Aitai

Aitai
Episode 60



Semilir angin berhembus menerpa wajah sang Raja. Lukisannya nampak seolah hidup. Bukan karena keindahan alam yang ia torehkan di dalamnya, tapi karena...sosok yang diam-diam menyelinap dalam hati dan pikirannya. Tak jemu ia memandang sosok Ah-In yang sedang memainkan alat musiknya sambil bernyanyi dalam lukisannya.


Pikirannya menerawang entah kemana, sambil menantikan Ah-In datang menemuinya kembali. Tapi...apakah menjenguk teman yang sakit akan selama ini?


“Tae-Young”


“Ya, Yang Mulia”


“Bagaimana keadaan Prajurit yang pingsan tadi?”


“Terakhir hamba dengar belum siuman Yang Mulia”


“Jadi itu kenapa dia belum kembali dari tadi? Sebegitu pentingkah orang itu untuknya?” gumam sang Raja mulai resah.


“....” tatapan penuh tanda tanya dilayangkan Tae-Young langsung pada Rajanya.


“Lupakan saja. Bawa aku ke tempatnya dirawat” kata Raja lalu bangkit dari duduknya. Ia melangkah terburu-buru diiringi para Prajurit menuju penginapan.


“Yang Mulia, ada yang Anda perlukan disini?” tanya Hyun-Jae terkejut melihat Rajanya sudah berdiri di depan pintu penginapan.


“Bagaimana keadaan Adikmu?”


“Ah, itu. Terima kasih perhatiannya Yang Mulia. Jika Adik saya sudah siuman, akan hamba bawa menghadap pada Anda. Sementara itu....”


“Ku dengar Ah-In menjenguknya dan dia belum juga kembali menemuiku” potong Raja menatap penuh selidik pada Panglimanya.


“Nona Ah-In sangat dekat dengan Yeon-Seok mohon maklumi reaksinya Yang Mulia” jawab Hyun-Jae mulai berkeringat dingin.


“Aku sudah mendengar kata-kata itu dua kali. Baiklah, aku akan melihat keadaan Yeon-Seok sendiri.” Tegas Raja tapi Hyun-Jae menghalangi.


“Yang Mulia. Bagaimana jika kita minum teh hijau? Hawa sejuk tempat ini sangat mendukung untuk itu”


“Ada apa? Kau tidak mengizinkanku menemui Adikmu? Tapi kau membawa masuk Ah-In ke tempat Yeon-Seok?” geram Raja menatap tajam Hyun-Jae.


“Bukan itu maksud ham...” belum juga Hyun-Jae menyelesaikan kalimatnya, Raja menerobos masuk begitu saja.


“Yang Mulia Datang!!” terdengar seruan dari luar. Jelas itu kode dari Hyun-Jae. Begitu mendengar kode Hyun-Jae, Ah-In dan Yeon-Seok berdiri menyambut kedatangan sang Raja. Tapi Yeon-Seok sempat oleng ke arah peraduannya. Dia belum benar-benar pulih dari demamnya. Dengan sigap Ah-In menggapai lengan Yeon-Seok tapi, ia justru ikut terjatuh di atas tubuh Yeon-Seok!


“Apa perlu berteriak sekeras itu?!” bentak Raja mengeraskan otot rahangnya kesal. Raja berdiri diambang pintu. Dan saat pintu terbuka, Raja terperanjat terkejut melihat pemandangan dihadapannya. Yeon-Seok yang duduk di ambang jendela, sedang tertawa ceria memperhatikan Ah-In yang bertingkah konyol sambil menyanyikan lagu. Kegiatan palsu mereka berdua langsung terhenti. Yeon-Seok dan Ah-In berdiri memberi hormat pada Rajanya.


“Yang Mulia” kata Ah-In dan Yeon-Seok serempak.


“Sudah berapa lama kau siuman Yeon...Seok....?” tanya Raja merasakan percikan api cemburu.


