
Usia kandungan Indira sudah 8 bulan dan Galang pun sudah dinyatakan sembuh dari penyakitnya. Kini mereka berdua tengah menanti kelahiran bayi mereka yang akan segera hadir menambah kebahagiaan juga mewarnai kehidupan mereka.
Galang dan Indira, tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka akan membeli perlengkapan bayi untuk mempersiapkan kelahiran bayi mereka yang sudah diketahui berjenis kelamin laki-laki.
Indira begitu kalap saat melihat beraneka model pakaian bayi. Bahkan ia membeli banyak sekali pakaian dan pernak-pernik untuk bayi mereka, termasuk box bayi dan kereta bayi.
" Sayang... Kamu mau pindahin isi toko ini ke rumah kita ? " tanya Galang saat melihat banyaknya barang yang dibeli oleh sang istri.
" Iih kamu tuh bawel banget. Ini semua kan buat anak kita lho ! " sahut Indira sambil terus menambah barang belanjaannya.
" Iya... buat anak kita. Tapi apa gak kebanyakan ? Kemarin kan kamu udah belanja sama bunda. Sekarang kita belanja yang kita butuh aja ya, yang penting ! " seru Galang.
" Ini juga kan penting, anak kita pasti lucu banget kalau pakai baju ini. Kemarin sama bunda gak ada model kayak gini " kilah Indira memperlihatkan satu set pakaian bayi yang lengkap dengan rompi dan sepatunya.
" Kenapa ? Kamu takut uang kamu habis buat beli ini semua ? " tanya Indira mengerucutkan bibirnya.
" Astaghfirulloh... Ngapain takut uang habis kalau untuk kebahagiaan kamu dan anak kita. Aku cari uang itu buat keluarga kita. Lagian kalau kamu mau, aku bisa beli semua yang ada di toko ini " jawab Galang sambil geleng-geleng kepala.
" Terus kenapa kamu ribut kalau gitu " gerutu Indira.
Galang menangkup wajah sang istri yang sedikit ngambek, lalu menatapnya.
" Dira sayang... Mama bayi, mubazir lho kalau kamu beli barang terus gak kepake. Lebih baik kita beli yang memang kita butuh. Kamu harus inget kalau bayi itu kan pertumbuhannya cepet banget. Kan sayang aja kalau kita beli banyak tahunya gak kepake. Di luar sana banyak lho yang gak bisa beli perlengkalan bayi kayak kita... " jelas Galang yang sadar jika emosi ibu hamil itu naik turun oleh karena itu ia bicara baik-baik.
" Terus ini gimana dong... " sahut Indira sambil menunjuk keranjang belanjanya.
" Kamu pilih lagi aja, sayang... Atau kalau memang kamu mau, ya gak apa-apa kita beli aja " timpal Galang sambil mengelus pipi sang istri yang terlihat lebih chubby.
" Ya udah, kita pilihin lagi aja. Tapi janji ya, kalau kita butuh kamu harus beliin ! " seru Indira.
" Iya, sayangku... " ucap Galang sambil mengelus rambut sang istri dengan lembut.
Indira kemudian memilah dan memilih kembali barang yang akan ia beli. Galang sangat bersyukur karena selama kehamilannya, Indira tak banyak keinginan aneh-aneh. Selalu menuruti kemauannya, bahkan Galang bisa merasakan jika Indira memang sudah benar-benar mencintainya.
Setelah selesai, mereka pun pergi ke restoran untuk mengisi perut mereka. Barang belanjaan, sengaja mereka minta pihak toko untuk mengirimkan dengan jasa delivery ke rumah.
" Kamu mau makan apa sayang ? " tanya Galang sambil membaca menu yang ada.
" Aku mau makan mie ramen sama suki... " jawab Indira semangat.
" Gak boleh sayang, kamu gak kasihan sama anak kita. Dia udah capek ikut jalan-jalan cuma kamu kasih mie doang... "
" Tapi Dira mau banget, anak kita juga. Iya kan, sayang... " ucap Indira sambil menatap perutnya seolah bertanya pada sang anak.
Galang menghela nafasnya... Selama kehamilan sang istri, ia memang sangat memperhatikan asupan gizi untuk istri dan bayinya.
" Please ! Sekali aja, papa bayi... " mohon Indira sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
" Iya... Iya... Tapi cuma sekali ini aja ya ! " ucap Galang, akhirnya mengiyakan permintaan sang istri juga.
