Adorable Love

Adorable Love
AL 26



Hari demi hari berlalu, kedua calon orang tua baru itu begitu antusias dengan hadirnya buah hati mereka. Terlebih lagi Galang, mendapatkan Indira dan juga keturunan dari Indira adalah anugrah terbesar dan terindah baginya.


Oleh karena itu, sebisa mungkin Galang selalu menjadi suami dan calon ayah yang siap siaga menjaga istri dan calon anak mereka.


" Dira... Sayang... Minum dulu susunya ! " seru Galang sambil membawakan segelas susu untuk ibu hamil.


" Makasih ya, pa " ucap Indira yang kini mulai membiasakan diri memanggil Galang dengan sebutan papa.


Indira mengambil gelas dari tangan Galang lalu meminumnya hingga tandas. Bersamaan habisnya susu di dalam gelas, Galang berlari menuju toilet.


" Hoek... Hoek... " Galang memuntahkan isi perutnya karena rasa mual menyerangnya kembali.


Indira menghampiri Galang, lalu membantunya dengan memijit tengkuknya. Setelahnya, ia membawa Galang menuju tempat tidur.


Setiap pagi hari, mual dan muntah menyerang Galang. Terlebih setelah membuatkan susu untuk Indira. Mencium aroma susu saja sebenarnya membuat Galang mual. Namun demi istri dan anak yang dikandung Indira, Galang rela berkorban.


Indira membantu Galang berbaring lalu membalurkan minyak kayu putih agar Galang tidak merasakan mual. Ia juga mengambilkan segelas air hangat untuk sang suami.


" Lain kali, kamu gak usah buatin aku susu lagi. Aku bisa kok buat sendiri... " seru Indira melarang sang suami.


" Kamu gak mau aku buatin ? Aku kan mau perhatiin kamu dan anak kita " sahut Galang sambil mengusap perut Indira.


" Bukan gak mau diperhatiin, tapi kan kasihan kamunya. Setiap buat susu, pasti ujung-ujungnya mual dan muntah... " timpal Indira.


" Gak apa-apa, sayang. Demi kalian, aku rela ! Bahkan nyawaku sendiri jadi taruhan buat kalian aku rela " sahut Galang sambil mencium perut Indira yang masih terlihat rata itu.


Indira mengusap pucuk kepala Galang yang tengah mencium perutnya membuat Galang mendongak menatap sang istri yang menatapnya.


" Kenapa lihatin kayak gitu ? Baru sadar ya kalau punya suami yang ganteng, sabar, perhatian terus cinta banget sama kamu " ucap Galang sambil tersenyum smirk.


Ya ampun... Mulai lagi deh !


Indira memutar bola matanya, kalau sudah begitu rasanya malas meladeni sang suami. Indira mencoba untuk bangkit, namun Galang menahannya dengan melingkarkan tangannya di perut sang istri.


" Jangan pergi, disini aja ! Kalau melukin kamu begini, mualnya hilang " pinta Galang.


" Modus itu mah ! " sahut Indira namun tak berniat meninggalkan sang suami yang bergelayut manja, memeluknya.


Kebersamaan mereka terganggu saat ponsel milik Galang berbunyi. Indira mengambilkan ponsel milik Galang yang berada di dekatnya. Sepintas Indira melihat nama yang tertera di layar ponsel lalu menyerahkannya pada Galang.


Davina...?


Melihat nama pada ponselnya membuat Galang segera bangkit dan segera mengangkat panggilan tersebut.


" Iya kenapa, Vin ? " tanya Galang


" Oh gitu... Ya udah, ketemuan aja. Mau kapan ? " tanya Galang lagi.


" Oke deh, nanti aku siapin semuanya pas kita ketemu " jawab Galang lalu menutup panggilan.


Siapa Davina ? Tanyain gak ya ?


Batin Indira.


" Sayaang, aku pergi dulu ya ada urusan mendadak " ucap Galang lalu beranjak dari tempat tidur.


" Eh, memangnya udah gak mual lagi ? " tanya Indira yang begitu kaget melihat Galang yang terlihat bersemangat.


