
Ratu Seonha, Panglima Hyun-Jae, dan Jee Kyung akhirnya bersiap-siap untuk berkuda. Mereka berjalan sambil berbincang-bincang ringan menuju kandang kuda Kerajaan. Langkah kaki mereka terhenti begitu melihat siapa yang berada di dalam kandang kuda sambil bersiul riang.
Jee Kyung terutama Hyun-Jae saling memandang bingung satu sama lain. Menyadari kedatangan Ratu, Heo Dipyo berjalan mendekat, lalu memberi hormat.
“Hormat hamba Yang Mulia Seonha” sapa Heo Dipyo sambil tersenyum.
“Wah, apa ini kejutan? Aku mendengar baik dari Panglima Hyun-Jae dan juga Nona Jee Kyung kalau kau masih harus menyelesaikan tugasmu” respons tak terduga dari sang Ratu membuat Heo Dipyo harus menyiapkan jawaban yang masuk akal.
Bagaimana mungkin dia mengatakan bahwa sebenarnya seorang Heo Dipyo tak rela meninggalkan Jee Kyung bersama dengan Panglima kesayangan Ratu? Mau ditaruh dimana wajahnya?
“hamba menyelesaikannya dengan secepat mungkin. Bagaimanapun juga tak baik menolak undangan Ratu.” Jawab Heo Dipyo berusaha menyamarkan kegugupannya.
“Yang Mulia, kenapa Anda lebih memilih pergi ke hutan? Bukankah disana akan jauh lebih berbahaya?” tanya Jee Kyung sambil menuntun kudanya di samping kuda milik Ratu.
“Akan sangat seru melihat Hyun-Jae dan Heo Dipyo bersaing dalam perburuan harimau” sahut sang Ratu mengulas senyuman. Jee Kyung melirik semua perbekalan dalam perburuan sudah terpasang rapi di punggung Hyun-Jae dan Heo Dipyo.
“Hanya menonton? Itu pasti akan sangat membosankan. Kenapa mereka tidak mengajarkan berburu pada Ratu dan hamba saja?” celetuk Jee Kyung yang langsung di respons Hyun-Jae sekaligus Heo Dipyo.
“Berburu bukan pekerjaan seorang Wanita Nona Jee Kyung” jawab mereka kompak. Sang Ratu langsung tertawa lepas mendengar kekompakan kedua Pria itu, untuk pertama kalinya.
“Ya ampun, mereka terlalu meremehkan kita Yang Mulia. Seharusnya Yang Mulia memarahi mereka bukannya malah tertawa seperti itu” keluh Jee Kyung kesal.
“Aku senang. Sangat senang melihat mereka. Setelah sekian lama seperti seekor tikus dan kucing, sekarang lihatlah mereka, sangat akur. Pasti karena kau, ada diantara kami. Kau, sungguh membawa keberuntungan” kekeh Ratu menatap bahagia pada Jee Kyung bangga. Sesampainya di gerbang kerajaan, mereka memacu kuda menuju hutan.
Heo Dipyo merasakan ada firasat buruk. Bahkan kini dirinya yakin akan terjadi sesuatu setelah melihat Hyun-Jae terus melirik ke belakang tanpa menoleh sedikitpun.
“Kau juga merasakan seseorang mengikuti kita?” bisik Heo Dipyo menyamakan langkah di dekat Hyun-Jae. Pria bermata elang itu hanya mengangguk tangan kirinya siaga memegang gagang pedang, yang terpasang di pinggangnya.
“Satu, dua, tiga...lima belas orang mengikuti kita. Kau yakin tidak mengenal mereka?” tanya Hyun-Jae menyuarakan kecurigaannya.
“Maaf mengecewakan imajinasimu. Aku tidak bodoh melakukan pemberontakan secara terang-terangan tanpa persiapan apa pun” jawab Heo Dipyo ketus.
