Aitai

Aitai
Pertama



Suara nyanyian burung membangunkan seseorang yang tidur di bawah rindangnya pohon, beralaskan rerumputan hijau di atas bukit. Matanya menatap bingung pada apa yang sedang dia lihat. Apakah ini sebuah mimpi? Bukankah tadi dia dihutan?! Bukit apa ini? Dimana dia? Kotoko berdiri, tapi kakinya terpeleset karena rumput di bawah kakinya basah.


Ia terperosok, berguling dan menimpa sesuatu. Ketika ia membuka kedua matanya, ia melihat ada sepasang mata, dalam jarak sangat dekat dengan wajahnya. Kotoko langsung berusaha bangkit, tapi dia tersandung oleh seseorang yang tanpa sengaja tertimpa olehnya tadi.


Ya ampun...baru saja...ciuman pertamaku?! Kenapa harus di saat seperti ini!! Pekik kata hati Kotoko merutuki diri sendiri. Laki-laki itu bangun dari tidurnya, menatap Kotoko penuh emosi.


“Bisa Nona jelaskan apa yang baru saja Nona lakukan?”


“Maaf...itu..., hanya kebetulan yang tidak disengaja. Baru saja saya jatuh terguling dari atas sana!!” seru Kotoko sambil menunjuk tempat dia terjatuh tadi. Tapi mata Laki-laki di depannya mulai berkilat-kilat menyebabkan, nyali Kotoko makin ciut. Dia yang malang hanya sanggup menundukkan kepala.


“Jangan pernah tunjukkan wajah Nona lagi di depan mataku!!” bentak Laki-laki tersebut, bangkit dari tempat dimana ia diserang Kotoko, lalu melangkah meninggalkan Kotoko.


Gadis itu berdecih kesal maka ia pun berusaha bangkit tapi kakinya tak sanggup menopang berat tubuhnya. Sesuatu menetes dari dahinya itu menurut perkiraannya. Kotoko menyeka darah yang tiba-tiba menetes dari dahinya. Pandangan mata Kotoko mulai kabur dan jatuh pingsan.


Mata Kotoko kembali terbuka dan melihat atap asing di sebuah ruangan. Ia berusaha bangun, tapi kepalanya terasa begitu nyeri.


Bruk!!


Suara ember jatuh di atas lantai kayu. Perhatian Gadis itu tertuju pada Gadis lain yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Drap Drap


Drap. Drap


Kotoko tak mengerti, kenapa Gadis pembawa ember berekspresi seperti itu, sekarang malah berlari meninggalkannya sendirian.


Dua kali ditempat asing. Sebenarnya dimana ini? Batin Kotoko merasa tak berdaya kali ini. Suara langkah kaki berlarian terdengar lagi dari kejauhan. Seorang Pria dan Wanita paruh baya dan...Laki-laki yang itu lagi?!


“Jee Kyung...., apa kau bisa menghitung? Ini angka berapa?” tanya Wanita itu menunjukkan jemarinya.


“Lima”


“Apa kau melihat dengan jelas? Penglihatanmu masih normal?” sekarang Wanita itu naik ke peraduan Kotoko sambil memeriksa luka di dahi Kotoko.


“Iya, aku baik-baik saja. Tapi sebenarnya kalian ini siapa?” pertanyaan Kotoko disambut wajah pucat pasi dari semua orang disana.


“Sebentar lagi Tabib akan datang. Mari kita lihat kondisinya nanti” kata Laki-laki yang sebelum Kotoko jatuh pingsan memakinya habis-habisan.


“Jadi sekarang Tuan sudah percaya kalau ini kecelakaan?!” cerocos Kotoko senyaring mungkin.


Bugh!!


“Anak ini!! Apa yang sedang kau lakukan hah?! Bagaimana bisa seorang Gadis dengan mudah mencium Laki-laki sembarangan seperti itu?! Ah, anak tak tahu malu!!” maki Wanita itu memukul bahu Kotoko beberapa kali.


“Hoy, apa yang kau lakukan?! Anak kita baru saja siuman bagaimana jika keadaannya semakin memburuk?!” marah Pria paruh baya berusaha menarik Istrinya segera menjauh dari Kotoko.


“Cepat minta maaf!! Tidak...tidak. Kalau perlu kau harus berlutut di depan Tuan Heo Dipyo!!” teriak Wanita itu malu setengah mati mendengar kelakuan Putrinya kali ini.


“Ini hanya salah paham. Sebaiknya Nyonya menenangkan diri dulu” saran si Laki-laki tersenyum dengan ekspresi sedingin es.


