Adorable Love

Adorable Love
AL 40



" Kamu kenapa, Rin ? " tanya Damar pada Karina yang hanya memainkan makanan yang ada di hadapannya.


" Gak apa-apa... " jawab Karina datar.


" Dari tadi, aku perhatiin kamu ngelamun terus. Coba bilang sama aku, kamu lagi ada masalah apa ? " paksa Damar meminta Karina untuk membicarakan masalahnya.


" Gak ada apa-apa, Mar. Cuma lagi suntuk aja, cape banyak kerjaan " jawab Karina.


" Aku kan udah bilang, kalau kamu cape, berhenti dari kegiatan kamu. Aku sanggup kok biayain hidup kamu. Kita bisa menikah secepatnya, jadi kamu gak perlu kerja keras kayak gini " sahut Damar.


" Ish... Kamu tuh, nikah, nikaaah terus di otaknya. Aku kan udah sering bilang kalau aku masih mau berkarir. Kalau nikah, otomatis karir aku berhenti " timpal Karina.


" Terus sampai kapan kamu mau terus berkarir ? Sampai kapan aku harus nunggu kamu meninggalkan dunia kamu itu ? Keluarga aku udah minta aku buat nikah, Rin... " desak Damar.


" Please, Damar... Jangan paksa aku untuk menikah sekarang, ok ! Tunggu satu atau dua tahun lagi " pinta Karina.


Damar meraup kasar wajahnya.


" Kalau aku gak bawa calon istri ke hadapan keluargaku. Mereka akan menjodohkan aku dengan wanita lain... Aku hanya mau kamu yang jadi istriku " gusar Damar.


" Aku gak bisa, Mar ! Aku gak mau menikah sekarang. Kalau kamu terus paksa aku, lebih baik kita udahan aja ! " cetus Karina tanpa pikir panjang.


" Apa ? Udahan ? Maksud kamu kita putus ? " Damar bertanya untuk meyakinkan diri jika apa yang ia dengar tadi tidak salah.


" Iya, kalau kamu masih maksa aku buat nikah sama kamu, mendingan kita putus aja ! " ucap Karina bersungguh-sungguh.


" Kamu serius Karin ? "


" Ya, sangat serius " jawab Karina tanpa keraguan sama sekali.


" Astaga, Karin... Kamu tahu betul kalau aku itu sangat mencintai kamu. Ok... Ok... Aku akan kasih kamu waktu seperti yang kamu mau. Tapi tolong, jangan pernah mengucapkan kata putus lagi " mohon Damar sambil menggenggam tangan Karina.


Karina menatap Damar lalu menghembus nafasnya. Tak lama ia pun menganggukkan kepala.


" Terima kasih sayang ! " ucap Damar mengecup pucuk tangan Karina dengan penuh cinta.


Aku akan memperjuangkanmu selalu Karina. Sampai kamu setuju untuk menikah denganku. Tak peduli meski kamu berulang kali menolak untuk menikah denganku, kalau perlu aku akan memaksamu !


Batin Damar sambil menatap Karina.


Hingga tak lama kemudian, ponsel Karina berdering dan Karina segera mengangkatnya.


" Ya, kenapa ? " tanya Karina saat menjawab panggilan.


" Oh jadi sekarang ada pemotretan lagi ? Ya udah aku meluncur ke lokasi deh sekarang " ucap Karina lantas memutus sambungan telponnya.


" Ada apa sayang ? " tanya Damar penasaran.


" Maaf ya, Mar... Tapi kayaknya kita harus pisah disini. Aku ada jadwal pemotretan lagi " jawab Karina merasa tak enak pada Damar.


" Ya udah gak apa-apa. Aku anter ke lokasi ya ! " ucap Damar menawarkan diri.


" Gak usah, kamu mendingan pulang aja. Aku bisa kok pergi sendiri " tolak Karina.


" Aku anter aja, sayang ! Lagian aku juga gak ada kerjaan lain " ucap Damar keukeuh.


Dan akhirnya, Karina pun mengijinkan Damar untuk mengantarnya ke lokasi pemotretan.


" Kamu mau aku jemput ? " tawar Damar.


Karina menggeleng.


" Gak perlu, soalnya aku gak tahu selesai jam berapa " jawab Karina.


" Kamu mendingan ke rumah Galang aja. Dari tadi kayaknya kamu pengen ngobrol sama mereka " tambah Karina lalu segera keluar dari dalam mobil Damar setelah sebelumnya mengecup pipi Damar.