“Jika kau terlibat dan terjadi sesuatu pada Ratu, ku pastikan kepalamu akan terlepas dari tubuhmu” ancam Hyun-Jae perlahan.
Kedua Pria itu masih mengawal Ratu dan Jee Kyung dari belakang. Mereka heran kenapa orang-orang itu hanya mengikuti dan mengawasi mereka? Siapa dalang di balik mereka?
Sesampainya di hutan, Hyun-Jae dan Heo Dipyo semakin meningkatkan kewaspadaan penuh. Terdengar suara siulan dari salah satu anggota musuh mereka.
“Siapa itu?” Ratu Seonha menoleh ke belakang bertanya pada Panglimanya.
“Harap jangan menoleh ke belakang Yang Mulia. Sepertinya ada perompak yang menargetkan kita semua” Hyun-Jae menginstruksikan agar kedua Wanita tersebut bersikap sebiasa mungkin. Ratu Seonha dan Jee Kyung terpaksa hanya melihat ke arah depan dengan jantung yang berdebar.
“Jika ada serangan, tolong pacu kudanya ke arah selatan.” Tambah Hyun-Jae.
“Hyaaaaaah!!” teriakan salah satu musuh, memacu kudanya cepat kearah mereka.
“Yang Mulia!! Lari!!” perintah Hyun-Jae memindai bahaya datang. Ratu dan Jee Kyung memacu kudanya kearah selatan sesuai perintah Hyun-Jae.
Tapi, ada batu besar berada di tengah jalan membelah jalan menuju arah utara. Dengan panik Ratu Seonha memacu kudanya ke arah kiri dan Jee Kyung memacu kudanya, kearah kanan. Terpaksa Hyun-Jae dan Heo Dipyo memisahkan diri untuk menyelamatkan kedua Wanita itu. Ternyata, orang-orang yang mengejar mereka berempat tak meneruskan pengejaran.
Apa ini jebakan? Agar kami terpisah? Sial!! Umpat Heo Dipyo menyadari mereka masuk dalam jebakan. Mereka melewati jalan terjal, yang kanan kirinya terdapat jurang membentang lebar. Tak terpikirkan oleh Heo Dipyo, diatas tebing ada beberapa orang menargetkan anak panah mereka ke arah Jee Kyung!! Heo Dipyo mempercepat laju kudanya, menyamakan derap langkah kaki kuda yang dinaiki Jee Kyung.
“Bersiaplah!! Aku akan melompat ke atas kudamu!!” Heo Dipyo memperingatkan.
Shaaaaaat!!
Shaaaaaaaat!!
Zrassssssh!!
Ringkikan kesakitan kuda Jee Kyung terdengar nyaring!! Kuda yang di naiki Jee Kyung jatuh terjungkal menghantam tanah!!
“Jee Kyung!!” teriak Heo Dipyo ketika Gadis itu terpental, sekaligus terseret di tanah, menuju bibir jurang!! Heo Dipyo mencabut pedang dengan pegangan berhiaskan batu rubi merah darah. Pria bersurai hitam, bernama Heo Dipyo sekuat tenaga mengarahkan pedangnya ke pohon besar di tengah bibir jurang.
Brugh!!
Tebasan pedang Heo Dipyo berhasil merobohkan pohon yang terlihat berdiri sangat kokoh tadi. Jee Kyung menubruk pohon sehingga selamat dari melayang terbang masuk ke dalam jurang.
Heo menggeram marah, ketika meskipun para pemburu tahu Jee Kyung sudah tak berkutik lagi, mereka tetap saja berusaha memanah Gadis tak berdosa tersebut.
Dengan gesit Heo Dipyo melesatkan puluhan anak panah, dalam sekali bidikan. Dalam sekejap, para musuh di atas tebing, tumbang menjumpai akhir hidup mereka. Heo Dipyo menarik pelana kudanya, agar kuda yang ia naiki berhenti. Heo turun dan berlari menghampiri Jee Kyung.