“Aku mau pulang” kata Kotoko berusaha bangkit dari duduknya tapi dia masih sangat lemas.


“Nona Jee Kyung..., jangan memaksakan diri dulu untuk bergerak” protes Gadis pembawa ember.


“Jee Kyung? Siapa itu? Aku bukan dia. Jadi biarkan aku pulang. Oke,”


“Kau sudah pulang ke rumahmu. Memang kau, punya berapa rumah?” tanya Wanita yang mengaku Ibunya sambil berkecak pinggang.


“Bisakah kami bicara empat mata Menteri Suk-Chin?” tanya Laki-laki yang disebut sebagai Heo Dipyo.


“Kalau begitu kami permisi dulu” jawab Pria paruh baya itu, memberi hormat lalu keluar dari kamar Putrinya Jee Kyung.


“Kenapa masih disini? Kita sudah tidak ada urusan lagi. Dan..., lagi pula kau sudah bertanggung jawab membawaku ke tempat ini. Jadi sebaiknya Tuan, pulang saja” bisik Kotoko setelah para orang tua pergi.


“Siapa yang harus bertanggung jawab? Kurasa kau salah besar. Yang menyerangku duluan diatas bukit itu kau, Nona. Jadi Nona yang harus mempertanggung jawab kan perbuatan Nona padaku”


“Bisakah kita anggap saja masalah ini tidak pernah ada?” pertanyaan Kotoko malah membuat Laki-laki dihadapannya semakin mendekat padanya dan mencengkeram telapak tangannya.


“Bayar saja dengan kau bekerja denganku. Lagi pula segala sepak terjangku akan menguntungkan Ayah dan Ibumu”


“Be-bekerja? Kau ingin aku melakukan apa?!”


“Cukup awasi seseorang dan katakan segala hal yang dia lakukan, rencanakan, bahkan pikirkan. Itu tugas paling sederhana yang bisa dilakukan oleh Gadis serampangan seperti Nona” kata Laki-laki asing itu bersungguh-sungguh.


“Maksudmu..., mata-mata? Apa aku akan memata-matai penjahat kelas kakap?!”


“Lebih baik aku memperkerjakan orang lain untuk itu daripada suatu saat nanti Nona akan merusak segalanya”


“Ah, ya ampun..., lalu kenapa sekarang Anda meminta tolong padaku?!” teriak Kotoko membuat kepalanya makin pusing saja. Terdengar ketukan dari luar pintu mengabarkan bahwa Tabib telah tiba tepat waktu.


“Masuklah” kata Laki-laki bernama Heo Dipyo sambil menoleh pada Kotoko sambil tersenyum sinis di hadapan Gadis lugu itu.


“Kau akan mulai masuk kerja setelah Tabib benar-benar menganggapmu sembuh total” kata Heo Dipyo dingin, tak lupa memberi hormat kepada Ayah Jee Kyung mohon diri pulang.


“Sebenarnya apa yang terjadi pada Putri kami Tabib? Dia mendadak melupakan siapa kami” adu sang Ibu cemas.


“Ini aneh. Nyonya, luka di dahi Nona Jee Kyung tidaklah separah apa yang Anda katakan. Ini luka ringan jadi tidak mungkin Nona hilang ingatan hanya karena benturan kecil”


“Bukankah darahnya banyak keluar Tabib?”


“Itu karena benturan tepat di bagian pelipisnya jadi wajar jika terluka, keluar banyak darahnya. Saya yakin, ini tidak akan berdampak besar bagi kehidupan Putri Anda berdua. Jangan cemas"


"Soal...kehilangan ingatan juga bisa disebabkan oleh syok yang sangat mengejutkannya. Apa...saat kejadian ada hal yang membuat Nona Jee Kyung terserang syok berat?” sang Tabib justru mendapatkan seringai jenaka dari kedua orang tua pasiennya.


“Ah, itu..., dia jatuh terpeleset dari atas bukit, hanya itu” kekeh sang Ibu sambil melirik garang pada Kotoko.


“Lalu, dimana rumah dan orang tua aslimu?”


“Di tempat yang jauh. Maka dari itu tolonglah...”mohon Kotoko memelas.


“Saya akan sediakan obat untuk Anda minum Nona, jangan lupa diminum teratur. Itu akan meningkatkan daya ingat Nona” jawaban yang tak diharapkan keluar dari bibir sang Tabib.


