Aitai

Aitai
Episode 52



Hembusan angin sekaligus rimbunnya perkebunan teh yang terhampar luas menambah pesona tempat itu. Ratu Seonha berdiri menikmati suasana sambil menunggu seseorang yang kata In-Su sangat ingin bertemu dengannya.


“Nona Ha-Neul, silakan ikuti saya” panggil In-Su setelah menghilang selama 15 menit. Ketika Hyun-Jae melangkahkan kaki mengikuti Ratu, In-Su menghentikan langkahnya. Lelaki itu berbalik dan berdehem sejenak.


“Maaf Panglima Hyun-Jae. Ini hanya antara Ratu dan Biksu Dam” larang In-Su sesuai perintah. Hyun-Jae hanya menoleh menatap Ratu Seonha.


Gadis itu hanya mengangguk lalu berjalan kembali mengikuti In-Su. Suara pintu tergeser terdengar, In-Sun mempersilakan Ratu masuk, tanpa dirinya. Ratu berjalan memasuki ruangan mungil yang di desain indah. Ya, desain rumah kayu terindah yang pernah Ratu lihat sebelumnya. Ratu melihat sosok seorang Biksu yang duduk di atas kursi kayu. Biksu itu bangkit dan memberi salam.


“Saya senang, akhirnya Anda, dan dua saudara Anda benar-benar datang memenuhi panggilan kami” kata Biksu itu sambil tersenyum teduh.


“.....”


“Bukankah Anda Putri dari Raja Keito?”


Deg!!


Bola mata indah itu spontan terbelalak lebar. Apa Biksu ini ada hubungannya dengan kejadian aneh yang menimpa dirinya, Kotoko dan Hiroshi?!


“Bagaimana Anda tahu....”


“Komainu, Hato dan Kitshato memberi saya kabar baik itu” potong sang Biksu sambil menuangkan secawan teh mint lalu menyodorkan pada Hamari. Gadis itu pun duduk berhadapan dengan Biksu.


“Apa Anda Tuan yang di maksud tiga makhluk suci itu?”


“Masih ada dua orang lagi Tuan Putri Hamari” wajah sang Biksu begitu tenang dan damai ketika mengucapkannya.


“Jadi, bagaimana hasil ujian yang Raja Keito berikan? Apa kalian mendapatkan pencerahan di tempat ini?”


“Ya”


“Itu sangat bagus. Bersiaplah. Kalian akan kembali ke tempat seharusnya kalian berada”


“Apa...Ha-Neul Arang akan kembali setelah saya pulang?”


“Tidak. Ha-Neul, Jee Kyung, dan Kim Yeon-Seok, mereka telah tiada”


“Jadi, kami menggantikan posisi orang-orang yang telah mati?!” karena syok berat Hamari bangkit dari duduknya.


“Bagaimana bisa mereka semua, maksudku anggota keluarga Ha-Neul, Jee Kyung bahkan Yeon-Seok tidak menyadari mereka telah tiada?”


“Karena di detik terakhir hidup mereka, kalian datang terseret kemari dengan mengambil identitas mereka”


“Kapan kami pulang? Setidaknya beri tahu kami kapan, sehingga kami bisa berpamitan dengan keluarga kami yang di sini” tanya Hamari sendu di respons dengan senyuman bijak.


“Saya senang, kalian menganggap keluarga mereka adalah keluarga Anda sekalian. Tapi maaf. Saya tidak bisa memberi tahu kapan tepatnya. Saya hanya dapat membaca dimana peperangan tak dapat dihindari lagi, maka saat Penguasa baru telah di tentukan Ratu Seonha, saat itulah ujian kalian berakhir” jawab Biksu menyesal tak bisa banyak membantu.


Ratu Seonha terlihat keluar dari tempat ia bertemu dengan sang Biksu. Sejak saat itu, Ratu berubah menjadi pendiam. Hyun-Jae sempat khawatir dengan perubahan emosi sang Ratu. Ketika Ratu di bawa oleh kereta kuda, Ratu sudah mengubah penampilannya dari penjual bunga keliling menjadi Ratu Seonha. Heo Dipyo dengan segudang penyamaran, menyamakan derap langkah kaki kudanya mendekati Hyun-Jae.


