Adorable Love

Adorable Love
AL 12



Galang membawa koper miliknya dan milik sang istri. Mereka baru saja tiba di kediaman mertua Galang. Keduanya sepakat untuk tinggal di rumah Adinda lebih dulu sebelum nantinya mereka akan tinggal bersama Pak Surya.


Kini keduanya telah berada di dalam kamar Indira. Galang memperhatikan sekeliling ruangan kamar sang istri yang didominasi oleh warna putih dan coklat yang meneduhkan.


Galang kemudian menyusuri ruangan kamar, melihat beberapa foto yang terpajang di dinding kamar. Foto masa kecilnya, masa sekolah hingga foto kuliah dan wisudanya. Semua terpajang dengan rapi termasuk foto keluarga sang istri.


Galang berdecak kagum, sang istri memang cantik bahkan sudah cantik sejak lahir dan ia sangat beruntung bisa menjadikan Indira sebagai istrinya. Galang tahu jika ia harus bersaing dengan banyak pria yang menginginkan Indira. But, who care ? Yang penting saat ini dialah pemenangnya.


" Kamu lagi ngapain ? " tanya Indira yang baru saja masuk ke dalam kamar.


" Kamu... Kamu... Panggil suamiku sayang apa susahnya sih " celetuk Galang melihat sang istri.


" Diih... Ogah ! " sahut Indira sambil berjalan menuju ranjangnya.


Galang hanya tersenyum simpul melihat sikap Indira yang masih saja bersikap ketus kepadanya. Entah harus berapa banyak kesabaran yang disiapkan oleh Galang menghadapi dan memenangkan hati sang istri.


" Galang... " panggil Indira.


Galang tak mempedulikan panggilan Indira. Indira kemudian memanggil Galang kembali, namun lagi-lagi Galangbtak menanggapi. Hingga panggilan ke tiga kali pun, Galang masih pura-pura tak mendengar, membuat Indira kesal, lantas menghampiri Galang.


" Galaaang... " ucap Indira berada di belakang Galang sambil menarik pakaian Galang.


Grep... Galang dengan cepat membalik badannya dan memeluk tubuh Indira.


" Galang lepas ! " Indira memukul-mukul dada Galang berusaha melepaskan dirinya.


" Bilang apa tadi ? " tanya Galang sambil menatap wajah Indira.


" Galang... "


Cup, sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Indira membuat bola mata Indira melebar.


" Galang... Ih... "


Kembali Galang mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri yang semakin dibuat kesal atas perbuatannya.


" Galaang... "


Kali ini bukan kecupan singkat melainkan ******* yang dilakukan oleh Galang, kendati sang istri tak membalasnya. Galang sedikit menggigit bibir Indira hingga kini Indira sedikit membuka mulutnya dan bebas menjelajah disana.


" Hemmp... " Galang melepaskan pagutannya saat menyadari sang istri mulai kehabisan oksigen.


" Kamu... ! " Indira membelalakkan matanya.


" Sekali lagi kamu panggil aku nama. Aku cium kamu sampai bengkak " ancam Galang sambil menghapus bekas salivanya yang tertinggal di bibir Indira.


" Ayo... Panggil aku apa hem ? " Galang menatapi Indira.


Ayo Dira... Panggil aku sayang... ! Suamiku sayang. Please...!


Harap Galang dalam hati.


" Ga..." Indira hampir saja meloloskan nama sang suami, namun ia urungkan saat mengingat apa yang tadi dilakukan oleh Galang saat ia menyebut namanya.


" Abang Galang... " ucap Indira pada akhirnya setelah batinnya berperang.


Galang tersenyum tipis.


" Tadinya aku mau dipanggil yang lain sih. Tapi ini juga gak apa-apalah... " ucap Galang lalu mengendurkan pelukannya dari tubuh sang istri.


" Terima kasih istriku sayang, cintaku, sholehahku ... " ucap Galang lalu mengecup kembali bibir Indira.


" Dasar Ga... "


Galang sudah bersiap kembali untuk menyerang Indira, namun Indira segera menutup mulutnya.


" B...Bang Galang... Ditungguin sama ayah di bawah " ucap Indira menggigit bibir bawahnya.


Galang tersenyum, rasanya aneh mendengar Indira memanggilnya seperti itu. Tapi, ia harus membiasakan sang istri untuk memanggilnya dengan panggilan selain namanya.


" Ya udah, istriku sayang... Kalau gitu Bang Galang ke bawah dulu ya ! " pamit Galang lalu mencium pipi Indira sebelum akhirnya keluar dari kamar.


Selepas Galang meninggalkan kamar, Indira terduduk lemas di atas ranjangnya. Jantungnya seolah dipaksa berdetak dengan sangat kencang.


Astaga... Bisa jantungan kalau begini terus !


Indira membatin dengan memegangi dadanya. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan mengatur nafasnya.