“Tuan, mereka benar-benar menculik saya”


“Nona Jee Kyung, saya sudah ribuan kali datang ke rumah ini. Bahkan saya sendiri yang membantu persalinan kelahiran Anda dulu. Bagaimana mereka tega menculik Nona yang merupakan Putri kandung Menteri Suk Chin dan Nyonya Seo Hee? Apa Anda sedang membuat lelucon?” kekeh sang Tabib beranjak dari peraduan Kotoko, berkonsentrasi meramu obat herbal.


“Kenapa begini? Dalam sekejap Ayahandaku bernama Suk Chin dan Ibundaku Seo Hee?!” gumam Kotoko tak percaya.


“Jadi..., kira-kira Putri saya akan sembuh total berapa lama?” tanya sang Ayah, sesopan mungkin pada Tabib.


“Kurang lebih selama seminggu. Tapi dalam beraktivitas, selama hari ini dan tiga hari ke depan Nona Jee Kyung hanya boleh melakukan aktivitas ringan saja. Setelah saya datang kembali nanti kita lihat masihkah ada masalah? Jika tidak, Nona bisa beraktivitas seperti sedia kala” terang Tabib kalem.


“Tiga hari? Itu terlalu lama. Jangan membuat aku tidur di peraduanku selama itu. Atau tubuhku akan terasa remuk redam karenanya” protes Jee Kyung cemberut. Sang Tabib tersenyum sambil menggelengkan kepala perlahan.


“Melihat semangat Nona Jee Kyung nampaknya Nona akan sembuh lebih cepat dari perkiraan nantinya” kata sang Tabib membuat kedua orang tua Jee Kyung lega. Mereka terkejut dengan kedatangan tiga orang tidak diundang yang langsung main masuk saja ke kamar Jee Kyung.


“Jee Kyung!!” teriak salah satunya, menghambur ke pelukan Jee Kyung.


“Jadi kau lama sekali tidak menemui kami karena luka di pelipismu itu?” tanya yang satunya lagi.


“Jangan membuatku pusing dengan banyak pertanyaan begini, sebenarnya kalian ini siapa?” Jee Kyung berusaha mencoba membuat mereka merenggangkan pelukan padanya.


“Tuan Suk, apa ingatannya terbang entah ke mana?” tanya yang terakhir.


“Dia sedang syok parah, lama kelamaan nanti Jee Kyung pasti akan mengenali kalian lagi” kekeh sang Ibu mencoba menenangkan ketiga sahabat karib Jee Kyung.


“Coba ingat..., aku Ah-in, yang di sebelah kirimu Soo Yun, dan yang ini Ha-Serim” terpaksa mereka berkenalan kembali.


“Siapa yang memberitahu kalian aku terkena musibah?” tanya Jee Kyung penasaran.


“Seorang Pria tinggi, dengan senyuman seribu pesona, dia tampak begitu mengkhawatirkan keadaanmu. Tapi..., dari mana kau bisa bertemu dengan Pria setampan itu?” tanya Ah-in menyikut lengan Jee Kyung.


“Hanya kebetulan. Kami belum pernah bertemu sebelumnya” ketus Kotoko sebal. Rupanya Laki-laki itu sengaja membuat hari Gadis malang ini penuh dengan suara berisik. Sementara di sudut lain, tepatnya di ambang pintu kamar Jee Kyung, Heo Dipyo diam-diam mengawasi.


Belum pernah bertemu sebelumnya?! Gadis ini!! Ya ampun. Tidak. Aku harus berusaha mengurangi emosiku padanya. Sekarang dialah alat terbaik untuk menyusup ke Istana, dan selalu mengawasi Ratu Seon Ha bisik kata hati Heo Dipyo.


Heo Dipyo berjalan tepat di depan halaman rumah Jee Kyung, seseorang sudah menghadangnya.


“Kurasa ini sudah sangat keterlaluan. Apa kau lihat? Dia terluka karenamu dan begitu dia sembuh kau tega memanfaatkan tenaganya?” kekeh Kwon Jae He yang sibuk mengawasi Keponakannya dari jauh.


“Dia terluka karena kecerobohannya yang sudah mendarah daging sejak lahir. Tidak ada hubungannya denganku Paman. Aku hanya sebuah kebetulan, yang tidak sengaja ikut terlibat dalam kekacauan yang dia buat” protes Heo Dipyo bersungut-sungut.


“Ini tidak adil baginya. Setidaknya milikilah sedikit rasa kasihan terhadap Jee Kyung. Dia pasti akan mau melakukan apa pun demi mendapatkan perhatianmu. Tapi jangan memanfaatkan hatinya yang polos demi kepentingan fraksi kita”


“Wah, Paman sendiri menikahi Bibi bukannya karena Politik? Kenapa Paman boleh sementara aku tidak?”


