
Matahari telah terbit suara riuh kicauan burung membangunkan Seonha. Kepalanya dipenuhi oleh masalah para Gadis yang diculik. Setelah berhias diri, seorang dayang memberi tahu Panglima Hyun-Jae telah menanti bersama Pamannya di danau buatan Kerajaan. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di kepala Hamari.
Kenapa Paman dari Ha-Neul yang tak pernah berkunjung selama 12 tahun hanya untuk mengembara ke berbagai belahan dunia tiba-tiba datang mengunjungi keponakannya?
Ratu Seonha bergegas menemui sang Paman di danau buatan kerajaan.
“Lama tak bertemu Paman, bagaimana kabar Anda?” sapa Hamari lembut. Sang Paman dari Ratu Seonha berbalik lalu menatap penuh arti pada keponakannya. Ia berjalan mendekat, kemudian memberi hormat.
“Hamba ingin melihat kondisi Anda Yang Mulia. Belum lama ini hamba mendengar bahwa Anda mengalami masalah, percobaan bunuh diri, bahkan menjadi korban percobaan pembunuhan? Apa itu benar?” tanya Pamannya dengan ekspresi khawatir berlebihan. Sangat terasa kecemasan di wajahnya hanyalah tipuan belaka.
“Ya, Paman. Tapi saya sudah dapat mengatasi segalanya dengan baik. Ada keperluan apa Paman datang kemari?”
“Apa hamba tidak boleh menjenguk Keponakan sendiri?”
“Bukan begitu Paman. Setahu saya, Paman tidak akan datang jika tidak ada keperluan yang mendesak. Apa yang bisa saya bantu?” pancing Ratu Seonha mencari jawaban dari setiap pertanyaan dalam benaknya. Sang Paman sekarang malah memeluknya sambil menepuk-nepuk punggungnya perlahan.
“Kau seperti bukan Keponakanku saja. Biasanya kau langsung paham kode rahasia kita ini. Aku benar-benar ingin berbicara padamu empat mata. Sekarang juga” bisik sang Paman di telinga Ratu Seonha.
“Sepertinya Paman cukup lelah dalam perjalanan kemari. Ayo, kita minum teh di ruang kerjaku” tawar Ratu Seonha tersenyum hambar begitu sang Paman berdiri tegak kembali.
“Dayang Gu Baek-Na, tolong antarkan Paman keruang kerjaku dan jamu beliau dengan baik” perintah Ratu Seonha sambil menatap tajam Hyun-Jae tak jauh dari dirinya dan sang Paman berdiri.
“Bisakah Paman menungguku sebentar saja? Masih ada urusan yang belum ku selesaikan hari ini. Tidak akan makan banyak waktu. Percayalah” tegas Ratu menjawab raut wajah protes dari sang Paman.
Ketika Dayang Gu Baek-Na membawa pergi Paman Ha-Neul Arang, Hamari langsung berjalan ke arah Hyun-Jae.
“Perdana Menteri Suk Chin memberiku ini ketika aku menjenguk Jee Kyung. Aku pikir ini adalah kode jika apa saja yang dia katakan padaku saat itu tidak semuanya benar. Menurutmu bagaimana?” tanya Hamari serius.
“Yang Mulia. Perdana Menteri Suk Chin dan Istrinya telah tiada”
“Bagaimana mungkin?! Apa yang terjadi? Jee Kyung?! Bagaimana dengannya?!”
“Hamba ingin bertanya. Apa Anda memberi surat perintah hukuman pemenggalan kepala Menteri Suk Chin?”
“Apa maksudmu? Kenapa aku melakukannya?”
“Karena Menteri Suk Chin di dakwa membuat pasukan khusus untuk menculik anak Gadis di sekitar tempat tinggalnya.”
“Tidak! Aku tidak pernah melakukannya!”
“Tapi jelas dalam surat perintah itu ada cap Kerajaan Yang Mulia!! Bagaimana Anda bisa sangat teledor seperti ini?! Hamba sudah memperingatkan Anda berulang kali.” Bentak Hyun-Jae naik pitam. Bagaimana bisa seorang Ratu dengan sembrono membuat dirinya kehilangan cap Kerajaan?
“Hyun-Jae...bagaimana Jee Kyung? Apa dia baik-baik saja?”
“Menurut surat perintah Kerajaan justru Andalah, yang memasukkan Nona Jee Kyung ke Gibang”
“Gibang?”
“Tempat dimana para Gisaeng menghibur Pria-pria hidung belang. Bukankah Anda telah berjanji pada Heo Dipyo untuk melindunginya? Bagaimana reaksi Heo Dipyo ketika seseorang yang berjanji akan melindungi Wanitanya justru menjebloskan Wanita itu ke tempat tersebut?” tambah Hyun-Jae lebih mendekat lagi pada Ratunya.
