Aitai

Aitai
Identitas Baru



"Lalu apa yang akan ku terima setelah menerima perjanjian ini Sizuka?"


"Konsekuensi hanya akan ditimpakan bagi manusia yang memanfaatkan kekuatanku dengan niatan buruk. Jadi Kimiko akan mendapatkan hukuman, setelah penderitaan Putri kandungnya dimulai" mendengar jawaban Sizuka bahwa Mari akan merasakan penderitaan, maka Eun Sha langsung berlutut di hadapan Sizuka.


"Bisakah kau menimpakan segala hal pada orang tuanya saja? Kumohon jangan libatkan Putri kami" kata Eun Sha berkaca-kaca.


"Ini demi kebaikan semua orang Eun Sha. Aku tidak dapat mengubah kutukanku, karena itu termasuk takdir yang memang harus mereka jalani" kata Sizuka, lalu menghilang begitu saja. Eun Sha panik karena melihat Sizuka menghilang. Berulang kali Eun Sha berteriak menyebut nama Sizuka hingga Raja Keito berhasil membangunkannya.


"Eun Sha, kau sedang bermimpi apa? Kenapa kau menangis?" tanya Raja penasaran.


"Anak-anak kita menjadi korban atas kesalahan orang tuanya. Hamba merasa tidak berguna sebagai Haha mereka Yang Mulia...karena Hamba tak bisa melindungi buah hati kita dari nasib buruk" kata Eun Sha menangis histeris.


"Korban atas kesalahan kita? Memang apa kesalahan kita Ratuku?"


"Anda membiarkan Hamba menjadi Ratu. Hingga Selir Kimiko meminta kemalangan menimpa Anak-anak kita pada Sizuka"


"Sizuka? Dia menemuimu lewat mimpi?!" pekik Raja kesal. Kenapa juga Sizuka mengatakan tentang kutukan terhadap Anak-anaknya pada Wanita yang paling lembut? Itu hanya akan menuai masalah baru bagi Raja. Ia akan kebingungan bagaimana caranya untuk menenangkan sang Ratu sekarang.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan....dan tahun berganti tahun. Tak terasa Putri Mari dan Kotoko telah menginjak usia 12 tahun...sementara Putra Mahkota Hiroshi 11 tahun.


"Hiroshi, Kotoko, dimana Mari? Kenapa dia tidak bermain dengan kalian?" tanya Eun Sha penasaran.


"Kata Mari, ia ingin menemui Selir Kimiko, Haha..." kata Kotoko sambil tersenyum ceria.


Deg!!


Apa?! Mari datang pada Ibunya? Anak itu...kenapa dia masih berusaha keras menemui orang yang bahkan akan terus menerus menyakiti hatinya? Perasaan Eun Sha sebagai seorang Ibu yang membesarkan Mari, mulai merasa sangat was-was. Ia berlari ke arah kediaman sang Selir tapi justru menemukan Mari berada di dalam kolam ikan sambil menangis tersedu-sedu.


"Mari, sayang, kemari nak, ayo peluk Haha..." bujuk Eun Sha agar anak itu mau keluar dari kolam.


"Tidak...kata Haha Kimiko, hamba terlalu kotor untuk mendapatkan kasih sayangnya. Karena hamba, selalu diasuh oleh Haha Eun Sha..." kata Mari menangis pilu.


"Kenapa Haha Eun Sha? Kenapa Haha Kimiko berkata begitu kepada hamba? Kata Haha Eun Sha, hamba adalah anak yang paling beruntung karena memiliki dua orang Haha. Tapi, kenapa Haha Kimiko tidak mau menerima hamba, sebagai Putrinya?"


"Bukankah hamba terlahir dari rahimnya? Kenapa justru Haha Eun Sha yang tidak melahirkan hamba, memiliki cinta begitu besar terhadap hamba? Sebenarnya, hamba ini anak siapa? Katakan Haha..." tanya Mari membuat dada sang Ratu sesak dalam sekejap.


"Kemarilah Mari...Haha akan katakan padamu, alasannya. Kau bisa sakit, jika terlalu lama disana"


"Tidak!! Katakan alasannya sekarang!!" teriak Mari membuat sang Ratu terkejut. Tak pernah sedikitpun ia mendengar Putri Mari membentak Ibunya seperti ini.


"Jadi kau, tidak menyayangi Hahamu ini? Kau, lebih menyayangi Haha Kimiko? Karena itu, kau lebih mendengarkan ucapan Haha Kimiko?" tanya Eun Sha dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Haha jangan menangis..."


