
Indira sudah berada di dalam mobil. Seperti permintaan sang suami, ia kini duduk manis di jok belakang karena diantar oleh sopir.
Indira keluar dari mobil saat sudah sampai di depan restoran miliknya. Indira melihat ke arah tempat parkir.
Kok mobil Galang ada disini sih ?
Tanpa pikir panjang, indira segera masuk ke dalam restoran. Ia bergerak menuju kantor, namun kemudian ia melihat sosok Galang bersama seorang wanita mengenakan hijab masuk ke dalam sebuah ruangan privat.
Jangan-jangan perempuan itu yang namanya Davina...
Indira menduga-duga.
" Kalau mau ketemuan sama perempuan lain kenapa harus disini sih " gerutu Indira tak terima.
Indira yang semula berjalan menuju ruang kerjanya, kini malah berjalan menuju ruangan privat yang dimasuki oleh Galang tadi.
Tiba di depan pintu, Indira sempat merasa ragu untuk membuka pintu. Ia hanya berdiri di depan pintu dengan tangan yang sudah memegang handle pintu.
" Mba... Mba Dira... " sapa seseorang yang ternyata manajer restorannya.
" Eh, kenapa Pak ? " tanya Indira.
" Ruang ini udah dibooking untuk meeting... " jawabnya.
" Iya, saya cuma mau ketemu suami saya aja " sahut Indira.
" Maaf ya, Mba... Tapi tadi Mas Galang minta supaya gak ada yang ganggu meetingnya " ucapnya.
Indira menarik nafasnya. Bagaimanapun rasa penasarannya, ia harus profesional karena saat ini Galang adalah pelanggan restorannya.
Indira tak jadi masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia memilih untuk berjalan menuju ruangannya meskipun ada banyak tanya di benaknya.
Di dalam ruang kerjanya, Indira justru tak fokus. Mondar-mandir berkeliling ruangan. Sebentar duduk di sofa kemudian pindah ke kursi kerjanya.
Menyalakan laptop tapi sama sekali tak mengerjakan apapun. Bayangan Galang dengan wanita berhijab tadi yang kemungkinan bernama Davina itu menari-nari di pikirannya.
Masih teringat oleh Indira sikap Galang saat bertemu mahasiswi KKN saat di cafetaria kampus. Betapa Galang begitu ramahnya dengan mereka yang hanya dikenalnya selewat saja. Apalagi dengan Davina yang malah bisa bebas bertelponan ria dengan sang suami.
Semakin kalut pikiran Indira membayangkan yang tidak-tidak tentang Galang dan Davina, hingga kemudian Indira memilih untuk keluar dari kantornya dan berjalan mengelilingi restorannya.
Indira berkeliling sambil sesekali melihat ke arah ruangan yang digunakan oleh Galang yang masih tertutup rapat, padahal ini sudah 2 jam berlalu.
Indira menatapi ponselnya, berharap sang suami menghubunginya atau mengiriminya pesan receh seperti biasa. Tetapi keinginannya itu tak terjadi.
Indira menekan tombol panggilan ke nomor sang suami, namun ternyata ponsel Galang dalam keadaan tidak aktif.
" Ish... Dimatiin lagi ! Kamu lagi ngapain sih sama si Davina itu " gerutu Indira sambil menatap layar ponselnya.
Hingga kemudian Indira melihat pintu ruangan terbuka dan nampak Galang yang dipapah oleh seorang pria diikuti wanita berhijab yang tadi dilihatnya bersama dengan Galang.
Pria itu mendudukkan Galang di kursi, lantas ia meninggalkan Galang bersama wanita itu. Indira bahkan melihat dengan jelas jika wanita itu kini membuka jas yang dikenakan oleh Galang.
" Ih... Apa-apaan ini, berani banget dia ! " dumel Indira yang tidak terima ada wanita lain melayani suaminya.
Indira bergerak menghampiri tempat Galang duduk bersama wanita itu.
" Mba mau apain suami saya ? " tanya Indira ketus saat melihat wanita berhijab itu akan membuka kancing kemeja Galang.
" Eh, Dira... Untung kamu disini ! " ucap wanita berhijab tadi sambil menengok ke arah Indira.
" Lho... Kak Amel ? " tanya Indira heran saat melihat wajah wanita berhijab itu, yang ternyata adalah kakak sepupu Galang.
