
Meditasi Ratu Eun Sha terhenti ketika suara pintu telah di geser seseorang dari luar. Eun Sha menatap khawatir pada Raja yang wajahnya mulai memucat. Tubuhnya gemetaran sambil menatap kedua bola mata Ratunya.
Sang Ratu membentangkan kedua tangannya dan tanpa menunggu lama Raja Keito menyambut uluran tangan itu dan memeluk Ratunya. Tanpa harus berkata apa pun, Eun Sha dapat memahami bahwa kini Raja sedang sangat ketakutan. Eun Sha tak ingin tahu apa yang telah di alami Rajanya di masa lalu hingga sulit baginya menerima kembali Selir Kimiko.
Yang ia tahu sekarang, tugasnya adalah menenangkan sang Suami.
"Yang Mulia...apa pun yang terjadi di antara Anda dan Selir Kimiko di masa lalu, sebaiknya Anda maklumi saja dan memaafkan apa pun kesalahannya. Ini demi ketenangan batin Yang Mulia sendiri" kata Eun Sha sambil menepuk lembut punggung sang Raja.
"Bagaimana kau tahu yang aku pikirkan kali ini dia?" tanya Raja sambil melepaskan pelukannya perlahan.
"Hanya Selir Kimikolah yang mampu membuat Anda terlihat sangat depresi. Siapa lagi?"
"Membayangkan sebulan bersamanya saja sudah membuatku depresi. Bagaimana jika benar-benar kulakukan? Bisa hilang akal, diriku ini" mendengar nada penuh ketertekanan itu membuat Ratu Eun Sha tersenyum simpul. Diraihnya kedua tangan sang Raja lalu ia menatap agak lama Rajanya itu.
"Anda pasti bisa. Anda hanya takut untuk memulai semuanya dari awal bersama Selir Kimiko. Bersikaplah lembut padanya, maka ia akan seribu kali, lebih lembut kepada Anda. Semua akan baik-baik saja"
"Jika Anda merasakan tak sanggup berada di sekitar Selir, maka pikirkan saja Hamari...Putri kalian berdua. Buah hati kalian...ini demi anak-anak kita Yang Mulia" jawab Eun Sha dengan senyuman tanpa beban. Padahal ia pun enggan untuk berpisah dari Suaminya. Tapi sekali lagi, ini demi anak mereka.
Setelah gulungan pesan dari Raja di terima, Hiroshi, Mari dan Kotoko tak sengaja saling berpapasan di taman Istana. Hiroshi menatap gulungan pesan di tangan Kotoko dengan penuh selidik begitu pula dengan yang lainnya.
"Apa ini awal dari tantangan kita?" tanya Kotoko sambil menatap ragu pada gulungan pesan Raja. Mari langsung membuka begitu saja gulungan pesan lalu membacanya dengan teliti.
"Bukan. Ini tentang Raja yang akan rujuk kembali dengan Hahaku" gerutu Mari sambil melempar gulungan pesan Raja ke dalam kolam ikan.
"Selir Kimiko maksudmu?" tanya Hiroshi membelalakkan mata.
"Haha ku hanya ada dua bukan? Tentu saja yang akan rujuk kembali itu, Chichi dan Haha Kimiko" jawab Mari jauh lebih kesal. Hiroshi dan Kotoko segera membuka gulungan pesan masing-masing dan hasilnya, tetap sama.
"Ini tidak adil. Kenapa Raja memutuskan sendiri hal sebesar ini? Katanya kita ini anaknya tapi kenapa kita semua tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan?!" geram Hiroshi.
Ia segera melangkah ke kediaman Raja tapi sang pengawal berkata Raja sedang berada di kediaman Selir Kimiko. Dengan langkah penuh amarah Hiroshi menuju kediaman Selir dan lagi-lagi pengawal berkata bahwa Raja sedang berada di ruang meditasi. Mereka pun segera berlari ke ruang meditasi Raja.
"Setahu hamba, meditasi tidak dilakukan dengan saling memeluk satu sama lain Yang Mulia. Jadi apa yang sedang hamba lihat kali ini?!" marah Hiroshi mengagetkan Raja dan Ratu.
"Apa salahnya? Kami Suami Istri, jadi sah-sah saja bukan?" kata Raja kini malah merangkul Ratunya di hadapan Hiroshi.
"Haha!! Pria seperti inikah yang Haha pertahankan selama ini?! Kenapa Haha biarkan ia kembali rujuk dengan Selir Kimiko?!" kecam Hiroshi membuat Raja sempat naik pitam.
"Jaga ucapanmu anak muda!! Dia Chichimu. Hormatlah padanya!!"
"Untuk apa? Apa hamba harus menghormat pada Pria rakus semacam dirinya?!"
