
Indira menyiapkan sarapan untuk suami dan ayah mertuanya. Sudah beberapa hari, Indira cuti dari kegiatan mengajarnya. Sesekali saja ia pergi ke restoran atau menemani sang suami ke perkebunan.
" Hem, masak apa sayang ? " tanya Galang menghampiri sang istri yang sedang asyik memasak.
" Buat nasi goreng aja sih... Kamu mau coba ? " tanya Indira sambil menyendok nasi di wajan lalu menyuapkan ke mulut Galang setelah sebelumnya meniup nasi yang masih panas itu.
" Hm... Enak banget, sayang. Emang ya istrinya Bang Galang ini pinter segala-galanya. Tambah sayang deh ! " ucap Galang sambil mengecupi tengkuk Indira.
" Ish, udah ah. Kamu tuh kalau udah kayak gini pasti keterusan " Indira menghindar dari Galang.
" Keterusan apa sayang ? " tanya Galang menggoda sang istri.
" Keterusan itu lho, yang bikin kamu keenakan " jawab Indira asal.
" Yang gimana sih yang bikin aku keenakan ? " timpal Galang lagi dengan menunjukkan seringai tengil di wajahnya.
" Ck, udah ah ! Gak usah diomongin entar pengen lagi " sewot Indira.
" Ish tahu aja kalau aku lagi pengen enak " sahut Galang tersenyum mesum sambil mencolek dagu sang istri.
" Udah sana ah. Tolong panggilin Papa Surya, supaya bisa sarapan bareng ! " seru Indira menyudahi pembicaraan yang pasti tak akan ada ujungnya jika membahas yang enak-enak bersama Galang.
" Siap, mama bayi... Istriku sayang ! " ucap Galang mengecup pipi sang istri kemudian berlalu dari dapur.
Indira tersenyum sendiri saat Galang meninggalkannya. Ia tak menyangka bahwa dirinya akhirnya bisa mencintai Galang seutuhnya. Indira mengelus perutnya sambil tersenyum, membayangkan jika nanti ia memiliki anak laki-laki yang kelakuannya sebelas, dua belas dengan Galang. Akan jadi seperti apa dunianya ?
Indira menyudahi lamunannya, lalu segera menyiapkan makanan yang selesai dimasaknya ke meja makan dibantu oleh asisten rumah tangga mereka.
Galang dan Papa Surya sudah siap di meja makan.
" Dira... Kamu jangan terlalu capek ! Kamu harus ingat kalau kamu lagi hamil. Biar Bi Siti aja yang kerjain " nasehat ayah mertuanya.
" Gak apa-apa, Pa. Dira gak capek kok, cuma masak ini " sahut Indira sambil duduk di samping sang suami yang sudah siap di depan meja makan.
" Iya, sayang... Papa tuh bener, kamu jangan capek-capek. Udah capek siangnya terus malam harus capek juga layanin aku " oceh Galang cuek yang sukses membuat Indira terbatuk dan hampir tersedak.
Ya ampun ! Dasar suami mesum gak tahu tempat
Gerutu Indira dalam hati saat meminum segelas air minum, kemudian menginjak kaki Galang.
" Hei, sayang... Kok aku malah diinjek sih " ucap Galang dengan sengaja mengeraskan suaranya membuat Indira semakin kesal.
" Ih, kamu tuh kalau ngomong... " Indira mendelikkan mata.
" Suka bener kan ? Memang aku ini kalau ngomong suka bener kok, sayang... " potong Galang sambil mengedipkan sebelah matanya.
Galang terkekeh geli melihat sikap sang istri yang kesal dan salah tingkah di hadapan sang ayah sementara Papa Surya tertawa kecil melihat tingkah polah anak dan menantunya.
" Sudah, Dira... Maklumin aja ! Galang tuh memang begitu orangnya, apalagi berasa di atas angin dia karena udah bisa nikahin sama hamilin kamu ! " ucap Papa Surya enteng.
" Emang maunya Galang aja nikahin Dira ? Papa juga mau kan punya menantu Indira, makanya Papa jodohin Galang sama Indira... " tukas Galang.
" Siapa sih yang gak mau punya menantu kayak Dira begini... Untung aja Dira mau nerima kamu, harusnya kan dia dapetin yang lebih dari kamu " cibir Papa Surya.
" Dih, Papa kok malah ngomong gitu sih... Padahal kan Papa sama ayah Zaid yang punya niatan jodohin Galang sama Indira " sahut Galang tak mau kalah.
