Aitai

Aitai
Pasangan Yang Tantrum



"Beraninya kau menyentuh Ratu!!" amuk Hiroshi sambil menghunuskan pedangnya ke tangan sang ninja, hingga terpotong.


"Aaargh!!" pekik sang ninja.


"Pergilah ketuanmu, dan katakan akulah yang memotong tanganmu!! Sekali lagi kau mencoba melukai Ratu ataupun Raja!! Maka nyawamulah yang akan kucabut!!" kata Hiroshi berkobar-kobar.


Terlihat puluhan ninja sedang berperang melawan para prajurit Istana tak jauh dari tempat mereka berpijak. Rupanya setelah para prajurit dan pengawal kerajaan mengalami kewalahan, keempat ninja yang menyerang Raja, Ratu dan Natsuha dapat melenggang dengan leluasa tanpa adanya rintangan.


"Kau membebaskan orang yang salah Hiroshi... Dia ninja yang mengambil kau dan Mari, dari hidup kami dahulu" kata Raja Keito kecewa saat sang ninja dapat lolos dengan mudah. Melihat luka Raja Keito parah, Mari langsung mengambil pita besar dari rambutnya lalu merekatkannya ke lengan Raja yang terluka untuk menghentikan pendarahan. Melihat Raja telah ditolong Mari, ia menatap ke arah sang Menteri. Tidak ada yang memberinya pertolongan.


"Yang Mulia...bolehkah hamba membantu Menteri Natsuha? Agar pendarahannya juga terhenti" bisik Eun Sha pada Raja disela Mari yang dengan telaten memastikan Ayahnya baik-baik saja. Raja Keito mengangguk dan tersenyum pada Eun Sha.


"Ya, kita tidak boleh kehilangan Menteri seperti dirinya. Tolonglah dia" jawab Raja lembut. Eun Sha segera berdiri lalu memapah Menteri Natsuha untuk duduk di bawah pohon rindang.


"Luruskanlah kakimu Natsuha"


"Yang Mulia...biarkan Tabib Istana yang melakukannya untuk saya" kata Natsuha berusaha menolak sehalus mungkin.


"Butuh perjalanan yang panjang untuk sampai ke Istana. Pendarahanmu harus segera dihentikan"


"Rawatlah Yang Mulia Raja...beliau lebih membutuhkan Anda" kata Natsuha yang kaget ketika lengan busananya dirobek dengan paksa oleh Eun Sha.


"Kau lihat sendiri bukan, ada Mari yang bisa menggantikan Hahanya"


"Jaga Putri Mari, Kotoko dan Pangeran Hiroshi Yang Mulia...mereka punya perasaan menyimpang" kata Natsuha tegas. Eun Sha tidak terlalu mendengarkan apa kata dari Natsuha. Ia sibuk mengambil sapu tangan miliknya untuk membalut luka di paha Natsuha lalu menggunakan robekan busana Natsuha untuk mengikat kuat bagian yang terluka.


"Selesai" kata Eun Sha lega. Ya, selama ini Natsuha selalu melindungi dirinya dari bahaya apa pun.


"Ratu. Anda mendengarkan hamba?" tanya Natsuha ingin memastikan.


"Apa? Tentang aku harus merawat Yang Mulia Raja? Aku sudah kat...." sebelum Ratu menyelesaikan kalimatnya, Natsuha sudah membungkam mulut Wanita itu dengan tangannya yang tidak terkotori darah.


"Putrimu Mari, memiliki perasaan khusus terhadap Raja. Putramu Hiroshi memiliki perasaan khusus terhadap Anda dan, Putrimu Kotoko memiliki perasaan khusus pada Hiroshi. Belum terlambat untuk meluruskan penyimpangan mereka. Kau mengerti?” sorot mata Natsuha terlihat bersungguh-sungguh.


"Apa?"


"Itulah sebabnya kenapa aku mendadak keras pada Hiroshi. Karena dia, ingin memilikimu sebagai seorang Wanita. Ia tidak memandangmu sebagai seorang Haha" kata Natsuha cemas.