" Nih, suami kamu meeting malah mual-mual terus dari tadi sampai lemes gini dia. Kamu urusin deh... Kalau sakit harusnya bilang " jawabnya lalu membiarkan Indira mendekati Galang sambil memberikan minyak kayu putih pada Indira.
Seorang pria yang tadi memapah Galang kemudian datang dengan membawa segelas air hangat.
" Mas, bisa tolong bantu saya bawa suami saya ke ruangan saya ? " tanya Indira saat melihat pria itu.
" Iya, Mar... Mendingan bantuin aja, biar si Galang diurusin sama istrinya aja " seru Kak Amel kemudian.
Akhirnya Galang dibawa masuk ke ruangan Indira, lalu dibaringkan di sofa. Indira dengan setia menunggui Galang di sofa, bahkan kekesalannya yang tadi menggunung, menghilang saat melihat kondisi Galang saat ini.
Galang mengerjapkan matanya, melihat sang istri berada di sisinya ia tersenyum lantas melingkarkan tangannya di perut Indira yang duduk di sisinya.
Setelah menghirup aroma tubuh sang istri, Galang nampak lebih baik. Bahkan kini ia bisa bangun dan duduk dengan tegak.
" Dih, emang ya ngidam kamu gak bisa jauh dari Dira. Baru ketemu aja langsung seger ! " oceh Kak Amel.
" Udah ah, Kakak balik lagi ya ! Nanti kalau udah baikan kamu balik ke dalam ya ! " seru Kak Amel.
" Makasih ya, Kak... Maaf ngerepotin " ucap Indira.
" Udah, gak apa-apa kok. Kita berdua balik meeting dulu ya " ucap Amel lalu segera keluar dari ruangan tersebut bersama pria tadi.
Indira hanya diam saat Galang menempel kepadanya.
" Sayaang... Kok diem aja sih ? " tanya Galang heran.
" Tadi di rumah katanya udah mendingan, makanya pergi... " omel Indira.
" Iya... Maaf sayang ! Soalnya meeting ini penting banget, jadi aku harus datang sebagai penanggung jawabnya " sahut Galang.
" Penting... Penting... Segitu pentingnya sampai bisa lupa kalau kamu tuh bisa mual-mual kalau jauh dari aku " oceh Indira lagi.
" Iya, maaf sayang. Gak lagi-lagi deh jauh dari kamu. Nanti lagi kemana-mana aku bawa kamu terus " sahut Galang enteng.
" Kalau udah gini, inget sama istri. Tadi waktu ditelpon si Davina gak inget gak bisa jauh dari istri. Kalau gitu, kamu deket-deket aja sama si Davina, minta dia obatin kamu ! " ceroscos Indira menumpahkan kekesalannya.
" Dih....Amit-amit diobatin dia. Obat aku tuh cuma kamu, sayang... " rayu Galang sambil memegang tangan sang istri.
" Bohong ! Bilang sama aku udah berapa lama kamu ada hubungan sama si Davina itu " seru Indira.
" Ya, udah lama... Sejak jaman kuliah kita udah deket " jawab Galang apa adanya.
Jawaban Galang itu justru membuat Indira makin kesal. Bahkan Indira berusaha menahan air matanya agar tidak menetes.
" Udah lama ? Terus kenapa kamu pilih aku tapi kamu gak bisa lepas dari dia " ucap Indira dengan suara terbata.
" Kamu kenapa sih ? Kok malah bahas si Davina gitu. Orang aku maunya kamu " tegas Galang berusaha membuat sang istri menatapnya.
" Aku tuh beneran sayang sama kamu. Gak ada perempuan lain di hati aku, selain kamu. Percaya deh sama aku. Si Davina mah jangan dianggap " tambah Galang.
Indira memalingkan wajahnya, sementara Galang tersenyum simpul melihat sang istri yang dilanda cemburu.
" Kamu cemburu sama Davina ? " selidik Galang kemudian.
" Enggak... Ngapain cemburu sama dia, kalau kamu mau sama dia, ya udah sama dia aja sana ! " elak Indira.
" Beneran nih... Bolehin aku sama dia ? " goda Galang lagi.
" Iya bener... Tapi sebelumnya lepasin aku dulu ! " tegas Indira menatap Galang dengan serius.
" Jangan harap kamu bisa lepas dari aku ! Inget Dira, cuma kematian yang bisa pisahin kita " sahut Galang balas menatap Indira dengan lekat.