
Indira sudah bersiap saat pagi menyapa. Dengan mengenakan celana jeans dan kaos oblong, serta kemeja flanel yang diikatkan ke pinggang. Indira berpenampilan casual dengan make up tipis yang tak menyurutkan kecantikannya meskipun berpenampilan sederhana.
Galang sendiri mengenakan celana cargo serta kaos oblong dengan warna yang senada dengan sang istri.
" Yakin mau ikut ? Entar panas-panasan lho ! " Galang mengingatkan Indira sekali lagi.
" Ih, berisik. Ayo buruan ! Nanti tambah siang " seru Indira mendahului Galang dengan berjalan menuju ke dalam mobil.
" Emangnya siapa yang mau naik mobil ? " tanya Galang saat sang istri membuka pintu mobil.
Indira menghentikan gerakannya lalu berbalik menatap Galang.
" Terus kita naik apa ? " tanya Indira kemudian.
" Naik motor lah " jawab Galang sambil mengeluarkan motor trail miliknya.
" Hah ? " Indira nampak kaget.
" Kenapa ? Gak suka ? Kalau gak suka, gak usah ikut. Duduk manis aja nungguin Abang Galang pulang " ucap Galang.
" Dih ? Siapa yang gak suka... Cuma bingung aja duduknya dimana ? " kilah Indira lalu mengambil helm yang sudah Galang sediakan.
Galang naik ke atas motor trailnya, lalu memberikan kode agar Indira naik ke atas jok belakang yang hanya tersisa sedikit ruang baginya untuk duduk.
Indira lalu naik ke atas motor. Tempat duduk yang sempit membuatnya harus menempel erat dengan punggung Galang.
" Pegangan... Nanti jatoh lho ! " ucap Galang sambil mengambil tangan Indira dan melingkarkannya pada pinggangnya.
Tanpa melawan, Indira menurut saja. Baginya ini adalah pertama kalinya ia naik motor trail.
" Pa... Kita berdua pergi dulu ya ! " teriak Galang berpamitan saat melihat sang ayah keluar dari dalam rumah.
Galang pun segera melajukan motor trailnya dengan perasaan bahagia karena bisa membawa Indira begitu dekat dengannya.
"Lho... Kok malah pakai motor trail sih ? Pakai mobil juga kan bisa... " gumam Pak Surya yang melihat kepergian sang anak bersama menantunya.
Pak Surya tersenyum miring.
" Dasar modus !! " gumam Pak Surya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah melewati perjalanan melewati lahan persawahan dan perkebunan. Akhirnya mereka tiba di kantor milik Pak Surya. Para pegawai langsung menyambut kedatangan Galang bersama dengan seorang wanita cantik yang mereka yakini adalah istri yang baru saja dinikahi oleh Galang.
" Eleuh... Eleuh... Si aden mah baru datang. Abong-abong panganten anyar, dugi ka hilap ngalongok sawah jeung kebon (Aduh... Aduh... Tuan baru datang. Mentang-mentang pengantin baru, sampai lupa nengok sawah dan kebun " ucap seorang pegawai dengan logat bahasa sunda yang kental.
" Eh, Mang Kanta mah apalan wae (Eh, Mang Kanta tahu aja) " sahut Galang sambil tertawa.
" Jadi ini istrinya den Galang ? Geningan meuni geulis pisan (ternyata cantik sekali) " ucap Mang Kanta sambil melihat ke arah Indira.
" Geulis atuh Mang... Mun teu geulis mah moal dirérét-rérét acan (Cantiklah, Om. Kalau gak cantik gak akan dilirik sama sekali) " sahut Galang.
" Ra... Nih kenalin, ini namanya Mang Kanta. Mang Kanta ini orang kepercayaan Papa di perkebunan ini " ucap Galang lantas mengenalkan Indira kepada Mang Kanta.
" Indira, Mang..." ucap Indira sambil mengulurkan tangannya.
Mang Kanta mengusapkan tangannya ke bajunya dulu sebelum menjabat tangan Indira.
" Kenapa di lap dulu tangannya, Mang ? " tanya Galang heran.
" Malu atuh Den... Tangan Mamang kan kotor, nanti tangannya Neng Dira ketularan kotor atuh " jawab Mang Kanta membuat Indira tersenyum.