Aargh... ! Kenapa harus Galang sih !


Gerutu Indira sambil mengacak-acak rambutnya.


Galang kembali masuk ke dalam kamar setelah menemui Zaid. Ia mencari Indira di sekeliling kamar, tapi tak menemukan istrinya itu.


" Ck... Kemana sih ? Padahal udah gak sabar dipanggil Galang lagi biar bisa nyosor terus " gumam Galang tersenyum jahat.


Mendingan mandi aja lah. Gerah... !


Galang kemudian membuka bajunya dan segera masuk ke kamar mandi yang tidak terkunci. Galang mengunci pintu lalu menggantungkan handuk dan membuka sisa pakaian yang melekat di tubuhnya.


Indira yang sedari tadi memejamkan matanya, kemudian membuka matanya saat mendengar suara pintu terkunci.


" Ya ampun... Galaaang...Kamu mau ngapain ? " pekik Indira sambil menutup kedua matanya menggunakan kedua tangannya.


Galang pun tak kalah terkejut seperti halnya Indira. Ia berusaha menutupi tubuhnya dan si jujun dengan menggunakan sebelah tangannya, sementara tangan yang satu meraih handuk. Galang segera melilitkan handuk di pinggangnya.


Astaga... Tengsin nih ! Ambyar... Ambyar...


Galang berjalan menuju ke arah pintu, namun baru saja dia meraih gagang pintu sebuah ide muncul untuk menjahili sang istri.


Galang kembali menuju Indira yang masih menutup mata dengan kedua tangannya.


Galang kemudian duduk pada sisi bath tub.


" Matanya dibuka aja, udah gak apa-apa kok " ucap Galang memandangi wajah Indira yang memerah.


" Bener ya ! Kamu udah pake handuk ? " tanya Indira lagi.


" Udah sayangku... " jawab Galang menyeringai.


Indira lantas membuka matanya, namun menemukan Galang yang berada di depannya tanpa mengenakan pakaian.


" Ih... Katanya udah " Indira menutup kembali wajahnya.


" Lah emang udah pake handuk kok. Atau kamu mau lihat lagi si jujun " seloroh Galang menyunggingkan senyuman nakalnya.


" Enggak... Udah sana keluar ! " usir Indira tanpa memindahkan kedua tangannya dari wajahnya.


" Kalau aku maunya disini, gimana ? Kita kan bisa mandi bareng " ucap Galang tersenyum smirk.


" Ish, ya udah kalau kamu gak mau keluar, biar aku aja yang keluar " kesal Indira, lalu mulai beranjak dari dalam bath tub.


Tapi baru saja akan berdiri, Indira menyadari satu hal. Ia tak mengenakan pakaian. Apalagi bath robe miliknya tergantung di pintu. Oleh karena itu, ia kembali menenggelamkan dirinya ke dalam air.


" Ish, Galang tolong ambilin bath robe aku " perintah Indira.


" Apa sayang ? Tadi kamu bilang apa ? " tanya Galang memajukan wajahnya mendekati wajah Indira.


Indira memalingkan wajahnya agar Galang tak bisa mencuri kesempatan lagi.


" Abang Galang, tolong ambilin bath robe ! " ucap Indira lagi.


" Kalau minta tolong itu yang lembut dong, terus pake embel-embel sayang gitu " sahut Galang membuat Indira semakin sebal.


Indira membuang kasar nafasnya. Menghadapi Galang yang nyeleneh memang perlu kesabaran tingkat dewa.


" Abang Galang, sayang... Tolong ambilin bath robe ya " mohon Indira melembutkan suaranya.


" Nah... Begitu kan enak dengernya " sahut Galang sambil mencuil dagu sang istri.


" Baiklah istriku sayang, sholehahku... Abang ambilin sekarang " tambah Galang kemudian bangkit dan mengambil bath robe milik Indira lalu memberikannya kepada sang istri.


" Makasih... " ucap Indira saat Galang menyodorkan bath robe.


" Sama-sama, istriku sayang " sahut Galang lalu melihat Indira yang hanya diam tak kunjung mengenakan bath robe.


" Kok gak dipake sih ? " tanya Galang heran.


" Kamu tutup matanya dulu atau balik badan ! " seru Indira.


" Dih pelit amat sih... Kamu aja tadi udah lihat punya aku. Aku gak marah lho ! " tukas Galang sambil memutar badannya menghadap ke pintu.


Indira segera beranjak dari dalam bath tube lalu memakai bath robenya. Ia tak menyadari jika pantulan tubuhnya dapat dilihat oleh Galang dari cermin yang ada di pintu.


Galang menelan salivanya saat tubuh polos Indira terekspos namun segera ditutup oleh bath robe.


Sabar ya, Jun... Puasa dulu kita !


Batin Galang sambil melihat si jujun yang sudah mulai bangun dari tidurnya.