
Indira menghempaskan tubuh Galang agar menjauh darinya, ia berdiri dari sofa lalu menjauh dari sofa. Kini ia tak bisa membendung laju air matanya lagi.
" Kamu jahat ! Kamu bilang sayang sama aku, kamu bilang gak mau tinggalin aku. Tapi buktinya kamu malah deket sama perempuan lain " tuding Indira sambil terisak.
Galang berjalan menghampiri sang istri lalu meraih Indira ke dalam pelukannya.
" Aku memang sayang sama kamu, aku gak akan mungkin tinggalin kamu. Gak ada perempuan yang deket sama aku... Aku tuh cuma mau deket sama kamu aja, sayang... Percaya sama aku ! " ucap Galang mengelus punggung sang istri.
" Bohong ! Terus Davina itu siapa ? Dia perempuan yang deket sama kamu kan ? Kalau kamu deket sama dia, kenapa kamu pilih aku ? " ucap Indira lagi sambil memukuli dada Galang.
" Karena aku cuma mau kamu, bukan yang lain ! Apalagi si Davina itu. Mana mungkin aku nikah sama dia. Aku ini laki-laki normal " sahut Galang kemudian.
" Maksudnya gimana ? " tanya Indira, kini ia mengangkat wajahnya menatapi wajah sang suami.
Galang menyeka air mata yang tertinggal di wajah sang istri.
" Sebentar aku panggil dia kesini " ucap Galang lalu mengambil ponselnya yang tadi di non aktifkan lalu menyalakannya.
" Vin, kamu ke ruang kerja Dira, sekarang ! Iya, ruangan yang tadi " seru Galang saat berhasil menghubungi Davina.
" Sebentar ya sayang... Setelah ini kesalah pahaman ini segera selesai " ucap Galang menenangkan sang istri.
Bukannya tenang, Indira justru merengut saat mengetahui Galang justru memanggil Davina ke ruang kerjanya.
Suara ketukan terdengar dan Galang sendiri yang membukakan pintu. Hingga tampaklah seorang pria tampan yang tadi membawa Galang ke ruangan ini. Pria itu tersenyum menatap Indira yang nampak bingung.
" Nah, sayang... Kenalin ini Davina " ucap Galang sambil berjalan menghampiri sang istri.
Indira terkesiap, ia tak pernah menyangka jika Davina adalah seorang laki-laki. Bahkan laki-laki yang lebih tampan dari suaminya.
" Halo Dira... Seneng akhirnya bisa ketemu kamu juga... " ucapnya ramah sambil mengulurkan tangannya yang justru langsung ditepis oleh Galang.
" Udah gak usah salaman, bukan muhrim " jawab Galang sekenanya.
" Sialan, kalau tahu istri kamu cantik begini. Udah gue gebet duluan ! " seloroh Davina.
" Makanya, gak dikasih tahu... Biar gak bisa lo gebet " sahut Galang asal.
Indira hanya diam menyaksikan interaksi kedua pria yang ada di depannya itu.
" Sayang... Kok diem aja sih " heran Galang sambil mendekati Indira.
" Temen kamu cakep-cakep, namanya kok Davina sih ? Kayak perempuan " ucap Indira pelan.
Davina bisa mendengar ucapan Indira meskipun sudah berbicara sepelan mungkin.
" Nama aku sebenarnya bukan Davina. Itu tuh nama singkatan dari kepanjangan nama aku " ucapnya menjelaskan.
Indira menautkan kedua alisnya.
" Iya, sayang... Namanya Damar Alvino Narendra, nah biar gampang kita singkat aja jadi Davina. Tapi orang lain biasanya manggil dia Damar, kayak Kak Amel tadi manggil dia Damar " jelas Galang kemudian.
" Sorry ya, waktu kalian nikah aku gak bisa datang. Soalnya lagi ada kerjaan penting, ini juga baru datang seminggu yang lalu terus dikasih proyekan sama suami kamu ini jadi belum sempet kenalan deh " beber Damar.
