Adorable Love

Adorable Love
AL 22



Indira dan Galang kini berada di kamar Adinda dan Zaid. Mereka mengadakan candle light dinner bersama.


Bahkan mereka berbincang hingga larut malam, hingga akhirnya Indira dan Galang pamit untuk kembali ke kamar mereka.


" Sayang... Obatnya sudah bunda campur di minuman mereka kan ? " tanya Zaid pada sang istri.


Adinda mengangguk.


" Mas... Apa tidak salah kita mengambil jalan seperti ini ? " tanya Adinda ragu-ragu.


" Sudah, sayang... Jangan khawatir ! Lagi pula yang kita lakukan ini untuk kebaikan mereka juga. Sekarang mendingan kita berdoa saja supaya mereka berhasil " jawab Zaid santai.


" Berhasil apa Mas ? " tanya Adinda heran.


" Berhasil buatin kita cucu ! " jawab Zaid lalu membawa sang istri menuju peraduan mereka.


Sementara itu, Indira dan Galang yang baru saja masuk ke dalam kamar merasakan tak nyaman pada tubuh keduanya. Rasa panas menjalari tubuh mereka. Indira segera mengecilkan suhu pendingin udara, sementara Galang kini membuka pakaiannya dan memilih untuk mendinginkan tubuhnya dengan merendam diri di kolam renang.


" Perasaan malam ini panas banget sih... " ucap Indira tanpa sadar membuka pakaiannya hingga hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.


Indira melihat Galang yang asyik berendam di private pool mereka.


" Kayaknya enak juga berenang, biar ga gerah " gumam Indira.


Indira kemudian mengenakan handuk, lalu berjalan menuju kolam. Sesampainya di pinggir kolam, Indira segera membuka handuknya lantas masuk ke dalam air.


Lumayanlah, gak terlalu panas sekarang...


Batin Indira.


" Kamu kenapa berenang juga ? " tanya Galang saat menyadari Indira kini berada di dalam kolam.


" Perasaan panas banget. Sekarang lumayan adem lah " jawab Indira.


Galang menelan salivanya saat melihat Indira yang hanya mengenakan pakaian dalam saja saat berenang.


Aduuh... Kok nambah gerah sih lihat Dira disini...


Galang memejamkan matanya sambil menghembus nafasnya yang mulai tak beraturan. Belum lagi debaran di dadanya yang begitu kencang. Entah mengapa hasratnya semakin naik melihat tubuh seksi istrinya itu.


Hal yang sama dirasakan pula oleh Indira. Melihat Galang yang hanya memakai celana boksernya membuat darah dalam tubuh Indira berdesir. Sepertinya jantungnya memompa banyak darah mengalir ke seluruh tubuhnya.


Hingga entah bagaimana dan siapa yang memulai, keduanya kini begitu intim menikmati pagutan demi pagutan dengan sangat menggebu.


Seolah mereka kini tengah menggapai tangga untuk menuju puncak bersama-sama.


" Dira... Bolehkah aku..." Galang menggantungkan ucapannya. Hasratnya semakin menggila untuk memiliki Indira. Semakin ia menahan rasa yang ada, justru ia merasakan sakit.


" Heem....Lakukan saja ! " sahut Indira tak peduli bahkan mungkin tak sadar dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.


Yang mereka rasakan saat ini, hanyalah cara untuk menuntaskan hasrat yang sudah menggebu bahkan ingin segera meledak.


Galang kembali meraih bibir Indira. Ia merasai kembali manisnya bibir sang istri yang kini membalasnya hingga sesekali terdengar decapan akibat penyatuan dua benda kenyal yang sama-sama tengah mencari kenikmatan.


Ciuman Galang kini beralih ke ceruk leher Indira, membuat gadis cantik itu mengeluarkan de**han yang justru membuat Galang semakin berna*su. Hingga akhirnya Galang melepaskan pakaian dalam milik Indira di sela-sela ciuman panas mereka.


Tanpa dikomando, Galang menggendong tubuh sang istri lalu membawanya menuju ke dalam kamar. Tak peduli meskipun tubuh keduanya masih basah, Galang membaringkan Indira di atas ranjang lalu membuka pakaian dalam miliknya dan milik Indira yang masih melekat di tubuh mereka.


Galang menatap wajah sang istri yang terlihat begitu sayu.