“Baru saja Yang Mulia, lihat? Yeon-Seok sudah bisa tertawa sekarang” justru Ah-In yang menjawab dengan rasa syukur berlebihan. Hal ini justru membuat Raja makin kesal.


“Kau sudah selesai menjenguknya?”


“Sebenarnya...hamba masih ingin mengawasi kondisinya Yang Mulia” jawab Ah-In menunduk sendu.


“Dia terlihat baik-baik saja” ketus Raja.


“Hamba tidak keberatan jika Nona Ah-In meluangkan waktu lebih banyak dengan Yang Mulia” jawab Yeon-Seok membungkuk perlahan.


“Yang Mulia, hamba menyukai Yeon-Seok” tiba-tiba Gadis itu berkata hal yang membuat seluruh orang disana tercengang.


“Ah, tidak....tidak.” Ah-In menggelengkan kepala membuat Yeon-Seok yang hampir terkena serangan jantung itu menghela nafas lega.


“Maksud hamba, hamba mencintai Yeon-Seok sepenuh hati. Mohon jangan halangi hubungan kami” kata Ah-In membungkuk hormat. Seketika bola mata Hiroshi seolah akan lepas dari tempatnya. Apa Gadis ini mulai kehilangan akal? Dia menolak Raja? Bukankah itu sebuah penghinaan bagi seorang Raja?!


“Yeon-Seok apa kau mencintainya juga?” Raja melirik penuh selidik ke kedua mata Yeon-Seok.


Tidak. Batin Hiroshi mengepalkan satu tangannya.


Nyut....


Nyuuut...


Jawaban Hiroshi membuat hatinya berdenyut nyeri.


“Ya, Yang Mulia” jawab Hiroshi menunduk.


Tepatnya terpaksa mencintainya Yang Mulia kekeh Hiroshi miris dalam hatinya.


“Mulai hari ini kau, ku bebas tugaskan”


“Yang Mulia...” keluh Ah-In merasa tindakkannya menyebabkan masalah baru bagi Yeon-Seok. Tapi sang Raja berbalik kearah pintu, dan menoleh kearah belakang.


“Kau datang atas undanganku Ah-In. Sekarang ayo kita pulang” titah Raja lalu berjalan ke arah pintu.


“.....” hampir saja Ah-In mengatakan sesuatu tapi, tatapan menusuk dari Hyun-Jae, membuatnya mengurungkan niat. Setelah semua orang keluar dari ruangan itu, kini hanya ada Ah-In dan Yeon-Seok tak ada kata diantara keduanya.


“Yeon....”


“Ikutlah dengan Raja pulang.”


“Aku akan berusaha membujuknya”


“Tidak. Kau tidak boleh ikut campur dalam urusan ini. Pulanglah” tegas Yeon-Seok tak mau menatap Gadis itu sekalipun. Ah-In begitu tersiksa melihat Yeon-Seok berubah menjadi asing lagi. Jika dia bersi keras tetap berada di dekat Pria itu, Ah-In sudah dapat meramalkan apa yang akan terjadi kemudian. Dia memilih mengalah dan pergi dari pada Yeon-Seok memaksakan diri pulang dalam kondisi belum sehat.


Di dalam Kerajaan, Hyun-Jae mendapatkan kabar, Yeon-Seok sudah pulang dengan selamat, diantarkan warga setempat, menggunakan kereta kuda yang biasanya mengangkut sayuran ke Ibu Kota. Ia mengangguk setelah mendapatkan informasi itu dari Tae-Mu. Dengan sigap ia melangkah menuju ruang kerja Raja. Tempat penuh kenangan bersama Ha-Neul.


“Ada apa kau kemari Hyun-Jae? Apa ini berkaitan dengan Yeon-Seok?”


“Yang Mulia. Bukankah ini tindakan, tidak benar? Jangan sangkut pautkan urusan pribadi dengan pekerjaan.”


