Adorable Love

Adorable Love
AL 21



Galang membawa Indira dengan sedikit memaksa menuju kamar mereka.


" Galang lepas ! " seru Indira mencoba melepaskan tangan Galang yang menggenggam erat tangannya saat mereka memasuki kamar.


Tanpa melepaskan genggamannya, Galang menempelkan tubuhnya pada Indira, lalu mencium bibirnya dengan paksa.


" Dira... Sampai kapan kita begini ? Kita ini suami istri lho ! Dan aku berhak meminta hakku sebagai suami dan sebagai seorang istri kamu wajib melayani aku ! " ucap Galang setelah melepas ciumannya, sementara matanya memandang lamat-lamat Indira.


Indira tesentak, ia tak menyangka jika Galang akan mengungkitnya. Ia tak bisa mengelak. Indira terdiam dengan pikiran yang bercabang antara menyerahkan dirinya saat ini atau mencari alasan untuk menundanya. Tapi... sampai kapan ia harus menundanya ?


" Dira...? Dira sayang... " panggil Galang khawatir karena Indira sejak tadi hanya diam tak menyahutinya.


" Oke... Kamu mau hak kamu ? Aku ikuti ! Aku akan penuhi kewajibanku sebagai istri sekarang juga " tantang Indira kemudian melepas genggaman tangan Galang lalu membuka pakaian yang melekat di tubuhnya satu persatu.


Galang terkesiap dengan sikap Indira. Ia tak pernah menyangka jika Indira akan mengiyakannya padahal ia hanya menggoda Indira saja. Ya, Galang memang menginginkan Indira menyerahkan dirinya tapi tidak karena terpaksa. Ia ingin Indira tak hanya menyerahkan raganya saja tetapi juga hatinya. Galang ingin mereka melakukannya dilandasi cinta bukan sekedar nafsu semata.


Tubuh Indira kini terpampang dengan jelas di hadapan Galang, polos tanpa sehelai benang pun. Galang menelan salivanya susah payah, tonjolan di lehernya pun bergerak naik turun. Belum lagi si Jujun yang tak tahu diri, menggeliat di bawah sana tak tahan ingin segera berolah raga.


Ini kali kedua, Galang melihat tubuh polos Indira. Perbedaannya, kali ini ia melihatnya langsung bukan lagi melalui pantulan dari cermin.


" Kamu bebas melakukan apapun sekarang ! " ucap Indira lagi membuyarkan lamunan Galang.


Galang memejamkan matanya sesaat sambil menghirup oksigen dalam-dalam. Kemudian ia menghembusnya perlahan. Galang mendekati Indira yang diam mematung, pasrah dengan apa yang akan Galang lakukan.


Di luar dugaan, Galang justru berjalan menuju ranjang dan mengambil selimut lalu menutup tubuh polos Indira.


"Aku memang menginginkanmu menjadi milikku tapi bukan seperti ini, Dira... " ucap Galang menatap lekat Indira.


" Aku mau kita melakukannya atas dasar saling mencintai, bukan hanya memenuhi kewajiban saja " tambah Galang lagi.


Galang mengelus wajah cantik Indira yang basah dengan peluh. Ia sangat yakin, Indira membutuhkan keberanian sangat besar unfuk melalukan hal tadi.


" Aku mencintai kamu, Dira... Dan itu benar-benar tulus dari dalam hatiku. Aku berhasil menjadikanmu istriku, itu cita-cita terbesarku. Memilikimu seutuhnya, membuatmu mencintaiku itu PR terbesarku. Dan membangun keluarga sakinah, mawaddah, rahmah itu impian besarku bersamamu..." ucap Galang lembut membuat Indira entah mengapa mengeluarkan air matanya karena terharu mendengar ucapan Galang yang penuh ketulusan.


Galang menghapus air mata Indira yang mulai meleleh di pipinya.


" Bisakah kita memulai hubungan yang sehat sebagai pasangan suami istri ? Kamu mau kan mencobanya ? Aku janji tidak akan memaksamu untuk mendapatkan hakku sebagai seorang suami jika kamu memang belum siap... " ucap Galang begitu serius namun dengan tatapan yang meneduhkan.


Di luar dugaan, Indira merangsekkan tubuhnya memeluk raga Galang yang berada di hadapannya.


Galang tersenyum lalu membalas pelukan Indira meskipun terhalang selimut.


" Kalau begitu, jangan berhenti berusaha meyakinkanku kalau kamu satu-satunya laki-laki yang pantas untuk aku cintai... " ucap Indira.


" Jadi kamu mau coba ? Kita berdua berusaha, kamu berusaha mencintai dan menerimaku. Dan aku berusaha membuatmu mencintaiku juga berusaha bertahan... " Galang menghentikan ucapannya.