" Sayang... Boleh aku melakukannya ? " Galang masih meminta ijin kepada Indira sebelum melakukan ritual yang akan menjadikan mereka pasangan suami istri sebenar-benarnya.


" Ya... Lakukan saja ! Mulai saat ini, aku milikmu seutuhnya " ucap Indira lagi seolah sangat siap menyerahkan semua yang ada pada dirinya kepada sang suami.


Entah berapa kali dan berapa lama kegiatan panas yang mereka lakukan. Yang pasti sejak malam itu mereka telah menyatu, sama-sama mengikatkan diri, saling memberi dan juga saling memiliki.


Matahari masih belum menampakkan dirinya. Tetapi Galang sudah membuka matanya memandangi sang istri yang kini sudah benar-benar menjadi istrinya. Galang sangat bersyukur akhirnya ia bisa melewati malam panjang bersama wanita yang sangat ia cintai.


" Sayang... Bangun yuk ! Udah shubuh " bisik Galang sambil mencium pipi Indira.


" Masih ngantuk nih ! " sahut Indira tanpa membuka kelopak matanya.


" Ayo, sayang ! Bebersih dulu ! " ajak Galang dengan sabarnya membangunkan sang istri yang ia tahu baru saja tertidur beberapa waktu yang lalu setelah menghabiskan malam pertama mereka.


" Dira sayang... Istriku, sholehahku ! Ayo mandi, atau kamu mau aku ulangi lagi yang terjadi semalam... Aku masih kuat lho ! " goda Galang.


Indira langsung membuka paksa matanya.


" Ya ampun, engga lagi deh " sahut Indira lalu segera bangun.


Galang terkekeh sendiri melihat lucunya sang istri yang justru terlihat canti dan menggemaskan dengan wajah bantalnya.


Indira hendak bangkit dari kasur, namun ia merasakan perih di area sensitifnya.


" Aww... " pekik Indira, membuat Galang segera menghampiri istrinya itu.


" Kenapa sayang ? "


" Sakiit... Gara-gara kamu nih ! " rengek Indira mengerucutkan bibirnya.


" Gak usah nyalahin ! Ini kan gara-gara kamu juga ngijinin aku. Ya aku gak mungkin nolak lah " kilah Galang.


" Udah sayang, sakit mah bentaran doang. Yang penting enak kan... " Galang menaik turunkan alisnya.


" Ish... Dasar mesum ! " cemooh Indira.


" Tapi suka kan... Buktinya terus-terusan minta nambah " seloroh Galang tersenyum nakal.


" Iih... Kamu kalau ngomong suka... "


" Suka bener... Iya, tahu kok ! Aku kalau ngomong memang suka bener. Ada masalah ? " potong Galang membuat Indira berdecak.


Tak lama, Galang menggendong tubuh Indira. Indira yang masih dalam keadaan polos itu, melingkarkan tangannya di leher Galang serta menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.


" Kenapa ngumpet ? " tanya Galang heran.


" Malu tahu ! " jawab Indira tanpa mengangkat wajahnya.


Galang menarik kedua sudut bibirnya.


" Gak usah malu... Aku udah lihat semuanya, udah hafal juga semua yang ada di kamu " bisik Galang membuat Indira semakin melesakkan wajahnya ke dada Galang.


Mereka berdua kini membersihkan diri. Tanpa ada tambahan ritual suami istri seperti semalam. Meskipun Galang ingin melakukannya, tapi ia tak ingin egois. Galang memahami jika sang istri mengalami kelelahan karena aktivitas panas dan panjang mereka sepanjang malam.


Pintu terdengar diketuk, Galang segera membuka pintu kamar. Ternyata Ayah Zaid dan Bunda Adinda sudah berada di depan pintu. Mereka menyisir penampilan Galang yang nampak begitu sumringah pagi ini.


" Seger banget kamu, Lang ? Udah berhasil ya ! " tembak Zaid yang seketika membuat Galang seperti kehilangan muka menghadapi mertuanya itu.


Zaid tersenyum tipis melihat raut wajah menantunya itu yang terlihat memerah.


" Mas... Jangan sok tahu ! " seru Adinda.


" Siapa yang sok tahu sih... Mas cuma menyimpulkan saja " sanggah Zaid tersenyum miring.


Menyadari jika menantunya itu merasa malu, membuat Adinda pun tersenyum tipis. Kemudian ia meminta Galang untuk membawa Indira ke restoran untuk sarapan bersama.