
Indira mendelikkan matanya saat melihat siapa yang duduk di sampingnya. Ia segera menggeser duduknya memberi cukup jarak antara dirinya dengan Galang.
Indira menghapus air matanya dengan memakai sapu tangan yang diberikan Galang.
Galang tersenyum tipis, disaat yang sama Indira menatap ke arahnya membuat Galang segera mengusap tengkuknya.
" Ngapain sih kamu disini ? Nih, bawa balik sapu tangannya ! " ucap Indira ketus sambil meyerahkan sapu tangan yang tadi diberikan oleh Galang.
" Aku kasih itu buat kamu, sebagai barang pertama yang aku kasih buat kamu " sahut Galang enteng.
" Gak perlu... Nih bawa balik, atau aku pakai buat lap ingus nih ! " timpal Indira menyodorkan sapu tangan milik Galang lagi.
" Ya, gak apa-apa sih. Mau kamu pakai buat lap air mata atau lap ingus yang penting kamu udah pakai barang punya aku... " timpal Galang dengan santainya.
" Lagian ya, kalau udah dipinjemin tuh harusnya ucapin terima kasih ! Kamu kan dosen, masa sih gak ngerti ? Padahal kamu kan biasa ngajarin mahasiswa... "
" Stop ! Bawel banget sih ! Udah persis kayak emak-emak tahu " sela Indira jengkel.
Galang tergelak mendengar ucapan yang dikontarkan oleh Indira.
" Dih, malah ketawa ! " gerutu Indira sambil memutar bola matanya.
" Kayaknya sedihnya udahan nih, udah bisa ketus sama marah lagi soalnya " ledek Galang.
" Dasar rese ! " sentak Indira sambil melemparkan sapu tangan Galang dan tepat mengenai wajahnya.
Galang berdecak meraih sapu tangan yang dilempar oleh Indira. Ia mengambil sapu tangan lalu mendekati gadis pujaannya itu. Indira waspada saat Galang memepet tubuhnya lalu meraih tangannya dengan erat.
" Ish, Galang ! Mau ngapain sih ? Lepas iih ! " seru Indira yang sedikit was was dengan sikap Galang yang kini mencekal tangannya dan menatapinya dengan tajam. Wajahnya mendekati wajah Indira hingga Indira bisa merasakan terpaan hangat nafas Galang di wajahnya. Satu tangan Indira yang bergerak bebas menahan tubuh Galang agar memberi sedikit jarak, tidak terlampau dekat.
Galang tak mengatakan apapun, ia hanya menatap wajah Indira dengan tatapan yang tak bisa diartikan dengan nafas menderu membuat Indira tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa menahan nafasnya dan memejamkan matanya.
Galang lantas melepas pegangan tangannya lalu menjauhi Indira sambil terpingkal.
" Kamu pikir, aku mau ngapain ? " ucapnya lagi masih tergelak.
Indira kini menghembus nafasnya dengan lega.
" Ih, dasar Galang nyebelin ! " pekik Indira yang kemudian bangkit dari kursi.
" E eh mau kemana ? " tanya Galang, tangannya terulur menahan laju Indira.
" Pergi ke tempat yang gak ada kamu " Indira dengan cepat menjawab.
" Gak bisa ! Tanggung jawab dulu ! " seru Galang.
Indira mendelik,
" Tanggung jawab apa ? Memangnya aku ngapain kamu ? " dengus Indira tak terima.
" Ck... Masih nanya lagi ! " desis Galang lalu berdiri dan menghampiri Indira.
Galang meraih tangan kanan Indira lalu menaruh sapu tangannya di genggaman tangan Indira. Indira terlihat bingung dengan perlakuan Galang.
" Aku tuh lebih seneng lihat kamu ketus begini daripada sedih kayak tadi ! " ucap Galang lembut.
" Kalau kamu punya masalah, mendingan kamu ambil air wudhu terus sholat. Kamu berdoa minta jalan yang terbaik. Kamu harus inget, saat kamu menemui jalan buntu, masih ada banyak cara untuk sang maha pencipta menunjukkan jalan keluar. Meskipun tak sesuai keinginanmu tapi Tuhan selalu tahu kebutuhanmu ! " papar Galang kemudian pergi menjauhi Indira.
