Adorable Love

Adorable Love
AL 46



Indira masih asyik menatapi bayi tampan yang berada dalam gendongannya. Galang yang berada di sampingnya pun turut larut dalam kebahagiaan dengan ikut menatap putra pertamanya itu.


" Dia mirip sama kamu sih Pa... " ucap Indira sambil mengelus pipi bayi imut itu.


" Ya iyalah sayang, aku kan cinta banget sama kamu " jawab Galang pasti.


" Tapi bibirnya mirip sama kamu, bikin pengen nyium terus " ucap Galang sambil mengecup bibir Indira.


" Ya ampun, papa... " gerutu Indira sambil membulatkan matanya.


" Habis gak tahan sayang ! " Galang terkekeh dengan ulahnya sendiri.


" Puasa dulu ! Kalau gak bisa solo karir dulu sana ! " geram Indira mengingatkan Galang.


" No, sayang... Aku gak suka solo karir... Aku tuh sukanya duet sama kamu ! " tukas Galang sambil menyeringai.


" Udah ah, ngomongin beginian melulu ! Gak malu sama anak " sewot Indira.


Pintu ruang rawat terbuka kemudian Adinda muncul bersama dengan Aluna.


" Halo, Mba Dira... " sapa Aluna sambil membawa kado besar untuk bayi Indira.


" Hai, Luna... " balas Indira sambil tersenyum.


Galang segera mundur untuk memberikan ruang kepada sang istri agar bisa bicara dengan gadis yang baru saja tiba itu.


" Wah... Anaknya Mba Dira lucu banget ! Selamat ya mba. Maaf, karena Luna dan Papa kemarin Mba Dira jadi harus mendadak dibawa ke rumah sakit... " sesal Aluna.


" Sudah Luna... Ini sudah digariskan oleh Tuhan. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Yang penting, ibu dan bayinya baik-baik saja " ucap Adinda sambil mengusap punggung Aluna.


Indira mengangguk kepada Aluna sambil tersenyum.


" Namanya siapa Mba ? " tanya Aluna sambil mengelus pipi bayi imut itu.


Indira melirik Galang, ia tersenyum sambil menganggukan kepala.


" Namanya Dirga Alfarendra Putrasatya " jawab Indira.


" Halo baby Dirga, ini aunty Luna... " ucap Aluna sambil mencium pipi bayi imut itu.


" Halo, aunty cantik. Makasih hadiahnya ya " ucap Indira menirukan suara anak-anak.


" Nanti pas aqiqah baby Dirga, kamu datang ya ! " seru Indira.


" Maaf ya, Mba... Kayaknya Luna gak bisa datang. Luna mau tinggal di rumah nenek dulu di luar kota. Luna mau mikirin banyak hal " jawab Luna sambil menerawang.


" Papa kamu masih maksa kamu untuk menerima perjodohan itu ? " selidik Indira.


" Hem, bukan cuma itu aja Mba. Selain menjodohkan Luna, Papa juga mau nikah lagi " jawab Aluna dengan raut kecewa yang tergambar di wajahnya.


" Sabar ya, Luna... Kamu harus yakin kalau Tuhan pasti kasih yang terbaik untuk kamu meskipun bukan dengan jalan yang kamu mau " hibur Indira.


" Iya, Mba... Luna tahu kok " sahut Luna sambil tersenyum.


" Luna gak bisa lama-lama Mba... Nanti Papa keburu nyariin Luna kesini lagi " celetuk Aluna.


" Hah, kamu kabur dari rumah ? " tanya Indira lagi.


" Bukan kabur Mba, cuma menenangkan diri aja " jawab Aluna sembari mengerlingkan mata.


" Ya udah deh, Mba... Luna pergi dulu ya ! Tante Dinda, Mas...Baby Dirga, sampai ketemu lagi ya " ucap Aluna lalu mencium pipi baby Dirga.


Setelahnya Aluna memeluk Indira dan Adinda.


" Semuanya, Luna pamit ya ! " ucap Aluna sebelum meninggalkan ruangan Indira.


" Luna, kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi Tante atau Indira. Nomernya tadi udah kamu save kan sayang ? " tanya Adinda sambil mengantar Aluna menuju ke pintu.


" Siap, Tante... Luna pamit ya ! " ucap Aluna lalu mencium tangan Adinda dan memeluknya.


" Hati-hati di jalan ya, sayang ! Kalau sudah sampai, kamu kabarin Tante ya " pinta Adinda diikuti anggukkan oleh Aluna.


