Adorable Love

Adorable Love
AL 33



Galang menghubungi Evan. Ia harus meminta kakak iparnya itu agar tidak menceritakan kondisi kesehatannya kepada Indira.


Tuut... Tuut...


" Ya, kenapa Lang ? " tanya Evan saat mengangkat panggilan.


" Bang... Dira udah tanya hasil cek kesehatan... "


" Terus kamu masih belum cerita yang sebenarnya ? " sela Evan.


Galang mengangguk,


" Bang... Kalau Dira nanti tanya, tolong bilang kalau kesehatan Galang baik-baik aja " mohon Galang.


" Ya ampun, Lang... Sampai kapan kamu tutupin masalah ini sama Dira ? Walau gak ganas, tapi perlu tindakan secepatnya. Jangan sampai nanti justru membahayakan " jelas Evan.


Galang menghela nafasnya,


" Galang tahu itu, Bang... Tapi... Galang gak mau sampai Dira stres, mikirin hal ini. Dira harus bahagia menjalani kehamilannya, Bang " sahut Galang.


" Abang gak janji nutupin hal ini terus dari Dira. Tapi untuk sementara ini, abang akan bantu kamu. Tapi kamu harus rutin kontrol terus keadaan penyakit kamu itu " titah Evan.


" Siap, Bang... Galang pasti kontrol terus " sahut Galang lega.


" Kontrol apaan ? " tanya Indira yang kini sudah berada di samping Galang.


" Em... Itu... "


" Kamu lagi nelpon siapa sih ? " tanya Indira sambil melihat ke arah ponsel Galang.


" Itu, Bang Evan ya ? Sini, Dira mau ngomong " ucap Indira lalu mengambil ponsel dari tangan Galang.


" Abang... Kenapa ngomongin kontrol sama Galang ? " tanya Indira penasaran.


" Iya, tadi abang nyuruh Galang supaya ngontrol kehamilan kamu terus. Jangan lupa periksa " jawab Evan menyembunyikan yang sebenarnya.


" Itu mah udah pasti dikontrol terus, Bang. Eh, Abang udah tahu hasil cek kesehatan Galang kemarin ? " selidik Indira sambil melirik ke arah sang suami.


" Udah... " jawab Evan singkat.


" Terus gimana ? " tanya Indira.


" Baik-baik aja, cuma dia gak boleh terlalu capek terus harus jaga kondisi juga " jawab Evan.


" Oh gitu... Syukurlah kalau gak kenapa-napa... " sahut Indira lega.


" Tapi kamu bilangin sama Galang, kalau obatnya harus diminum " seru Evan lagi.


" Obat ? Tadi abang bilang gak kenapa-napa. Kenapa harus minum obat ? " tanya Indira heran.


" Iya, vitamin supaya kondisinya fit " jawab Evan.


" Ya, udah... Abang tutup dulu telponnya. Bilang sama Galang jangan banyak pikiran. Kamu juga, jangan banyak mikir yang enggak-enggak. Jaga diri, Galang sama keponakan abang, ok ! " sambung Evan lalu menutup telpon.


Indira mengangguk, ia menatap Galang sambil memberikan ponsel kepada suaminya itu.


" Tuh kan, aku gak apa-apa. Kamu gak percayaan amat sih sama suami kamu ini " seloroh Galang sambil memeluk Indira dan mengecupi bahunya.


Maafin aku, sayang... Aku cuma gak mau kamu sedih !


Indira berbalik lalu memeluk Galang dengan erat.


Galang mengelus punggung sang istri dengan lembut.


" Aku gak akan tinggalin kamu... Aku kan udah pernah bilang cuma kematian yang bisa pisahin kita. Dan seandainya itu terjadi, aku akan pastikan kamu bahagia walaupun tanpa aku... " ucap Galang menahan pilu.


Indira melepaskan diri dari pelukan Galang.


" Lho... Kenapa sayang ? " tanya Galang heran karena sang istri justru bergerak menjauhinya.


" Jangan pernah berpikir kalau aku akan bahagia tanpa kamu ! Kalau kamu sampai punya pikiran seperti itu, aku gak akan pernah maafin kamu ! " tegas Indira.


Jleb...


Sebuah pernyataan dari Indira yang langsung mengena di hati Galang. Entah ia harus bersikap


seperti apa saat mendengar pernyataan dari sang istri yang menyiratkan betapa Indira kini begitu mencintainya sebagai seorang suami juga sebagai pendamping hidupnya.