"Ayolah...kau harus memelukku agar Hahamu ini, tidak menangis lagi" bujuk Eun Sha. Gadis cilik tersebut menatap Ibunya dengan ragu.


Bagaimanapun, Eun Sha sudah layaknya Ibu kandung bagi Mari. Bagaimana tidak? Ibu kandungnya sendiri, tidak pernah mau mengakui Mari sebagai Putrinya. Mana mungkin kini ia tega menyakiti hati Eun Sha? Perlahan kaki mungil Mari berjalan menuju tepian kolam ikan Istana. Dipeluknya sang Ibu sambil menangis semakin kencang. Eun Sha membelai rambut lurus Putrinya lalu mengecup kening Gadis kecil itu.


"Apa pun yang terjadi, kau tetaplah Putriku. Kau bisa membuatku sangat menyayangimu Mari, tentu suatu saat nanti, kau akan juga mendapatkan kasih sayang tak terhingga dari Haha Kimiko. Asalkan....,"


"Asalkan apa Haha?" tanya Mari menunggu-nunggu kelanjutan nasihat sang Ibu sambil menghapus air matanya.


"Asalkan kau mau bersabar, dan tidak pernah putus asa. Kau harus sekuat dan sekokoh batu karang, untuk menghadapi Hahamu yang keras kepala itu. Kau mau berjanji pada Hahamu ini? Tidak akan putus asa, dan tidak pernah menyakiti dirimu lagi Hmmm?" kata Eun Sha berusaha memompa semangat sang Putri.


"Iya. Hamba berjanji. Karena tiap hamba menangis, Haha juga ikut bersedih. Hamba tidak ingin menjadi penyebab menitiknya air mata Ratu Eun Sha. Putri Mari sangat....sangat sayang pada Haha Eun Sha, yang tercantik" kata Mari kini, senyuman manis telah terbit dari bibir mungilnya.


"Dayang,"


"Hamba Yang Mulia"


"Mandikan Putri dan beri dia pakaian yang kering. Pastikan menggunakan minyak untuk menghangatkan tubuh Putriku" kata Eun Sha yang langsung di laksanakan sang dayang. Saat Mari dan dayang pengasuh telah pergi, Eun Sha langsung datang ke kediaman sang Selir Kimiko.


Eun Sha berjalan sangat cepat menuju kediaman sang Selir Kimiko. Tapi sebuah tangan kokoh menariknya ke belakang, hingga ia terputar begitu saja, dan jatuh ke pelukan Raja Keito.


"Apa yang Anda lakukan? Ini di depan kediaman Selir Kimiko. Mohon jaga sikap Anda" kata Eun Sha merasa tidak enak hati.


"Katakan padaku, ada urusan apa kau datang ke mari Eun Sha?" tanya Raja dengan seringai jahilnya.


"Anak-anak telah menunggu Anda Yang Mulia, tidakkah Anda ingin bermain bersama mereka?" kata Eun Sha kini melepaskan diri dari pelukan sang Raja.


"Ya, memang itu yang akan kulakukan. Tapi aku hanya sanggup membawa dua orang saja"


"Kenapa begitu? Yang Mulia, jangan sampai ada rasa iri merasuk dalam diri anak-anak kita" Eun Sha memperingatkan.


"Aku akan pergi berburu sayang, mana mungkin aku bisa membawa ketiganya? Hiroshi telah menginjak usia yang pantas untuk berlatih berburu. Tapi ia sangat dekat dengan Mari. Hingga untuk membawanya pergi berburu, terpaksa aku harus mengajak Mari" kata Raja lembut.


"Berburu? Tidak...jangan...aku merasa hutan bukanlah tempat yang pantas untuk seorang anak Perempuan seperti Mari" larang Eun Sha bersedekap menatap Raja sambil cemberut.


"Hiroshi harus belajar tanpa selalu berada di dekat Anenya"


"Ayolah.., saat ia berburu untuk kedua kalinya, ia pasti sanggup lepas dari Ane. Percayalah" kata Raja mengerling pada Ratu.


"Ayo temui anak-anak kita Ratu, itu akan jauh lebih baik bagi kesehatanmu dari pada harus melihat wajah Selir Kimiko" kata Raja sambil menggiring Ratu ke arah tempat Anak-anaknya bermain.


"Kau tahu kemana Mari berada Ratu? Kenapa hanya ada Hiroshi dan Kotoko?"


