
Setelah selesai berkeliling di peternakan, kini Indira dan Galang menuju kantor perkebunan.
Galang memeriksa pembukuan, mulai dari pengadaan bibit, pupuk, pembasmi hama tanaman, bahkan pembukuan hasil panen. Semua tertata dengan rapi.
" Kamu mau ikut ke sawah gak ? " tanya Galang pada Indira yang juga ikut sibuk, tapi sibuk dengan gawainya sendiri.
" Mau ngapain ? " tanya Indira balik.
" Mau lihat yang bajak sawah. Kamu mau coba ? " tanya Galang.
Indira tampak berpikir.
" Pakai traktor atau pakai kerbau ? " tanya Indira.
" Tergantung request kamu, sayang... ! " jawab Galang mendekati sang istri.
" Den Galang, Neng Dira hayu urang ka sawah (Tuan Galang, Nona Dira ayo kita ke sawah). Sekalian ngaliwet disana. Bi Eha udah nyiapin buat liliwetan di saung " seru Mang Kanta membuat Galang terjingkat dan berbalik ke arah pintu.
Galang menatap ke arah sang istri yang mengangguk tanda setuju.
" Hayu, Mang... Sok tipayun ! " ( Ayo, paman ... Silakan duluan)
" Mangga atuh Den. Mamang tipayun " ( Siap Tuan,Paman duluan)
" Ayo... ! Kamu harus cobain nasi liwet buatan Bi Eha. Top Markotop rasanya... " ucap Galang memuji masakan buatan istri Mang Kanta.
Galang pun membawa Indira ke area persawahan menyusul Mang Kanta. Disana sudah menunggu para petani dan istri-istri mereka menyambut kedatangan Galang dan Indira.
Galang segera berkumpul bersama para petani, sedangkan Indira kini dibawa ke saung bersama para Bi Eha dan yang lainnya untuk menyiapkan makan siang.
Sambil membantu memasak, Indira sesekali melihat ke arah Galang yang nampak fokus memberi pengarahan. Setelahnya bahkan Galang nampak ikut ambil bagian membajak sawah.
Tanpa peduli jika pakaiannya akan kotor, ia melipat celananya hingga sebatas lutut lantas masuk ke area sawah sambil menggerakkan traktor.
Melihat sang suami yang begitu mencintai profesinya, membuat Indira kagum dengan kerja keras Galang.
Indira memperhatikan Galang dari dalam saung. Merasa diperhatikan oleh sang istri, Galang tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Indira.
" Euleuh... Euleuh... Eta Den Galang bogoh pisan sigana teh ka Neng Dira " ( Wah... Wah... Itu Tuan Galang sepertinya cinta sekali sama Nona Dira) celetuk Bi Eha membuat Indira jadi malu dibuatnya.
" Pastina atuh Bi, Neng Dira na oge meuni geulis kieu... Saha nu teu resep " (Pastinya, Bi. Nona Dira cantik begini... Siapa yang gak suka ) sahut yang lainnya membuat Indira semakin merona.
Meskipun tidak terlalu bisa berbahasa Sunda tetapi Indira mengerti pembicaraan ibu-ibu ini.
Indira membantu ibu-ibu disana membuat nasi liwet dengan cara tradisional.
Awalnya Indira tak diijinkan untuk membantu, namun Indira memaksa karena walau bagaimanapun juga sebagai pengusaha di bidang kuliner ia tidak sungkan untuk terjun ke dapur. Ditambah lagi Indira selalu membantu sang ibu memasak sehingga memasak bukanlah hal tabu baginya.
Galang mendekati saung, lalu memanggil sang istri dengan mesranya. Ia tak pernah merasa risih memanggil sang istri dengan panggilan mesra kendati ada banyak orang disana.
" Dira sayaang... " panggil Galang sambil berdiri di samping saung dan meletakkan satu tangannya pada tiang penyangga saung sementara tangannya yang lain masuk ke dalam saku celananya.
" Dira... Istriku... Sholehahku... " teriak Galang saat Indira tak juga keluar dari dalam saung.
Indira yang tengah berada di bagian belakang saung bergegas menghampiri Galang, sebelum suaminya bertingkah lebih absurd.
" Apaan sih ? Malu tahu sama Bi Eha dan yang lain " gerutu Indira saat berada di hadapan Galang.
" Kenapa malu ? Lagian aku kan manggil istriku sendiri. Biar semua tahu kalau kamu itu istriku tersayang " sahut Galang tak peduli.
" Ish... Kamu tuh suka gak lihat tempat " cebik Indira lagi.
" Ayo ! " Galang menarik tangan Indira dan membawanya menjauh dari saung.
" Ayo tadi katanya mau nyobain bajak sawah. Ayo mumpung ada kerbaunya tuh " tunjuk Galang pada dua orang petani yang sedang mempersiapkan alat pembajak pada kerbau.
