Adorable Love

Adorable Love
AL 7



Indira kini menyuapi sang ayah yang sudah bisa duduk meskipun harus bersandar dengan menggunakan bantal sebagai penyangganya.


" Ayah harus banyak makan supaya cepet sembuh " seru Indira. Zaid hanya manggut-manggut saja mendengarkan seruan sang putri.


" Dira... Maafin Ayah kalau Dira merasa ayah sudah memaksa Dira untuk... "


" Ayah gak usah mikirin yang lain-lain dulu..Yang penting ayah sehat ! " potong Indira cepat.


Zaid mengangguk, ia tak ingin mengulangi perseteruannya dengan sang anak kembali. Indira terus menyuapi Zaid hingga makanannya habis, lalu memberikan sang ayah minum.


Adinda tersenyum melihat sang putri yang rupanya sudah menurunkan kemarahannya pada sang suami.


" Abang mau disuapin juga dong, Ra ! " oceh Bagas saat Indira menyimpan piring ke dalam wastafel.


" Abang minta suapin aja sama Kak Lesha ! Udah punya istri sama anak masa mau disuapin sama Dira " sembur Indira.


" Lah, ayah juga kan udah punya istri sama anak. Kenapa masih disuapin ? " sahut Bagas asal.


" Dira kan anaknya ayah. Jadi wajarlah kalau Dira suapin ayah " timpal Indira.


" Iya, puas-puasin sekarang. Entar kalau udah punya suami pastinya sibuk ngelayanin suami kamu " sahut Bagas lagi.


" Bagas ! " seru Adinda memberikan tanda sambil menggeleng pelan.


Indira langsung diam dan hal itu membuat Adinda segera menghampiri anak bungsunya itu.


" Kalau Dira gak menerima perjodohan ini, gak apa sayang. Bunda dan ayah gak akan memaksa Dira lagi " ucap Adinda sambil melirik sang suami yang mengangguk pelan.


Indira menggelengkan kepalanya,


" Ayah sama Bunda mau yang terbaik buat Dira kan ? " tanya Indira.


" Selalu sayang... Kami selalu menginginkan yang terbaik untukmu, Bang Evan dan juga Bang Bagas " jawab Adinda dengan lembut sambil mengelus wajah sang anak.


Indira menghela nafasnya. Sejenak ia memejamkan matanya lalu membukanya kembali.


" Dira terima permintaan ayah. Dira terima perjodohan ini " ucap Indira kemudian.


Baik Zaid, Adinda maupun Bagas tercengang dengan pernyataan Indira.


" Dira sayang... Dira sadar apa yang Dira ucapkan barusan ? " tanya Adinda memastikan.


Indira mengangguk perlahan. Sementara Adinda berpandangan dengan Zaid.


" Dira yakin dengan keputusan ini. Dira tahu ayah dan bunda akan memberikan yang terbaik untuk Dira. Selain itu, Dira mau ayah melihat Dira bahagia dengan pasangan Dira... " jawab Indira.


" Dira, tidak perlu memaksakan diri. Kami hanya ingin melihat kalian semua bahagia... Ayah tidak ingin kamu mengorbankan perasaanmu hanya agar kami tenang " ucap Zaid.


" Ini keputusan Dira, yah ! Dira yakin Tuhan tahu apa yang terbaik untuk Dira, dan Dira sudah mendapatkan jawaban dengan meyakini pilihan ayah dan bunda adalah yang terbaik untuk Dira " sahut Dira.


" Baiklah... Kalau itu keputusanmu. Ayah bisa tenang ! "


" Tapi Yah... Dira minta supaya tidak mempertemukan Dira dengan calon suami Dira sampai nanti kami bertemu di hari pernikahan kami " pinta Indira.


" Dira, kamu yakin sayang ? Dira tidak ingin bertemu dulu sebelum kalian menikah ? " tanya Adinda yang sedikit ragu mendengar permintaan Indira.


" Dira yakin, Bunda... "


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pak Surya dan Galang berjalan menuju tempat Zaid dirawat. Mereka bermaksud untuk menjenguk Zaid dan mengutarakan pembatalan rencana perjodohan Galang dan Indira.


Bukan tanpa alasan Galang memintanya. Ia hanya tidak ingin melihat gadis yang ia cintai terluka. Biarlah, ia memutuskan jika dirinyalah yang harus mengalah. Merelakan perasaannya yang ternyata harus pupus sebelum dimulai. Mungkin Indira memang bukan jodohnya, dan ia dengan ikhlas menerimanya.


Mereka berdua masuk ke ruang perawatan Zaid dengan disambut oleh Adinda dan juga Bagas. Evan tengah bertugas, sementara Indira pun pergi mengajar ke kampus.


Setelah berbincang banyak hal. Akhirnya Pak Surya sampai pada pembicaraan mengenai perjodohan antara Galang dan Indira.


