela-sela nafas terakhir. Raja menatap kearah Natsuha...Pria itu mengangguk pasrah...bukan saatnya dia mementingkan ego sekarang, yang terpenting adalah keselamatan Eun Sha.


Maka, Raja pun berjalan tergopoh-gopoh kearah sumur sambil membawa sebuah katana di tangan kirinya bila ada serangan mendadak dari arah mana pun, termasuk dari dalam sumur itu sekalipun. Natsuha berjalan di belakang sang Raja ikut berjaga-jaga dari serangan tak terduga itu. Raja membuka satu persatu tumpukan kayu sekaligus menyingkirkan tumpukan dedaunan di bawah kayu.


"Eun Sha..." kata sang Raja terkejut bukan main. Cahaya mata redup itu pun kembali bersinar terang saat menemukan kembali belahan jiwa yang telah lama terpisahkan darinya.


"Yang Mulia..." kata Eun Sha di sela tubuhnya yang bergemetaran hebat, takut sang penemu dirinya adalah para ninja. Dengan hati-hati Raja membantu Eun Sha untuk berdiri. Beliau menggendong Eun Sha keluar dari sumur membuat hati Natsuha terasa teriris-iris.


Seluruh pandangan tertuju pada kedatangan sang Raja dan Menteri Natsuha bersama Eun Sha. Sang Selir kesayangan Raja itu, kini telah tiba di Istana, kembali kedalam kediamannya. Begitu selesai membersihkan diri dibantu para dayang Istana, Eun Sha bergegas menuju kediaman Raja guna mendapatkan informasi keberadaan Hikari yang sejak kedatangan Eun Sha ke Istana hingga saat ini, belum juga nampak batang hidungnya.


"Selir Eun Sha datang Ingin menghadap!!" lapor sang pengawal membuat sang Raja penasaran perihal apa yang ingin disampaikan Selir padanya.


"Masuklah" jawab Raja riang tak lupa selalu menyunggingkan senyuman yang semenjak sang Selir menghilang, senyuman itu tak kunjung juga terbit.


"Yang Mulia..." hormat sang Selir sambil mengulas senyum dipaksakan.


"Kau terlihat panik. Ada apa Eun Sha? Katakan" balas Raja mengerutkan keningnya.


"Yang Mulia...hamba sedari tadi tidak melihat Hikari. Dimana dia?" tanya Eun Sha sangat khawatir. Tak biasanya dayang itu menghilang begitu saja karena setiap Eun Sha datang, pasti Hikari akan menyambutnya dengan penuh suka cita.


"Dia ditahan"


"Ditahan? Kenapa Yang Mulia? Apa kesalahan Hikari?!" pekik Eun Sha kaget.


"Dia mengizinkanmu pergi dari Istana tanpa izinku"


"Apa? Apa Anda bercanda Yang Mulia? Tanyakan pada dayang Do hwa dan Kasim Akio merekalah yang membuat hamba pergi dari Istana, hanya sekedar untuk berjalan-jalan"


"Do hwa bilang Anda akan terlambat datang dan pulang malam, kemudian datang Kasim Akio yang mengatakan, jika Anda memberi ijin kepada hamba dengan syarat hamba, harus mau jalan-jalan menggunakan tandu istana!!" marah Eun Sha.


"Benarkah Do hwa dan Akio yang memintamu pergi tanpa izinku? Bukannya kau, yang meminta mereka untuk meluluskan keinginanmu keluar Istana Selirku?" tanya Raja penuh penekanan.


"Hamba tidak akan berani pergi kemanapun, tanpa perintah Raja, sekaligus Suami hamba. Apa Anda mulai meragukan hamba? Yang Mulia?" tanya Eun Sha balik.


"Akan ku carikan dayang lain. Biarkan Hikari menikmati hukumannya"


"Kalau begitu, hukum hamba juga Yang Mulia, Hikari tak sepenuhnya salah. Hambalah penyebab kesalah pahaman ini lalu dia, yang harus dihukum karena kesalahan yang hamba perbuat? Apakah itu adil Yang Mulia?"