“Kau tahu apa yang dilakukan Adikmu Hyun-Jae?! Dia mengatakan langsung di depan wajahku bahwa mereka saling mencintai"


"Bagaimana aku bisa tinggal diam jika kehormatanku sebagai Raja dicoreng? Dia menyatakan cintanya pada Ah-In, tunanganku! Pertunangan, yang sudah terjalin sejak lama. Sebelum aku menduduki Tahta!”


“Anda bisa memindah tugaskan Yeon-Seok jika itu yang Anda permasalahkan. Jauhkan mereka. Bukankah itu sudah cukup, Yang Mulia?”


“Ini lebih baik dari pada ku hukum penggal. Jangan mendebat keputusanku. Kau, Panglima Utama Kerajaan ini” tegas sang Raja membuat Hyun-Jae mencengkeram erat kedua telapak tangannya. Hyun-Jae mendekat ke meja kerja Raja, meletakkan pedang yang diberikan khusus oleh Ratu Seonha. Ia meletakkan seragamnya juga di atas meja tersebut.


“Apa maksudmu?”


“Dengan sisa hormat yang hamba miliki Yang Mulia. Anda telah menyia-nyiakan orang berbakat seperti Yeon-Seok. Terlepas dari apakah Yeon-Seok Adik hamba atau bukan, sebagai atasannya, hamba sangat kecewa terhadap tindakan kekanakan Anda ini"


"Raja yang tidak bisa membedakan mana urusan pribadi dengan urusan Negara, tidak dapat disebut Raja. Bagaimanapun, Prajurit Resimen Baehwa adalah aset hidup Negara. Dengan ini hamba mengundurkan diri.” Jawab Hyun-Jae berkobar-kobar lalu pergi, setelah berpamitan dengan Raja.


Melihat Hyun-Jae tak lagi mengenakan seragam, tidak hanya anak buahnya tapi sang Kasim pun panik bukan main. Kasim yang telah mengabdi pada Kerajaan selama tiga generasi Penguasa berturut-turut itu tergopoh-gopoh menemui sang Raja.


“Yang Mulia apa yang terjadi?”


“Bedebah itu mengundurkan diri” geram Raja sangat marah.


“Kau!!”


“Tidak ada yang sehebat dan sebanding prestasinya dengan beliau Yang Mulia. Bahkan orang yang mendekati kemampuan beliau juga telah Anda berhenti tugaskan” keluhan sang Kasim membuat kepala Raja semakin berdenyut.


Di kediaman mantan Panglima dadakan, Hyun-Jae berjalan memasuki kediamannya dengan wajah merah padam. Amarahnya terhadap Raja belum juga reda.


“Kenapa kau pulang secepat ini?” tiba-tiba suara Yeon-Seok membuyarkan lamunannya.


“Hey, di mana seragammu? Dan pedang kesayanganmu itu?” tambah anak itu lagi. Hyun-Jae hanya mampu tersenyum kecut lalu membawa Adiknya duduk diatas dipan.


“Kau masih demam kenapa malah berjalan-jalan sampai kemari?”


“Aku bosan di dalam kamar. Lagi pula udara hari ini bagus bagi orang sakit sepertiku” jawab Yeon-Seok merebahkan diri diatas dipan. Hyun-Jae yang duduk di sampingnya ikut merebahkan diri.


“Kakak”


“hmm,”


“Kalau kau melepaskan kedudukanmu hanya karena aku, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu”


“Ini bukan hanya karena kau. Aku sedang meminta keadilan bagi anak buahku yang berbakat.”


“Aku bisa memiliki pekerjaan lain sementara kau, bukankah kau memimpikan posisi ini sejak kita kecil? Kau menyia-nyiakan kerja kerasmu” balas Yeon-Seok kecewa berat.


“Ini adalah pilihanku”


“Maka jangan lanjutkan. Sungguh Kak. Aku sungguh tidak masalah dengan keputusan Raja. Aku pun memahami setiap tindakkannya terhadapku. Ini adalah pertarunganku jadi jangan pernah ikut campur”


“Maksudmu?”