Galang melangkahkan kakinya mendekati sang istri yang kini berada di balkon kamar mereka. Ia melingkarkan tangannya ke perut Indira sambil mengusap-usap perut sang istri.


" Aku akan terus berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan anak kita. Aku akan selalu membahagiakan kalian. Kalianlah hal terhebat yang ku miliki. Aku akan selalu berjuang demi kalian " ucap Galang lembut di telinga sang istri kemudian menjatuhkan dagunya di pundak sang istri.


Galang menghirup dalam-dalam wangi tubuh sang istri yang begitu dicintainya.


Tuhan... Ijinkanlah aku selalu bersama dengan mereka. Ku mohon, angkatlah penyakitku. Berikan aku kesehatan dan kesembuhan. Berikan waktu yang lebih banyak padaku untuk dapat bersama dengan keluarga kecilku, menjaga, melindungi, serta membahagiakan mereka.


Tanpa terasa air mata pun jatuh dari pelupuk mata Galang.


" Kamu kenapa nangis ? " tanya Indira saat merasakan basah pada bahunya.


Indira membalik badannya lalu melihat Galang yang berusaha mengusap air mata dari wajahnya. Indira meraih tangan Galang lalu menyeka sisa air mata di wajah Galang dengan jemarinya.


" Kamu kenapa ? " tanya Indira lirih menatapi wajah sang suami yang terlihat begitu sendu.


Galang menggeleng lalu meraih jemari tangan Indira dan menciuminya.


" Aku bahagia bisa mencintai dan memiliki kamu seutuhnya. Aku hanya terlalu bahagia karena kamu telah memberikan cintamu kepadaku. Terima kasih, Dira... Terima kasih telah mewarnai hari-hariku. Terima kasih telah sudi menjadi istriku, menjadi ibu dari anak kita. Aku sangat mencintaimu... " ucap Galang lantas mengecup bibir Indira dengan lembut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galang berada di ruang kantornya di perkebunan. Setelah beberapa hari ia menemani Indira di rumah, kini ia datang ke perkebunan sendiri.


Galang mengambil hasil cek kesehatannya dari dalam laci meja kerjanya. Ia memang sengaja menyimpan laporan hasil kesehatannya di kantor. Ia tak ingin Indira mengetahui diagnosa atas penyakitnya.


Galang membuka amplop lalu mengambil keryas yang berada di dalamnya. Sekali lagi dibacanya diagnosa hasil kesehatannya.


" Glioma stadium 1 " sebut Galang lalu mengurut pangkal hidungnya.


Glioma adalah tumor otak yang menekan otak atau sumsum tulang belakang. Gejala yang paling umum adalah sakit kepala, kejang, mati rasa, kelemahan di lengan atau kaki, perubahan kepribadian. Sedangkan gejala lain yang muncul diantaranya mual, muntah, serta kehilangan penglihatan.


Pengobatan yang dilakukan disesuaikan dengan masing-masing pasien, yaitu dengan cara operasi, terapi radiasi, kemoterapi atau observasi dengan mempertimbangkan lokasi tumor, gejala, manfaat, serta resiko yang ditimbulkan dari pengobatan yang dipilih pasien.


" Jadi mual, muntah yang kurasakan itu bukan hanya karena couvade syndrome... Belum lagi sakit kepala yang sering mendera... " ucap Galang meraup kasar wajahnya.


" Ya Alloh... Aku harus bagaimana ? Apa aku harus berterus terang kepada keluargaku atau menyembunyikannya dari mereka ? Ku mohon berilah petunjukmu " mohon Galang.


Galang kembali merapikan hasil diagnosa penyakitnya dan memasukkannya ke dalam laci meja kerjanya lalu menguncinya. Untuk saat ini, ia lebih memilih untuk menyembunyikan penyakitnya sampai nanti ia merasa sudah saatnya memberi tahu yang sebenarnya.


Galang memilih untuk melakukan pengobatan sendiri. Meskipun Evan tak luput menemaninya melalui tahapan pendiagnosaan lebih lanjut. Mulai dari wawancara medis, pemeriksaan neurologis, pemeriksaan scan otak, serta biopsi.


Galang beruntung karena sang kakak ipar begitu perhatian kepadanya, namun entah sampai kapan kakak iparnya itu bisa merahasiakan hal ini dari Indira.