Kraaaaak!!
Kraaaak!!
Nampaknya bibir jurang mulai rapuh tak mampu lagi menahan beban pohon sekaligus dua manusia di atasnya. Heo segera mencabut pedang dari pohon itu, lalu memeluk pinggang Jee Kyung erat-erat. Ketika bibir jurang tersebut benar-benar longsor, Heo Dipyo menghunuskan pedangnya sedalam mungkin ke tanah yang masih kuat.
Kini Heo Dipyo bergelantungan di udara, bersama Jee Kyung. Heo Dipyo bersiul nyaring, memanggil kuda kesayangannya. Benar saja kuda terlatih itu mengendap-endap perlahan, lalu membaringkan diri ke bibir jurang tepat ke arah Heo Dipyo. Heo sedang bertaruh dengan nyawanya dan nyawa Jee Kyung kali ini. Jika beruntung, saat ia melepas genggamannya pada pedang miliknya, ia bisa secepatnya meraih tali pelana kudanya yang terulur panjang.
Tapi jika terlambat, ucapkan selamat tinggal pada dunia. Tak ada pilihan lain. Ia melepaskan genggamannya!! Berusaha meraih tali kekang kuda tapi sialnya, ia gagal.
Bats!!
Betapa terkejutnya Heo Dipyo, mendapatkan satu pukulan menyakitkan di pergelangan tangannya. Sebuah tali cambuk panjang menyelamatkan nyawanya dan Jee Kyung. Seseorang sengaja mengarahkan tali cambuk panjangnya ke arah pergelangan tangan Heo secepat kilat dan berhasil membentuk tali simpul yang mengikat kuat tangan Heo.
Siapa pun pemilik cambuk itu, menarik dengan cepat tubuh Heo sampai naik ke bibir jurang, menyeretnya hingga ke tempat yang lebih aman.
“Kalian baik-baik saja?” tanya seseorang kepada Heo Dipyo.
“Ya, terima kasih atas...” jawaban Heo Dipyo terputus ketika Wanita penyelamat itu menghilang begitu saja. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak ada siapa pun. Ia tak mau membuang-buang waktu. Luka di kepala Jee Kyung harus segera diobati. Dengan tangan yang sehat, ia mengangkat tubuh Jee Kyung.
Ia bersiul kembali memanggil kudanya. Ia menaikkan Jee Kyung lebih dulu ke atas kuda. Begitu Heo sudah naik di belakang Jee Kyung, ia mengangkat tubuh lunglai tersebut, dan menjadikan dadanya sebagai sandaran bagi Jee Kyung.
Di kediaman Perdana Menteri Suk Chin sebelum kedatangan Heo Dipyo dan Putrinya Jee Kyung, Ayahanda Jee Kyung ini kedatangan seorang tamu.
“Bagaimana kabarmu Suk Chin?”
“Baik Tuan. Ada kepentingan apa Anda datang ke gubuk sederhana kami?” pertanyaan Suk Chin membuat lawan bicaranya tertawa. Suk Chin dan Istrinya Seo Hee saling memandang tak mengerti.
“Aku memberi hak istimewa pada Putri kalian dengan menjadikannya calon Istri Keponakan kesayanganku. Apa ini balasan kalian padaku?”
“Tuan Kwon Jae He sebenarnya apa yang ingin Anda katakan?” tanya Suk Chin mulai tersinggung. Dalam ingatannya, masih segar orang yang terus merongrongnya untuk menikahkan Putrinya dengan Heo Dipyo adalah Kwon Jae He sendiri. Bisa-bisanya Kwon Jae He berkata demikian sementara beliau sendiri yang terus merongrongnya?!