"Hiroshi!! Apa yang kau katakan?!" teriak Eun Sha marah besar. Hiroshi melemparkan gulungan pesan Raja di hadapan Raja dan Ratu.
"Hamba ingin Anda mencabut keputusan untuk rujuk Yang Mulia"
"Tidak!! Ini keputusan bulat Hiroshi. Hormati keputusan Chichimu!!"
"Sampai kapan pun hamba tidak akan biarkan Haha hamba di duakan yang Mulia!!"
"Apa masalahmu? Sebelum kalian lahir, aku telah menerima Istri Raja lebih dari satu" Ratu membela Suaminya.
"Tapi Raja telah melepaskan para Selir. Jika terjadi rujuk, dengan Selir Tua, maka selir muda yang lainnya juga akan menuntut untuk rujuk kembali. Bukankah Anda pernah berkata mulai saat itu, Istri Raja hanyalah Ratu?! Kemana rimbanya janji Anda Yang Mulia?!" mendengar ucapan menyayat hati dari Putranya, sang Raja tak berdiam diri lagi.
"Ini juga keputusan Hahamu. Dia yang memintaku Rujuk karena Hahamu Kimiko terkena serangan jantung" tambah sang Raja geram.
"Janji tetaplah janji Yang Mulia. Seorang Raja pantang mengingkari janji. Jika Anda berhak memiliki Istri dua, tolong berikan keadilan juga bagi Haha hamba Yang Mulia" kata Hiroshi sinis.
"Keadilan seperti apa maksudmu?"
"Ijinkan Ratu menikah untuk kedua kalinya dengan hamba" kata Hiroshi lantang membuat Raja melangkah menghampiri Hiroshi dan....
Bugh!!
Sebuah pukulan telak mendarat di perut Hiroshi.
"Kau tahu apa yang sedang kau katakan? Kau Putra kami!! Bagaimana bisa seorang Anak menikahi Haha kandungnya sendiri!! Di mana otakmu!!" amuk Raja naik pitam.
Kali ini, aku benar-benar harus memberi pelajaran bagi Putraku Hiroshi.
Jika secara halus ia juga tak mau mengerti, maka akan kugunakan cara keras untuknya. Ku pukul perutnya, ku panggil pengawal untuk menyeretnya kembali ke kediamannya. Eun Sha yang panik langsung berlari mengikuti kemana para pengawal membawa Hiroshi pergi.
Aku berlari mengikuti kemana para pengawal membawa Putraku pergi.
"Lepaskan Putra Mahkota biarkan aku yang mengurusnya. Satu lagi. Bawa Tabib Istana ke mari" kataku dengan nada suara bergetar hebat. Para pengawal Istana memberiku penghormatan dan bergegas pergi.
"Masuklah Hiroshi" kataku selembut mungkin. Putraku itu berlari kecil memasuki kediamannya lalu secepat kilat mengemasi pakaiannya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Kembali ke rumahku Ratu"
"Inilah rumahmu"
"Jika hamba tidak boleh mengejar cinta hamba, akan lebih baik hamba pergi dari sini"
"Pecundang. Hanya itu saja perjuanganmu? Bukankah kau bilang mencintaiku? Pantas saja aku jauh mencintai Raja dari pada dirimu. Bahkan ia adalah Pria paling gigih yang pernah ada dalam hidupku. Baiklah, pergi saja. Aku tidak butuh seorang Putra pecundang yang memalukan"
"Apa mau Anda Yang Mulia" jawab Hiroshi merasa harga dirinya mulai terusik.
"Ikuti saja tantangan Raja jika memang kau, bukanlah pecundang Hiroshi"
"Dengan satu syarat. Raja tidak akan rujuk kembali dengan Selir Kimiko"
"Apa kau ingin melakukan dosa besar? Pantang memisahkan pasangan yang sudah di persatukan Sang Penguasa Jagad Raya Hiroshi,"
"Hormat hamba Yang Mulia" tiba-tiba suara Tabib Istana terdengar membuat pembicaraan mereka terpotong.
"Masuklah...periksa Putra Mahkota. Perutnya cedera ketika sedang berlatih perang" kataku mempersilahkan sang Tabib memeriksa Hiroshi. Ku tatap kedua mata Hiroshi dengan tegas ketika ia kembali ingin berulah. Akhirnya ia tak mampu juga melawanku, membiarkan Tabib memeriksa keadaannya.
"Jika kau tidak mau mendengar apa kata Chichimu, maka dengarkan saja kataku" aku berusaha meredakan emosi Putraku sambil mengelus rambutnya. Putra yang telah lama tak ada lagi dalam pelukanku.
"Setelah kau, dan Mari menghilang...hidup kami serasa hampa tak ada artinya. Bahkan Haha melimpahkan kemarahan pada Chichimu yang tak pernah berhenti untuk terus berusaha menemukan kalian"
"Jika kau dan Mari kembali pergi dalam hidup kami, maka orang yang pertama kali kehilangan nyawanya adalah aku" kataku. Putraku membelalakkan matanya lalu memelukku dengan erat.