" Tenang aja, aku temenin ! "
" Tapi aku gak bawa baju ganti ! " tolak indira lagi.
" Gampang itu mah, kamu pinjem aja daster Bi Eha " timpal Galang santai.
Indira membelalakkan matanya.
" Udah ayo, nanti habis dari sini bisa dibersihin dulu di sungai " seru Galang sambil membawa Indira.
Dengan terpaksa Indira mengikuti Galang.
" Kamu lipat ke atas celana panjang kamu ! " seru Galang kemudian Indira melipat celananya hingga sampai ke lutut.
" Mau pake sepatu boot ? " tawar Galang.
" Kamu gak pake ? " tanya Indira karena melihat Galang tidak menggunakan alas kaki.
" Enakan nyeker begini. Kalau pake sepatu boot malah jadi berat. Tapi kalau kamu, mendingan pake sepatu boot aja. Secara, kamu kan gak biasa kerja kasar begini. Nanti kulit kamu yang halus dan lembut itu jadi kasar " ucap Galang.
" Nyindirin nih ceritanya " sahut Indira mengerucutkan bibirnya.
" Gak nyindir kok sayang... Aku tuh perhatian malah. Aku juga gak mau kulit istriku yang cantik ini jadi kasar terus jadi gelap kena sinar matahari. Biar kulit aku aja yang gelap sayangku... " ucap Galang sambil memakaikan topi caping di atas kepala Indira.
" Mau diapain juga, istriku ini tetep cantik. Gak tahan kalau gak nyium " ucap Galang mengerlingkan matanya.
Indira memelototkan matanya mendengar ucapan suaminya itu, namun Galang justru terkekeh melihat sikap sang istri.
Tak lama berselang, Indira dan Galang sudah siap di atas bajak yang ditarik oleh kerbau. Galang mengendalikan laju kerbau, sementara sang istri duduk di atas besi yang ditarik oleh kerbau, sesekali Indira berjalan bersama dengan Galang bahkan Indira mencoba mengendalikan laju kerbau. Sungguh pengalaman baru yang seru bagi Indira. Ia tertawa bahagia kendati pakaiannya terciprat lumpur.
Setelah selesai membajak sawah, mereka membersihkan diri di sungai yang mengalir di dekat area persawahan. Airnya jernih dan sejuk, membuat Indira betah berlama-lama bermain air.
" Dira sayaang.. Ayo kita makan dulu, makanannya kayaknya udah siap tuh " ajak Galang.
Indira segera keluar dari sungai lalu mengikuti Galang menuju saung. Disana makanan yang tadi dimasak telah siap disantap. Mereka semua pun menikmati makan siang bersama-sama. Sesekali senda gurau tercipta dengan menjadikan Galang dan Indira sebagai objek. Kebersamaan dan kekeluargaan benar-benar tercipta di desa ini. Mereka tak sungkan bercengkrama namun tetap menghormati Galang dan Indira sebagai pemilik lahan.
Setelah makan siang, mereka melakukan sholat berjamaah di mushola.
" Kamu pulang duluan dianterin Mang Kanta ya ! " seru Galang saat mereka keluar dari mushola.
" Emangnya kamu mau kemana dulu ? " tanya Indira.
" Diih... Kepo ! Takut aku kabur ya ! " goda Galang.
" Percaya diri sekali anda, Tuan Galang ! " timpal Indira.
" Ya iyalah aku percaya diri, makanya bisa dapetin kamu " sahut Galang enteng.
Indira hanya menatap sebal pada suaminya itu. Rasa kagum yang tadi sempat ada kini berangsur memudar dengan sikap tengil Galang yang kini mulai kumat lagi.
" Kamu mau kemana ? " tanya Indira lagi.
" Aku mau ke desa sebelah. Tapi akses jalannya sulit dijangkau. Kalau pakai jalan biasa bisa 2 jam perjalanan. Tapi kalau jalan motong yang cuma bisa dilalui motor trail bisa sampe 40 menitan lah. Jadi mendingan kamu pulang duluan aja " jawab Galang.
" Terus kamu sama siapa kesana ? " tanya Indira lagi.
" Sama Mang Kanta dan beberapa orang lainnya. Kita mau lihat progres pembangunan madrasah yang dibangun disana " jawab Galang.
" Kamu lagi bangun madrasah disana ? " tanya Indira lagi.
" Papa yang bangun, soalnya desa sebelah akses menuju sekolah jauh banget. Kasihan anak-anak disana pendidikannya tidak terperhatikan. Selain itu, penduduk disana banyak yang buta huruf serta buta baca Al quran " jawab Galang lagi.
" Ng... Aku boleh ikut ? " tanya Indira, ia merasa tertarik untuk melihat keadaan desa yang diceritakan oleh Galang.