
" Lho, kamu... " ucap Adinda saat melihat seorang gadis masuk tanpa diundang ke dalam mobil.
" Maaf ya, Bu... Mba... Saya ikut ngumpet disini sebentar aja ya ! " pintanya dengan wajah memelas.
" Tenang... Saya bukan orang jahat kok ! Saya cuma lagi dikejar sama papa saya aja " jelasnya sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada.
Adinda melihat keadaan di luar mobilnya, di saat bersamaan Pak Yusuf masuk ke dalam mobil.
" Ayo, jalan Pak ! " ucap Adinda dan sang supir pun segera tancap gas.
Gadis itu, duduk di samping Adinda. Ia lalu mengusap-usap dadanya sambil sesekali melihat ke arah belakang mobil.
" Syukur deh selamat ! Terima kasih ya, Bu... Mba... Sudah mau bantuin saya " ucapnya tulus.
" Memangnya kenapa kamu harus sembunyi ? " tanya Indira sambil mengamati gadis yang kini duduk bersama mereka.
Gadis cantik itu tersenyum miris.
" Papa saya marah karena saya tidak merestui niatnya untuk menikah lagi setelah kepergian ibu saya " jelasnya.
" Kenapa kamu tidak merestuinya, Nak ? Mungkin saja ayahmu akan menemukan kebahagiaannya kembali setelah menikah lagi " ucap Adinda bijak.
Gadis itu menggelengkan kepala.
" Saya juga bahagia melihat papa saya bahagia. Hanya saja... Saya tidak terima karena ia akan menikah dengan seorang wanita yang seumuran dengan saya. Apa nanti kata orang kalau ibu tiri saya ternyata masih sangat muda. Bisa-bisa bukan cuma Papa saya saja yang suka, suami saya juga nanti suka sama ibu tiri saya. Iih... Amit-amit deh " ucap gadis itu menggebu-gebu diakhiri dengan bergidik ngeri.
Tak lama kemudian gadis itu menutup mulutnya, merasa bodoh karena telah menceritakan masalah pribadinya kepada orang asing karena emosi yang tak terkontrol.
Adinda terkekeh melihat tingkah lucu gadis itu yang begitu terbuka padahal ia baru saja bertemu dengan mereka.
" Aduh... Maaf ya Bu... Saya ngomong yang enggak-enggak. Padahal itu kan masalah keluarga saya...Eh... " Gadis itu reflek menutup mulutnya kembali karena telah keceplosan bicara.
Adinda dan Indira saling memandang kemudian tertawa bersama. Sementara gadis itu menatap bingung pada ibu dan anak tersebut.
" Siapa nama kamu ? " tanya Indira setelah menghentikan tawanya.
" Nama saya Ya, em... " Gadis itu akan menyebutkan namanya, namun ia mengurungkan niatnya.
" Aluna, tapi mba bisa panggil saya Luna... " jawab gadis itu.
" Baiklah kalau begitu aku panggil Luna aja ya ! Tadi kamu bilang kalau ayah kamu mau menikah lagi dengan wanita yang seumuran kamu, terus kamu takut kalau suami kamu juga suka sama ibu tiri kamu itu. Memangnya kamu sudah menikah ? " tanya Indira.
Aluna menggelengkan kepalanya.
" Nah itu dia masalahnya, Mba... Saya aja masih belum menikah. Ini papa saya udah mau nikah 2 kali. Coba Mba bayangin gimana perasaan saya ini ? " jawaban Aluna justru membuat Indira terkekeh kembali.
" Ya ampun... Ternyata masalahnya itu, kamu takut keduluan nikah sama papa kamu " ucap Indira.
" Ya, nggak gitu juga mba... " Aluna menjeda ucapannya.
" Aku Indira dan ini Bunda Adinda, ibu aku " sahut Indira memperkenalkan dirinya dan sang ibu.
" Ah iya, Mba Dira sama Tante Dinda. Boleh kan saya bilang begitu ? " tanyanya polos.
" Boleh, sayang... Berapa usia kamu ? " tanya Adinda.
" Saya, 21 tahun Tante... Tahun ini, saya juga mau wisuda lho " jawab Melati dengan bangga.