“Kalau kau mencemaskannya sampai seperti ini, kenapa kau tidak tanyakan apa yang terjadi padanya sekarang?”


“Kami punya cara sendiri untuk saling berbagi. Biarkan dia dengan segudang masalah di kepalanya untuk saat ini. Tapi hari ini juga akan ku pastikan mengetahui apa yang membuatnya seperti ini” jawab Hyun-Jae datar.


“Kau yakin mau menunda? Kalau kulihat wajahnya tadi seakan apa yang dia miliki suatu saat nanti akan segera terenggut darinya” tebak Heo Dipyo membuat Hyun-Jae berpikir keras.


“Diam dan bersembunyilah. Sebentar lagi kau akan kembali ke tempat Tuan Beom Ho dan Putranya” jawab Hyun-Jae dingin. Tae-Young bergegas mendekati Heo Dipyo meminta sang Perdana Menteri mengikuti arah yang ia tuju.


“Aku ingin turun sebentar. Tolong berhenti sekarang” kata Ratu Seonha, setelah membuka sedikit tirainya. Kereta kuda tersebut akhirnya melambat dan berhenti. Ratu Seonha keluar dan berdiri sambil memperhatikan seluruh prajurit yang mengawalnya.


“Aku tidak akan lama jadi jangan ikuti aku kecuali Hyun-Jae” tegas Ratu. Hyun-Jae melompat turun dari atas kuda. Ia bergegas mengawal Ratunya menuju bukit.


“Yang Mulia jangan terlalu jauh”


“Kali ini saja tolong turuti keinginanku” jawab Ratu Seonha tetap melangkah maju. Ketika ia merasa jarak mereka cukup jauh dari rombongan mereka, Ratu Seonha menghentikan langkahnya.


“Apa yang diutarakan Biksu hingga Anda secemas ini?”


“Aku berusaha menghindari peperangan tapi kedepannya itu tidak akan bisa dicegah lagi”


“Anda juga harus menepati janji Anda Yang Mulia. Karena Heo Dipyo telah menahan dirinya sampai saat In-Su datang padanya. Mohon jangan halangi dia lagi untuk turut andil berperang.” Kata Hyun-Jae setelah begitu lama ingin mengatakan hal ini. Tiba-tiba Ratu Seonha memeluk Hyun-Jae erat.


“Jangan khawatir. Kami pasti akan tetap disisi Anda sampai akhir Yang Mulia” tandas Hyun-Jae berusaha memahami isi hati Kekasihnya itu.


“Jika aku meninggalkanmu, kau harus tetap melanjutkan hidupmu” lirih Ratu Seonha semakin erat memeluk Hyun-Jae.


“Apa yang Anda katakan? Jangan berkata seolah kita akan berpisah. Anda akan baik-baik saja sampai akhirnya, sepupu Anda Hwan Chin menjadi Raja. Dan..., sesuai janji, kita akan menjauh dari Istana. Hidup bahagia di kediaman sederhana kita nanti” kata Hyun-Jae kini ia membalas memeluk erat Ratu Seonha.


Pria ini tidak mengerti kenapa Ratunya selalu membicarakan tentang perpisahan? Kali ini, Hyun-Jae benar-benar ketakutan Kekasihnya menghilang tiba-tiba.


“Tak lama lagi perang akan berlangsung Hyun-Jae, artinya aku juga harus bersiap untuk menang atau pun kalah. Aku hanya membayangkan kekalahan itu dalam kepalaku”


“Kita pasti menang. Kau hanya gugup jangan pernah mengucapkan kata perpisahan lagi. Aku benar-benar tidak menyukainya” potong Hyun-Jae bersungut-sungut.


Aku akan merindukan ekspresi itu, suara itu, dan pelukannya. Batin Hamari kemudian teringat pertanyaannya kepada Biksu.