" Hayu atuh, Mang...! (Ayo, Paman) Kita keliling dulu. Saya mau ajakin istri saya muter-muter " ucap Galang.
Mang Kanta membawa Galang dan Indira berjalan mengelilingi lahan milik Pak Surya. Sepanjang jalan, Galang menggenggam tangan Indira. Seolah ia ingin memperlihatkan kepada semua orang, jika gadis cantik di sampingnya adalah istrinya.
Puas berkeliling lahan perkebunan dan persawahan, kini Galang mengajak Indira ke peternakan. Ada banyak hewan ternak yang dimiliki Pak Surya. Mulai dari ayam, kambing, dan juga sapi.
Indira nampak asyik memberi makan hewan ternak yang ada hingga tak menyadari saat Galang menghampirinya.
" Dira sayang... Kamu mau coba merah susu sapi gak ? " tanya Galang.
" Emang boleh ? " tanya Indira.
" Ya bolehlah, masa enggak " jawab Galang lalu membawa sang istri menuju kandang sapi perah.
" Kebetulan jam segini jadwal merah susu " tambah Galang membawa sang istri menuju salah satu sapi yang akan diperah.
Galang mendekat ke arah sapi betina berwarna putih dengan bercak hitam yang berukuran besar serta kelenjar susu yang besar dan berwarna pink muda.
Indira tak berniat melangkahkan kakinya untuk mendekat pada sapi itu.
" Ayo, sini buruan ! " seru Galang melambaikan tangannya.
Indira menggeleng dan memundurkan kakinya satu langkah ke belakang.
Galang kemudian menghampiri sang istri.
" Ayo, Dira sayaang... " ucap Galang sambil memberikan tangannya agar diraih Indira.
" Enggak mau ah... Nanti kakinya nendang, atau nanti pas diperah dia BAB lagi " sahut Indira jijik.
Galang terkekeh melihat sikap sang istri.
" Gak akan sayang, sebelum diperah kan udah dibersihin, dimandiin... " jelas Galang.
" Tapi, aku kan gak bisa merah " kilah Indira lagi.
" Biar suami tersayangmu ini yang ajarin. Ayo percaya sama aku ! " ucap Galang meyakinkan sang istri yang nampak masih ragu.
Indira akhirnya menurut dan bersiap untuk memerah susu sapi setelah melihat cara Galang memerah sapi.
" Tenang aja, ini sapinya yang paling jinak kok... " ucap Galang menenangkan Indira saat sang istri sudah duduk dan bersiap memerah susu. Galang sendiri memilih untuk jongkok di belakang Indira.
" Kalau kakinya nendang gimana ? " tanya Indira khawatir.
" Sstt... Jangan overthinking, kamu rileks aja. Ayo sekarang kamu peras susu sapinya " seru Galang yang dengan setia berada di sisi sang istri.
Perlahan Indira meraih kelenjar susu yang ada di bawah perut sapi lalu mencoba memerah benda kenyal berwarna merah muda itu, hingga akhirnya ia memekik girang karena berhasil mengeluarkan air susu sapi ke dalam wadah.
" Eh, aku bisa... " pekik Indira begitu gembira.
Galang tersenyum melihat wajah sang istri yang begitu antusias dan bisa tertawa lepas membuatnya semakin terlihat cantik.
Dira... Dira....Kenapa sih kamu selalu bisa bikin aku jatuh cinta sama kamu... Lagi dan lagi...
Sert... Indira tak sengaja mencipratkan kelenjar susu yang memancarkan air susu ke arah Galang hingga membuat wajah Galang basah terciprat susu sapi.
" Ish... Dasar ya kamu nih, iseng banget " ucap Galang kaget.
" Salah sendiri malah ngelamun, bukannya ngajarin " sahut Indira terkekeh geli karena melihat wajah Galang yang basah karena ulahnya.
" Ck... Aku ini kan lagi ngajarin kamu, kamu sadar gak sih ? " decak Galang lalu memegang tangan Indira dan membantunya memerah susu sapi.
" Emangnya lagi ngajarin apa ? " tantang Indira kemudian.
Galang menempelkan dadanya di punggung Indira.
" Lagi ngajarin kamu supaya cinta sama aku " bisik Galang lalu menjauhkan diri dari sang istri yang tiba-tiba terdiam dengan debaran kuat di dadanya.
Berasa kena gempa 9 skala cinta tuh jantung Indira... 😂😂