" Iya, tapi kan kamu juga mau ! Kamu tahu gak Dira, dulu dia ini nolak dijodohin sama kamu karena sudah punya calon sendiri. Tapi begitu tahu kalau kamu yang dijodohin, eh langsung nerima " ucap Papa Surya lagi.
" Kenapa bisa gitu, Pa ? " tanya Indira ingin tahu.
" Orang calon yang dia pilih itu ya kamu, Dira... " jawab Papa Surya sambil tertawa mengingat sikap Galang saat akan dijodohkan.
" Awalnya nolak mati-matian, eh pas tahu kamu orangnya ngebetnya mati-matian juga " ucap Papa Surya sambil terkekeh.
" Itu kan jalan satu-satunya biar Galang bisa jadi suaminya Dira. Lagian Dira juga gak nyesel jadi istrinya Galang. Iya kan sayang ? " sahut Galang sambil menatap sang istri dengan penuh cinta.
Indira menggenggam tangan Galang.
" Iya, Dira gak nyesel jadi istri kamu. Dira bahagia jadi istri dan ibu dari anak kita " ucap Indira.
" Tuh, denger sendiri kan Pa... Usaha Galang selama ini gak sia-sia " ucap Galang dengan percaya diri.
Papa Surya tersenyum. Ia bahagia karena akhirnya putra semata wayangnya mendapatkan kebasagiaannya bersama wanita yang dicintai.
Acara sarapan pun akhirnya selesai. Papa Surya segera berangkat ke perkebunan, sementara Galang memilih untuk menemani sang istri tercinta.
Kini mereka berada di ruang keluarga, Indira duduk bersandar di sofa sambil menonton televisi. Sementara Galang memilih berbaring di sofa dengan kepala berada di atas paha Indira. Galang sesekali mencium perut Indira yang berada di depan wajahnya.
" Hai... Sayangnya Papa, lagi ngapain ? " tanya Galang berbicara dengan bayi yang berada dalam kandungan sang istri.
" Lagi nonton, Papa sayang... " jawab Indira menirukan suara anak kecil.
" Papa sayang banget sama kamu dan mama " ucap Galang sambil menciumi perut Indira dengan gemas.
Indira tersenyum sambil mengelus kepala Galang yang berada di atas pahanya.
" Sayang, kapan kamu periksa lagi ke dokter ? " tanya Galang menatap sang istri.
" Jadwalnya sih 2 minggu lagi. Emang kenapa ? " Indira balik bertanya.
" Kalau nanti periksa, udah bisa ketahuan kan jenis kelaminnya " jawab Galang.
" Kayaknya sih gitu. Nanti aja kita tanyain sama dokter pas periksa " sahut Indira.
" Ah, kayaknya kamu ini jagoannya Papa deh " tebak Galang sambil mengusap perut sang istri.
" Tahu darimana ? " tanya Indira.
" Feeling aja sih sayang... Tapi mau laki-laki atau perempuan sama aja. Yang pasti aku bakalan sayang banget sama dia dan mama bayi " jawab Galang sambil menatap Indira dengan penuh cinta.
Indira merasa salah tingkah saat Galang menatapnya, oleh karena itu, ia mencoba mengalihkan pandangannya ke layar televisi.
Sampai akhirnya, Indira mengingat pemeriksaan Galang tempo hari.
" Bang Ga... Hasil pemeriksaan kemarin udah kamu ambil ? " tanya Indira menatap Galang dengan intens.
" Belum sih. Entar ajalah, sekalian anter kamu ke dokter periksa kehamilan anak kita ini " jawab Galang asal.
" Aih... Kamu nih, yang namanya buat kesehatan... Jangan dinanti-nanti. Syukur alhamdulillah kalau sehat..Tapi kalau sakit kan bisa diobati sedini mungkin " sahut Indra bijak.
" Kamu gak sembunyiin apapun kan dari aku ? " tanya Indira kemudian.
Glek...
Galang menelan salivanya dengan susah payah.
Cerita jangan ya...?
Apa sih sebenarnya yang terjadi dengan Galang ?
Galang bakalan jujur atau enggak ya sama Dira ?
Ikuti terus cerita ini, nikmati aja dulu alurnya !
Gak usah khawatir, Galang akan selalu ada buat Indira๐ค๐ค
Thank you all ๐๐