Adorable Love

Adorable Love
AL 29



Usia kandungan Indira kini telah memasuki usia 4 bulan. Keluarga akan mengadakan syukuran atas kehamilan Indira di kediaman Pak Surya yang tak jauh dari vila milik keluarga Zaid.


" Sayaang... Aku mau mau lihat ke perkebunan dulu ya. Sekalian mau undang keluarga Pak Aceng sama Mang Kanta " ucap Galang sambil mengusap perut Indira.


" Gak bisa ditelpon aja ya ? Emangnya keburu balik lagi sebelum acaranya mulai ? " tanya Indira.


" Keburu lah sayang. Aku bolak-balik aja naik motor. Pasti nanti sore udah disini lagi " jawab Galang.


Entah mengapa, Indira merasa tak enak hati.


" Bukannya Mang Kanta udah disuruh kasih tahu ke Pak Aceng ? Jadi kamu disini aja ya, please ! " pinta Indira.


" Iya sayang, memang Pak Aceng udah dikasih tahu sama Mang Kanta ... Tapi kan lebih bagus kalau kita yang undang langsung, diingetin lagi. Lagian aku juga sekalian ngontrol pembangunan disana. Udah lama gak dilihat " jelas Galang.


Indira merengut karena tak bisa membuat Galang membatalkan kepergiannya.


" Kok, cemberut gitu sih... Malu sama anak kita, sayang " ucap Galang sambil menangkup kedua pipi Indira yang terlihat lebih chubby.


" Aku janji, sebelum acaranya dimulai aku udah balik lagi kesini. Jangan ngambek gitu dong istriku sayang, sholehahku... " ucap Galang sambil mengecup kening Indira.


" Tapi janji ya... Kamu harus cepet pulang ! " seru Indira merajuk.


" Iya, istriku, sayangku, cintaku, bidadariku... Mmuahh..." ucap Galang sambil mengecup bibir Indira.


" Hati-hati, pakai jaket yang tebel biar gak masuk angin. Udah sarapan kan ? " tanya Indira lagi.


" Udah, sayang ! " jawab Galang sambil tersenyum karena sang istri yang begitu bawel memperhatikannya.


" Kok malah senyam-senyum gitu sih " heran Indira.


Galang mendekap tubuh sang istri dengan erat, tangannya mengelus perut Indira yang kini sudah sedikit membuncit.


" Aku seneng banget, kamu perhatian sama aku. Anak papa, sayang... Jagain mama selama papa pergi ya ! Jangan nakal, baik-baik disana. Tungguin papa ya ! Papa pasti cepet pulang " ucap Galang mengajak bayi dalam kandungan Indira berbicara.


Indira mengelus tangan Galang yang berada di atas perutnya.


" Papa jangan lama-lama ya ! Adek pasti jagain mama. Papa hati-hati di jalan ya ! " ucap Indira seolah mewakili sang anak.


" Aku pergi dulu ya, sayang ! Doain aku biar selamat sampai pulang lagi ke rumah " ucap Galang sambil membalik badan Indira agar menghadap ke arahnya.


Indira mengangguk kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang sang suami. Entah mengapa rasanya begitu berat melepas kepergian Galang.


" Kalau begini terus, gak bisa cepet pulang dong sayang... Tambah siang pergi ya tambah lama pulang " ucap Galang mengelus rambut sang istri.


" Biarin, biar gak jadi pergi ! " sahut Indira asal.


" Ish, ayo dong Dira sayang... Mama bayi yang cantik. Biar papa bayi cepet pulang lagi " bujuk Galang sambil mengecupi pucuk kepala Indira.


Indira melepas pelukannya lalu menatap sang suami yang tengah tersenyum ke arahnya.


" Tenang, sayang... Nanti kamu boleh pelukin lagi sepuasnya. Mau lebih dari sekedar peluk juga boleh. Aku gak keberatan " goda Galang.


" Ck... Kamu tuh kesitu terus " tukas Indira mencebikkan bibirnya.


" Kamu udah gak pusing sama mual lagi kan ? " tanya Indira khawatir.


" Kalau gitu, aku berangkat ya sayang ! Mumpung masih pagi, biar cepet pulang lagi " pamit Galang.


Dan akhirnya Indira pun mengijinkan sang suami pergi. Dengan lambaian tangan mengiringi kepergian Galang yang sudah melajukan motor trail miliknya.