“Yang Mulia pikir Ah-In akan berhenti mencintai Yeon-Seok karena telah kehilangan pekerjaannya. Maka kita lihat saja apa keinginan Yang Mulia terwujud, atau tidak” jawab Yeon-Seok menerawang langit yang biru.


“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Hyun-Jae menoleh ke arah Adiknya.


“Kau bisa membantuku karena itu, jangan mengundurkan diri” tegas Yeon-Seok percaya diri. Tiba-tiba seseorang datang ke arah mereka tergopoh-gopoh.


“Ini perintah Kerajaan. Panglima Utama Hyun-Jae tidak boleh mengundurkan diri. Jika Anda bersi keras mengundurkan diri, akan ada biaya kompensasi setara dengan harga 300 kuda.” Kata Kasim secara langsung, membawa surat perintah Kerajaan.


“Anak kecil itu ck,” gumam Hyun-Jae frustasi.


“Katakan pada Yang Mulia, Panglima kesayangannya tidak akan mengundurkan diri” jawab Yeon-Seok terkekeh sambil memijat asal kedua bahu Hyun-Jae yang tidak pegal.


Begitu Kasim mengundurkan diri, Hyun-Jae memukul telak lengan Yeon-Seok kesal.


“Cepat katakan saja kau mau apa dariku”


“Sederhana. Buatkan aku bengkel untuk menempa pedang”


“Pedang?!” pekik Hyun-Jae kebingungan.


“Ah, seharusnya aku tidak menuruti keinginanmu. Kau selama hidupmu hanya bisa mengibaskan pedang tidak dengan menciptakannya” desis Hyun-Jae tak percaya.


“Kau meremehkanku. Buatkan aku bengkel penempa pedang, atau aku akan mengembara entah kemana dan tak akan pulang” ancam Yeon-Seok sangat serius.


“Yah, lakukan sesukamu dengan bengkel itu” cicit Hyun-Jae tak bisa berkutik lagi.


“Kau yang terbaik” kekeh Yeon-Seok memeluk Kakaknya senang.


Di kediaman Menteri Duck-Young, kemarahan Pria paruh baya itu sudah mencapai puncaknya. Bagaimana tidak? Putrinya Ah-In, mengutarakan pada calon Suaminya bahwa dia tengah dimabuk asmara dengan Pria lain. Mau ditaruh mana wajahnya ketika harus memenuhi panggilan Rajanya kali ini.


“Aku memberi kelonggaran padamu agar kau mau menerima calon Suamimu! Kalau aku tahu akan seperti ini jadinya, aku tidak akan melibatkan Yeon-Seok!” marahnya pada Ah-In.


“Ayah...sedari dulu Ah-In selalu mengatakan hati ini tertutup untuknya. Maka sampai kapan pun akan tertutup” Ah-In bersi keras.


“Mulai sekarang, kau!! Tidak akan pergi kemana-mana. Tetap di dalam kamarmu!! Dan renungkan kesalahanmu!!” teriak Ayahnya makin naik pitam dibuatnya.


“Kenapa Ayah terus menghalangi hubunganku dengan Yeon-Seok? Sampai kapan Ah-In harus menunggu Ayah mau merestuiku dengannya?!” teriak Ah-In menangis histeris.


“Yeon-Seok bukan anak sah dari Ayahnya. Sampai kapan pun tidak akan kuserahkan Putriku dengan Pria seperti itu” geram sang Ayah, sambil memberi isyarat para pengawalnya untuk menyeret Gadis itu masuk ke kamarnya.


Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan. Hiroshi sibuk dengan bengkel penempa pedang miliknya. Seperti di tempat asalnya, wajah rupawannya menarik perhatian para Gadis hingga janda. Mereka datang silih berganti untuk menggoda Pria muda ini tapi yah, mungkin dirinya memang diciptakan sekeras batu karang, kalau membicarakan soal godaan Wanita.


