Adorable Love

Adorable Love
AL 30



Indira turun dari ranjangnya, namun segera dicegah oleh Evan.


" Kamu mau kemana ? Udah tiduran aja ! " seru Evan.


" Mana bisa Dira tiduran sementara suami Dira gak tahu keadaannya gimana. Abang... Tolong temenin Dira cari Galang " pinta Indira menatap pada Bagas.


" Abang bantu cari, tapi kamu istirahat aja disini " seru Bagas.


" Enggak, Dira mau ikut " Indira bersikeras untuk keluar dari kamarnya.


" Dira, inget kandungan kamu sayang ! " bujuk Adinda sambil merangkul Indira.


" Tapi Bang Galang, Bunda... Dira gak mau dia kenapa-napa " Indira terisak di pelukan sang Bunda.


Adinda bisa merasakan ketakutan yang dirasakan oleh sang putri. Sama halnya seperti yang pernah ia rasakan dulu.


" Sabar sayang... Galang pasti baik-baik aja ! Lebih baik kamu banyak berdoa ! " seru Zaid sambil duduk di samping sang putri lalu mengusap punggung Indira.


" Kalau gitu Bagas coba cari dulu sama Om Surya ya, Yah ! " pamit Bagas lalu bergerak menuju ke pintu untuk keluar dari kamar.


Baru saja Bagas membuka pintu, mata Bagas membelalak saat melihat Galang di balik pintu dengan kepala yang terbalut perban.


" Galang... Kamu baik-baik aja kan ? " tanya Bagas khawatir melihat Galang.


" Galang, baik-baik aja Bang. Cuma luka kecil mah, jamak lah " jawab Galang seolah tak terjadi apa-apa.


Mendengar suara sang suami, Indira bergegas turun dari ranjang kemudian berlari menghampiri sang suami.


" Hei... Hati-hati sayang ! Inget, ada anak kita lho disini " ucap Galang sambil mengelus perut Indira.


Indira memeluk raga sang suami yang terlihat lelah dan pias.


" Dira takut... Takut kamu gak pulang ! " ucap Indira dengan tangisan penuh haru karena bisa kembali memeluk sang suami.


" Aku kan udah janji pulang sebelum acara dimulai. Aku pasti punya cara untuk kembali pulang tak peduli sesulit apapun jalan yang harus aku tempuh " jelas Galang mendekap erat Indira lalu mengecupi kepala sang istri penuh cinta.


Galang menceritakan jika tadi memang ia terjebak longsor dan sempat terjatuh hingga kepalanya terluka. Tetapi, ia masih bisa menyelamatkan diri bersama dua orang pegawai perkebunan. Orang yang tadi mengantarkan motor adalah salah satunya. Karena terluka mereka kembali ke desa dan mengobati luka Galang dengan obat seadanya. Lalu Galang diantar dengan menggunakan mobil pengantar hasil kebun, sementara motornya dibawa pegawainya tadi.


Karena tadi shock, Indira tidak mendengarkan seluruh penjelasan yang diberikan pegawainya.


Setelah Galang membersihkan diri, Evan memeriksa Galang dan Evan menyarankan agar Galang memeriksakan diri ke Rumah Sakit guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, khawatir terjadi benturan keras saat Galang terjatuh.


Kini hanya Galang dan Indira yang berada di dalam kamar. Seluruh keluarga sudah menunggu di depan untuk memulai acara tasyakur kehamilan Indira.


Galang kini sudah berganti pakaian dengan menggunakan baju koko dan sarung, sementara sang istri nampak cantik dengan mengenakan gamis berwarna senada dengan baju koko milik Galang. Indira memakai pasmina untuk menutupi rambutnya.


" Wah, mama bayi cantik banget kalau pake hijab begini " Galang memuji penampilan sang istri.


" Jadi biasanya gak cantik nih ?" tanya Indira mengerucutkan bibirnya.


" Cantik... Tapi jauh lebih cantik kalau pake hijab begini... " jawab Galang sambil mengecup pipi sang istri.


" Kamu mau aku pakai hijab ? " tanya Indira lagi.


Galang tersenyum teduh.


" Sayang, kalau mau pakai hijab itu karena ketaatan sama Alloh, bukan karena aku lho ! Aku cuma ingetin kamu aja, kalau nutup aurat itu wajib " jawab Galang.


Indira memeluk Galang. Ia semakin bersyukur karena memilki suami seperti Galang.


" Ayo, kita ke luar. Kayaknya udah mau dimulai acara pengajiannya " ajak Galang menggandeng sang istri keluar dari kamar.