“Jika..., aku memutuskan untuk tidak pulang dan menetap adakah caranya agar tidak kembali?”


“Tidak bisa. Yang tidak seharusnya disini cepat atau lambat harus kembali. Jika yang bersangkutan berusaha melawan ketentuan ini, maka dia akan lenyap. Dan terlupakan baik di sini mau pun di tempat asalnya” kenangan akan jawaban Biksu memudarkan lamunannya.


“Mari kita kembali. Jangan biarkan Istana tanpa Penguasa dalam waktu yang lama” kata Hyun-Jae menyadari Ratu Seonha kembali melamun tadi. Ia menggandeng Ratu, dan bergegas menuju rombongannya lagi.


Ratu berjalan mendekati kereta kuda lalu sesuatu melesat melewati wajah Ratu Seonha dengan cepat.


Bats!!


Ratu terdiam mematung karena syok. Hyun-Jae berlari menghampiri Ratu Seonha dan mendapati sebuah surat, melekat bersama anak panah yang menancap tepat di bagian badan kereta kuda. Hyun-Jae segera menarik anak panah, dan mengambil surat tersebut lalu membacanya dengan seksama.


Kematian Ratu Seonha sudah didepan mata begitulah isi surat di tangan Hyun-Jae. Pria itu mencengkeram kuat kertasnya.


“Apa isinya?”


“Yang jelas mulai sekarang Anda tidak bisa mengurangi pengawasan seperti biasa. Hamba akan segera meningkatkan jumlah pengamanan untuk Anda. Masuklah Yang Mulia” tegas Hyun Jae membuat Ratu Seonha merasa bingung.


Kenapa Hyun-Jae begitu pucat setelah membaca isi surat itu? Sekarang malah dia akan meningkatkan jumlah pasukan untuk menjaganya.


“Yang Mulia!! Yang Mulia Ratu!! Mohon tunggu sebentar!!” teriak seorang Wanita muda yang datang entah dari mana. Ia terlihat sangat panik tapi kini ia memandang takut wajah Hyun-Jae, ketika saat ia akan mendekati Ratunya, Hyun-Jae mengacungkan pedang ke arah lehernya. Ratu Seonha menatap tajam Wanita muda tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Kenapa kau disini?”


“Yang Mulia.....” orang ini malah bersimpuh serendah mungkin sambil menangis setelah Hyun-Jae menyarungkan kembali pedang andalannya.


“Ayahanda dan Ibunda Yang Mulia sekarang sedang sekarat. Mohon segera temui mereka” kata-kata Wanita muda itu sukses membuat Ratu Seonha kehilangan keseimbangan. Dia hampir saja pingsan, jika Hyun-Jae tidak mencengkeram kuat lengan sang Ratu.


“Antarkan aku ke tempat mereka” jawab Ratu tanpa basa basi lagi.


Sesampainya di rumah Wanita Muda itu, yang letaknya berdekatan dengan kuil, Ratu Seonha dengan rasa khawatir memuncak menanti kedatangan Tabib yang sudah tiga jam lamanya menangani kedua orang Tuanya di tempat asing ini.


“Yang Mulia...” si Tuan rumah memanggil sambil menyiapkan makanan ringan untuk Ratu Seonha.


“Apa yang terjadi? Bukankah Ayahanda dan Ibunda ada di dalam kuil?! Lalu kenapa mereka bisa terkena serangan panah beracun?!” teriak Ratu Seonha pada sang Wanita muda.


“Mereka...diserang ketika sedang berdoa Yang Mulia...hamba pantas mati. Maafkan ketidak becusan hamba dalam menjaga kedua Orang Tua Anda” tangisan Wanita itu pecah sambil menunduk penuh penyesalan.


Seluruh tubuh Ratu Seonha bergetar hebat menahan segala rasa dalam hatinya. Marah, tak berdaya, benci, ingin menghancurkan pelakunya, semua bercampur baur.


