Aitai

Aitai
Ratu Seonha



Hari yang telah ditentukan tiba dimana, rakyat dan seluruh anggota Istana berkumpul untuk menyaksikan penobatan Putri Ha-Neul menjadi Ratu Seonha. Di atas Tahta, sang Ratu sedang melamunkan dua hari sebelum dirinya naik Tahta.


Setelah peristiwa salah mengira pengirim surat melalui seekor merpati. Ha-Neul mengizinkan seorang dayang masuk ke dalam kediamannya, dan dayang tersebut memohon untuk dapat menyerahkan langsung barang-barang yang diminta Hyun-Jae ke pada Tuan Putrinya.


Gadis bernama Ha-Neul memucat melihat betapa banyaknya, gulungan kertas dan buku yang dibawa masuk.


“Apa yang kau bawa kemari Hyun-Jae?”


“Semua hal yang menyangkut Negeri ini, Pejabat Istana, Bangsawan dan para Perwira Militer”


“Kau membawa semua ini kemari? Apa kau tidak berlebihan? Hari masih panjang Hyun-Jae, biarkan aku menikmati dua hari terakhir tanpa memikirkan hal serumit itu”


“Tuan Putri Ha-Neul Arang yang terhormat. Hari luang Anda lebih baik digunakan untuk mengurus semua ini. Jadi tugas Anda akan sedikit ringan ketika Anda, menduduki Tahta Kerajaan ini.”


“Berikan aku waktu. Aku belum sepenuhnya siap” keluh Ha-Neul kesal. Kebiasaan Hyun-Jae ketika mulai kesal terhadapnya, langsung berbicara formal seperti sekarang.


“Tidak ada waktu. Tunjukkan keseriusanmu mulai sekarang atau kau hanya akan dihina sebagai Ratu boneka”


“Itu...,terlalu kejam” gerutu Ha-Neul cemberut.


“Baiklah, nampaknya kau memang tidak benar-benar ingin aku ada disisimu” tegas Hyun-Jae, berdiri, melipat kedua tangannya ke belakang, berjalan menuju pintu.


“Apa yang kau ingin aku lakukan sekarang? Apa kau, tak se bertanggung jawab itu membiarkan seorang Ratu yang baru lahir bekerja tanpa arahan?”


“Memang Calon Ratu Negeri ini mau memenuhi permintaanku?”


“Apa lagi yang bisa kulakukan?” Putri Ha-Neul berdecih kesal. Hyun-Jae berbalik, mendekat pada Ha-Neul lalu bersimpuh di depan Gadis itu.


“Katakanlah aku orang kepercayaanmu yang pertama. Maka dua hari yang akan datang, perbanyaklah orang-orangmu. Ingatlah bahwa Istana, tidak seindah yang terlihat. Mungkin bagi seorang Putri ini adalah tempat yang indah tapi bagi penguasa, jika kau salah langkah, tempat ini akan segera berubah menjadi sangkar emas"


"Kau akan diajari banyak hal, di dikte banyak hal, untuk memenuhi kepentingan orang-orang serakah. Apa kau ingin menjadi Ratu yang seperti itu?”


“Jadi apa rencanamu?”


“Ini rencana Anda Tuan Putri. Hamba hanya mengarahkan langkah terbaik” tegas Hyun-Jae sambil membuka salah satu gulungan.


“Perhatikan, waspadai, dan dekati mereka” kata Hyun-Jae mengetuk nama-nama beberapa orang di kertas tersebut.


“Kwon Jae He Menteri fraksi kiri. Nampaknya dia sedang merencanakan sesuatu dengan memanfaatkan Cenayang Istana untuk membawa Heo Dipyo ke dalam Istana ini”


“Apa hubungan mereka?”


“Kwon Jae He adalah Paman dari Heo Dipyo”


Deg!!


Jantung Ha-Neul mulai merasakan perasaan tidak enak.


“Kwon Jae He punya hubungan kerja sama yang kuat dengan orang-orang ini, dan didukung oleh 55 pendukung yang masing-masing dari mereka memiliki pasukan pribadi. Guncangan besar tercipta jika seluruhnya bersekutu untuk melancarkan kudeta. Jadi pastikan kau, tidak melepaskan pengawasanmu terhadap mereka”


“Kau ingin aku mendapatkan hati mereka?”


“Tidak akan mudah, karena kau juga harus mengendalikan mereka. Kang-Dae, Man-Shik, Suk-Chin, serta Whan Joon. Mereka...tunduk dalam naungan satu orang. Kwon Jae He...” jawab Hyun-Jae yang terus menerus terekam di kepala Ha-Neul.


Sang Ratu berusaha untuk tidak berlarut-larut dengan lamunannya. Ia mengerjapkan mata, ketika Penasihat Kerajaan memanggilnya.


