Adorable Love

Adorable Love
AL 35



Damar dan Indira kemudian berlalu dari hadapan Om Bima. Damar berencana akan mengantar Indira pulang, namun di tengah perjalanan, Damar mendapat panggilan dari kekasihnya. Kekasihnya meminta Damar untuk menjemputnya membuat Damar kebingungan karena ia sudah berjanji pada Galang untuk mengantar Indira.


" Gak apa-apa kok, Mar. Kamu jemput aja cewek kamu itu. Aku bisa pulang sendiri " seru Indira.


" Tapi, Ra... "


" Udah, gak usah gak enak gitu. Kamu tuh harus berjuang untuk masa depan kamu sendiri. Kamu anterin aja Dira ke resto lagi, biar nanti disana Dira minta anter sama sopir resto " potong Indira.


" Beneran gak apa-apa nih, Ra ? Atau aku anterin kamu pulang dulu aja deh " sahut Damar tak enak.


" Ya, ampun... Gak apa-apa, Mar... Galang juga pasti ngerti kok " ucap Indira seolah memahami keinginan Damar.


" Ya udah, kalau gitu aku anter lagi ke resto ya ! Tapi inget, langsung pulang lho. Aku gak mau si Galang marah-marah " seru Damar.


" Iya, siap ! " ucap Indira kemudian.


Damar menurunkan Indira di depan restoran. Setelah Damar berlalu, Indira memanggil sopir restorannya untuk mengantarnya. Ia berniat pergi ke perkebunan untuk menemui sang suami.


Sepanjang perjalanan, entah mengapa Indira terus berpikir mengenai ucapan Om Bima. Memikirkan lagi keadaan Galang yang belakangan sering mengalami sakit kepala, ditambah dengan obat-obatan yang harus diminum oleh Galang. Indira yakin ada yang tidak beres dengan kesehatan Galang, meskipun Galang dan sang kakak membantahnya.


Pasti ada yang disembunyiin...


Akhirnya, Indira sampai di kantor perkebunan. Ia turun dari mobil lalu masuk ke dalam kantor. Disana ia disambut oleh Mang Kanta, orang kepercayaan Papa Surya dan Galang.


" Eh, Neng Dira kesini ? Den Galang malah ke rumah sakit " sebutnya.


" Oh gitu, Mang... Ini, Dira ada yang mau diambil di kantor Galang " sahut Indira lalu meminta Mang Kanta mengantarnya masuk ke kantor.


" Mamang ambilin dulu minum ya, Neng " tawar Mang Kanta.


" Gak usah, Mang... Dira cuma sebentar kok " tolak Indira.


" Kalau gitu mamang tinggal dulu ya, Neng " pamit Mang Kanta.


" Iya, Mang... Nanti kalau Dira mau pulang, Dira kasih tahu " ucap Indira sambil duduk di kursi kerja Galang.


Indira segera mencari tahu, berkas-berkas yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Namun hasilnya ia tak menemukan apapun yang mencurigakan. Kini Indira memandangi foto pernikahannya dengan Galang yang terpasang di dinding.


" Apa yang kamu sembunyiin dari aku ? " gumam Indira sambil menghela nafasnya.


Indira berniat bangkit dari duduknya, namun tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah kunci dari atas meja.


" Kunci apa ini ? Kayaknya kunci laci " ucap Indira lalu berjongkok mengambil kunci tersebut.


Indira mencoba memasukkan kunci tersebut ke dalam laci yang terkunci dan akhirnya ia berhasil membuka laci yang terakhir.


Indira membuka laci dan menemukan berkas hasil kesehatan milik Galang. Indira meraihnya lalu membukanya dengan perasaan was was. Dan setelah membaca diagnosa yang tertulis, Indira menjatuhkan hasil tersebut ke lantai. Ia terduduk lemas di kursi dengan lelehan air mata di pipinya.


Sungguh, tak terlukis perasaannya saat ini. Marah, sedih dan juga kecewa. Ia merasa seperti istri yang tak berguna, tidak peka dan tidak dianggap karena sang suami justru menyembunyikan hal yang menurutnya begitu penting.