Sebelum Ratu semakin memperlihatkan keterpurukannya kepada seluruh orang disana, Hyun-Jae menarik tangan Ratu Seonha membawanya keluar dari kediaman sang dayang menuju ke sudut taman terjauh dari jangkauan orang-orang. Ratu melihat kearah seekor kuda yang terikat di bawah pohon.


“Anda ingin meluapkan emosi sekarang atau menahan emosi sambil menunggu kabar dari Tabib tentang perkembangan kondisi Orang Tua Anda?” tegas Hyun-Jae menatap tajam sang Ratu.


“....” diam...hanya ini yang bisa Ratu lakukan dalam diamnya.


“Meskipun Anda begitu banyak kehilangan. Jangan pernah tunjukkan rasa kehilangan Anda”


“Meskipun itu orang yang telah menghadirkan diriku ke dunia ini?” lirih Ratu Seonha mencoba menahan tangisnya tapi bulir air mata selalu memaksa keluar dari pelupuk matanya.


“Meskipun kedua Orang Tua Anda, bahkan Kekasih Anda sekalipun” jawab Hyun-Jae tersenyum hambar.


“Yang Mulia!!” teriakan seseorang membuat perhatian keduanya teralihkan. Hyun-Jae memberi ruang bagi sang Ratu untuk menghapus air matanya dengan berdiri di depan Ratunya sebelum sang Dayang sampai tepat dihadapannya.


“Tabib mengatakan Anda harus segera menemui beliau”


“Ayo” jawab Ratu mengatur wajahnya yang penuh kepedihan menjadi wajah datar. Haruskah? Haruskah ia memakai topeng?


Ratu berjalan mendekati Tabib yang kini sibuk membasuh peluh mantan Raja dan Ratunya.


“Apa ada kabar baik Tabib?”


“Maaf Yang Mulia. Racun telah tersebar ke seluruh tubuh beliau berdua. Akan lebih baik...Anda...”


“Bisa kau tinggalkan kami bertiga? Bukankah sudah tidak ada harapan lagi?” potong Ratu Seonha enteng.


“Ya, Yang Mulia” jawab sang Tabib tidak bisa berkata-kata lagi. Memang itu kenyataan yang ada. Ia membungkuk memberi penghormatan lalu pergi.


“Ayahanda, Ibunda...” kata Seonha menggenggam tangan keduanya dengan tangan kanan dan kirinya.


“Maafkan Ananda. Ternyata rencana Ananda selama ini untuk melindungi seluruh orang yang Ananda sayangi tidaklah cukup.” Tangisan Seonha pecah seketika. Ia merasakan kedua bahunya ditepuk bersamaan. Ayahanda dan Ibunda Ha-Neul Arang menepuk bahunya sambil tersenyum meski rasa sakit menyelimuti sekujur tubuh mereka.


“Se-tidaknya kau...berusaha melindungi se-mua orang” kata sang Ayah, lemah tapi terdengar nada penuh kebanggaan dalam suaranya.


“Tidak semua o-rang dapat kau...lindungi Ha-Neul. Pertahankan keberanianmu sampai akhir. Lindungi semua orang sekuat tenagamu. Sampai titik darah terakhirmu. Kami tidak pernah menyesali apa pun keputusan Putri kami” kata-kata mantan Ratu itu mampu menjadi penyejuk hati Seonha yang rapuh.


Seketika...kedua bola mata Seonha terbelalak mendapati kedua orang tua Ha-Neul kehilangan kesadaran setelah batuk darah dan mengejang.


“Tabib!! Panggil Tabib!!” teriak Ratu Seonha panik bukan main. Mendengar teriakan histeris sang Ratu, Hyun-Jae memerintahkan dayang memanggil Tabib sementara ia berlari memasuki tempat dimana Ratu berada.


Hyun-Jae terdiam menyaksikan sang Ratu memeluk erat tubuh sang Ayah sambil menangis pilu. Tabib tergopoh-gopoh mendatangi sang Ibunda dan Ayahanda, memeriksa denyut nadi, memeriksa kedua lubang hidungnya. Sang Tabib tertunduk turut berbelasungkawa ia hanya menggelengkan kepala pertanda sudah terlambat.