" Berusaha bertahan apa ? " tanya Indira kini mendongakkan wajahnya menatap Galang yang juga tengah menatapnya.


" Bertahan dari keinginan si Jujun buat olah raga " jawab Galang asal.


" Si Jujun ? Olah raga ? " Indira menautkan kedua alisnya hingga kemudian ia memekik saat merasakan benda keras mengganjal di pangkal paha Galang yang menempel di tubuhnya.


" Ya, ampun... Galang, Iih ! " pekik Indira sambil menjauhkan tubuhnya dari Galang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah pembicaraan dari hati ke hati, kini Indira sudah bisa membuka hatinya. Bahkan ia mungkin sudah mulai mencintai Galang hanya saja ia masih belum menyadarinya.


Bahkan kini mereka sudah bisa berlaku selayaknya suami istri walau Indira terkadang masih bersikap kaku, tapi Galang memakluminya. Toh, yang paling penting Indira sudah menerima dan berusaha untuk membuka hatinya.


Melihat Galang dan Indira yang kini terlihat banyak kemajuan membuat Zaid dan Adinda terlihat bahagia. Upaya mereka memaksa keduanya untuk berbulan madu kini membuahkan hasil. Kini mereka hanya tinggal menunggu kehadiran cucu dari Galang dan Indira.


Galang dan Indira menghabiskan waktu bulan madu mereka dengan mengikuti kegiatan paket bulan madu yang telah dihadiahi oleh Evan dan Bagas.


Dimulai dari naik banana boat bersama Zaid dan Adinda, diving bersama, candle light dinner romantis hingga duduk berdua menikmati sunset di balkon kamar mereka yang langsung menghadap ke lautan lepas kemudian berenang di private pool sambil menikmati keindahan langit malam yang bertabur bintang.


Hari ini merupakan hari terakhir keberadaan mereka di pulau Bali. Karena besok, mereka harus sudah kembali menuju ibu kota setelah 1 minggu menghabiskan waktu bersama.


Adinda dan Indira sibuk memilih oleh-oleh untuk mereka bawa pulang sebagai buah tangan untuk kerabat dan orang-orang dekat. Sementara kedua suami mereka dengan setia menemani dan menunggui istrinya yang tengah kalap dengan belanjaan.


" Gimana Lang udah berhasil ? " tanya Zaid menyelidik menantunya itu.


Mengerti arah pembicaraan sang mertua, Galang hanya mengusap tengkuknya sambil tersenyum simpul.


" Kalau belum berhasil, sia-sia dong kita ke sini. Ayah pikir pulang dari sini nanti bakalan bawa oleh-oleh cucu " goda Zaid.


" Yang penting ada progreslah, Yah... " sahut Galang sambil menatap sang istri yang sedang mencoba kain pantai dengan melilitkannya di pinggang rampingnya.


Zaid mengikuti arah tatapan Galang lalu tersenyum. Zaid menepuk pundak Galang.


" Sabar ya Lang ! Punya istri keras kepala kayak Dira memang butuh stok kesabaran tinggi. Tapi jangan khawatir, biar begitu tapi Dira kalau udah sayang akan melakukan apapun untuk orang yang Dira sayang dan cintai. Buktinya, dia menerima perjodohan kalian karena menyayangi kami dan tak ingin kami kecewa " ucap Zaid.


Galang mengangguk memahami keadaan.


" Kamu jangan khawatir, ayah yakin Indira mencintai kamu. Hanya saja, Dira masih belum meyakini perasaannya sendiri " tambah Zaid lagi.


" Iya, Yah... " tukas Galang.


Pembicaraan mereka terhenti saat Adinda dan Indira menghampiri mereka dengan membawa banyak barang belanjaan. Dan mereka pun kembali menuju ke hotel setelah selesai berbelanja.


" Sayang... Kayaknya kita harus melakukan sesuatu pada Galang dan Indira " ucap Zaid kepada Adinda saat mereka kini berada di kamar.


" Maksud Mas ? Bukannya sekarang hubungan mereka sudah lebih baik " sahut Adinda sambil menatap heran pada Zaid.


Zaid menghela nafasnya, ia tahu hubungan Galang dan Indira sudah mulai membaik. Tapi ia harus memastikan jika Galang dan Indira tak akan bisa berpisah.


" Jadi, Mas maunya gimana ? " tanya Adinda yang mengerti kerisauan sang suami.


" Mas akan melaksanakan rencana kita " ucap Zaid.


Rencana apa yang disusun Ayah Zaid ?


Ikuti terus keseruan dan gemesnya kisah Indira dan Galang. Dukungannya jangan lupa ya ! 🤭🤗🙏🙏


Love you all 😘😘