“Yang Mulia....”


“Yang Mulia Ratu Seonha” panggilnya berulang kali.


“Ya,”


“Seluruh perhatian tertuju pada Anda. Hamba mohon berkonsentrasilah” Penasihat Istana mengingatkan. Ratu Seonha menatap seluruh mata orang-orang yang sibuk mengamati sang penguasa baru.


“Dengarkan semua. Aku ingin mengumumkan akan adanya anggota baru dalam masa pemerintahanku. Pertama. Heo Dipyo dan kedua, Hyun-Jae. Menghadaplah kalian berdua kepadaku” kata Ratu Seonha dengan suara setegas mungkin. Semua orang terdiam memperhatikan setiap gerak gerik baik Heo Dipyo maupun Hyun-Jae. Keduanya menghadap dan memberi penghormatan.


“Hyun-Jae. Kau akan menjadi Panglima Utama Baehwa”


“Ratu Seonha...mohon jangan mengikuti hati Anda. Tidak boleh memberi jabatan berdasarkan hubungan, yang bahkan hubungan itu sudah kandas” Perdana Menteri kiri Kwon Jae He mengucapkan hal itu, terang-terangan membuat Hyun-Jae mengepalkan tangannya geram tetapi demi Ratu, ia menahan diri. Sang Ratu tertawa manis, sambil menatap tajam Perdana Menteri Kwon Jae He.


“Bukankah ucapanmu sama artinya dengan kau, tidak mengakui kecakapanku sebagai seorang Ratu? Jadi bagaimana jika kita bahas seberapa banyak Pejabat, Bangsawan, dan Perwira kita yang berpikiran sesempit Perdana Menteri kiri kita ini? Silakan maju” tantang Ratu Seonha menggebrak singgasananya.


“Yang Mulia...hamba tidaklah bermaksud demikian” jawab Menteri Kwon Jae He mulai meneteskan keringat dingin di sekujur tubuhnya.


“Hamba hanya...”


“Kau pikir, aku tidak tahu apa pun? Hanya karena aku ini seorang Wanita. Jangan mengelak dengan fakta satu ini Kwon Jae He!! Sebelum penobatanku sebagai Ratu kaulah....yang bersuara paling keras...menyuarakan bahwa seorang Wanita, tidak mampu memimpin Negara” kini Ratu Seonha memilih untuk lebih merendahkan suara, dari pada mengeraskan suara.


Ini adalah perang psikologi sehingga tidak baik terus mengucapkan kalimat frontal dengan nada marah. Bagaimanapun juga Ratu adalah Ratu. Yang harus tetap mempertahankan martabatnya dengan menelan emosi yang sanggup membawanya turun Tahta.


“Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran orang yang seperti itu. Tapi. Satu hal yang aku ketahui. Koreksi setiap kata-kataku, jika apa yang akan aku katakan setelah ini menurut kalian semua salah. Mengerti?!” Tegas Ratu Seonha meminta jawaban sesegera mungkin.


“Ya, Yang Mulia Ratu” jawab seluruh orang yang ada di Aula Kerajaan.


“Tentunya, orang tuaku tidak akan menjodohkanku dengan orang sembarangan. Mereka tentunya mempertimbangkan asal usul orang tersebut dengan sangat matang. Sebelum perjodohan aku tidak hanya menerima begitu saja"


“Kenapa aku memilih Hyun-Jae sebagai Panglima Utama Baehwa? Karena satu. Diusia 18 tahun, dia Hyun-Jae berhasil menguasai ilmu pedang tertinggi dan pada saat itu hingga sekarang belum ada yang dapat menyainginya.”


“Tapi Tuan Muda Hyun-Jae gagal dalam melindungi Putri Ha-Neul Arang. Jadi kami pun mulai mempertanyakan bagaimana beliau, bisa melindungi Negara Ini terutama Ratu Seonha?” rupanya Kwon Jae He tak patah arang untuk menyudutkan Hyun-Jae.


“Aku jadi ragu, benarkah kau sedang menyuarakan suara semua orang ini atau mengatas namakan suaramu, sebagai suara seluruh orang disini?”


“Yang Mulia....” Kwon Jae He menunduk sedalam mungkin.


“Kedua. Dimasa pemerintahan Raja Gu Jae-Deok, Hyun-Jae dan Jendral Hwan-Gill memimpin pasukan di benteng Wolsindae ketika perang melawan Kerajaan Samsil. Prestasi Hyun-Jae ada segudang akan butuh waktu berhari-hari mendongeng untuk kalian semua karena kalian pasti punya tugas yang jauh lebih berarti dari pada mendengarkan cerita usang ini bukan?"