" Sekarang kamu udah tahu kan, jadi gak perlu cemburu lagi sama Davina atau perempuan mana pun. Aku tuh cuma sayang sama kamu " ucap Galang sambil tersenyum teduh.
" Gak usah cemburu gitu Ra... Percaya deh cuma kamu satu-satunya perempuan yang ada di hatinya. Aku jamin, sejak dulu dia gak pernah lirikin perempuan mana pun. Yang dilirik cuma foto kamu waktu SMA. Coba aja kamu periksa dompetnya, pasti masih ada disana " cerita Damar.
" Dasar ember ! Udah sana, balik lagi meeting ! " titah Galang sambil membulatkan matanya.
Damar terkekeh melihat Galang yang nampak salah tingkah saat rahasianya dibongkar.
" Oke... Oke....Gue balik ! Eh, Ra... Jangan lupa ya, kamu lihat dompetnya Galang ! " seru Damar lagi sambil berlari keluar dari ruangan Indira.
Indira menatap Galang dengan intens,
" Kenapa ? Omongan si Damar gak usah kamu anggap " ucap Galang seolah paham maksud tatapan Indira.
" Mana dompet kamu ? Siniin aku mau lihat ! " seru Indira sambil menengadahkan tangannya meminta dompet Galang.
" Gak ada apa-apa di dompet aku, sayang... " tolak Galang.
" Kalau gak ada apa-apa kenapa takut, siniin ! Dira mau lihat ! " seru Indira lagi.
Akhirnya, Galang memberikan dompetnya kepada Indira. Indira memeriksa dompet milik Galang dan menemukan fotonya saat masih berseragam putih abu. Indira mengambìl foto tersebut, lalu melihat bagian belakang fotonya yang terdapat tulisan.
" Wish you be my lovely wife... From the world till jannah. Aamiin..." ucap Indira membaca tulisan itu.
Air mata kembali mengalir di pipinya Indira. Ia tak pernah mengira jika Galang mencintainya begitu besar dan tulus selama ini.
" Eh, kamu kenapa nangis sayang ? " tanya Galang khawatir saat melihat sang istri yang justru menangis alih-alih mencemoohnya.
Indira memeluk Galang saat suaminya itu mendekat padanya.
" Terima kasih, terima kasih sudah mencintaiku sebegitu besarnya dan terima kasih karena sudah sabar menungguku selama ini. Aku berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik... Kita bersama-sama membangun keluarga kita yang penuh cinta dan kasih sayang " ucap Indira kemudian.
Galang tersenyum, ia membalas pelukan sang istri dengan erat lalu mengecupi pucuk kepalanya.
" Terima kasih sudah menerimaku... Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, membahagiakan anak-anak kita nanti. Aku akan selalu mengharapkanmu menjadi bidadariku di dunia dan di akhirat kelak " ucap Galang dengan lembut lalu mencium kening sang istri.
" Kamu dan anak kita, prioritasku saat ini... Semoga kita bisa selalu bersama menjalani kehidupan ini... " harap Galang yang segera diaminkan oleh Indira.
Setelah cukup waktu berehat, kini Galang kembali mengikuti meeting. Kali ini, ia ditemani oleh sang istri agar tidak mengalami mual dan muntah lagi.
Ternyata tak hanya Galang yang mengikuti meeting. Sang ayah dan ayah mertuanya pun ikut andil dalam meeting yang membicarakan rencana pembangunan madrasah dan perbaikan infrastruktur di desa.
Indira sangat bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik, yang dengan ringan tangan mau membantu memperbaiki dan membangun desa yang tertinggal.
Jauh di dalam hatinya, Indira merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Galang. Meskipun pernikahan mereka dilakukan karena terpaksa. Namun seiring berjalannya waktu hanya ada ketulusan dan kasih sayang yang menghiasi hari-hari mereka.
Begitu pula dengan Galang, yang benar-benar bahagia bisa mendapatkan wanita pujaan hatinya. Ia sangat bersyukur, seolah semesta mendukungnya untuk bersatu dengan wanita yang sangat diingininya untuk menjadi pendamping hidupnya. Galang berjanji akan selalu memberikan yang terbaik untuk keluarganya.