
Gak mungkin itu dia... Ini pasti mimpi !!
Indira membatin sambil menggeleng dan memejamkan matanya, berharap saat ia membuka mata ini hanyalah ilusinya semata.
" Dira sayang... Ayo sambut suamimu ! "
Adinda mengelus bahu Indira, membuat Indira segera membuka matanya. Berharap itu hanya bayangannya saja, sayangnya ternyata ini adalah kenyataan.
Wajah tampan Galang menampilkan senyuman kepada sang istri yang baru saja resmi ia nikahi. Terlihat tampan namun bagi Indira terlihat menyebalkan.
Tuhan... Kenapa harus dia ?
Seharusnya ia menurut saat sang ibu memintanya bertemu dengan calon suaminya. Seandainya waktu bisa ia putar kembali, tentu saja ia akan menolak jika mengetahui Galang adalah calon suami yang dipilih kedua orang tuanya.
Dan sekarang disinilah ia berada. Bersanding di pelaminan dengan seorang pria yang tak pernah ia harapkan. Jangankan menjadi suami, menjadi kekasih saja Indira tak pernah berharap.
" Senyum dong, sayang ! Ini hari bahagia kita. Akhirnya, setelah sekian lama aku juga yang jadi jodoh kamu " bisik Galang di telinga Indira yang membuat Indira langsung mendelikkan matanya.
Galang tekekeh melihat sikap sang istri, yang ia tahu pasti tak menyangka hal ini akan terjadi. Indira menyiku perut Galang saat suaminya itu bergerak mendekatkan wajahnya ke pipi Indira dengan tak tahu malu.
" Ya, ampun Galang ! Sabar dikit, entar aja di kamar " ledek Bagas yang membuat wajah Galang dan Indira bersemu merah.
" Ish... Abang nih ! " gerutu Indira memelototkan matanya pada Bagas.
" Gak usah marah-marah, sayang kan make upnya. Bukannya jadi cantik, eh malah jadi jelek " sahut Bagas lagi cuek.
" Abang... " ucap Indira kesal dengan sikap sang kakak yang seolah mengolok-oloknya.
Bagas terkekeh melihat sikap sang adik yang sudah barang tentu begitu kaget dan tidak terima dengan sosok pria yang kini telah menjadi suaminya itu.
Senyuman terpaksa ditampilkan oleh Indira untuk menutupi perasaannya saat menerima tamu undangan yang memberikan ucapan selamat kepada mereka. Lain halnya dengan Galang yang senantiasa memamerkan senyuman bahagianya.
Resepsi pernikahan telah selesai. Seluruh keluarga menuju kamar mereka masing-masing. Termasuk pasangan pengantin baru, Galang dan Indira yang juga telah memasuki kamar pengantin mereka yang telah disiapkan oleh pihak hotel sebagai salah satu fasilitas dalam acara resepsi pernikahan.
Galang membuka pakaiannya saat sang istri baru saja keluar dari kamar mandi, membersihkan dirinya...
" Eh, kamu mau ngapain ? " pekik Indira saat melihat Galang bertelanjang dada.
" Mau mandilah... Tapi kayaknya lebih enak makan kamu dulu deh " seloroh Galang sambil berjalan mendekati Indira yang hanya memakai bath robe.
Indira berjalan mundur sambil memegangi bath robenya saat Galang terus mendekatinya hingga punggungnya akhirnya menyentuh pintu kamar mandi.
Jantung Indira berdetak dengan kencang, apalagi saat wajah Galang berada di depan wajahnya hingga nafasnya terasa hangat saat menerpanya. Galang semakin mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
" Eh, jangan macem-macem ya ! " gertak Indira menahan dada Galang dengan kedua tangan agar tidak terlalu dekat dengannya.
Galang tersenyum smirk lalu meletakkan kedua tangannya mengungkung tubuh Indira. Kini satu tangannya turun ke pundak lalu punggung Indira membuat bulu roma Indira berdiri.
" Galang, stop ! " seru Indira sambil memejamkan matanya.
Galang tak kuasa menahan tawanya melihat sikap Indira. Tangannya lalu memutar knop pintu kamar mandi yang ada di balik punggung Indira.
Klek, pintu kamar mandi terbuka membuat Indira sedikit terjengkang karena bersender di pintu, beruntung tangan Galang menahan tubuh Indira hingga Indira tidak jatuh ke belakang.
" Aku mau ke kamar mandi, kamu malah ngehalangin " ucap Galang santai sambil menatap Indira yang kini memeluknya karena hampir terjatuh tadi.
" Udah dong lepas pelukannya ! Iya, iya... Nanti kalau aku udah mandi kita bisa mulai ritual malam pertama kita " goda Galang yang membuat Indira langsung melepaskan pelukannya.