" Enggak, udah enakan nih " ucap Galang, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


" Tadi bilangnya kalau melukin, mualnya hilang. Tapi pas dapat telpon mualnya hilang juga, malahan langsung seger " dumel Indira yang merasa cemburu sekaligus penasaran dengan yang menelpon Galang tadi.


Galang kini telah rapi mengenakan kemeja dan celana bahan dibalut dengan jas yang senada dengan warna celananya. Harus Indira akui, semakin lama suaminya itu terlihat semakin ganteng dan berkharisma.


Indira memandangi Galang tanpa berkedip.


" Tumben rapi banget, memangnya mau ketemu sama siapa ? " selidik Indira.


" Ketemuan sama orang penting, makanya harus rapi gini " jawab Galang.


" Gimana suami kamu ini ? " tanya Galang lagi.


" Ganteng..." jawab Indira tanpa sadar.


" Apa ? Barusan kamu bilang apa ? " tanya Galang menyelidik.


" Eh, Bagus... Penampilan kamu bagus, rapi... " jawab Indira menutupi apa yang tadi ia ucapkan.


" Perasaan tadi gak ngomong itu deh " pancing Galang sambil mendekati Indira.


" Kalau gak salah tadi tuh kamu bilang ganteng. Iya kan ? " tebak Galang sambil menarik satu sudut bibirnya.


" Siapa bilang ? Kamu salah denger kali " kilah Indira.


Indira nampak gugup saat Galang mendekatinya, entah mengapa jantungnya berdebar tak karuan saat Galang mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibirnya dengan lembut.


" Gak usah ngelak lagi sayang... Aku tahu kok, kamu baru sadar kan kalau suami kamu ini selain sayang banget sama kamu, juga ganteng. Kamu juga pasti udah sayang sama aku kan " tuduh Galang sambil menaik turunkan alisnya kemudian menyematkan anakan rambut Indira ke telinga.


Indira akan membuka bibirnya, namun seketika Galang meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Indira.


" Aku gak terima penolakan kamu, sayang... Aku tahu kamu udah sayang sama aku, kamu cuma belum bisa mengekspresikan rasa yang kamu punya aja... Tapi aku yakin bisa buktiin kalau kamu sayang sama aku " sebut Galang mengelus wajah cantik sang istri.


" Aku pergi dulu ya... Kamu gak kemana-mana kan ? " tanya Galang kemudian.


" Aku mau ke restoran, boleh ya " pinta Indira.


" Boleh... Tapi gak bawa mobil sendiri. Dianter sopir aja ! " sahut Galang.


" Tapi... Kasihan nanti kalau ditungguin sopir, aku kan belum tentu pulangnya jam berapa " tolak Indira.


" Gak apa-apa, kamu di drop aja sama sopir. Nanti aku yang jemput kamu ke resto " seru Galang yang sudah pasti tidak ingin ditolak oleh sang istri.


" Bye, sayangnya Papa... Jagain mama ya ! " ucap Galang berbicara di depan perut Indira lalu mengecupnya. Tak lama ia pun mengecup kening sang istri sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar.


Selepas Galang pergi, Indira memikirkan penelpon yang tadi bernama Davina dan mengapa Galang langsung semangat saat mendapatkan telpon dari orang tersebut.


Walaupun Indira bersikap seolah tak peduli, tapi jauh di dalam hatinya ia merasa was was. Dengan sikap Galang yang ramah dan senang membantu, juga paras rupanya yang ganteng dan gagah membuat para wanita tentu jatuh hati.


Aih... Kenapa sih aku mikir yang enggak-enggak...


Masa iya aku cemburu ?


Tapi....Siapa itu Davina ? Apa salah satu mahasiswi lagi atau temen Galang yang lain?


Indira menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang menghampirinya.


Ck....Kok malah jadi kepikiran terus sih ? Bodo amatlah mau Davina kek, mau Davinci lah atau Davida ...Yang penting Galang sayang sama aku...


Batin Indira menghibur dirinya sendiri.


Tapi... Gimana kalau ternyata mereka ada hubungan lain...


Mau tahu siapa itu Davina ? 🤔🤔


Ikuti terus lanjutan cerita ini ya 🤗


Don't forget dukungannya 🤭🤭🙏🙏


Thank you. Love you all 🥰🥰😘😘