"Apa itu sebabnya Mari selama ini memusuhiku? Karena...ia menganggap akulah perebut kekasihnya?" mendengar penuturan lirih dari Eun Sha, Natsuha hanya mengangguk, lalu merebahkan kepalanya di pohon.


"Ia hanya mengingat dirinya sebagai Jeajangna. Dia tidak menganggap dirinya sebagai Mari. Begitu pun dengan Hiroshi"


"Kau berkata yang sebenarnya? Natsuha?"


"Apa aku pernah berbohong padamu?" tanya Natsuha diiringi gelengan kepala Eun Sha.


"Aku akan memberi mereka pelajaran. Tapi kau, Kimiko, dan Raja juga harus mau bekerja sama. Maukah kau membantuku?" tanya Eun Sha dijawab dengan anggukan mantap. Keduanya tersenyum penuh arti.


"Ratu, bagaimana keadaan Natsuha?" tanya Raja tiba-tiba. Mereka terkejut lalu menoleh pada sang Raja.


"Kenapa wajahmu tegang? apa kondisi Natsuha sangat buruk?" tanya Raja menatap kedua wajah pucat pasi dihadapannya.


"Kita harus bicara segera Yang Mulia, tapi tidak dihadapan Anak-anak" kata Eun Sha tersenyum hambar ketika sang Raja menatap mereka penuh tanda tanya besar.


"Baiklah, prajurit kita memenangkan pertarungan. Sekarang kita bisa pulang dengan tenang. Natsuha, kau bisa menggunakan tandu berdua dengan Putraku" kata Raja Keito memaklumi keadaan sang Menteri.


"Hamba...tetap pulang dengan menunggangi kuda Yang Mulia. Hamba tidak ingin menanggung risiko akan adanya serangan berikutnya" tolak Natsuha.


"Kau sedang terluka Menteri Natsuha. Lagi pula akan ada Panglima yang siap mengamankan perjalanan pulang kita. Aku tidak ingin ada penolakan. Ayo Eun Sha" kata Raja tak ingin di ganggu gugat.


Ia menggandeng tangan Ratu memasuki tandu. Natsuha terpaku sendu melihat kebersamaan antara Raja dan Ratu. Jika ia dapat memilih, ia akan menaiki kudanya, lalu berjalan di depan sehingga ia tak dapat melihat pemandangan seperti yang ia lihat barusan.


Para pengawal Istana memapah Natsuha menuju tandu Putra Mahkota.


"Chichi. Apa kau mencintainya?" tanya Hiroshi tanpa menatap wajah bingung Natsuha.


"Siapa maksudmu?"


"Ratu"


"Kenapa kau menyimpulkannya begitu? Hanya karena aku melindungi Yang Mulia Ratu dari katana ninja? Itu terdengar konyol anak muda" kekeh Natsuha sambil menggelengkan kepala.


"Aku mengetahui masa lalu diantara Chichi dan Haha..."


"Katakan. Apa yang kau ketahui?"


"Sebelum Haha menikah dengan Chichi Keito, Haha menjalin hubungan dengan Chichi Natsuha. Ketika Haha masih seorang penari Istana"


"Tapi, karena ambisi Haha yang kala itu ingin menjadi Sakuhyunja, dan terus tetap tidak ingin melepaskan impiannya, akhirnya Chichi melepaskan beliau. Benar begitu?" kata Hiroshi yang kini mulai menoleh prihatin pada Natsuha.


"Katakan saja apa yang ingin kau katakan padaku Hiroshi" kata Natsuha merasakan ada sesuatu dibalik pertanyaan sang Putra Mahkota.


"Bagaimana Chichi bisa berbesar hati sedemikian rupa hingga membiarkan begitu saja, Chichi Keito menikahi Haha? Bukankah Chichi Natsuha sangat mencintai Haha?"