" Ih, siapa juga yang mau melukin kamu ! Ini tuh kepaksa tahu " sahut Indira ketus.
Galang terkekeh melihat raut wajah salah tingkah sang istri.
" Iya... Iya... Awalnya kepaksa, lama-lama suka " goda Galang membuat Indira membulatkan matanya.
" Halu ! Sana mandi " sembur Indira yang kini sudah menggeser dirinya menjauh dari Galang.
" Iya, istriku sayang ! Tungguin Abang Galang ya, nanti abang kasih yang enak-enak deh " kelakar Galang sambil mengedipkan matanya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
" Astaga... Mimpi apa aku sampai dapat suami kayak dia ? Iih... " Indira menggidikkan bahunya kemudian memakai pakaian gantinya.
Ya Tuhan... Apa ini karma ? Dulu aku berkali-kali menolak perasaan Galang. Apa aku sudah mendzolimi Galang karena itu ya... Bukannya doa orang yang terdzolimi itu langsung dikabul ?
Galang memiringkan tubuhnya menghadap Indira dengan menopangkan tubuhnya ke salah satu tangannya yang bertumpu pada bantal.
Indira mencebik lalu memutar bola matanya malas. Tak lama, Indira memalingkan badannya memunggungi Galang.
" Ish, gak sopan tahu kalau suami lagi ngomong terus dibiarin gitu aja " ucap Galang sambil terus memandangi punggung sang istri.
3... 2... 1... Ayo dong balik badan !
Dan yes, keinginan Galang terkabul. Indira membalik badannya hingga mata keduanya beradu.
Galang tersenyum lebar, menatapi sang istri yang telah dicintainya sejak lama itu dengan begitu dekat.
" Terus kamu mau apa ? " tanya Indira lagi masih terdengar ketus.
" Kalau jawab suami itu jangan ketus ! Bisa kabur nanti..." jawab Galang asal.
" Biarin ! Kabur aja sana ! " seru Indira cuek.
" Yakin ? Kalau aku gak ada nanti kamu yang repot lho " seloroh Galang masih dengan senyuman yang justru membuat Indira semakin jengkel.
" Repot kenapa ? Kayaknya aku gak rugi tuh " sahut Indira dingin.
" Ya, rugi lah... Siapa bilang kamu gak rugi " balas Galang tak hilang akal meladeni sikap ketus sang istri.
" Memangnya kenapa harus rugi ? " tanya Indira heran.
" Rugi karena kamu gak bisa nikmati enaknya surga dunia " jawab Galang mengerlingkan matanya.
" Ish, dasar mesum ! " Indira memukul dada Galang lalu berbalik kembali memunggungi Galang.
Galang terkekeh kembali, ia selalu senang menggoda Indira meskipun hal itulah yang membuat Indira ilfeel padanya.
Galang memberanikan diri memeluk sang istri dan tentu saja hal itu membuat Indira dengan segera menepis tangan Galang.
" Gak usah macem-macem " sentak Indira membalik badannya kembali.
Galang kembali mengungkung tubuh Indira yang kini berada di bawahnya. Bahkan Galang memegangi tangan Indira dan membawanya ke atas kepala dengan sebelah tangan.
" Kamu... " Indira membulatkan matanya.
Cup...
Galang mengecup bibir Indira sekilas membuat Indira semakin membulatkan kedua matanya.
" Ini baru DPnya istriku sayang. Lain kali aku langsung habisin kamu ! " ucap Galang sambil mengelus wajah cantik sang istri. Wajah yang selalu hadir dalam setiap mimpinya.
" Kamu tahu kan kalau nolak suami itu, dilaknat malaikat semalaman. Karena aku suami yang baik hati dan juga ingin menjadi imam yang baik untuk istriku ini. Maka malam ini aku bebaskan kamu untuk tidak melayaniku " ucap Galang lalu mengecup kening sang istri dengan lembut.
Indira tak bisa mengucapkan apapun karena terlalu kaget dengan sikap Galang.
Galang melepaskan pegangan tangannya yang memegang tangan sang istri, kemudian melingkarkan tangannya di perut sang istri.
" Selamat malam, istriku sayang ! Tidur yang nyenyak, mulai saat ini suamimu ini yang akan menjaga, melindungi serta mencintaimu sampai akhir usia kita " ucap Galang lembut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku padamu deh Babang Galang 😍😍
Sambil nungguin cerita Bang Galang & Indira up, boleh dong mampir ke cerita chat story author yang pertama 😁😁
Judulnya Bukan Mainan Pelampiasan
Mohon dukungannya ya bestie 🙏🙏
Thanks, love you all 😘😘