" Lho, Galang mau kemana itu Dira ? " tanya sang ayah.


" Mau ke desa sebelah, Yah. Katanya mau lihat pembangunan udah lama gak ngontrol " jawab Indira apa adanya.


" Ya sudah gak apa-apa. Yang penting pas acara mulai, Galang sudah datang " sahut Zaid.


Mereka berdua pun masuk menuju ruang keluarga, dimana keluarga besar mereka tengah berkumpul mempersiapkan acara.


Lepas siang hari, rombongan keluarga Pak Aceng dan Mang Kanta datang. Indira dan Pak Surya menyambut mereka. Mereka membawa buah tangan hasil kebun untuk diberikan kepada keluarga Pak Surya dan Indira.


Pukul 2 siang, hujan yang turun sejak Galang meninggalkan rumah tadi pagi belum juga berhenti membuat Indira sedikit khawatir karena Galang belum juga kembali. Padahal menurut Siti dan Ahmad, Galang sudah berangkat dari desa berbarengan dengan mereka. Hanya saja Galang mengambil jalan memotong karena menggunakan motor. Berbeda dengan keluarga Pak Aceng yang menggunakan jalur memutar karena memggunakan kendaraan roda empat.


Indira melakukan panggilan ke nomer ponsel Galang, sayangnya tidak dapat dihubungi. Indira semakin khawatir karena hujan yang tak kunjung berhenti, justru turun semakin deras.


Indira berdiri di depan jendela, memandang ke arah jalan berharap Galang segera menampakkan diri untuk pulang. Sesekali ia mengusap-usap perutnya yang terasa kencang.


" Dira... Sudah kamu duduk aja. Sebentar lagi juga pasti Galang pulang " seru Adinda mengajak Indira agar duduk di sofa.


" Tapi, Bun... Kenapa Bang Galang belum pulang juga. Dira takut ada apa-apa, Bun... Dari tadi ponselnya gak aktif " sahut Indira khawatir.


" Kamu kan tahu sendiri, di desa susah sinyal " ucap Adinda.


" Udah, kamu jangan khawatir gitu. Kasihan nanti cucu Bunda stres, gara-gara ibunya banyak pikiran. Kamu mendingan berdoa supaya Galang baik-baik aja. Selamat sampai pulang ke rumah " tambah Adinda lagi.


Indira mengangguk pasrah, namun jauh di dalam hatinya merasa tidak tenang. Hingga akhirnya suara motor berhenti di depan rumah membuat Indira segera menghambur menuju ke luar.


Akan tetapi bukan sang suami yang datang, melainkan seorang pekerja perkebunan yang datang dengan menggunakan motor trail milik Galang.


" Assalamu'alaikum... "


" Wa'alaikumsalam " jawab Indira yang keluar dengan ditemani oleh Pak Surya juga sang ayah.


" Punten, Pak Surya... Teh Dira... Ini motor A Galang saya yang bawa. Tadi pas di jalan mau pulang, kecegat longsor... " jelasnya.


Mendengar hal itu, seketika kaki Indira merasa lemas, seolah kakinya tak bisa bertumpu. Kepalanya terasa berat dan sekelilingnya terasa berputar-putar dan menjadi gelap sehingga membuat dirinya seketika ambruk. Beruntung sang ayah dengan sigap menahan tubuh Indira yang terhuyung.


Zaid segera membawa Indira ke dalam kamarnya. Membaringkan sang anak yang tengah mengandung itu di atas tempat tidurnya. Adinda dengan segera mengolesi minyak kayu putih agar Indira segera sadar.


Sementara itu, Evan memeriksa keadaan sang adik yang terbaring lemah.


Indira mengerjapkan kedua matanya, menatap ke seluruh ruangan yang kini penuh oleh keluarganya yang merasa khawatir dengan keadaannya.


" Bang... Bang Galang... Kamu dimana ? " tanya Indira lirih. Ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya.


" Dira... Kamu tenang dulu, sayang ! " seru Adinda menenangkan putrinya itu.


" Bunda... Mana Bang Galang ? Dia udah pulang kan ? Dia gak kenapa-napa kan ? Dia janji bakalan pulang sebelum acaranya dimulai ..." sahut Indira sambil terisak.