"Jangan pernah meninggalkan hamba. Apa pun yang terjadi" kata Hiroshi sambil melepaskan pelukannya, mengharap kedua mataku mampu menjawab kata-katanya. Kusentuh kedua pipinya lalu berkata.
"Apa pun yang terjadi, aku akan tetap menjadi Hahamu"
"Tidak. Hamba tetap tidak merasa bahwa kalian adalah orang tua kandung hamba. Ini hanya salah paham. Anda salah mengenali orang" jawab Hiroshi bersikeras.
Meski kami telah menunjukkan bukti bahwa ia memang Hiroshi kami dengan memanggil orang tua angkatnya. Orang tua angkat Hiroshi pun bersaksi bahwa memang benar wajah Taki kecil sama persis dengan wajah Hiroshi. Bukti apa lagi yang mampu membuatnya percaya bahwa kamilah orang tua kandungnya?
"Istirahatlah. Minum ramuan obat dari Tabib secara teratur. Kau harus dalam keadaan prima saat akan mengikuti tantangan Raja" kataku sambil beranjak pergi meninggalkannya. Aku kembali ke ruang bermeditasi Raja berharap Suamiku itu masih berada di dalam sana.
Ketika aku datang, ia terlihat sangat panik sambil menetapku dengan penuh tanda tanya.
"Bagaimana keadaannya? Apa ada luka dalam? Katakan"
"Tidak Yang Mulia. Dia baik-baik saja, Tabib Istana sudah merawatnya dengan baik. Hiroshi, sekuat Anda."
"Aku melakukan apa yang selama ini di lakukan Chichiku terhadapku" kata Raja membuatku menatapnya heran.
"Maksud Anda? Yang Mulia?"
"Aku menyiksanya" mendengar ucapan itu, aku segera memeluknya. Apa? Menyiksa? Ada hal yang tidak ku ketahui selama ini rupanya.
"Anda memberi pelajaran baginya Yang Mulia, bukan menyiksanya" tegasku memaksa kedua matanya menatap ke arahku. Tapi ia terus memandang ke arah lain.
"Aku bukan Chichi yang baik Eun Sha...aku telah melanggar perjanjian pranikah kita. Maafkan aku. Jika kau marah padaku, hukum saja aku tapi jangan membuatku kehilanganmu selamanya"
Deg!!
Jadi...itukah yang di takutkan Raja? Tentang perjanjian pranikah kami? Aku justru tersenyum. Bahagia rasanya ketika kita mengetahui bahwa teman hidup kita masih mengingat jelas apa janji kami di masa silam. Ingatanku melalang buana di kala perjanjian pranikah itu dibuat.
"Baiklah Yang Mulia, hamba bersedia menikah dengan Anda jika, pertama xxxxxxxxxxxx. Kedua xxxxxxxxxxxx dan ketiga, bila terjadi kekerasan dalam rumah tangga, baik Anda memukul/melukai hamba dan Anak-anak hamba kelak, maka hamba berhak mengajukan perceraian" kataku yang langsung di setujui oleh Raja Keito.
Aku menatapnya lembut, lalu lebih memilih menenggerkan kepalaku ke atas bahunya.
"Jika hal itu dilakukan untuk kebaikan, maka hamba tidak akan keberatan Yang Mulia. Lagi pula, Anda tidak melukainya dengan bekas luka ataupun memar. Itu hanya akan terasa nyeri di kemudian hari"
"Anda Chichi terbaik Yang Mulia...bahkan meski Hiroshi berkata jahat pada Anda, Anda tidak langsung menghajarnya begitu saja bukan? Anda berusaha memberi pengertian secara halus"
"Percayalah...ini tidak akan memisahkan kita berdua. Jika Selir Kimiko tak cukup kuat untuk memisahkan kita, maka Hiroshi kelak akan mempersatukan kita. Karena dialah buah cinta kita Yang Mulia" kataku panjang lebar. Raja Keito tersenyum penuh kelegaan sambil kembali memelukku erat.
"Saatnya kembali pada Selir Kimiko Yang Mulia. Ini akan menjadi mudah ketika Anda mulai terbiasa. Percayalah" kataku mengingatkan.
"Aku ingin berubah pikiran saja" kata Raja mulai menampakkan sifat kekanakannya.
"Anda sudah berjanji. Ingat kata Hiroshi? Raja pantang mengingkari janjinya. Ayo, Anda pasti bisa" kataku dengan senyuman termanis.