Ibunda Ha-Neul Arang telah tiada begitu pula Ayahandanya.


“Urus upacara kematiannya sekarang” kata Ratu menghapus air matanya lalu berdiri memunggungi kedua orang tuanya.


Hyun-Jae menggenggam tangan Ratu Seonha lalu menariknya menuju kuda yang terikat di atas pohon. Tanpa kata. Seonha hanya diam mengikuti kemana saja langkah Pria itu. Hyun-Jae naik ke atas kuda, mengulurkan tangan pada Seonha, memacu kudanya ke suatu tempat.


Seonha menatap butiran putih pasir ia menatap penuh tanda tanya kenapa Hyun-Jae membawanya ke Pantai?


“Di sini hanya ada aku dan kau. Aku tahu kau sedari tadi menahan diri. Jadi tumpahkan segalanya disini. Berteriaklah, menangislah, atau makilah siapa pun itu” kata Hyun-Jae lembut tanpa menatap Seonha sedikitpun. Ia tahu. Gadis itu tak akan mampu meluapkan segala emosi dalam jiwanya jika ia masih berada disisinya. Hyun-Jae melangkah mundur, berbalik akan membiarkan Ratu sendiri tapi langkahnya tertahan oleh Ratu.


“Aku...tak ingin sendiri kali ini” kata Seonha sendu mencengkeram kuat lengan Hyun-Jae. Pria itu mengangguk lalu mengelus kepala Ratu. Lagi-lagi air mata Hamari tak sanggup terbendung. Ia berlari menjauh dari Hyun-Jae dan berteriak sekuat tenaga


“HaaAAAaaaaaaaaaa!!” akhirnya...emosi yang menumpuk setiap harinya kini dapat di luapkan sekuat tenaganya. Ia menoleh pada Hyun-Jae lalu membalas senyuman hangat Pria yang berdiri jauh darinya. Hamari berlari kearah Hyun-Jae lalu memeluknya erat.


“Kau adalah kekuatanku. Tanpamu aku tidak bisa berdiri tegak seperti saat ini. Hyun-Jae, terima kasih. Karena kau mau menungguku dan tetap menjadi tempat untuk kubersandar. Jika kita suatu hari terpisah, apa kau tetap mau bersabar menungguku? Sampai kita bertemu kembali? Meskipun itu tidak akan mungkin terjadi?”


“Ya”


“Jangan lakukan itu sungguhan. Kau berhak bahagia meski tanpaku, bodoh!!” kata Seonha melepaskan pelukannya lalu memukul lengan kekar Hyun-Jae. Tapi Pria itu menarik tangannya dan kembali membawa sang Ratu dalam pelukannya.


Dua kali dalam sehari. Kau mengatakan tentang perpisahan. Apa kau sangat ingin menghilang dari hidupku? pikir Hyun-Jae semakin waspada. Tidak. Alihkan perhatiannya dengan hal yang lebih menyenangkan.


“Cepatlah jadikan Hwan Chin Raja sehingga kita bisa menikmati kebersamaan seperti ini tanpa rasa was-was. O ya, berikan aku 11 Putra”


“Kau pikir Istrimu kucing?!” kekeh Seonha dalam dekapan Hyun-Jae.


"Pamanku punya lebih dari itu"


"Hey, kau tahu seberapa sulitnya melahirkan anak Tuan Hyun-Jae?! Aku tidak sudi mengejan anak sebanyak itu"


"Baiklah...10"


"3"


"Itu terlalu sedikit. 5 saja"


" Tentu saja tidak. 1"


"Nanti anak kita kesepian. 2"


"Setuju" jawab Hamari menatap bahagia pada Hyun-Jae.


Jika ini hari terakhir kebersamaan kita aku tidak akan menyesal. Tapi pasti aku akan terus merindukan masa seperti ini. Pikir Hamari membenamkan wajahnya ke dada Hyun-Jae.