"Mari...sedang bermain di kolam ikan tadinya, sekarang...ia dimandikan oleh dayang" kata Eun Sha menunduk. Raja mengangkat kedua alisnya sambil menatap penuh selidik.


"Kau menyembunyikan sesuatu dariku Ratu?" tanya Raja yang kaget mendapati sebuah pelukan kecil di punggungnya.


"Chichi!!" pekik Mari memeluk sang Ayah. Raja tersenyum lalu menatap wajah Putrinya yang bahagia.


"Apa kau ingin pergi berjalan-jalan di hutan bersama.... Otoutosan Hiroshi?" bujuk Raja. Gadis kecil itu tersenyum ceria hampir saja meneriakkan kepergiannya bersama sang Adik Laki-lakinya Hiroshi, tapi sang Raja meletakkan telunjuk ke bibir dan bicara dengan suara yang kecil.


"Jangan katakan pada Kotoko...itu akan membuatnya iri"


"Kapan kita pergi Chichi?" tanya Mari penuh semangat.


"Apa kita akan bermain lagi sekarang?!" tanya Hiroshi girang.


"Tidak. Kau, harus belajar. Ayo ikuti Chichi. Dan kau, Kotoko," panggilan dari sang Ayah membuat Gadis kecil itu mendengarkan penuh perhatian.


"Kau, harus belajar bersama Hahamu di Istana oke, sementara Mari dan Hiroshi belajar bersama Chichi" kata Raja mengusap kepala Kotoko yang mulai cemberut.


"Kenapa hanya hamba yang belajar terpisah? Kenapa hamba tidak ikut belajar dengan Mari dan Hiroshi?" rajuk Kotoko.


"Hiroshi anak yang mudah bosan dalam belajar kau tahu itu kan? Maka Mari, bisa membantu Chichi membujuk Hiroshi untuk kembali belajar. Mereka pergi untuk terus dan terus belajar."


"Apa itu lama?" tanya Kotoko mencari sebuah jawaban.


"Kami akan pulang malam. Kau bisa menjaga Haha, untuk Chichi?" tanya Raja di jawab anggukan enggan Kotoko. Gadis kecil tersebut sangat membenci terpisahkan dari dua saudaranya.


Hiroshi menatap takjub keindahan hutan yang ia pijaki kini. Raja memerintahkan semua orang turun dari kudanya untuk berburu rusa. Mari, terus mengikuti kemana langkah Adiknya itu menuju. Sementara Raja hanya mengawasi dari jauh.


"Hiroshi...kau lihat itu? Yang bergerak di antara rerumputan. Hewan itulah yang dinamakan rusa" kata Mari berbisik pada Adiknya sambil menunjukkan ke arah pusat pandangannya.


"Kita baru pertama kali berburu. Kau yakin itu namanya rusa?" bisik Hiroshi ragu. Jika ia salah membidik, poin bonus yang ia miliki bisa menghilang begitu saja, bahkan sebelum waktu berburu telah habis.


"Aku yakin, Haha memperlihatkan banyak buku bergambarkan banyak...., sekali hewan. Aku takkan mungkin salah mengenali hewan itu" balas Mari masih berbisik. Hiroshi mengangguk dan mengarahkan bidikannya pada seekor rusa yang merumput.


Drap!


Drap!!


Drap !!!


Langkah berderap dari kejauhan, membuat rusa itu kabur begitu saja. Kini guratan wajah penuh rasa kecewa karena gagal berburu itu, justru menjadi alasan Hiroshi dan Mari berusaha mengejar sang Rusa.


"Yang Mulia!! Ada perampok!!" teriak seorang Pria berkuda bersama kawanannya yang dikenali sebagai Panglima. Raja membulatkan kedua matanya lalu menoleh ke tempat terakhir ia melihat Putra dan Putrinya.


"Anak-anakku menghilang!! Cepat temukan mereka sebelum sesuatu terjadi pada mereka!!" teriak Raja sangat panik.


Ah, ia kehilangan Putra dan Putrinya karena sibuk memperhatikan siapa pemilik pasukan berkuda yang membuat keributan tak jauh dari tempat Raja dan Anaknya berburu. Raja ikut melakukan pencarian Hiroshi dan Mari. Hamari dan Hiroshi menghentikan langkah kaki, setelah mereka menyadari tidak ada Ayah ataupun pengawal mereka di sekitar mereka. Mari hendak berteriak memanggil sang Ayah, tapi di bekap oleh Hiroshi.