Indira segera menghapus air matanya, kemudian bangkit. Ia segera keluar dari kantor lalu berpamitan kepada Mang Kanta dan dengan segera meminta sopir mengantarnya pulang. Tak lupa Indira pun membawa hasil pemeriksaan kesehatan Galang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Hei, sayang... Kangen banget deh sama kamu ! " ucap Galang, tangannya kini turun mengusap perut Indira.


" Apa kabar sayangnya, Papa... Baik-baik aja kan sama Mama... " tambah Galang lalu mencium perut sang istri.


" Kamu dari mana ? " tanya Indira sambil menatap Galang dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


" Dari proyek sayang. Memangnya Damar gak cerita ? " jawab Galang.


Indira hanya mengangguk kemudian bangkit dari tempat tidur.


" Habis dari proyek, terus kemana ? " tanya Indira tanpa melihat ke arah Galang kemudian berjalan menuju balkon kamar.


" Keliling di perkebunan, terus pulang... " jawab Galang lalu kembali mendekati sang istri dan memeluknya.


" Kamu, mandi dulu biar seger ! " seru Indira saat merasakan hangatnya pelukan sang suami yang mendekapnya erat dari belakang tubuhnya.


" Biar begini dulu... Melukin kamu kayak gini tuh rasanya nyaman. Serasa semua masalahku hilang " ucap Galang yang justru membuat air mata Indira jatuh dari pelupuk matanya.


Indira menyeka air matanya, lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan sang suami.


Dilihatnya lamat-lamat wajah Galang yang menampilkan gurat letih dan lelah.


" Kamu kenapa ? Kamu habis nangis hem ? " tanya Galang khawatir melihat wajah sang istri yang nampak sayu dengan mata sedikit sembab.


" Kamu sakit ? Kenapa tadi gak pergi ke dokter periksa kandungan sama Damar ? " Galang memberondong banyak pertanyaan kepada Indira.


" Aku tuh maunya periksa sama kamu, bukan sama Damar. Suami aku sebenarnya kamu atau Damar sih ? " omel Indira.


" Oh, jadi kamu nangis karena aku gak bisa anter kamu ke dokter. Maaf ya, sayang... Besok aku temenin kamu ke dokter ya. Periksa keadaan anak kita " jawab Galang dengan senyuman tulus di wajahnya.


Sampai kapan kamu berpura-pura seperti ini, seolah tidak terjadi apapun...


Indira menatap lekat Galang kemudian kembali meneteskan air matanya sehingga terlihat oleh Galang dan membuatnya kelimpungan.


" Lho kok malah nangis sih, sayang... ? Iya, iya... Maafin aku ya ! Aku janji gak akan nyuruh Damar lagi buat anterin kamu ke dokter. Udah jangan nangis gitu dong sayang... Aku tuh gak suka lihat kamu nangis gitu " bujuk Galang sambil menghapus air mata di wajah Indira.


Indira segera memeluk Galang dengan erat lalu menumpahkan air matanya di dada sang suami yang masih bingung dengan sikapnya saat ini.


Galang mengusap punggung sang istri naik turun dengan lembut.


" Maafin aku, kalau udah buat kamu nangis begini. Aku akan melakukan apapun asalkan kamu bahagia... Aku gak mau lihat kamu sedih apalagi nangis kayak gini " ucap Galang lagi sambil mencium pucuk kepala Indira.


Perkataan Galang itu, justru membuat air mata Indira semakin deras mengalir.


" Maaf... Maafin aku ! Aku gak bisa jadi istri yang baik buat kamu... " ucap Indira lirih.


" Hei... Ngomong apaan sih ini ? Siapa yang bilang kamu bukan istri yang baik buat aku ? " tanya Galang melonggarkan pelukannya lantas mencoba mengangkat wajah sang istri agar bisa dilihatnya dengan jelas.


" Aku udah tahu semuanya... Kamu gak perlu tutupin apa-apa lagi... "


Ucapan Indira jelas membuat Galang tercengang. Ia tak menyangka jika Indira sudah mengetahui semuanya.