
" Mengapa kau mau menerima perjodohan ini ? " selidik Bagas.
" Karena saya mencintai Indira " Galang menjawab dengan lantang pertanyaan dari Bagas.
" Bagaimana bisa kamu mencintai Indira sementara kalian baru saja dijodohkan " selidik Evan.
" Karena saya dan Indira adalah teman satu sekolah saat SMA. Dan sejak saat sekolah, saya sudah mencintainya " jawab Galang.
Bagas menopang dagu dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja sambil menatap Galang dengan intens.
" Ceritakan bagaimana hubunganmu dengan Indira dulu ! " titah Bagas kemudian.
Tanpa ragu, Galang menceritakan semuanya pada kedua calon kakak iparnya. Perjuangannya mulai dari mencari perhatian Indira, berkali-kali menyatakan cinta dan berkali-kali pula Indira menolaknya.
Bagas langsung tergelak setelah mendengar cerita dari Galang. Ia tak menyangka ternyata ada juga pria yang begitu sabar menghadapi sikap sang adik yang ketus dan dingin itu.
" Jadi, maksud kamu menerima perjodohan ini sebagai jalan bagimu untuk bisa bersama dengan Indira ? " tanya Evan sambil mengusap dagunya sendiri.
" Betul sekali, Bang ! Ini satu-satunya cara yang saya rasa bisa berhasil. Meskipun Indira belum mencintai saya, tapi saya yakin seiring berjalannya waktu saya akan membuatnya jatuh cinta pada saya " jawab Galang yakin.
Bagas menepuk bahu Galang.
" Bagus ! Bang Bagas suka dengan pemikiran kamu. Lanjutkan !! " titah Bagas.
" Siap komandan " sahut Bagas sambil menempelkan tangannya di samping pelipisnya seolah sedang memberikan sikap hormat.
Bagas dan Evan pun tertawa melihat sikap Galang yang apa adanya dan tidak canggung.
" Jadi sekarang udah lulus jadi calon adik ipar kan, Bang ? " seloroh Galang sambil menurunkan tangannya.
" Lulus dengan predikat cum laude " sahut Bagas sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
" Tapi inget, PR kamu nanti menaklukan hati Indira. Terus jangan pernah membuat Indira terluka. Atau kamu berhadapan dengan kami " ancam Evan.
" Kalau saya nyakitin perasaan Indira, Bang Evan suntik mati saya aja atau kasih obat biar over dosis " ucap Galang enteng.
" Gak dikasih obat aja udah over dosis kamu ! " celetuk Evan.
" Maksudnya gimana, Bang ? " tanya Galang penasaran.
" Iya, kamu kan udah over dosis cinta sama Dira " gerundel Evan asal.
Dan kini ketiga pria tampan beda profesi itu tertawa bersama-sama.
Indira... Restu orang tua dan kakakmu sudah ku kantongi. Tunggu saja, aku pun akan membuatmu tak menyesal menikah denganku...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kedua keluarga tak ingin menunda pernikahan. Setelah Zaid dinyatakan sehat, mereka segera merencanakan pernikahan antara Galang dan Indira. Dan selama persiapan pernikahan, Indira tak pernah ingin membahas siapa calon suaminya nanti.
Indira berharap, kelak ia dan suaminya bisa memulai cerita baru dalam hidup mereka. Meskipun Indira tahu konsekuensinya jika mereka tidak saling mengenal sebelumnya.
Satu minggu menjelang pernikahan Indira,
Adinda mengetuk pintu kamar sang anak. Setelah Indira mengijinkannya masuk, Adinda segera masuk ke dalam kamar.
" Sayang... Kamu belum tidur ? " tanya Adinda sambil duduk di tepi ranjang.
Ia memilih untuk duduk di samping sang anak yang tengah rebahan di atas kasur.
" Belum, bunda... Dira masih buat tugas untuk mata kuliah Dira. Sedikit lagi sih... Soalnya mulai besok kan Dira udah cuti ngajar " jawab Indira mengalihkan pandangan ke arah sang ibu sekilas kemudian fokus kembali pada laptopnya.
" Yes ! Akhirnya selesai juga " pekik Indira sambil melakukan sedikit stretching pada tangan dan badannya.