"Maka hamba mohon Yang Mulia...ijinkan Hikari bekerja kembali untuk hamba...hanya dia yang hamba miliki selain Anda disini" rengek Eun Sha sambil memijit bahu Suaminya itu.


"Akan kulakukan jika kau memijit kedua bahuku" kata Raja sambil menggeleng-gelengkan kepala lalu tersenyum kecil. Eun Sha selalu bisa mencari celah dimana Suaminya tak mampu untuk menolak keinginannya selama itu keinginan yang baik.


"Hmmm?? Benarkah??" tanya Eun Sha dengan mata berbinar-binar. Raja terkekeh melihat ada binar kebahagiaan di mata Eun Sha lalu mengecup kening Eun Sha.


"Pengawal!! Perintahkan penjaga tahanan Istana untuk membebaskan Hikari. Lalu suruh Hikari menghadap Selir Eun Sha!" teriak Raja lantang. Sang pengawal langsung memberi penghormatan dan segera pergi. Eun Sha menghormat juga, lalu berjalan kearah pintu keluar.


"Eun Sha" panggil Raja membuat Wanita itu menoleh pada Rajanya.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Menjemput Hikari"


"Tidak. Kau tetap disini biarkan Hikari membenahi dirinya terlebih dahulu lalu datang menemuimu"


"Tapi Yang Mulia...hamba merindukannya" protes Eun Sha cemberut.


"Jadi kau lebih merindukan dayangmu dari pada aku?! Bagus!!" marah Raja sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Hamba...juga...merindukan Anda, tapi...hamba belum melepas rindu dengan Hikari sementara dengan Anda, sudah..." kata Eun Sha bak anak kecil yang sedang dimarahi orang tuanya.


"Tunggulah dia disini. Dan mulai hari ini, tinggallah disini. Jangan pernah dengarkan siapa pun kecuali mendengarkan perintahku langsung. Mengerti?" kata Raja menyandarkan punggungnya ke sebuah dipan.


Eun Sha melihat gurat kelelahan yang teramat sangat di wajah sang Raja. Apakah sebagian dari rasa lelah itu di akibatkan oleh Eun Sha yang menghilang? Apakah beliau belum tahu, siapa sosok dibalik menghilangnya Eun Sha? Tidak...jika Raja belum tahu, biarkan saja ini jadi rahasia antara dirinya dan Menteri Natsuha.


Tanpa ragu Eun Sha menghampiri sang Raja yang memejamkan mata bersandarkan sebuah dipan. Perlahan tapi pasti, ia melepaskan topi Penguasa yang selalu bertengger di atas kepala Raja.


Pria tersebut segera membuka matanya tapi sebelum sempat bertanya, sebuah pijatan di pelipis sang Raja, membuatnya langsung terbungkam seketika, pijatan yang sangat lembut namun tiap tekanannya kuat, membuat sang Raja nyaman ia merasakan seluruh otot yang menegang kini menjadi lentur kembali...dipejamkannya kembali matanya sambil tersenyum lebar.


"Terima kasih" kata Raja lirih.


"Maafkan hamba Yang Mulia..."


"Untuk apa?" tanya Raja masih menikmati pijatan Eun Sha yang kini telah beralih di kepalanya.


"Karena hamba pergi, hamba jadi membuat Yang Mulia cemas. Coba lihat ini...Anda jadi terlihat jauh lebih tua dari umur Anda" kata Eun Sha memperlihatkan sebuah cermin di depan wajah Raja.


"Kau bilang apa?! Jadi aku tua? Huh?!" protes Raja tidak terima sambil menatap lurus kearah cermin.


"Hamba merindukan Raja yang dulu" kata Eun Sha merengkuh Suaminya penuh kasih.


"Dulu aku seperti apa memangnya?" gumam Raja bingung.


"Tanpa tanaman liar di antara dagu dan bibir Anda itu," celetuk Eun Sha yang sontak membuat raja terkekeh geli.


"Cambang dan kumisku? Aneh, banyak Gadis yang sangat tergila-gila padaku karena ini hingga minta untuk kunikahi" kata Raja keheranan. Mendadak pijatan tersebut terhenti seketika.