"Terlebih lagi bukankah Perdana Menteri Kwon Jae He...punya telinga di setiap penjuru mata angin? Tentunya kau tak bisa menyangkal betapa berprestasinya Hyun-Jae sebagai ahli bela diri yang hebat sekaligus ahli strategi ulung.” Sang Ratu membuat Perdana Menteri Kiri tersebut terbungkam rapat.


“Ini adalah penghargaan yang kuberikan atas prestasi Tuan Muda Hyun-Jae bukan karena hal remeh temeh lainnya. Maka terimalah dengan hati yang bangga jabatan ini. Aku. Ratu Seonha dengan ini memberi mandat sepenuhnya kepada Hyun-Jae sebagai Panglima Utama Baehwa"


"Bagi siapa pun yang menentang keputusan ini, dengan senang hati akan ku gantikan dengan pejabat yang lebih berkompeten” tanpa rasa takut sedikitpun Ratu Seonha menunjukkan posisinya sebagai Ratu kepada Kwon Jae He.


Kau masih terlalu muda untuk menjadi jauh lebih kuat dari Raja sebelumnya. Cepat atau lambat...kau, akan berada di bawah kakiku. Ha-Neul Arang...kata hati Kwon Jae He dongkol bukan main.


“Selanjutnya, Heo Dipyo. Akan kuberikan kau posisi sebagai Menteri Pertahanan Keamanan dalam dan luar Negeri”


“Yang Mulia...ini tidak seharusnya terjadi!!” para Menteri fraksi Kanan dengan tegas menentang keputusan sepihak Ratu Seonha.


“Bagaimana bisa Anda dengan mudahnya memberikan jabatan sepenting itu kepada orang, yang sudah berani menikam Anda? Bagaimana jika suatu hari nanti Pelajar Heo Dipyo berusaha melukai Ratu kembali?!” Menteri Duck-Young mencoba memperingatkan Ratunya.


“Jabatan riskan seperti ini, tidak baik diberikan pada seseorang yang dengan terang-terangan mencoba membunuh keluarga Kerajaan. Apa yang akan dipikirkan Rakyat? Bagaimana seorang Ratu membiarkan pikiran menyimpang tersebar luas di seantero Negeri ini?” kata Menteri Hyun-Shik dengan suara bergetar hebat.


“Yang Mulia..., dengan kata lain, rakyat akan berpikir jika Ratu tunduk pada ular yang mematuknya, maka mereka pun juga ingin menjadi layaknya ular itu. Karena seberapa bahayanya sang ular, Ratu tetap memberikan pengampunan” sang Penasihat Istana mencoba menyederhanakan apa yang dikatakan para Menteri fraksi Kanan.


“Pelajar Heo Dipyo tidak berusaha untuk membunuhku. Karena kecerobohanku, pada akhirnya akulah yang terluka. Kejadiannya tidak sama seperti rumor yang telah beredar luas. Hyun-Jae dan Heo Dipyo adalah dua orang yang layak dipertimbangkan kecakapannya dalam bekerja"


"Terlepas dari peristiwa yang menimpaku, bukankah kalian semua selalu memuji-muji prestasi keduanya? Bagaimana jika begini saja. Kalian lebih percaya pada rumor atau, percaya pada setiap ucapan Ratu kalian? Rumor tidak dapat dipertanggung jawab kan kebenarannya"


"Tapi bagaimana jika Ratu yang mengatakannya? Tentu apa pun yang aku ucapkan sangat berdasar dan dapat dipertanggung jawab kan kebenarannya. Karena aku bukan hanya Ratu, tapi korban langsung dari peristiwa naas tersebut"


"Jika masih ada yang menentang keputusanku ini, artinya dia hanya mengakuiku sebagai Ratu hanya di atas kertas. Tapi hati dan jiwanya tidak sepenuhnya menerima keberadaanku. Sekali lagi. Apa kalian mempertanyakan kecakapanku sebagai seorang Ratu? Bukankah itu hal yang tidak manusiawi? Bahkan aku belum menduduki Tahta selama setahun” tanya Ratu Seonha sedih.


“Ampuni kelancangan kami Yang Mulia...” jawab para Menteri fraksi kanan yang menghormat meminta maaf sedalam-dalamnya.


“Baiklah, pertemuan hari ini mari kita sudahi. Mulai besok, Panglima Utama Baehwa Hyun-Jae dan Menteri Pertahanan Keamanan dalam dan luar Negeri Heo Dipyo mulai aktif bekerja. Datang menghadapkulah, saat itu tiba”


“Ya, Yang Mulia Ratu Seonha” sambut Hyun-Jae dan Heo Dipyo serempak.