"Karena hanya Raja Keito yang dapat membahagiakan Eun Sha lahir dan batin. Perlu kau ketahui. Kala Haha sedang mengandungmu, ada seseorang yang ingin menghabisi Haha dan dirimu. Tapi untungnya aku dapat menemukan Hahamu sebelum nyawa kalian melayang"


"Disaat seperti itu, aku tak bisa sesegera mungkin mengembalikan Hahamu kepada Yang Mulia Raja. Karena pelakunya, adalah orang dalam. Aku menyembunyikan Ratu, hingga usia kandungannya 9 bulan"


"Tapi suatu ketika, musuh mengetahui keberadaan Hahamu sehingga dayangku menyembunyikan Yang Mulia Ratu di sebuah sumur dangkal yang telah lama surut. Begitulah akhir dari kisah cintaku"


"Chichi memberikan Haha begitu saja? Semudah itu?"


"Sudah kubilang. Eun Sha hanya bahagia jika bersama Raja. Mungkin takdirku, tidak menghendaki aku memiliki Eun Sha seutuhnya.”


"Itu tolol namanya. Jika kita bisa mengambil apa yang hilang dari kita, bukankah itu patut untuk diperjuangkan?"


"Untuk apa memaksa seseorang tetap terus bersama kita, jika ia tak memiliki rasa yang sama terhadap kita? Itu hanya akan mengundang penderitaan bagi orang yang kita cintai" tandas Natsuha tak tahu lagi harus bagaimana dalam memberi pengarahan pada Putra Mahkota.


"Lalu, bagaimana dengan nasib Chichi sendiri? Memendam perasaan seumur hidup? Bukankah itu akan membunuh kita secara perlahan?" kali ini Hiroshi bertanya dengan nada super sinis.


"Tapi kau akan lebih cepat menghadapi kematianmu begitu tahu orang yang kau paksa untuk tetap bersamamu, tidak pernah mampu membalas cintamu, seumur hidupnya. Karena cintanya telah lama kau jauhkan dari hidupnya, hingga hanya akan ada benci dan dendam dalam jiwanya. Bahkan kau akan terus melihat penderitaannya seumur hidupmu hanya karena ia terus bersamamu" kata Natsuha menutup kedua matanya.


"Bukankah cinta akan datang setelah orang yang paling dicintainya lenyap Chichi?" pertanyaan Hiroshi seketika membuat Natsuha membuka kedua matanya. Benarkah itu keluar dari mulut Hiroshi? Pria bernama Natsuha menoleh kearah sang pemilik suara tapi Hiroshi terlihat begitu damai dalam tidurnya.


Yang aku dengar barusan...tidak. Itu jelas bukan mimpi ataupun khayalanku. Aku yakin Hiroshi mengatakannya dengan lantang. Tapi...dia tertidur di sampingku. Oh Tuhan. Semoga apa yang kutakutkan tidaklah benar terjadi. Batin Natsuha sambil kembali memejamkan mata.


Setelah rombongan iringan Raja tiba di Istana, Raja segera di bawa ke kediaman Ratu untuk beristirahat.


"Yang Mulia. Apa masih terasa sakit?" tanya Eun Sha berkaca-kaca saat Raja tengah dijahit luka sobekannya. Raja hanya diam seribu bahasa menahan rasa sakitnya, menggigit kain yang membungkam bibirnya.


Ia ingin berteriak saat jahitan pertama dan kedua dilakukan tapi...ia tak ingin Istrinya semakin panik karenanya. Yang bisa ia lakukan adalah...meremas alas peraduannya. Eun Sha yang tanggap langsung menggenggam tangan Raja yang mulai menegang dan berkeringat dingin.


Raja menggeleng melepas genggaman tangan Eun Sha kembali menggenggam erat peraduannya. Eun Sha malah tersenyum simpul kembali meraih tangan Raja dan menahan Raja yang berusaha melepaskan diri. Kali ini ia tak kuat lagi menahan jarum yang menusuk kulitnya ia menggenggam erat tangan Sang Ratu.


"Selesai. Hamba mohon diri" pamit sang Tabib Istana.


"Cepatlah temui Natsuha. Ia jauh lebih parah dariku. Layani dia sebaik kau melayaniku" jawab Raja lalu sang Tabib memberi hormat berpamitan. Setelah di ruangan itu hanya ada Ratunya, Raja langsung menarik tangan Ratu dan memeriksa sekitar telapak tangannya.