Indira terdiam sambil memegangi sapu tangan yang diberikan Galang hingga tak lama kemudian Indira membalik badannya, namun tak lagi menemukan Galang disana.
Indira menggenggam sapu tangan milik Galang. Ia berpikir jika ucapan Galang ada benarnya. Ia pun segera menuju mushola.
Indira melakukan apa yang Galang anjurkan. Setelah mengambil wudhu, ia mendirikan sholat lalu berdoa meminta kesembuhan sang ayah serta meminta jalan keluar untuk permasalahannya saat ini.
" Ya Alloh... Jika perjodohan ini memberikan kebaikan kepadaku dan keluargaku, maka tunjukkanlah jalan padaku, yakinkanlah aku, teguhkan pendirianku untuk menerimanya. Tetapi jika ini hanya akan menjadi keburukan maka kuatkan aku untuk menolaknya " Indira bermunajat dalam doanya.
Indira merapikan alat sholatnya, lalu keluar dari Mushola. Ia sedang memakai alas kaki saat sang kakak mengabarkan jika sang ayah telah sadar.
Indira membulatkan matanya, bergegas ia menuju ruang rawat sang ayah. Wajahnya yang kuyu kini terlihat berseri. Dari kejauhan Galang tersenyum melihat sang pujaan hati yang nampak lebih baik.
Dira... Jika sulit bagimu menerima perjodohan ini dan hanya akan membuatmu terluka. Aku rela melepasmu !! Aku rela mengorbankan perasaanku selama ini demi kebahagiaanmu !
Braak... !
Indira membuka pintu ruang rawat dengan tergesa. Setelah berlari menuju ruangan sang ayah, kini Indira bisa melihat sang ayah yang sudah membuka matanya.
" Ayah... " ucap Indira sambil memeluk Zaid dengan erat.
" Maafin Dira, yah ! Maaf... Dira gak mau ayah tinggalin Dira ! " tambah Indira lagi dengan deraian air mata.
" Hei... Sayang ! Memangnya Ayah mau kemana ? Mana mungkin ayah sanggup tinggalin Bunda sama Dira. Kalian kan tanggung jawabnya Ayah " jawab Zaid dengan senyum teduhnya.
" Janji sama Dira, ayah gak akan sakit lagi ! Dira takut ayah tinggalin Dira " sahut Indira sambil menyeka air matanya.
" Dira doakan saja supaya ayah selalu sehat ! " ucap Adinda sambil menepuk-nepuk bahu Indira.
Mereka semua kini bisa bernafas lega karena sang ayah sudah lebih baik. Mereka kembali berkumpul bersama sebagai keluarga yang utuh.
Zaid, Adinda, Evan, Bagas dan juga Indira.
Galang yang diam-diam mengintip kebersamaan mereka merasa begitu haru. Apalagi kini ia bisa melihat Indira yang tersenyum lepas diantara keluarganya... Galang pun segera menghubungi sang ayah untuk memberi tahu keadaan keluarga Zaid.
Sebenarnya Galang tadi akan mengunjungi Zaid dan Adinda di vila. Hanya saja ketika Galang tiba, ia mendapatkan kabar jika mereka sedang berada di rumah sakit. Galang mendatangi rumah sakit lalu mendapati jika Zaid akan dipindahkan ke rumah sakit lain. Diam-diam Galang mengikuti mereka dan akhirnya menemukan gadis pujaan hatinya menangis di taman sendirian. Galang bisa menebak jika Indira pasti menentang perjodohan mereka sehingga menyebabkan ayahnya sakit.
Galang berusaha menahan rasa di hatinya saat melihat Indira. Sungguh ia merasa sangat bahagia saat gadis cantik itu tersenyum dan merasakan tercabik saat gadis itu menangis.
Indira... Apakah kita akan berjodoh ?
Seandainya saja kamu tahu, namamulah yang selalu kusebut dalam doaku...
Indira, haruskah aku berhenti mengharapkanmu ?
Haruskah aku menghentikan langkahku untuk mendapatkanmu ?
Tuhan, jika dia memang jodohku berikanlah jalan padaku untuk meraihnya. Tapi jika dia tidak tercipta untukku. Ikhlaskanlah aku melihatnya bahagia