“Hamba sudah katakan. Jangan tunjukkan kelemahan Anda. Tapi Anda terus menerus mengacuhkan nasihat hamba. Percuma Anda menangis sekarang. Jangan biarkan antek Kwon Jae He melihat air mata Anda Yang Mulia” kata Hyun-Jae penuh tekanan ketika melihat mata Hamari mulai berkaca-kaca. Ia ingin merengkuh Gadis di hadapannya dalam pelukan tapi ada banyak mata sedang memperhatikan mereka dalam jarak cukuplah jauh.
Yang Mulia...bagaimana cara hamba dapat melindungimu jika Anda selalu saja bertindak gegabah tanpa meminta pertimbangan dari orang lain? Anda memberi peluang musuh untuk melancarkan siasat busuk mereka.
“Kalau begitu aku akan memberi klarifikasi jika itu bukan perintah langsung dari....”
“Apa kata Rakyat jika tahu Ratu dengan lengahnya membiarkan seseorang bermain-main dengan cap Kerajaan? Penguasa yang kehilangan cap sama dengan kehilangan seluruh wewenangnya” bisik Hyun Jae setajam silet.
Kasim memperhatikan bagaimana Ratunya berdebat dengan Panglima Hyun Jae. Ia memerintahkan seluruh pengawal dan dayang untuk meninggalkan kedua manusia itu bersamanya.
“Anda tidak boleh kehilangan Tahta jika ada banyak orang yang ingin Anda lindungi” tambah Hyun-Jae memeluk sang Ratu setelah semua orang-orang yang membuntuti Ratu meninggalkan mereka berdua.
“Seberapa banyak yang ingin Anda lindungi, maka akan lebih banyak lagi rintangan yang akan kita hadapi. Berapa banyak nyawa yang ingin Anda selamatkan, tapi pada kenyataannya nanti, hanya sebagian kecil yang dapat Anda selamatkan dengan mempertaruhkan lebih banyak lagi kehidupan pasukan Kerajaan”. Mendengarkan kata-kata Hyun-Jae membuat dada Ratu makin sesak.
“Ratu seperti apa aku ini Hyun-Jae? Kenapa harus mengorbankan banyak nyawa hanya untuk mempertahankan Tahta? Bahkan orang yang aku kasihi harus jadi korban” Ratu menangis ia tak sanggup lagi menahan air matanya.
“Ini adalah pilihan Anda Yang Mulia. Tetap bertahan dan tegar menghadapi kehilangan yang lebih besar dari ini” Hyun-Jae menepuk-nepuk punggung Ratunya. Beban di pundaknya semakin hari semakin bertambah berat mengingat sifat Ratu yang suka bertindak sesuai nalurinya saja.
Hyun-Jae hendak melepaskan pelukannya tapi Ratu Seonha nya justru menahan dengan kedua tangan yang gemetaran berusaha keras untuk tetap berada dalam rengkuhan sang Panglima.
“Aku bisa bertahan kehilangan apa pun Hyun-Jae. Tapi, hanya jika kau selalu berada disisiku. Jika kau pun harus menghilang dariku...”
“Yang Mulia. Tempat ini tidak selalu sepi. Mohon jangan terus seperti ini. Hamba tidak ingin musuh menganggap hamba sebagai kelemahan Anda selain Jee Kyung” tegas Hyun-Jae mencoba melepaskan diri dari Ratu Seonha.
“Itu salahmu. Kau hanya memelukku saat aku menangis” lirih Ratu, melepas pelukannya pada Hyun-Jae lalu bergegas menuju ke dalam Istana. Sang Ratu tidak paham bagaimana Panglima Hyun-Jae berusaha keras menahan diri selama jabatannya ia pikul.
Ratu Seonha masuk ke ruang kerjanya memperhatikan kegelisahan sang Paman. Ia duduk berhadapan dengan Pamannya saat seorang dayang menuangkan secawan teh hangat.
“Dayang, keluarlah” perintah Ratu setelah mendapat kode dari Pamannya.
“Aku tidak tahu apa kau mengingatku atau tidak Ha-Neul. Tapi salah satu Menterimu membuat Putraku melakukan kesalahan fatal”
“Katakan dengan sejelas mungkin Paman. Agar aku mengerti apa maksudmu”
“Kwon Jae He keparat itu, mengancam Putraku dan menjadikannya dalang dibalik hilangnya cap Istana” kata Paman Ha-Neul sambil menyodorkan stempel Kerajaan.
“Jadi, aku datang kemari padamu untuk memohon pertolonganmu jangan libatkan Putraku, ke dalam urusan Istana ini. Biarkan dia bebas sepertiku” tambah sang Paman menggebu-gebu.
“Paman sudah tahu apa yang terjadi akibat...stempel ini menghilang?”