“Baik aku dan Bibimu tentu tahu pernikahan seperti apa yang akan kami jalani. Tapi Jee Kyung? Dia hanya seorang Gadis polos yang sangat sial karena jatuh hati pada Pemuda sepertimu” jawab Kwon Jae He sambil memukul kepala anak keras kepala disampingnya.


“Dia sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan terhadapku Paman. Jadi ku rasa itu adalah hukuman yang setimpal. Setidaknya dia bisa melihatku beberapa kali dalam seminggu. Bukankah kami saling menguntungkan?”


“Ingat. Tujuanmu adalah Tahta. Kau tidak boleh memberi harapan palsu pada Gadis mana pun. Suatu saat nanti kelakuanmu yang seperti ini, bisa menghancurkan rencana kita” tegas Kwon Jae He pedas.


Di dalam kediaman Perdana Menteri Suk Chin, Jee Kyung merasa bak burung dalam sangkar tepatnya, semenjak ketiga sahabat karib Jee Kyung pulang. Dia tidak dapat berjalan dari satu sudut, ke sudut kota lainnya dengan bebas. Dia seorang Putri!! Namanya Kotoko!! Masih saja Jee Kyung tidak bisa menerima kenyataan ini.


Ini semua karenamu Heo Dipyo!! Kalau kita bertemu kembali, pastikan siapkan dirimu!! Aku, akan memberikan pelajaran!! Kata hati Jee Kyung bersungut-sungut.


“Nona Jee Kyung, Anda...baik-baik saja?”


“Tidak. Suasana hatiku sungguh buruk hari ini”


“Bagaimana itu bisa terjadi? Sejak usia Anda menginjak dua belas tahun, pandangan Anda hanya tertuju pada Tuan Heo Dipyo. Lalu, kenapa Anda malah terlihat kesal jika ini adalah kesempatan pertama Anda untuk bisa selalu bertemu dengan beliau?” tanya budak yang selalu mengikutinya itu.


Apa Jee Kyung punya katarak? Laki-laki itu, berkepribadian buruk!! Bisa-bisanya dia jatuh hati pada seorang Heo Dipyo? Eyuuuh....batin Kotoko makin panjanglah sumbu kemarahannya pada Heo Dipyo.


“Tunggu. Apa yang baru saja kau katakan?! Aku...jatuh hati padanya?!”


“Bukankah itu sudah jelas Nona? Bahkan seluruh orang disini dan semua keluarga Tuan Heo sudah tahu tentang perasaan Anda” cerocos Gadis itu lalu menunduk takut-takut melihat majikannya sedang memelototinya sekarang.


“Kotoko!! Kau membuat dirimu sendiri dalam masalah. Kalau begini aku benar-benar terlihat sedang mengejar-ngejar Laki-laki sialan itu!!” teriak Jee Kyung nyaring.


“Kecilkan suara Anda Nona. Kalau Tuan dan Nyonya tahu Anda terus berhalusinasi seperti ini, bisa-bisa pengobatan Nona akan semakin panjang. Jangan pernah menyebutkan nama asing itu. Anda paham?” nasihat sang budak.


“Siapa namamu? Bagaimana kau bisa bekerja denganku sampai hari ini?”


“Nama hamba..., Dae Nari”


“Dae Nari? Orang tuamu sungguh kreatif memberimu nama itu”


“Tapi..., itu nama pemberian Anda Nona. Karena hamba pada awalnya tidak memiliki seorang pun keluarga, bahkan nama sekalipun” jawab Dae Nari sendu.


“Lalu bagaimana cara kita bisa bertemu?”


“Waktu itu hamba adalah budak dari keluarga Bangsawan. Tapi hamba diperlakukan buruk karena terlalu lemah. Ketika bekerja pada mereka pertama kali, hamba sangat kurus Nona. Lalu Anda tiba-tiba menolong hamba karena akan disulut dengan besi panas”


“Kau membuat kesalahan besar apa?!”pekik Jee Kyung mulai tertarik dengan kisah Dae Nari.


“Hamba diperintahkan untuk mengambil pakaian pesanan seorang Putri. Bodohnya hamba tidak memeriksa terlebih dahulu kondisi pakaian itu sebelum hamba ambil. Karena keteledoran hamba ini...,sang Putri menggunakan posisinya sebagai keturunan Bangsawan, tanpa perasaan ingin membakar wajah hamba dengan besi panas” kenang Dae Nari matanya mulai berkaca-kaca.