Aluna pun segera meninggalkan rumah sakit. Kini ia berjalan menuju lobi rumah sakit. Ia sudah memesan taksi online untuk mengantarkannya ke stasiun kereta api.


Karena tergesa-gesa, tanpa sengaja Aluna menabrak seseorang saat akan keluar dari lobi.


Merasa bersalah, Aluna mengambilkan kado yang terjatuh itu dan mengembalikannya kepada sang pemilik.


" Maaf, saya lagi buru-buru ! " ucap Aluna.


" Cih, buru-buru ? Alesan aja ! " sahutnya kesal sambil mengambil kadonya yang diberikan oleh Aluna.


" Heh, udah bagus gue minta maaf, terus ambilin barang Lo. Dasar cowok rese ! " sewot Aluna sambil memandangi pria yang memakai kaca mata hitam itu.


" Makanya, kalau jalan tuh kaca matanya dibuka supaya kelihatan ! " oceh Aluna sambil memutar bola matanya lalu menjauh dari pria itu dan segera menuju taksi online pesanannya.


Pria itu kini membuka kaca mata hitamnya lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya.


" Dasar cewek aneh !! " gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia segera mencari lift menuju ruang perawatan.


Pintu ruang rawat kembali terbuka, menampilkan sosok Damar yang datang dengan membawa sebuah kado besar untuk keponakannya yang baru saja lahir.


" Halo, Boy... Nih, Om Damar yang ganteng bawain mainan buat keponakan Om yang ganteng dan imut-imut ini " ucap Damar sambil melihat baby Dirga yang tertidur di dalam box bayi.


" Kamu gak ngajakin Karina kesini ? " tanya Indira.


" Dia mah sibuk orangnya, udah diajakin tapi jawabannya gak bisa. Ya udahlah " jawab Damar.


Indira menarik nafas,


Sibuk ? Sibuk sama om-om kali ?


pikiran Indira tertuju pada wanita yang kemarin dijumpainya di restoran.


" Ra, kenapa sih ? " tanya Damar karena melihat Indira hanya melamun.


" Ng... Gak apa-apa kok " jawab Indira dengan senyum palsu.


" Eh, sorry ya. Gue gak bisa lama-lama nih. Papa nyuruh aku pulang, katanya ada hal penting yang harus diberesin " ucap Damar.


Mendengar hal itu, Galang menghampiri Damar


" Ngomongin perjodohan lo ? " tanya Damar penasaran.


" Iya kali ! " jawab Damar cuek.


" Ya udah, buruan sana pulang ! Eh entar syukuran aqiqah baby Dirga, lo datang ya ! " pinta Galang.


" Iya, pasti gue datang. Secara, gue ini kan omnya yang paling pengertian dan ganteng " ucap Damar sambil terkekeh.


" Gue cabut ya ! Jadi ayah yang bener. Inget sekarang lo udah punya buntut " tambah Damar lagi.


" Dah, sana lo pergi ! " usir Galang.


" Makasih ya, Om Damar, kadonya buat baby Dirga " ucap Indira sebelum sang suami menyeret Damar keluar.


Galang kembali lagi ke ruangan setelah menyeret Damar untuk segera keluar.


" Lho... Damarnya mana ? " tanya Adinda yang baru saja sadar jika Damar sudah tidak ada di dalam ruangan.


" Damarnya baru aja pulang, Bun... Dia ada urusan keluarga dulu " jawab Galang sambil mendekati sang istri.


" Ya udah, kalau gitu Bunda.ke kantin dulu ya ! Sambil nungguin ayah Zaid datang " ucap Adinda lalu segera berlalu.


Kini hanya ada Indira, Galang juga Baby Dirga di dalam ruangan. Indira teringat akan memperlihatkan foto yang diambilnya kemarin. Indira mencari ponselnya kemudian segera memperlihatkan foto yang diambilnya kemarin.


" Pa... Aku mau cerita " ucap Indira sambil meminta Galang untuk mendekat.


" Cerita apa sayang ? Mulai kangen ya " kekehan keluar dari mulut Damar.


" Ish, kamu tuh ! " sahut Indira sambil mencubit perut sang suami.


" Ampun sayang... Ampun ! " ucap Galang berusaha lepas dari cubitan Indira.


Indira menghentikan gerakannya lalu menyodorkan ponselnya. Galang yang melihat foto yang ada di ponsel Indira langsung membulatkan matanya.


" Ini kan... " Galang tak melanjutkan ucapannya.


" Itu beneran Karin kan.? " tanya Indira.