“Putrimu membuat jalan Keponakanku menjadi tidak pada jalurnya Menteri Suk Chin. Ajarkan dengan baik Putrimu untuk mematuhi aturan yang telah kita sepakati. Jika tidak, aku akan memberinya peringatan"
"Saat peringatan itu masih tetap di terjangnya, jangan salahkan aku jika suatu hari nanti Putrimu akan kuhancurkan. Cam kan ini Suk Chin!! Peringatanku padanya, akan segera datang” jawab Kwon Jae He sambil melenggang menaiki Kudanya dan pergi begitu saja.
“Suamiku..., kita harus menjaga Jee Kyung lebih ketat lagi. Aku tidak bisa melihat Putri kita hancur seperti dulu lagi. Bahkan sekarang orang jahat itu sedang mengatur hal mengerikan untuk Putri kita. Tidak...aku mohon cegah apa pun yang dapat menghancurkan Putri kita” panik sang Istri histeris.
Mereka sadar ancaman orang jahat itu tidaklah main-main. Karena dia pun sudah pernah memenggal kepala Putra kandung mereka di hadapan mereka berdua, hanya karena Suk Chin tidak mau menjadi bagian dari fraksi Kiri yang penuh intrik kotor.
Suara derap langkah kaki kuda terdengar dari kejauhan mendekat ke rumah mereka.
“Jee Kyung?! Tuan Heo, apa yang terjadi pada kalian?” panik sang Ibu Jee Kyung ketika melihat kepala Jee Kyung mengeluarkan darah bahkan tangan Heo Dipyo terluka parah.
“Dae Nari!! Kemarilah!!” teriak sang Tuan.
“Nona Jee Kyung!!” pekik Dae Nari ketika mendapati Tuannya sedang terluka parah.
“Cepat cari Tabib segera” perintah sang Tuan mutlak.
“Baik Tuan” jawab Dae Nari dengan mata berkaca-kaca. Ia segera bergegas mencari Tabib.
Pengobatan Jee Kyung dan Heo Dipyo telah dimulai. Sang Tabib selalu mengontrol keadaan Jee Kyung sementara Heo Dipyo dan Ayah Jee Kyung menunggu laporan perkembangan dari Tabib di ruang tamu.
“Bagaimana keadaan tangan Tuan?”
“Ini akan membaik setelah seminggu berlalu”
“Tuan. Benarkah saya bisa mempercayakan Putri saya Jee Kyung kepada Anda? Bagaimanapun juga, kejadian ini membuat saya menjadi ragu”
“Aku akan menjaganya. Jangan Khawatir”
“Sebelum Anda dapat terbebas dari cengkeraman Paman Anda, saya rasa Jee Kyung tidak akan aman bersama Anda”
“Apa maksudmu Menteri Suk Chin?!” gertak Heo merasa dirinya di remehkan karena berada di bawah bayang-bayang Pamannya meski kenyataannya memang demikian.
“Maaf atas kelancangan saya Tuan. Tapi sebelum Anda datang kemari, Paman Tuan datang kemari mengancam saya dan Istri saya agar Jee Kyung tidak memberikan pengaruh buruk pada Keponakannya"
"Dia bicara soal memberikan pelajaran pada Putri saya. Dan saya sungguh tidak dapat menerima jika yang beliau maksud adalah peristiwa seperti ini” kata Suk Chin dengan suara bergetar emosional.
Jadi ini perbuatan utusan Paman?! Batin Heo Dipyo bersungut-sungut.
“Kau pikir aku akan diam saja mengetahui kelakuan Pamanku yang semakin keterlaluan ini?”
“Bisakah untuk beberapa waktu Anda tidak menemui Putri saya, Tuan?”
“Apa hakmu melarangku Suk Chin? Dia akan segera menjadi Istriku!” marah Heo Dipyo membuat Suk Chin semakin kalut bukan main.
“Bisakah Anda meninggalkan Putri saya saja Tuan” tiba-tiba sang Perdana Menteri berdiri, lalu bersujud di hadapan Heo Dipyo.