"Apa yang kau lakukan? Kau bisa menarik perhatian hewan buas. Kau ingat...kita dimana sekarang?" bisik Hiroshi memberi peringatan hingga ia baru melepaskan bekapan nya ketika Mari mengangguk.


"Kita...kembali saja ke tempat yang tadi kita lalui" gumam Mari panik.


"Kau lihat? Semua jalan di sini nampak sama saja bukan? Kita tak pernah tahu jalan mana, yang harus kita tapaki" desah Hiroshi merasa akan mendapatkan masalah baru kali ini.


Krusek


Krusek


Auuuuummmmm!!


"Ayo lari!!" terak Hiroshi menggapai tangan Mari membawa berlari saudarinya.


"AaaaAAAAaaa!!" teriak Mari ketika sang harimau kelaparan mulai melompat dan berdiri tegap di hadapan mereka.


Mereka diam membeku, kaki mereka tak mampu untuk bergerak. Ketika sang harimau hendak menyerang, tiba-tiba seseorang melompat kearah sang Harimau, berguling bersama makhluk garang yang buas. Hiroshi segera berjalan mundur masih menggenggam tangan saudarinya. Sang penyelamat bercadar layaknya ninja umumnya, menghujamkan katana tepat ke jantung sang harimau hingga mati.


Sang ninja menoleh ke arah mereka lalu menatap tajam ke arah mereka.


"Aku ditugaskan Chichimu untuk membinasakan kalian berdua"


"Tidak!! Chichi sangat menyayangi kami!!" teriak Mari tak terima. Ia menjerit kaget ketika sebuah pisau belati dilemparkan hingga mengenai paha sang Putra Mahkota.


"Hiroshi!! Hiroshi!!" teriak Mari mencoba mengangkat tubuh Hiroshi yang terluka. Hiroshi menahan rasa sakitnya demi keselamatan Mari Kakaknya. Mereka berlari tanpa tahu arah, dan berakhir berguling di sebuah jurang yang curam. Sang ninja berhenti melakukan pengejaran, begitu melihat Putra Mahkota dan Putri jatuh menggelinding masuk ke dalam jurang terlebih lagi, peristiwa itu dilihat langsung oleh Raja langsung.


"Hamari!! Hiroshi!!" teriakan Raja mengumandang di seluruh penjuru hutan membuat kawanan burung yang bertengger di antara ranting pepohonan beterbangan di udara.


Perlahan kedua mata Hiroshi dan Mari terbuka lebar. Mereka tak berada di tempat yang sama.


"Syukurlah kau baik-baik saja Nak, siapa namamu? Dimana tempatmu berasal?" tanya seorang Wanita kepada Mari. Gadis kecil itu menatap lekat pada wajah Wanita tersebut. Ia menggeleng dan memegang kepalanya yang berat lagi sakit dengan kedua tangannya.


"Dimana aku? Siapa aku?" tanya Mari menatap polos pada si Wanita penolong. Wanita itu terdiam sesaat lalu tersenyum lembut.


"Jadi benar kata tabib. Kemungkinan besar, kau tidak akan mengingat jati dirimu. Dengarlah nak, aku adalah Hahamu. Megumy. Dan kau, adalah Putriku" kata seorang Wanita berpakaian Geisha di hadapannya.


"Namamu adalah...Simizu Hanami. Semua orang memanggilmu Mizu" kata Megummy dengan lembut.


Ditempat lain, seorang anak Laki-laki ditemukan oleh seorang pandai besi. Ialah pencipta pedang di seantero Negeri.


"Aw....!!" pekik Hiroshi saat hendak duduk dari tidurnya.


"Seharusnya kau beristirahat terlebih dahulu nak, dimana rumahmu? Ayo kuantar kau pulang" kata sang pandai besi.


"Rumahku? Aku...tidak tahu dimana rumahku"


"Bagaimana dengan namamu? Kau pasti ingatkan?!" tanya sang pandai besi mulai panik. Hiroshi menggelengkan kepala.


"Baiklah. Kau, boleh tinggal di tempat ini selama kau mau. Anggaplah ini rumahmu sendiri, dan anggap aku ini Chichimu" kata sang pandai besi di balas Hiroshi dengan tatapan kosong.


"Namaku, Ojie Nabuke. Dan kau, kuberi nama Hideki Takizawa" kata sang Pandai besi lagi sambil menyodorkan ramuan obat pada Hiroshi.


"Lalu siapa nama panggilanku?"


"Mana saja yang kau suka nak,"


"Taki...." kata Hiroshi tersenyum ceria.