" Pak Zaid mohon maaf sebelumnya. Saya tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Tapi sebelum semuanya berjalan terlampau jauh, saya dan anak saya... "


" Kebetulan sekali, Pak Surya dan Galang disini. Itu pula yang ingin saya sampaikan. Putri saya sudah menerima rencana perjodohan ini ! " potong Zaid membuat Galang tercengang.


Galang tak pernah mengira jika Indira ternyata akan menerimanya. Ah, iya...Galang bertanya-tanya apakah Indira sudah mengetahui jika dialah yang akan dijodohkan dengan Indira ?


Pak Surya menatap Galang, dan Galang pun sedianya menggelengkan kepala sebagai kode agar sang ayah tidak melanjutkan membicarakan niat awal mereka untuk membatalkan rencana perjodohan itu.


" Ah, rupanya begitu. Syukurlah jika Indira bersedia menerimanya " ucap Pak Surya dengan senyuman tersemat di wajahnya.


Ia merasa lega karena ternyata Indira bersedia menerima perjodohan ini. Ia pun merasa bahagia karena kesabaran dan rasa cinta sang anak yang begitu besar, akhirnya berbuah manis.


" Hanya saja... " Zaid menggantungkan kalimatnya membuat Galang dan Pak Surya saling memandang.


" Hanya saja kenapa Om ? " Galang mencoba mencari tahu.


" Indira meminta agar kalian tidak bertemu sampai nanti di hari pernikahan kalian " jelas Zaid.


" Apa kamu bersedia, Nak ? Kamu tidak keberatan ? " tanya Zaid kepada Galang.


Galang mengangguk pertanda setuju.


" Tapi Om, mengapa Indira tidak ingin kami bertemu sebelum hari pernikahan kami ? " selidik Galang.


" Hem... Mungkin karena ia hanya ingin memantapkan hatinya. Lagipula ia juga belum tahu jika kamulah calon suaminya " beber Zaid.


" Indira tidak ingin tahu siapa calon suaminya ? " tanya Pak Surya kemudian.


" Dira percaya jika kami akan memilihkan calon terbaik untuknya... Dan kami percaya jika Galang akan menjadi suami yang baik untuk Indira. Begitu kan nak Galang ? " tanya Zaid langsung mengena pada Galang.


" Saya berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Indira. Saya juga akan selalu membahagiakannya " ucap Galang dengan tekad yang kuat.


Indira... Akhirnya Tuhan memberikan jalannya. Aku yakin kamulah jodoh yang tercipta untukku ! Selangkah lagi ! Hanya selangkah lagi, maka kita akan menjadi pasangan halal yang tak akan pernah terpisahkan. Aku berjanji akan membuatmu jatuh cinta padaku dan tak pernah menyesali keputusan untuk menikah denganku


Bagas mengajak Galang untuk keluar dari ruang rawat. Bagaimanapun juga ia hatus tahu, pria seperti apa yang akan menikah dengan adik kesayangannya. Mereka kemudian menuju cafetaria Rumah sakit dimana Evan pun sudah menunggu mereka disana.


Kini Galang duduk menghadap dua orang pria pelindung Indira yang dari gelagatnya saja sudah pasti akan menyidangnya. Tapi betapapun sulitnya, ia akan menghadapi kedua calon kakak iparnya itu.


" Jadi kamu yang ayah gadang-gadang menjadi calon suami Indira " ungkap Evan sambil menatap Galang dengan tajam.


" Iya, Bang... " jawab Galang tenang.


" Apa kamu bisa membahagiakan Indira ? Sudah punya apa kamu sampai berani menasbihkan diri sebagai calon suami Indira ? " cecar Evan sambil melipat tangannya di depan dada.


" Mungkin saya belum punya apapun yang bisa saya banggakan. Tapi saya berjanji akan membahagiakan Indira dengan segala yang saya punya " jawab Galang tegas.


" Percaya diri sekali kamu bisa membahagiakan Indira " desis Evan lalu membanting punggungnya di kursi.


Galang terlihat tenang, ia bahkan tidak menunjukkan rasa gugupnya. Bagas yang sejak tadi hanya mengamati gestur tubuh Galang tersenyum tipis. Ia bisa tahu jika Galang bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


" Kamu yakin kamu bisa menaklukan hati Indira ? Gede juga nyali kamu menerima perjodohan ini " sebut Bagas terdengar santai namun seolah meremehkan perasaannya.


" Saya mencintai Indira sepenuh hati saya. Saya tidak akan pernah mundur kecuali Indira sendiri yang menolak. Tapi abang berdua tahu, jika Indira pun tak menolak perjodohan ini. Jadi saya mohon dukungan abang berdua untuk memenangkan hati Indira " mohon Galang dengan keyakinan penuh.