Ratu Seonha berjalan dengan langkah penuh percaya diri meninggalkan aula Istana. Ia mulai tinggal di kediaman Ayahanda dan Ibundanya dulu saat masih berjaya. Ia memasuki kediamannya masih dalam posisi penuh percaya diri tapi ketika pintu itu tertutup rapat, Ratu Seonha mulai limbung jatuh ke belakang tapi seseorang mencengkeram erat kedua bahunya, agar tetap mampu berdiri setegap mungkin.


Tubuh Gadis itu gemetaran hebat sementara Pria yang menolongnya tadi mulai menampakkan diri dari balik tubuh sang Ratu.


“Anda melakukan kesalahan kecil, yang sanggup menyulut masalah besar Ratu” kata Hyun-Jae tegas menatap wajah pucat sang Ratu.


“Apa itu?”


“Anda menjadikan hamba Panglima Utama sementara Yang Mulia, membiarkan Heo Dipyo bebas berinteraksi dengan hamba sebagai Menteri keamanan dalam dan luar Negeri? Anda sudah memikirkan akibat terburuk apa yang mungkin akan terjadi?”


“Seperti katamu dua hari sebelum aku dinobatkan sebagai Ratu Seonha. Kau ingin aku merangkul para Menteri fraksi kiri terutama pimpinannya Kwon Jae He bukan? Dengan dilantiknya Heo Dipyo menjadi Menteri keamanan dalam dan luar Negeri, ini akan sedikit mengurangi akses pertemuan rahasia diantara mereka. Dan menjadikan Heo Dipyo sebagai salah satu orangku.” Jawab Ratu Seonha menyampaikan rencana terselubungnya pada Hyun-Jae.


“Ya, tidak sepenuhnya dari rencana Anda salah” kekeh Hyun-Jae sekilas menatap lembut wajah Ratunya.


“Sekarang hanya ada kita berdua Hyun-Jae. Bisakah kau berbicara seperti biasanya padaku?!”protes Ratu Seonha sambil menggenggam tangan kanan Hyun-Jae manja. Sang Panglima nampak terkejut, melepaskan diri dari genggaman sang Ratu lalu menjauh beberapa jengkal.


“Apa ini? Kau, memperlakukanku seperti seseorang yang terinfeksi penyakit menular” Ratu Seonha mulai berdecih.


“Tidak Yang Mulia. Mau kita hanya berdua atau berseribu sekalipun, tidak pantas seorang Panglima dan Ratu terlalu menunjukkan kedekatan mereka. Mohon jaga nama baik Anda Yang Mulia” tegas Hyun-Jae sambil berdehem geli.


Issss....kau yang mendorongku naik Tahta, kau juga yang menganggapku orang asing sekarang? Batin Ha-Neul Arang merasa tertolak.


“Bagaimanapun hubungan kita jauh lebih lama dari hubungan pangkat kita”


“Lupakan bahwa Anda adalah Ha-Neul Arang. Karena sekarang Anda bukan Tuan Putri lagi. Tapi Anda adalah Ratu Seonha. Mulai detik ini, nama Ha-Neul Arang tidak akan pernah terdengar lagi. Agar tidak ada lagi, yang bisa mengorek masa lalu Anda, yang tidak ada kaitannya dengan urusan Negara” tegas Hyun-Jae.


“Aku mulai bosan dengan permainan atasan dan bawahan..., bisakah kau lebih santai mulai dari sekarang?” rengek Ratu Seonha.


“Oh, tentu tidak bisa Yang Mulia. Hubungan antara hamba dan Ratu tidaklah sedekat itu. Maafkan hamba” jawab Hyun-Jae menghormat.


Apa dia serius? Maksudnya? Dia...akan melupakan hubungan apa pun sebelum menjadi Panglima Utama?! Pekikan gelisah hati Ha-Neul.


“Mmm coba katakan lebih rinci lagi Panglima, apakah itu termasuk kau, akan menghapus..., hubungan apa pun sebelum kau menjabat menjadi Panglima?” tanya Ratu Seonha berbisik kecil pada Hyun-Jae. Pria itu hanya mengangguk tanpa berpikir.


“Jadi...kau tidak akan mengakui bahwa aku kekasihmu?” Ratu berbisik lagi menegaskan apa yang dia lihat tidaklah salah.


“Apa perlu hamba ingatkan kembali Yang Mulia? Bahwa Ratu Negeri ini, maksud hamba, Ratu Seonha telah di dukung sepenuhnya oleh Hyun-Jae sebagai pelopor Ratu yang tak akan menikah selama menduduki Tahta?” sindir Hyun-Jae terang-terangan.


Aku sungguh menyesal mengatakan hal mengerikan seperti itu padanya. Omel Ha-Neul merutuki bibirnya yang berbicara tanpa saringan itu.