“....” sang Paman diam seribu bahasa keringat dingin membasahi keningnya.
“Nyawa dua orang tidak berdosa melayang. Dan sekarang, Putri mereka, mendekam di Gibang. Putramu sudah merusak masa depan tiga orang tak berdosa”
“Putraku melakukan hal itu karena sebuah jebakan. Apa kau, tidak punya belas kasih pada saudara sepupumu sendiri?!” tambah Pamannya bersungut-sungut.
“Mulai sekarang Putra Paman tidak akan lepas dari pengawasan Kwon Jae He. Bisa jadi diluar sana Putramu melakukan banyak hal yang dapat merugikan seluruh anggota Kerajaan bahkan rakyat sekalipun atas desakan Kwon Jae He.” Jawab Ratu Seonha setenang mungkin sebelum meminum teh.
“Menurut Paman, di manakah tempat paling aman bagi Putra Paman sekarang?”
“Jangan berpikir membawa Putraku masuk ke dalam Kerajaan ini!”
“Baiklah. Artinya, jika Putra Paman membuat masalah lagi, akan lebih baik dia dihukum mati bukan?”
“Kau!!”
“Jika dia berada dalam pengawasanku, akan berbeda jadinya. Kali ini akan ku lepaskan Sepupuku, tapi tidak di lain waktu Paman” ketegasan Ratu Seonha terdengar bagai ancaman di telinga Pamannya.
“Apa kata-katamu bisa ku pegang? Jika kuserahkan Hwan Chin padamu, dia akan aman?” tampak sang Paman mulai berpikir sejenak menimbang baik buruk jika ia melakukan ini dan itu.
“Akan ku pastikan dia sebagai penerus Tahta Kerajaan ini”
“Aku Beom Ho tidak bersedia menjadikan Putraku Hwan Chin sebagai Raja Negeri ini.” Tangan Beom Ho mencengkeram kuat-kuat cawan di tangannya bahkan kini tangan itu meneteskan darah segar. Apa yang di pikirkan Keponakannya? Tawaran Kwon Jae He untuk merebut Tahta saja ditolaknya mentah-mentah.
“Paman!! Apa yang kau lakukan?!” kini Ratu Seonha berdiri menghampiri Pamannya dan berlutut di hadapan Beom Ho.
“Masa depan Kerajaan ini tidak berada di tanganku Paman. Tapi di tangan Hwan Chin. Selama ini aku menjaga Tahta demi Putramu. Aku menduduki Tahta juga demi keutuhan Kerajaan ini. Jika aku tidak menggantikan Ayahanda dulu, maka peperangan besar akan tercipta hanya karena Kwon Jae He melancarkan tipu muslihatnya"
"Mohon jangan halangi Hwan Chin menjadi penguasa setelah saya pergi Paman” ratap Ratu Ha-Neul menangis sambil bersimpuh di kaki Beom Ho.
“Tidak sepantasnya seorang Ratu berlutut di depan Rakyat jelata seperti Hamba. Berdirilah”
“Tidak. Aku bersimpuh di depan Pamanku sendiri. Aku sedang memohon padamu, layaknya aku memohon pada Ayahandaku sendiri”
“Heis!! Anak ini!! Keras kepalamu tidak pernah berubah” omel Beom Ho mencengkeram kedua bahu Ratu, lalu memaksanya berdiri tegak.
“Kau bisa menikah dan memiliki Putra Mahkota. Kenapa kau malah tidak melakukannya dan membuat keputusan konyol?” bisik sang Paman kecewa.
“Jika aku menikah, maka yang menduduki Tahta adalah Suamiku. Kwon Jae He bisa menggunakan Heo Dipyo untuk menggantikan Hyun-Jae sebagai Raja dan apa dayaku jika itu terjadi? Aku hanya seorang Putri yang tidak memiliki kekuatan"
"Tapi jika aku menjadi Ratu, bukankah akan ada banyak orang yang dapat di selamatkan dari peperangan?”
“Lalu kau, mengorbankan Putraku Hwan Chin untuk bisa hidup bersama Pria bernama Hyun-Jae?” Beom Ho mulai bisa membaca arah pembicaraan Ratunya.
“Itu tidak tepat Paman. Lebih tepatnya, aku memberikan Tahta kepada seseorang yang lebih cakap dan lebih berhak memerintah Kerajaan ini. Jangan sembunyikan lagi kemampuan, kecerdasan bahkan potensi Hwan Chin. Meskipun dia terlahir dari seorang Gisaeng, tapi dia tetaplah Putramu. Keluarga Kerajaan"
"Lagi pula Wanita itu sudah lama tiada jika ada yang berani mempermasalahkan asal usulnya, aku sendiri yang akan menghukum cambuk orang yang berani, menghina anggota Kerajaan”. Kesungguhan hati Ratu Seonha membuat Beom Ho melunak.