" Bye... Nanti setelah selesai pemotretan, langsung pulang ya ! Inget jangan terlalu diporsir, kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu cape " sahut Damar.


" Iya, iya... Bawel... Bye ! " ucap Karina kemudian berlalu dari hadapan Damar.


" Nanti kalau kamu udah pulang, telpon ya ! " teriak Damar yang lantas membuat Karina menoleh dan menganggukkan kepala.


Damar kemudian meninggalkan lokasi setelah Karina menepi bersama kru pemotretan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di dalam mobilnya, Galang dan Indira tengah sibuk membicarakan hubungan Damar juga Karina.


" Kenapa kamu bisa gak sreg lihat Damar sama Karina ? Padahal kan mereka udah lama pacaran... " selidik Indira.


" Memang betul mereka udah lama pacaran, tapi kayaknya Karina gak nganggap hubungan mereka serius. Cuma Damar yang sangat antusias dalam hubungan mereka " jelas Galang.


" Sama kayak kamu dulu dong " Indira terkekeh sendiri.


" Iya, tapi aku akhirnya berhasil dapetin hati kamu juga kan " sahut Galang sambil tersenyum bahagia.


" Hubungan pasti berkembang seiring berjalannya waktu. Sama kayak perasaan aku sama kamu. Jadi, mungkin aja kan Karina tengah memantapkan hatinya untuk hidup bersama dengan Damar " ucap Indira mengambil kesimpulan sendiri.


Galang tersenyum kecut.


" Mungkin itu bisa terjadi kalau aja Damar melamar Karina tiga tahun lalu. Ketika Karina baru saja mengenal Damar dan belum masuk dunia model " ucap Galang.


" Kenapa bisa begitu ? " Indira menautkan kedua alisnya.


" Dulu Karina, wanita yang polos karena itu Damar langsung jatuh cinta. Tapi semua sedikit demi sedikit berubah saat Karina ditawari menjadi seorang model. Karina tak lagi sepolos dulu, bahkan pergaulannya pun tidak terkontrol. Mungkin karena tuntutan pekerjaan yang membuatnya harus mengikuti arus. Meskipun mengetahui perubahan kepribadian Karina, Damar seolah menutup mata. Ia terlalu dibutakan cinta " papar Galang.


" Bukannya kamu juga dibutakan cinta ? Ayo ngaku lho ! " goda Indira.


" Aku gak dibutakan cinta kok sayang. Aku tuh cuma berusaha meraih apa yang aku inginkan. Kayak kamu ! " goda Galang membuat Indira tersipu malu.


" Udah ah, jangan ngomongin Damar lagi. Mendingan kita ngomongin persiapan buat kamar anak kita nanti " tambah Galang lagi.


" Ah iya... Kamu mau catnya warna apa ? " tanya Indira.


" Aku mau warna biru karena anak kita baby boy " ucap Indira tak menunggu Galang menjawab pertanyaannya.


" Aku mau warna hijau sayang " sahut Galang.


" Iih, warna biru ! " ucap Indira menimpali ucapan Galang.


" Hijau sayangku... " sahut Galang lagi.


" Biru... " balas Indira.


" Pokoknya aku mau warna biru ! " tambah Indira lalu melipat tangannya di depan dada.


" Lho... Lho... Kok malah ngambek sih. Iya, iya... Catnya warna biru aja, sesuai keinginan mama bayi yang paling cantik " putus Galang lalu mengecup pipi sang istri berharap sang istri menghentikan mode merajuknya.


Senyuman di bibir Indira mengembang, ia sangat bahagia karena Galang selalu mengikuti kemauannya.


" Thank you, Papa bayi sayangku tercinta... " ucap Indira sambil mengecup pipi Galang.


" You're welcome Mama bayi, cintaku, sayangku.." sahut Galang dengan senyuman paling manis yang ia punya.


" Aku bahagia memiliki kamu dalam hidupku " ucap Indira sambil tersenyum menatap sang suami yang justru kehilangan fokusnya saat mengendarai mobil karena tatapan serta ucapan sang istri yang terdengar begitu tulus.


Galang menepikan mobilnya, lalu menangkup wajah sang istri. Tak lama berselang, Galang meraup bibir mungil Indira dan menciumnya dengan lembut.


" Aku jauh lebih bahagia memiliki kamu dalam hidupku. Jadi, tetaplah bahagia di sisiku ! "