"Baiklah, urus saja para Gadis itu Yang Mulia...abaikan saja pendapat hamba" kata Eun Sha ketus sembari berjalan menjauhi Raja. Pria itu terkekeh lalu menggapai pergelangan tangan Eun Sha, menatapnya lembut.


"Dayang Hikari datang ingin menghadap Selir Eun Sha" lapor sang pengawal Istana. Raja langsung melepaskan pergelangan tangan Eun Sha lalu bangkit dari duduknya.


"Aku akan kembali, setelah kau puas melepas rindu dengan dayang kesayanganmu itu" bisik Raja ditelinga Eun Sha. Wanita tersebut tersenyum ceria sambil mengecup pipi Rajanya.


"Masuklah" kata Raja sambil menggoyangkan telunjuknya lalu tersenyum pada Selirnya. Begitu Hikari masuk dan memberi hormat, takut-takut pada Rajanya, sang Raja pun akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.


"Selir..." lirih Hikari dengan mata berkaca-kaca. Eun Sha langsung memeluk dayangnya seolah sedang memeluk saudari Perempuannya.


"Maafkan aku..."


"Apa maksud Anda Selir?" tanya Hikari bingung.


"Kalau aku tidak pergi, kau tidak akan pernah dipenjara"


"Tidak Selir, itu musibah...seharusnya hamba yang tidak lalai membiarkan Anda pergi dan berakhir di culik" jawab Hikari mulai tersedu.


"Aku tahu kau pasti sakit hati pada Raja, karena meragukan kesetiaanmu padaku. Tapi percayalah...Raja sangat menyayangiku, sama besarnya denganmu yang menyayangiku juga. Kumohon maafkan Rajamu" kata Eun Sha menatap kedua mata Hikari yang memerah karena menangis.


"Tanpa Anda minta pun, hamba akan memaafkan Raja. Syukurlah Anda tidak kurang suatu apa pun...jika tidak, rasa bersalah hamba akan bertambah besar" gumam Hikari menunduk sedih.


Brakh!!


Tiba-tiba Eun Sha menubruk meja tempat Raja bekerja. Dia merintih kesakitan di daerah perutnya.


"Selir...duduklah disini" kata Hikari sambil menuntun sang selir duduk di peraduan Raja.


"Tunggulah sebentar, akan hamba panggilkan tabib" kata Hikari ikut panik lalu berlari keluar dari kediaman Raja.


Hikari berlarian mencari keberadaan sang tabib Istana ia berkeliling Istana tanpa kenal lelah. Kemana tabib itu? Saat Hikari melewati kediaman sang Ratu, dayang Do hwa menatap penuh selidik apa yang sedang di lakukan oleh dayang selir Eun Sha di sekitar kediaman Ratunya?


"Do hwa...kau membuat tanahnya sangat basah" tegur Ratu sambil menatap Do hwa yang sibuk mengawasi obyek lainnya tanpa menyadari air yang ia tuangkan untuk menyirami tanaman hias Ratu, sudah memenuhi pot tanaman tersebut hingga, luber ke tanah membuat kubangan becek di bawahnya.


"Yang Mulia...ampuni hamba..."


"Lakukan segala hal dengan benar"


"Maaf Yang Mulia...itu...karena hamba...melihat dayang Selir Eun Sha berlarian di sekitar sini" lapor Do hwa takut-takut.


"Kau pasti salah lihat. Hikari di tahan sampai sekarang. Lalu apa yang ia lakukan di sekitar sini?"


"Yang Mulia Raja telah melepaskan dayang itu Ratu. Atas permintaan Selir Eun Sha"


"Apa?! Kau bilang Eun Sha telah kembali?! Bagaimana bisa?! Natsuha...dasar pengkhianaaaat!!" umpat sang Ratu geram bukan main. Adiknya sendiri menjamin, bahwa Eun Sha tidak akan pernah kembali pada Rajanya? Lalu apa ini?! Apa dia ingin mempermainkan Ratu?!


"Panggil Natsuha sekarang juga" kata sang Ratu bersungut-sungut. Tak lama kemudian, Menteri Natsuha datang menghadap Ratu.


"Masih jelas aku ingat janjimu padaku Natsuha" kata Ratu menatap ke arah taman Istana.