“Apa yang kau lakukan? Berdirilah”
“Demi jiwa Putri saya. Jika perlu, nyawa pun akan saya pertaruhkan. Dia satu-satunya anak saya setelah Paman Anda menghilangkan nyawa Putra pertama kami. Haruskah ada satu nyawa anak saya yang lain untuk dikorbankan kembali?” tegas Menteri Suk Chin dia benar-benar takut kehilangan darah dagingnya sekali lagi.
Karena ulah Heo Dipyo, selama Jee Kyung bertemu dengan Heo, berapa kali ia melihat Putrinya pulang dengan terluka seperti ini?
“Tolong percaya pada saya sekali lagi Perdana Menteri Suk Chin. Aku akan benar-benar menepati janjiku untuk melindungi Jee Kyungmu dari Pamanku. Tidak akan kubiarkan nyawanya dalam bahaya lagi” tegas Heo Dipyo memilih untuk pergi dari kediaman sang Perdana Menteri.
Bagaimana pun, jika dia bergerak sendiri, sang Paman akan tetap menjadi pemenang. Jadi dia harus mencari beberapa orang sekutu yang kuat dan seimbang dengan Pamannya.
Tunggu saja Paman, aku akan memberimu perhitungan! Umpat Heo Dipyo berjalan menuju kudanya.
Di Istana, Ratu Seonha berjalan mondar-mandir dalam ruang kerjanya. Serangan tadi, tidak di arahkan untuk menyerangnya dan Hyun-Jae. Bagaimana keadaan Kotoko dan Heo Dipyo? Kenapa hatinya menjadi sangat berat memikirkan keadaan mereka berdua?
“Yang Mulia...tenanglah. Hamba sudah memerintahkan anak buah hamba mencari informasi tentang Putri Menteri Suk Chin” kata Hyun-Jae berusaha membuat Ratunya tenang. Ada apa dengan Ratunya? Sebegitu dekatkah Ratu dengan Putri Menteri Suk Chin?
“Mengenai kedekatan Anda dengan Putri Perdana Menteri Suk Chin hamba harap ini tidak berlangsung lama Yang Mulia” nasihat Hyun-Jae membuat langkah kaki sang Ratu berhenti. Ia menoleh tak percaya pada Panglimanya.
“Kau sempat memikirkan kedekatanku dengannya disaat genting seperti ini?! Nyawanya bisa saja terancam! Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi pada Jee Kyung. Aku baru saja bertemu dengannya” kini Ratu mulai menangis pilu.
“Apa Anda lupa? Ada Perdana Menteri Heo Dipyo disisinya. Untuk apa Anda cemas? Dia akan melindungi Gadis itu. Bagaimanapun Jee Kyung calon Istrinya” kata Hyun-Jae memeluk sang Ratu.
“Menteri Heo Dipyo ingin menghadap Yang Mulia” kata Prajurit di depan ruang kerjanya. Buru-buru Hyun-Jae melepaskan pelukannya.
“Biarkan dia masuk” jawab Ratu sambil menghapus air matanya. Sang Menteri tiba, dengan pergelangan tangannya yang terbalut.
“Apa Jee Kyung baik-baik saja? Kenapa kau tidak datang bersamanya? Sesuatu terjadi padanya?” berondongan pertanyaan sang Ratu, kini hanya di jawab dengan sebuah kebisuan. Heo Dipyo mendadak bersimpuh dihadapan sang Ratu.
“Ratu cemas setengah mati memikirkan kalian berdua. Tidakkah kau keterlaluan? Kenapa kau malah diam saja?” tegur Hyun-Jae. Tapi Ratu mengangkat tangannya agar Hyun-Jae diam.
“Kau butuh waktu merangkai kata hanya untuk bicara padaku? Apa masalah kalian sangatlah besar? Heo Dipyo?” pertanyaan Ratu dijawab anggukan kecil Heo Dipyo. Tubuhnya bergetar hebat ia tidak tahu harus mulai bicara dari mana.