Adinda tersenyum melihat Indira.
" Bunda kenapa kok lihatin Dira kayak gitu ? " heran Indira.
" Kamu lebih mencemaskan pekerjaan kamu ketimbang pernikahanmu " Adinda tersenyum miring.
" Kenapa Dira harus mencemaskan pernikahan Dira ? Dira yakin ayah dan bunda sudah melakukan yang terbaik dan mencarikan calon terbaik untuk Dira " Indira mengungkapkan apa yang ia rasakan.
" Kamu yakin tidak ingin mengenal calon suamimu lebih dulu ? Masih ada waktu sebelum kalian... "
" Lebih baik Dira tidak mengenalnya dulu, daripada berujung pembatalan pernikahan " sela Indira.
Adinda menghela nafas lalu melihat raut wajah sang putri. Ia paham karena ia pun pernah ada di posisi Indira saat ini.
" Sayang... Dulu ayah dan bunda juga dijodohkan orang tua kami... Kedua ayah kami berjanji untuk menjodohkan anak-anak mereka "
" Bunda mau ? " tanya Indira.
" Tidak pada awalnya... Ayah itu, sahabat dari Om Juna. Pada saat itu, semua teman Om Juna sudah Bunda anggap sebagai kakak. Lalu kemudian bunda harus menjadi istri dari sahabat Om Juna " Adinda tersenyum mengingat saat-saat ia menolak perjodohan dengan Zaid.
" Terus gimana, Bunda ? " tanya Indira.
" Sebagai seorang anak, bunda ingin berbakti kepada orang tua. Karena itu, bunda bersedia menerima perjodohan itu. Seperti kamu saat ini " jawab Adinda menatap putri bungsunya.
" Apa bunda bahagia menikah dengan ayah ? " tanya Indira.
" Pertanyaan macam apa itu ? Hem... " Adinda mendelik.
" Jadi Bunda bahagia menikah dengan ayah ? " tanya Indira lagi.
" Tentu saja... Ayah sangat mencintai Bunda. Karena itu, Bunda akhirnya mencintai Ayah. Begitu kan sayang " ucap Zaid yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Indira.
" Ih, ayah nguping ya ! " tuduh Indira.
" Hei... Siapa yang nguping ? Ayah cuma kebetulan denger " kilah Zaid, tangannya melingkar di pundak sang istri.
Adinda menyentuh tangan suaminya dengan lembut.
" Karena kesungguhan dan ketulusan cinta ayah kamu ini, Bunda jadi jatuh cinta. Dan kamu lihat sayang ! Kami benar-benar bahagia apalagi memiliki kalian semua sebagai anak-anak kami " ucap Adinda dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya.
" Kalau begitu, doakan Dira supaya bisa bahagia seperti ayah dan bunda. Doakan juga supaya suami Dira mencintai Dira seperti ayah mencintai bunda dan Dira juga mencintainya seperti bunda mencintai ayah "
" Tidak perlu menjadi orang lain, sayang ! Cukup kamu menjadi seorang istri yang taat dan hormat kepada suamimu. Jadikanlah rumah tanggamu sebagai surga dalam kehidupanmu nanti. Ayah dan Bunda hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu " ucap Adinda yang kemudian memeluk Indira dengan penuh kasih sayang diikuti oleh Zaid yang juga memeluk sang putri.
Hari pernikahan
" Saya terima nikah dan kawinnya Indira Azzura Prasetya binti Zaid Wira Prasetya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas dibayar TUNAI " Galang mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan lantang.
Hingga para saksi menyatakan sah dan suara riuh tamu yang menghadiri acara ijab kabul mengucap syukur. Galang tersenyum sumringah karena telah berhasil mempersunting wanita pujaannya itu.
Kini Indira dibawa menuju tempat dilakukan akad nikah. Ia akan disandingkan dengan sang suami yang baru saja sah menjadikannya seorang istri.
Galang tersenyum bahagia saat melihat betapa cantiknya Indira dalam balutan kebaya putih dengan adat Sunda.
Sementara Indira begitu terkejut saat melihat siapa sosok yang telah berhasil mempersuntingnya. Seorang pria yang tak pernah terpikir sama sekali olehnya bahkan membayangkannya saja tidak.