"Aku sudah melarangmu. Lihat apa yang kulakukan padamu" marah Raja cemberut sambil menunjukkan memar di pergelangan tangannya Eun Sha. Wanita itu hanya tersenyum simpul sambil menghela nafas dalam.


"Tidakkah Anda ingat, masa-masa persalinan hamba? Yang Mulia? Bahkan ini jauh lebih baik dari yang dulu pernah hamba lakukan terhadap Yang Mulia" kata Eun Sha berusaha menghibur Suaminya.


"Tetap saja aku menyakitimu"


"Itu tidak sengaja Yang Mulia"


"Pergilah. Natsuha jauh lebih membutuhkan pertolonganmu. Aku sekarang jauh lebih baik"


"Yang Mulia...Anda mengusir hamba? Hanya karena ini?"


"Pergilah"


"Sayangku..., tapi Natsuha sudah diberi pertolongan Tabib Istana bukan?" rayu Eun Sha.


"Kau ingat dia berulang kali menyelamatkan nyawamu? Apa kau tidak ingin membalas budi baiknya?" kata Raja memalingkan wajah.


"Anda yakin Yang Mulia? Bagaimana jika...kedekatan hamba, dengan Perdana Menteri kesayangan Anda itu menumbuhkan kecemburuan dalam benak Anda, Yang Mu-lia? Hmm?" kata Eun Sha memperingatkan.


"Aku hanya memberimu kesempatan untuk membalas budi baik Natsuha. Siapa yang memerintahkanmu, untuk menanam benih cinta dalam diri Menteriku? Eun Sha" kata Raja datar seolah mudah baginya, untuk mengatakan hal itu.


"Suami hamba jauh lebih penting bagi hamba Yang Mulia"


"Tapi jauh lebih penting, seorang Istri, yang mematuhi kata Suaminya"


"Anda memerintah hamba, sebagai seorang Raja bukan? Tapi hamba, sedang menjalankan tugas hamba sebagai seorang Istri. Bukan seorang Ratu" kata Eun Sha keras kepala. Raja menatap Istrinya tanpa menanggalkan wajah datarnya.


"Aku bilang, Natsuha jauh lebih membutuhkanmu. Lukanya jauh lebih dalam dari lukaku. Rawatlah dia sebagai bentuk balas budi Suamimu, kepadanya" kata Raja lantang.


"Jika aku terlalu lama bersamanya, bisa jadi rasa cintaku terhadapmu berkurang seiring berjalannya waktu. Tapi, baiklah...jika memang kau ingin suatu saat nanti Istrimu jatuh hati padanya, dan berselingkuh di belakangmu. Aku akan pergi" tantang Eun Sha jengkel terus di bantah Suaminya.


"Lakukanlah sayang," tantang balik Raja dengan senyuman manis mengembang.


"Yang Mulia!! Anda!!" teriak Eun Sha kesal luar biasa.


Suami macam apa dia? Kenapa dia malah mendorongku untuk selingkuh? Apa tadi kepalanya ikut terbentur?! Umpat Ratu Eun Sha dalam hati. Ada gurat kekecewaan ketika Ratu itu merasa tak dicintai lagi oleh Rajanya. Suaminya sendiri. Ia hanya membungkuk tak bicara, lalu pergi begitu saja. Setelah Ratu benar-benar pergi, Raja terkekeh geli melihat ekspresi Ratunya yang gemas terhadap dirinya.


Bahkan aku percaya padamu, seperti aku mempercayai diriku sendiri. Kalau kau berniat untuk selingkuh, kenapa kau tak lakukan bersama Natsuha sejak dahulu? Lagi pula, tidak ada Laki-laki yang bisa membuatmu bahagia selain diriku. Aaaah, anggap saja, itulah hukuman yang pantas untukmu. Siapa suruh kau melukai dirimu karenaku. kata hati Raja, dengan ekspresi antara tertawa sekaligus menahan rasa sakit.


Di kediaman Menteri Natsuha, seluruh dayang terus berjalan hilir mudik keluar dan masuk.


"Ratu Eun Sha ingin berkunjung!!" lapor sang pengawal yang berdiri di depan pintu kediaman sang Menteri. Begitu Eun Sha masuk kedalam, ia langsung panik melihat Natsuha yang sedang dijahit pahanya oleh tabib Istana, ingin berdiri untuk memberi penghormatan.