" Wah, Mba Indira beruntung banget ya ! Bisa kerja dulu sebelum menikah. Kalau saya, belum lulus aja udah disuruh nikah, dijodohin sama anak temennya Papa " ucap Aluna dengan tatapan sendu.
Adinda dan Indira kembali saling berpandangan.
" Gak semua pernikahan karena perjodohan itu tidak baik. Dulu aku juga menikah karena dijodohin ayah dan bunda. Dan apa kamu tahu, ternyata pilihan orang tua itu tak selalu tidak baik. Orang tua kita sudah tahu baik dan buruknya dan mereka melakukan itu karena ingin yang terbaik untuk kita " papar Indira.
Aluna menatap Indira dengan lekat.
" Jadi, Mba Indira dijodohin juga ? " tanyanya lagi.
" Iya, dan apa kamu tahu... Sekarang aku sangat bersyukur karena menikah dengan pria yang sangat baik dan kami kini saling mencintai " jawab Indira sambil tersenyum mengingat perjalanan rumah tangganya bersama Galang.
" Tapi Papa cuma mau saya menikah cepat-cepat karena ingin menikah lagi dengan perempuan matre itu " ucap Aluna.
" Luna... Tante yakin, ayahmu pasti sudah menyiapkan jodoh yang tepat untukmu. Ingat sayang, masalah jodoh itu sudah ada yang mengatur. Sekuat apapun kita menolak, kalau dia jodoh kita, ya kita harus terima ! Sama halnya seperti ayah kamu dan perempuan itu " ucap Adinda bijak.
" Tapi Tante... Luna yakin banget kalau Papa tuh cuma diperalat aja sama perempuan itu biar bisa nikmati hartanya Papa. Jaman sekarang mana ada perempuan muda mau nikah sama om-om kalau gak lihat dompetnya tebel " sahut Aluna.
" Siapa bilang cuma karena harta, keponakan tante justru menikah sama orang yang umurnya sama dengan orang tuanya dan mereka memang benar-benar saling mencintai " jawab Adinda mengingat keponakannya Kyra yang menikah dengan mantan tunangan ibunya sendiri.
" Hah... ? Beneran ada yang begitu ? " tanya Aluna heran.
" Iya, ada. Malahan mereka udah bahagia sekarang. Punya dua anak yang lucu-lucu " jawab Indira dengan senyum mengembang di wajahnya.
Aluna mengangkat sebelah alisnya, merasa aneh saja mendengarkan cerita dari Adinda dan Indira.
Apa iya ada yang tulus saling mencintai walaupun usianya terpaut jauh ? Tapi aku yakin, perempuan itu cuma manfaatin Papa aja...
Batin Aluna.
Cekiit...
Mobil yang dikendarai oleh Pak Yusuf itu direm secara mendadak, membuat Indira, Adinda juga Aluna terhuyung ke depan. Bahkan perut Indira sedikit hampir terbentur jika saja Indira tidak memeluk perutnya untuk melindungi kandungannya.
" Aduh, maaf Bu Dinda, mba Dira... Tapi itu, ada mobil yang berhenti mendadak di depan mobil kita " ucap Pak Yusuf dengan perasaan bersalah.
" Ada apa ini, Pak ? " tanya Adinda khawatir, apalagi melihat Indira yang nampak meringis sambil memegangi perutnya.
" Mba Dira, gak apa-apa kan ? " Aluna pun ikut khawatir saat melihat Indira yang sedikit kesakitan.
Indira menggeleng lemah, sambil memegangi perutnya.
" Bunda... Ini kok sakit sih " ucap Indira sambil mengusap perutnya.
Adinda ikut mengusap-usap perut Indira.
" Pak, kita ke rumah sakit sekarang ! " seru Adinda pada Pak Yusuf.
Namun belum sempat Pak Yusuf melajukan mobil, kini seorang pria yang seumuran dengan Adinda berdiri di samping mobil mengetuk kaca jendela mobil.
Adinda membuka jendela lalu menelisik pria yang berdiri di samping mobilnya.
" Bapak ini ada perlu apa ya ? " tanya Adinda siap siaga.