Raja hanya tersenyum pasrah lalu mengecup dahiku lebih lama dari biasanya. Pria ini, bagaimana aku bisa benar-benar rela melepasnya barang satu bulan saja jika sikapnya semanis ini? Apa kulenyapkan saja Kimiko dari muka bumi ini? Ya ampun..., jangan biarkan aku berubah menjadi Kimiko yang keji.
Derap langkah lunglaiku mengisyaratkan bahwa setelah aku bersama Kimiko, Wanita itu pasti tidak akan mau melepaskanku sedikitpun untuk menemui Eun Sha. Baiklah...aku akan berusaha sesabar mungkin menghadapinya. Ya, sesuai janjiku pada Eun Sha, aku akan menunggu bulan selanjutnya untuk melepas rinduku padanya.
Betapa terkejutnya aku, melihat pertengkaran antara Kimiko dengan Hamari. Kenapa bisa Haha dan anak saling menyerang sampai seperti ini?!
"Berhenti!!" bentakku pada keduanya tapi mereka masih asyik saling berteriak dan menyerang!
"Kalian menentang titah Raja!!" teriakku lebih kencang membuat mereka terkesiap menyadari kehadiranku. Mereka segera menghormat padaku, dengan penampilan berantakan.
"Inikah kelakuan Haha dan Musume?! Pikirkan status kalian!! Kau, adalah Selirku!! Dan Kau, adalah Putri seorang Raja!! Apa kata Dunia jika melihat kelakuan anggota kerajaan bersikap bak Wanita barbar?!" marahku. Kimiko tak sanggup menatap mataku tapi Mari, ia menatapku menantang.
"Haha berbohong padaku!! Beliau bilang akan membantu hamba mendapatkan Anda. Tapi apa kenyataannya? Beliau malah sibuk berusaha memiliki Anda sekarang!!" kata Mari mulai meradang meneteskan buliran-buliran air mata kekecewaan dan kesedihan yang berbaur menjadi satu.
"Sadari kedudukanmu Hamari!! Dia Haha kandungmu!! Dia yang melahirkanmu bahkan sempat hampir kehilangan nyawanya karenamu!! Apa kau bercita-cita menjadi anak durhaka?!"
Deg!!
Hatiku yang panas karena Anakku kini menjadi mendingin hanya karena satu pembelaan dari Suamiku. Untuk pertama kalinya Raja tak menentangku, dia membelaku. Entah kenapa lagi-lagi air mata kebahagiaan menetes dari pelupuk mata ini.
"Anda juga ingin mengingkari apa janji Anda terhadap hamba? Yang Mulia? Perlu hamba ingatkan bahwa Anda sendirilah yang memberikan tantangan untuk membuktikan bahwa hamba ini pantas atau tidak untuk Anda!!"
"Kau marah karena hal itu? Tentu saja tantangan itu masih berlaku hanya saja belum di realisasikan saja" kata Raja membuatku kebingungan. Untuk apa beliau memberi harapan palsu pada Putri kami?
"Lalu kenapa Anda ingin rujuk kembali dengan Haha Kimiko? Dengan Anda rujuk kembali bersama Haha, maka hamba tidak akan bisa menyanding Anda?! Permainan licik macam apa ini?!" teriak Hamari keras.
"Dengar!! Untuk apa kau memusingkan hubungan, jika dari awal kau dan Hiroshi tak menganggap kami orang tua kalian? Jika kalian memang merasa benar kami bukanlah orang tua kandung kalian, seharusnya rujuk kami tak mengusik jiwamu Mari" bentakan Raja membuat Mariku diam membisu. Ia hanya berlari keluar dari kediamanku.
"Apa kau terluka?" tanya Suamiku itu lembut sambil memeriksa keadaanku. aku justru tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Apa...sentuhanku menyakitimu?" tanyanya lalu melepaskan tangannya dari kedua tanganku. Aku hanya menggeleng, merengkuhnya dalam pelukanku.
"Terima kasih" kataku masih memeluknya erat.
"Untuk aku yang membuat anak kita menangis?" tanyanya dengan wajah nan polos. Aku hanya terkekeh kecil sambil mencubit lembut kedua pipinya lalu berkata
"Untuk pertama kalinya Anda membela hamba. Terima kasih kali ini Anda memberi hamba setetes kebahagiaan" kataku sepenuh hati.
"Sebegitu parahnyakah aku mengabaikanmu?" tanya Raja dengan wajah merasa bersalah.
"Kalau sangat merasa bersalah, tebus dengan belajar mencintai hamba Yang Mulia" kataku berharap ya, penuh harapan tepatnya.
Tapi Suamiku itu hanya diam tertegun sesaat. Jadi...masihkah kau sangat mencintai Eun Sha? Hingga kau rela berusaha bertahan di sini bersamaku hanya demi janjimu padanya? Kenapa kau tak bisa mencintaiku sebesar kau mencintainya Keito? Aku menunggumu...