"Jangan berdiri, dan duduklah tenang!!" bentak Ratu membuat semua orang disana terperanjat kaget. Tidak biasanya, sang Ratu membentak siapa pun ada apa gerangan dengan suasana hati sang Ratu hari ini? Natsuha menatap Ratu dengan tatapan tak enak hati.


"Ada apa Ratu tiba-tiba berkunjung kemari?" tanya Natsuha, setelah Tabib Istana menyelesaikan tugas menjahit dan menyiapkan ramuan bagi Natsuha. Setelah itu, Sang Tabib Istana mohon diri.


"Kau, terluka karena aku dan Raja. Jadi aku datang kesini, sebagai perwakilan Raja. Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?" tanya Ratu mulai melunak.


"Hamba baik-baik saja Yang Mulia. Sebaiknya Anda lekas kembali ke kediaman Raja,"


"Aku akan disini selama yangku inginkan. Jadi kau lapar?" tanya Eun Sha setelah mendengar suara perut Natsuha yang keroncongan.


"Yang Mulia....ini tugas dayang. Jangan lakukan itu" tolak Natsuha begitu melihat Ratu mengambil buah apel lalu mengirisnya untuk Natsuha.


"Hamba merasa tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti in...." belum selesai sang Menteri bicara, Eun Sha sudah menjejalkan potongan buah apel ke dalam mulutnya. Terpaksa Natsuha mengunyah buah yang sudah terlanjur bersarang di dalam mulutnya.


"Oh, ku rasa...itu terlalu besar di dalam sana. Maaf...," kata Eun Sha terkekeh kecil melihat Natsuha kesulitan mengunyah apel.


"Yang Mulia...hamba mohon jangan lakukan ini" kata Natsuha dengan tatapan tajam.


"Kenapa? Aku hanya menolong orang yang terluka," sambut Eun Sha masih sibuk mengiris apel.


"Yang Mulia..." kata Natsuha lembut sambil menahan tangan Ratunya agar berhenti memotong apelnya.


"Biarkan aku mengurusmu Natsuha...ini perintah Raja"


"Beliau sama terlukanya bukan? Jadi seharusnya Anda mengurus beliau sekarang bukannya mengurus hamba" kata Natsuha kalang kabut. Bagaimana ini? Harus seperti apa dirinya, menghadapi sang Ratu?


"Ada apa dengan kalian berdua?! Raja bilang aku harus kesini, dan kau, bilang aku harus kesana. Katakan padaku, aku harus menuruti perintah siapa?! Raja, atau Menteri kesayangannya?!" bentak Eun Sha marah. Ia sangat marah terombang-ambing seperti ini. Sebenarnya, letak kesalahan Ratu dimana? Sehingga ia harus rela diperlakukan demikian.


Tangisan marah dan merasa tidak diinginkan berpadu menjadi satu.


"Yang Mulia...ampuni hamba. Hamba pantas mati" kata Natsuha kaget sekaligus merasa sangat bersalah. Ia berulang kali menghormat dihadapan Ratu. Eun Sha terus menangis dalam diamnya.


"Baiklah, jika tidak ada yang membutuhkan pertolonganku, aku akan pergi. Tidak ada gunanya ada Ratu di Negeri ini. Untuk apa Ratu ada jika begitu?" keluh Eun Sha sambil bangkit berdiri ingin segera keluar dari tempat menyesakkan itu.


"Yang Mulia...Anda tahu betul posisi hamba" kata Natsuha langsung mampu menghentikan langkah terburu-buru sang Ratu. Wanita itu menoleh dan menatap wajah memelas sang Menteri.


"Bukan maksud hamba mengusir Anda dari kehidupan hamba. Yang Mulia tahu betul itu. Hamba hanya ingin, membatasi dinding hati antara hamba dan Yang Mulia. Hanya itu yang dapat hamba lakukan agar hamba tidak mengambil Anda dari Raja" kata Natsuha pasrah.


"Maksudmu, setelah sekian lama aku terus menolakmu, kau...tetap..."