" Yeay... Love you, Papa... " sahut Indira lalu memeluk dan mengecup pipi Galang.
" Ish, mulai nakal ya ! " ucap Galang sambil mencolek hidung mancung sang istri.
Kalau aja bukan di tempat umum, udah aku habisin !
Batin Galang menatapi sang istri yang semakin terlihat cantik dan menggoda pada kehamilannya ini.
Akhirnya Galang pun memesan menu sesuai permintaan sang istri. Indira pun langsung melahap makanan yang kini telah terhidang di atas meja dengan lahapnya.
" Pelan-pelan sayang... ! Aku gak bakalan minta kok... " seru Galang saat melihat Indira yang tengah asyik makan dengan semangat.
Indira hanya mengangguk saat Galang memintanya untuk makan dengan pelan. Sampai akhirnya, Indira mengusap-usap perutnya karena kekenyangan.
" Kamu gak apa-apa kan ? " tanya Galang khawatir.
" Gak apa-apa kok... Cuma kekenyangan aja kayaknya " jawab Indira nyengir memperlihatkan deretan giginya.
" Kamu tuh ya ! Bisa aja bikin aku khawatir " gemas Galang sambil menangkup wajah sang istri. Sementara Indira hanya terkekeh melihat sikap Galang yang nampak begitu khawatir.
" Eh, itu bukannya Damar ya ? " tanya Indira menunjuk ke arah luar restoran.
Galang menengok ke arah yang ditunjuk oleh Indira. Dan ia melihat Damar sedang berjalan bersama kekasihnya.
" Oh, jadi itu ya pacarnya Damar yang model itu ?" tanya Indira yang diangguki oleh Galang.
" Pantes aja, Damar cinta banget. Orangnya cantik gitu " puji Indira.
" Masih cantikan kamu, sayang ! Dia mah cantik polesan. Kalau kamu kan cantik alami " tukas Galang.
" Gombal ! " sahut Indira memutar bola matanya.
" Beneran sayang ! Aku tuh laki-laki paling beruntung di dunia karena bisa dapetin kamu " tegas Galang.
" Iya... Iya... Aku percaya " ucap Indira sambil tersenyum.
" Ya udah yuk kita pulang ! Kita kan masih harus beresin kamar bayi kita. Apalagi ditambah belanjaan kamu hari ini " ajak Galang.
Mereka berdua segera meninggalkan restoran. Di luar restoran, mereka berpapasan dengan Damar dan kekasihnya yang akan memasuki restoran.
" Lho, Dira... Galang... Kalian disini juga ?" tanya Damar ramah.
" Iya, kita habis beli perlengkapan buat bayi kita nanti " jawab Galang.
" Ah iya, bulan depan ya perkiraan lahirnya ? " tanya Damar lagi.
" Heem " jawab Galang singkat.
" Eh, sayang....Ini kenalin Indira, istrinya Galang " Damar mengenalkan Indira kepada kekasihnya.
" Halo, aku Karina... " ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
" Halo... Aku Indira " sapa Indira sambil menjabat uluran tangan Karina.
" Ya udah, kita balik duluan. Kasihan istri sama anakku udah kecapean nih " pamit Galang sambil menggandeng mesra sang istri.
" Ok, bro... Hati-hati di jalan ! " sahut Damar lalu membiarkan mereka berlalu.
" Bye, Karina... Kita tunggu undangan dari kalian " ucap Indira sambil berlalu.
Indira sudah berada di dalam mobil bersama Galang dalam perjalanan pulang menuju rumah.
" Kamu kenapa sayang ? Dari tadi aku perhatiin kayaknya lagi mikirin sesuatu " tanya Galang.
" Enggak apa-apa. Tapi kok kayak pernah lihat pacarnya Damar " jawab Indira sambil mengingat-ingat.
" Lihat di majalah kali, sayang. Dia kan model " sahut Galang.
" Hm... Iya kayaknya " timpal Indira kemudian.
" Kayaknya Damar masih belum bisa ngajak pacarnya itu nikah ya " ucap Indira lagi.
" Baguslah, jadi dia bisa mikir ulang buat nikahin Karina... " sahut Galang.
" Kok kamu ngomong gitu sih ? Bukannya dukung Damar supaya cepet nikah "
" Bukan gak dukung Damar, sayang... Tapi aku rasa Karina bukan orang yang pantas untuk Damar. Gak tahu kenapa, aku gak sreg aja sama Karina. Sepertinya banyak yang ditutupi " tambah Galang mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.