“Selama ini aku menyembunyikannya dari tempat ini. Tapi tidak kusangka karena dia terpojok, akhirnya dia berhasil melacak keberadaan Putraku dan memanfaatkan status Putraku dengan licik” kekeh Beom Ho ingin mencekik Kwon Jae He sampai mati.
“Maka jangan hanya tinggal diam Paman. Umumkan pada Kwon Jae He dan antek-anteknya bahwa Putramu Hwan Chin adalah penerus Tahta terkuat. Buat Hwan Chin dihormati jangan biarkan dia di sisihkan. Dia bisa menjadi kebanggaanmu” senyum Seonha tulus. Beom Ho mengangguk setuju.
“Dayang Gu Baek-Na” panggil Ratu. Terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali.
“Ya, Yang Mulia”
“Bawa obat-obatan dan rawatlah luka Pamanku ke kediaman Ayahanda” perintah Ratu.
“Kuharap besok Paman membawa sepupuku kemari” tegas Ratu sebelum Beom Ho pergi meninggalkannya.
Panglima Hyun-Jae masuk matanya membulat begitu melihat ada noda darah di lantai bahkan bahu Ratu Seonha. Hyun-Jae segera memeriksa apa yang terjadi pada sang Ratu.
“Hyun-Jae ini bukan darahku. Tenanglah” kata Ratu Seonha setelah tubuhnya sibuk berputar akibat kepanikan sang Panglima. Pria itu menghela nafas lega lalu memeluk erat Ratu.
“Aku tidak sedang menangis, kenapa kau memelukku?” senyum Ratu Seonha.
“Aku tidak sedang memeluk Ratu Negeri ini. Aku sedang memeluk Putri Ha-Neul Arang. Jantungku hampir meledak melihat darah di tubuh kekasihku. Apa yang bisa kulakukan selain bersyukur” sahut Hyun-Jae ketus.
“Kau harus baik-baik saja meski pun aku akan pergi dari tempat ini suatu saat nanti. Berjanjilah”
“Kita sudah berjanji akan pergi dari tempat ini bersama. Apa kau berencana membuangku sekarang?” protes Hyun-Jae melepas pelukannya lalu menatap tajam kedua bola mata indah di hadapannya.
“Ada yang lebih penting Hyun-Jae. Paman bilang, Kwon Jae He dalang dari menghilangnya stempel ini” Ratu mengubah topik, melepaskan diri dari pelukan Hyun-Jae, lalu menunjukkan stempel Kerajaan di tangannya.
“Apa kata Tuan Beom Ho?”
“Kwon Jae He melibatkan Hwan Chin dalam perseteruannya dengan kita. Hwan Chin di paksa memberi cap stempel pada surat perintah Kerajaan palsu.”
“Apa langkah Anda selanjutnya?”
“Memasukkan Hwan Chin ke dalam Istana. Dengan menempatkannya di posisi sebagai calon Raja di masa depan, posisinya akan menjadi kuat dan Kwon Jae He tidak akan mudah menggoyahkannya. Bagaimana pendapatmu Hyun-Jae?”
“Akan ada banyak pertentangan dari para pejabat. Anda dan Tuan Hwan Chin harus siap mental untuk menghadapinya.”
“Aku sudah menjamin Hwan Chin akan dihormati di tempat ini. Tapi..., jika begitu dia datang, ada banyak orang yang tiba-tiba melemparkan penolakan akan keberadaannya, bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkannya kepada Paman Beom Ho?” dalam sekejap mata Ratu kembali patah semangat.
“Tidak ada yang mudah di dalam Istana Ratu, aku memahami situasinya. Jangan khawatirkan itu” tiba-tiba Beom Ho muncul bersama Putranya Hwan Chin.
“Hwan Chin menghadap Ratu Seonha. Semoga segala cita-cita Yang Mulia dapat dikabulkan” sapa Hwan Chin yang kini menginjak usia 19 tahun.
“Cita-citaku? Semuanya bisa terwujud asalkan Hwan Chin, dan Paman Beom Ho bersedia membantu mencapai tujuanku” senyum tulus dari hati ditujukan untuk Hwan Chin.
“Kau, dengan segala kecerdasanmu bisa membangun Negeri yang lebih baik dari sekarang. Jadi, mulai sekarang, kau bisa mempelajari apa pun yang belum kau kuasai dengan bimbingan Panglima Utamaku” tambah Ratu penuh harapan.
Ha-Neul Arang, Jee Kyung, dan Kim Yeon-Seok. Sesuai janjiku. Kami akan pergi, dengan meninggalkan kedamaian di Negeri ini. Batin Hamari, mewakili Kotoko dan Hiroshi.