
Indira tengah mempersiapkan pakaian ganti dan perlengkapan milik Galang ke dalam tas jinjing. Galang akan dirawat inap paling lama 2 hari dan Indira bersikeras untuk menemani sang suami selama dirawat.
" Dira, biar papa yang jaga Galang nanti malam. Kamu kan sedang hamil " seru Papa Surya.
" Gak apa-apa, Pa... Dira mau temenin Bang Galang aja " jawab Indira.
" Tapi, Papa khawatir kamu kenapa-napa " ucap Papa Surya lagi.
" Papa jangan khawatir, nanti ada Bang Evan yang temenin Dira " jelas Galang sambil menenteng tas jinjing keluar dari kamar.
" Emang dasar kamunya aja yang gak mau pisah dari Indira " cibir sang ayah lalu berjalan mendekat ke arah Galang.
" Nah, Papa tahu aja ! " timpal Galang sambil tertawa kecil.
" Semoga semua berjalan lancar ya, Nak ! Papa akan selalu mendoakanmu. Papa juga percaya kamu pasti bisa melewati semuanya. Kalau gak bisa, berarti Dira harus siap-siap cari papa baru buat anak kalian nanti " goda Papa Surya sambil terkekeh.
" Ish, Papa ini malah ngomong yang enggak-enggak. Amit-amit deh kalau sampai anak Galang punya Papa baru ! " tukas Galang sambil menggidikkan bahu.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Galang langsung menuju ruangan rawat sebelum selanjutnya ia dibawa ke ruang tindakan.
Evan, Papa Surya, ayah Zaid, serta bunda Adinda terlihat berada di luar ruang tindakan. Sementara Indira masih menemani Galang sebelum sang suami dibawa masuk untuk dilakukan penyinaran.
" Sayang, doain Papa bisa lewatin ini semu ya ! Supaya bisa terus dampingi mama waktu kamu lahir nanti " ucap Galang mengajak bicara bayi yang ada di dalam perut sang istri sambil mengelus dan mencium perut Indira.
Indira mengusap kepala sang suami yang tengah mencium perutnya. Setetes air mata menitik di pipinya namun dengan segera Indira menyekanya sebelum Galang menyadarinya.
" Papa cepet sehat ya ! Dede bayi pasti doain Papa " ucap Indira menahan isakannya berusaha untuk kuat.
Galang menatap sang istri yang terlihat begitu berat melepasnya. Ia kemudian memeluk Indira yang langsung terisak dalam pelukannya.
" Aku pasti baik-baik aja. Kamu doain aku ya ! " ucap Galang lalu mengecup kening Indira sebelum akhirnya ia meminta doa kepada keluarga yang ada lalu masuk ke dalam ruang tindakan untuk melakukan penyinaran yang akan memakan waktu selama kurang lebih 1 jam lamanya.
Adinda memeluk sang putri yang nampak begitu khawatir. Lalu membawanya untuk duduk menunggu sampai Galang selesai menjalani pengobatannya.
" Sabar, sayang... Banyak berdoa dan berdzikir supaya Alloh mempermudah penyembuhan Galang ! " ucap Adinda mengingatkan sang anak yang dilanda risau.
Indira mengangguk lemah, berusaha untuk menenangkan diri dengan melafalkan dzikir sambil sesekali mengelus-elus perutnya.
Sementara itu, papa Surya, ayah Zaid serta Evan memilih untuk mengobrol santai sambil menunggu proses tindakan Galang.
Satu jam berselang, pintu ruangan pun terbuka. Perawat mendorong brankar yang membawa Galang yang masih dalam keadaan setengah sadar. Seluruh keluarga pun bergerak menuju ruang rawat.
Indira duduk di samping tempat tidur Galang. Dokter menyarankan agar Galang dirawat selama satu hari setelah tindakan untuk memonitor kondisi Galang paska tindakan.
" Hai, sayang... " sapa Galang dengan suara berat dan senyuman tersungging di wajahnya saat ia melihat sang istri berada di sisinya.
" Alhamdulillah kamu udah sadar. Gimana ? Ada yang kamu rasa ? " tanya Indira khawatir.
Galang menggelengkan kepala.