Diperlakukan bak seorang ratu oleh suami tercinta yang selalu mencurahinya dengan limpahan cinta dan kasih sayang.


Indira wanita yang sangat beruntung. Meskipun awal kisah perjalanan hidup mereka dilalui karena keterpaksaan tetapi bisa berakhir dengan kebahagiaan. Ya, tentu saja semua bisa terjadi karena ada rasa ikhlas dan mau menerima satu sama lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan kemudian,


Galang dan Indira kini berada di rumah sakit. Setelah perdebatan panjang dengan Galang, Indira berhasil membujuk Galang untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.


Belakangan ini, Galang sering merasakan sakit kepala, belum lagi rasa mual dan muntah yang tidak berkurang kendati kehamilan Indira sudah memasuki trimester kedua. Padahal kehamilan simpatik umumnya hanya berlangsung pada trimester pertama dan terkadang di trimester ketiga.


Sesuai arahan dari Evan, kali ini Indira mengantar Galang untuk memeriksakan diri. Indira khawatir ada hal yang membahayakan dalam tubuh sang suami akibat terjatuh dari motor saat longsor bulan lalu.


Galang kini tengah melakukan serangkaian pemeriksaan ditemani oleh Indira. Setelah selesai, mereka kini memeriksakan kandungan Indira. Kandungan Indira dalam keadaan baik dan bayi yang ada dalam kandungannya pun tumbuh dan berkembang dengan baik.


" Lusa, biar aku yang ambil hasilnya ya sayang... Kamu gak usah ikut, kasihan anak kita capek ! " ucap Galang saat mereka masuk ke dalam mobil.


" Tapi aku mau ikut, aku mau tahu hasilnya " sahut Indira.


" Mau ikut atau engga, kamu kan nanti juga tahu hasilnya sayang... " timpal Galang sambil menggenggam tangan Indira.


" Kalau gitu biar Bang Evan yang temenin kamu. Bang Evan kan dokter, jadi pasti dia lebih tahu banyak " ucap Indira lagi.


" Ya udah, terserah kamu aja. Yang penting kamu gak kecapean, sehat terus sama anak kita " timpal Galang sambil mengusap perut sang istri.


" Kita ke kampus dulu ya ! Aku mau kasih nilai anak-anak ke bagian akademik " pinta Indira.


" Siap istriku, sayang... " jawab Galang mengiyakan permintaan sang istri.


Keduanya segera menuju ke kampus. Sesampainya disana, Galang mengantar Indira masuk. Kini, Galang sudah bisa mengantar dan menjemput sang istri dengan leluasa karena Indira sudah mengenalkannya sebagai suami dari dosen muda yang cantik itu.


Galang menunggu di depan ruangan akademik, sementara Indira masuk untuk memberikan rekapan nilai ujian mahasiswanya.


" Udah selesai ? " tanya Galang begitu Indira keluar dari dalam ruang akademik.


" Udah " jawab Indira sambil tersenyum pada sang suami.


" Berarti, kamu bisa cuti kan ? Dosen pengganti kamu udah ada ? " tanya Galang lagi.


" Katanya sih udah ada, tapi gak tahu juga yang mana orangnya " jawab Indira jujur.


" Ya udahlah. Sekarang kita pulang, kasihan anak kita capek jalan-jalan terus " ajak Galang sambil meraih tangan Indira.


" Yang capek tuh mamanya, kalau bayi mah tinggal ikut aja " sahut Indira sambil terkekeh.


" Iya, iya... Nanti mama bayi, papa pijitin deh biar gak pegel " ucap Galang sambil menyeringai.


" Ish, kamu mah pijit plus-plus maunya " tukas Indira.


" Biarin atuh, papa kan udah kangen mau nengokin anak kita... " kilah Galang sambil menyeringai.


Indira hanya menggelengkan kepalanya, mengingat tingkat kemesuman sang suami yang tak pernah berkurang sedikit pun.


Saat keduanya berjalan, tiba-tiba seseorang tanpa sengaja menubruk Indira hingga menyebabkan Indira sedikit terhuyung namun dapat ditahan oleh Galang.


" Eh, maaf... Maaf ya mba, saya buru-buru " ucapnya sambil melihat siapa yang sudah ia tabrak.


" Lho Dira ? Kamu Indira kan ? " tanya pria berkaca mata yang mengenakan kemeja dan menenteng tas kerja saat melihat Indira. Senyuman lantas tersungging di wajah tampannya saat menatap Indira.