Dan sedingin es, jika membicarakan soal cara bicaranya dengan para Gadis dihadapannya.


“Seharusnya kau sudah pergi ke alam baka. Untuk apa kau terus mengganggu kehidupan manusia yang masih hidup?!” tegur seorang Pria berpakaian biru muda, pada Yeon-Seok asli ketika ketahuan sedang mengintai Hiroshi yang sibuk bekerja. Yeon-Seok asli langsung menyadari yang sedang mengajaknya bicara kali ini tidak lain adalah Dewa. Hantu yang panik itu berniat kabur tapi entah kenapa, ia tak bisa bergerak satu inci pun?!


“Aku masih banyak urusan!” pekik Yeon-Seok asli berusaha melawan tapi tetap tanpa daya.


“Ah-In bukan lagi urusanmu. Pergilah dalam damai” jawab sang Dewa, membuka satu tangan kirinya, dan Yeon-Seok asli pun tersedot ke dalam.


“Kau sudah membereskan gangguan kecil kita?” tanya Dewa lainnya yang tiba-tiba ada disamping Dewa berbaju biru.


“Sekarang biarkan Hiroshi menyadari perasaan sesungguhnya terhadap Ah-In” senyuman tipis itu melengkung indah di wajah Dewa tampan tersebut


Hiroshi tampak sangat sibuk dengan banyaknya pesanan dari para Menteri bahkan bangsawan. Tampaknya ia harus membayar beberapa pekerja untuk membantu kinerjanya.


Di kediaman Panglima Hyun-Jae, terlihat Hiroshi berbaring di atas dipan, menatap birunya langit. Beberapa kali Hiroshi melangkahkan kaki ke taman, tapi tak kunjung ia menemukan sosok Ah-In. Suara bising Gadis itu mungkin kini menjadi suatu keharusan untuk didengarnya setiap hari.


“Kenapa dia lama menghilang? Apa dia sakit? Jangan-jangan karena aku di bebas tugaskan lalu terjadi sesuatu dengannya?” gumam Hiroshi penasaran.


“Kalau kau ingin tahu keadaannya, kenapa kau tidak menemuinya saja?” terdengar suara Heo Dipyo, yang entah sejak kapan berada di halaman rumahnya.


“Dia tidak ada ditaman beberapa bulan ini” desis Yeon-Seok tak berkutik.


“Datangi Kediamannya. Kau sudah pernah kesana bukan?”


“Apa aku gila? Di sana ada Ayahnya”


“Kenapa? Kau takut? Seorang ahli pedang sekaligus pandai besi...takut pada calon Mertuanya?” kekeh Heo Dipyo menimpali.


“Aku akan mempersulitnya lebih dari sebelumnya”


“Jika takdir kalian bersama, maka tidak akan ada yang bisa memisahkan kalian. Kenapa harus takut dengan rintangan? Padahal rintangan itu adalah ujian sekaligus penguat hubungan kalian” nasihat Heo Dipyo menepuk bahu Yeon-Seok.


“Kau kemari tidak mungkin mencari Hyun-Jae. Ada apa kau datang kemari?”


“Aku ingin kau menjadi salah satu pasukan khususku. Aku membutuhkan keterampilanmu untuk menjaga perbatasan. Raja tidak akan dapat menyentuhmu karena kau, di bawah kuasaku.” Tegas Heo Dipyo. Tentu saja. Heo Dipyo adalah Menteri yang dengan bebas bisa merekrut siapa pun tanpa campur tangan Raja. Berbeda dengan Hyun-Jae, yang bekerja di bawah pengawasan Raja.


“Aku sudah nyaman dengan profesiku sekarang”


“Kau yakin, tidak ingin bergabung dengan Heo Dipyo? Meskipun kau tahu ada kesempatan besar untukmu bisa dengan leluasa menemui Ah-In?” tiba-tiba suara Hyun-Jae kini terdengar tepat di pintu masuk kediamannya sendiri.