" Sudah lebih baik, sayang... Apalagi lihat kamu disini, semakin baik " jawab Galang sambil tetap tersenyum.
Indira membalas senyuman Galang dengan senyum manisnya.
" Astaga, kayaknya gula darah aku naik nih " ucap Galang membuat Indira bingung.
" Gula darahnya naik ? Kok bisa ? " tanya Indira heran bercampur khawatir.
" Iya, kalau lihat senyuman kamu kayak tadi tuh kemanisan langsung bikin gula darah naik " ucap Galang gombal.
" Tapi suka kan ? " Galang menaik turunkan alisnya.
" Ish, kayaknya udah sembuh beneran ini mah " tukas Indira sambil mencubit lengan Galang membuat Galang meringis.
" Aww... Sakit sayang ! " Galang mengaduh mengusap lengannya yang dicubit oleh Indira.
" Alhamdulillah... Kamu udah sadar, Lang " ucap Adinda saat memasuki ruangan rawat bersama suami dan besannya.
Ketiganya menghampiri Galang.
" Bang Evan kemana, bunda ? " tanya Indira karena tidak melihat keberadaan Evan bersama mereka.
" Evan lagi ke ruang dokter saraf. Kayaknya mau nanya kondisinya Galang " jawab Zaid mendekati putri juga menantunya.
" Ayah yakin kamu bisa melewati semua ini... Kamu suami juga calon ayah yang kuat " Zaid menepuk bahu Galang.
" Terima kasih, Yah " sahut Galang.
" Papa bangga sama kamu, Nak " ucap Papa Surya sambil memeluk Galang.
" Terima kasih Papa, ayah dan juga bunda selalu ada di sisi kami. Terima kasih sudah mendukung Galang bersama dengan Indira selama ini :..
" Sudah tugas kami sebagai orang tua untuk mendukung anak-anak kami " sahut Adinda dengan begitu tulus.
Tak lama berselang, Evan pun datang.
" Gimana keadaan kamu, Lang ? " tanya Evan kemudian.
" Alhamdulillah, mendingan Bang " jawab Galang.
" Syukurlah... " sahut Evan.
" Abang, dokter bilang apa ? " tanya Indira penasaran dengan kondisi sang suami.
" Tindakannya sukses ! Tapi Galang harus nginep disini dulu semalam untuk observasi pasca operasi.
Indira mengangguk paham.
" Kamu pulang aja, sayang ! Kasihan... Pasti anak kita capek " ucap Galang yang tak kuasa melihat Indira yang sedang hamil itu harus menungguinya di rumah sakit.
" Iya, Dira....Mendingan kamu pulang ke rumah bunda. Biar disini Papa sama Evan aja yang nungguin Galang... " seru Papa Surya kepada Indira.
" Tapi, Pa... "
" Iya, sayang. Suami sama papa mertua kamu itu bener. Lagian kamu kan lagi hamil besar, harus jaga kandungan. Gak baik terlalu lama di rumah sakit " tambah Adinda.
Indira menghela nafas lalu melirik ke arah Galang yang terlihat menganggukkan kepalanya.
" Ya, udah kalau itu yang paling baik, biar Dira pulang ke rumah Bunda. Tapi besok pagi, Dira pasti kesini lagi " ucap Indira setuju pada akhirnya.
Hingga kemudian, karena hari telah berganti malam, Indira pun segera pulang bersama ayah dan bundanya.
" Aku pulang ke rumah bunda ya... ! Kamu baik-baik ya. Jangan nyusahin Papa sama Bang Evan " ingat Indira sambil berpamitan pada sang suami.
" Iya, hati-hati ya sayang ! Sekarang kita boleh pisah dulu tapi setelah ini, gak akan ada yang pisahin kita " ucap Galang sambil mengecup kening dan bibir sang istri yang nampak begitu menggoda.
" Ya ampun....Kalian ini, suka gak lihat tempat dan kondisi kalau mesra-mesraan. Kamu lagi, Lang... Baru beres tindakan, bisa-bisanya mesum begitu. Sabar bentar kenapa sih... Kalau udah di rumah, kalian boleh ngapain aja. Mau dikekepin terus dari pagi sampai malem juga boleh " celetuk Evan sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat pasangan bucin yang satu ini.