
Galang menatap foto yang diberikan oleh Indira.
" Iya, itu memang Karina " jawab Galang.
" Astaghfirulloh... Kasian Damar, dikhianatin sama perempuan yang dia cinta banget " Indira merasa simpati.
" Dari dulu, aku sih udah gak sreg sama Karina. Tapi, karena Damar cinta banget ya mau gak mau aku dukung " sahut Galang sambil merebahkan diri di tepi ranjang.
" Terus sekarang, kita harus gimana ? Kita gak bisa biarin Damar terus larut dalam perasaannya sama Karina " ucap Indira.
" Tapi kita juga gak bisa putusin langsung perasaannya. Aku paling tahu Damar. Dia akan selalu mempertahankan apa yang ia yakini. Kecuali ada wanita lain yang mengubah haluannya atau Karina sendiri yang memutuskan hubungan mereka " sahut Galang.
" Jadi kita biarin aja ? " tanya Indira sambil duduk di samping Galang.
" Bukan dibiarin sayang... Kita doain aja yang terbaik untuk Damar. Lagi pula itu ranah pribadinya Damar, kita gak bisa ikut campur terlalu dalam " jawab Galang.
Indira mengangguk paham, tak lama terdengar suara tangisan baby Dirga membuat Indira segera bangkit dari tepi ranjang lalu menghampiri box baby. Indira dengan hati-hati mengangkat baby Dirga lalu mendekapnya.
" Oh... Sayangnya mama haus ya ! Yuk mimi susu dulu " ucap Indira lantas duduk kembali di tepi ranjang sambil membuka tiga kancing kemejanya yang paling atas.
Dengan sigap Galang menempatkan bantal untuk sang istri bersandar dengan nyaman meskipun sudah ditopang headboard ranjang. Galang memperhatikan sang anak yang dengan lahapnya menghisap asi langsung dari sumbernya itu.
Galang menelan salivanya susah payah saat melihat benda kesayangannya kini dikuasai oleh sang anak.
Indira segera mengusap wajah sang suami dengan telapak tangannya. Ia tahu betul jika Galang pasti sedang mati-matian menahan hasratnya.
" Sabar ya, Papa... Mendingan tunggu di luar aja, daripada diem disini nanti malah meriang " ucap Indira menahan tawanya.
" Gak apa-apalah meriang dikit. Ngeliatin aja udah kenyang " kilah Galang asal.
" Udah ah, sana ! Kamu main catur aja sama Papa atau cari kegiatan yang berfaedah dikit daripada disini lihatin Dirga minum asi nanti malah nyusahin diri sendiri " tukas Indira.
" Ish, kamu tuh... Beramal dikitlah sama suami kamu tersayang ini " mohon Galang.
Cup... Indira mengecup pipi Galang.
Galang tergeragap dengan perlakuan sang istri.
" Jangan mancing-mancing sayang ! " seru Galang.
" Siapa yang mancing, orang cuma nyium kok " sahut Indira asal.
" Sayang... Jangan bikin aku tersiksa begini " ucap Galang merasa frustasi.
" Siapa yang nyiksa sih ? Aku tuh sayang lho sama kamu " sahut Indira tersenyum licik.
" Iya, Bang Galang sayang... " goda Indira.
" Dira... Akh... ! " Galang segera menjauh dari Indira lalu meninggalkan kamar.
Indira terkekeh melihat sikap sang suami yang terlihat frustasi menahan hasratnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Indira dan Galang mengadakan acara aqiqah kelahiran Baby Dirga. Mereka mengundang keluarga serta para pegawai di perkebunan untuk menghadirinya. Ditambah lagi mereka juga mengundang anak-anak dari panti asuhan untuk ikut merasakan kebahagiaan mereka.
Indira juga mengundang Aluna, hanya saja Aluna kini sedang berada di luar kota menenangkan dirinya.
Damar pun ikut hadir meskipun hatinya merasa begitu hampa karena sang kekasih yang malah sibuk dengan dunianya sendiri. Karina saat ini sedang berada di Bali untuk melakukan photo shoot. Dan rencananya Damar akan menyusul Karina ke Bali setelah acara aqiqah baby Dirga selesai.
Semua keluarga dan para tamu sudah berkumpul. Sholawat dilantunkan saat Baby Dirga dicukur rambutnya. Selanjutnya rambutnya itu ditimbang dan dikonversi ke harga perak untuk kemudian dikeluarkan sedekah dengan nominal sebesar berat rambutnya.
Galang dan Indira begitu bahagia. Kebahagiaan mereka terasa lengkap sudah dengan kehadiran Baby Dirga diantara mereka.
Mereka meyakini sesuatu jika Tuhan tak pernah salah memberi. Semua sudah digariskan, kita tinggal sabar dan ikhlas dalam menerima segala ujian yang Tuhan berikan. Kebahagiaan itu tergantung dari bagaimana kita menyikapi kehidupan dan menerima kekurangan serta kelebihan pasangan kita.
Kesabaran dan sikap Galang yang tak kenal menyerah telah membuat Indira luluh dan jatuh ke dalam pelukannya. Indira bahkan merasa sangat bersyukur bisa memiliki seorang suami seperti Galang. Sebuah kisah cinta menggemaskan yang berawal dari perjodohan dan berakhir penuh kebahagiaan.
Finally, they have a happy life ever after.
...THE END...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alhamdulillah, tuntas sudah cerita Indira dan Galang. Berakhirnya cerita ini, berarti tuntas pula cerita seluruh keluarga Adinda dan Zaid.
Beribu ucapan terima kasih, author ucapkan kepada para reader yang sudah berkenan membaca dan mendukung karya-karya author selama ini.
Semoga ke depannya, author bisa memberikan karya yang lebih baik lagi😊
So, dukung terus author ya bestie 😉
Sampai jumpa lagi di karya-karya author berikutnya ya 🤗
Thank you... Love you all 😘😘
Ps : Jangan lupa mampir di cerita Damar & Aluna ya 😁