
" Bapak ini ada perlu apa ya ? " tanya Adinda siap siaga.
Sementara Indira masih mengusap perutnya yang sepertinya mengalami kontraksi karena kejadian tadi.
" Maaf, Bu... Sepertinya anda membawa anak saya di mobil anda " ucapnya sambil melihat ke dalam mobil.
" Siapa maksud anda ? " tanya Adinda pura-pura tidak tahu padahal ia sangat yakin jika Alunalah orang yang pria itu cari.
" Gadis itu, Aluna... Dia putri saya ! " jawabnya sambil menatap Aluna yang duduk di samping Adinda.
" Oh rupanya anda adalah ayah dari Aluna. Tapi mohon maaf Pak. Aluna ini, teman anak saya dan anak saya ingin Aluna menemaninya ke rumah sakit. Anak saya sepertinya akan melahirkan. Jadi saya harap, anda bisa memindahkan mobil anda dari depan mobil kami " ucap Adinda.
" Masalah Aluna, mungkin Bapak bisa membicarakannya nanti. Kalau anda tidak percaya, anda bisa mengikuti kami ke rumah sakit. " tambah Adinda meyakinkan ayah dari Aluna.
" Pa... Please ! Biarkan Luna mengantar mereka ke rumah sakit ! Lagipula ini semua salah Luna " pinta Aluna dengan perasaan bersalah.
" Baiklah... Tapi Papa akan mengikutimu. Kita harus bicara banyak hal Luna " ucap sang ayah lantas bergerak menuju mobilnya dan memberi jalan pada mobil yang Adinda tumpangi untuk segera menuju ke rumah sakit.
Di perjalanan menuju rumah sakit, tak lupa Adinda menelpon Galang untuk memberitahukan keadaan Indira yang mengalami kontraksi dan tengah dibawa ke rumah sakit. Adinda pun memberitahu Galang untuk membawa perlengkapan bayi dan pakaian ganti untuk Indira.
Indiri meringis menahan rasa sakit yang menghampirinya. Bahkan, Indira sampai mengeluarkan air matanya saat perutnya terasa begitu sakit.
Aluna yang melihat hal itu juga merasakan ngilu sambil memegangi perutnya sendiri.
Adinda mengusap punggung Indira, sementara Indira mengusap-usap perutnya sambil mengatur nafasnya berharap rasa sakitnya sedikit berkurang.
" Tarik nafas panjang, mba... Terus coba keluarin perlahan-lahan supaya lebih rileks, mba ! " seru Aluna mencoba menenangkan Indira.
Hingga akhirnya, mereka tiba di rumah sakit dan Indira segera dibawa ke ruang bersalin. Pada saat yang sama, Galang pun tiba ditemani oleh sang ayah.
" Gimana Dira, Bun... ? " tanya Galang setengah berlari saat melihat ibu mertuanya itu berdiri di depan ruang bersalin.
" Dira di dalam, coba kamu temani dia ! " suruh Indira.
Galang mengangguk, lantas memasuki ruang bersalin. Dilihatnya sang istri yang tengah berbaring dengan peluh membasahi wajahnya.
" Dira... Sayang... " ucap Galang lalu menghampiri sang istri.
" Papa... Kayaknya bayi kita udah gak sabar mau keluar " ucap Indira sambil menahan sakit dengan mengatur nafasnya.
Galang mengecupi pucuk kepala Indira sambil menggenggam erat tangannya
" Kamu bisa sayang ... Kamu kuat... Demi anak kita, kebahagiaan kita... " ucap Galang menyemangati sang istri.
Senyuman terbit di wajah Indira, walaupun kemudian senyuman itu berubah menjadi ringisan sakit.
" Dokter... Gimana keadaan istri saya ? " tanya Galang khawatir, saat melihat dokter Siska yang merupakan dokter kandungan kepercayaan Indira mendekati mereka.
" Sebentar ya, Pak... Saya periksa dulu ! " jawabnya lalu melapisi tangannya dengan sarung tangan karet.
Dokter Siska lalu memeriksa Indira.
" Masih bukaan 3... Kalau ibunya kuat boleh jalan-jalan disini. Atau ibunya bisa memiringkan badan dan Bapak bisa membantu dengan mengusap-usap punggung istri bapak untuk mengurangi rasa sakitnya " ucap dokter Siska.
Sementara itu, di luar ruang bersalin.
" Aluna... " panggil sang ayah.
Aluna menoleh melihat ke arah sang ayah yang sudah berada tak jauh darinya.
" Luna... Ayo kita pulang ! " titah sang ayah.
Aluna menggeleng, bagaimanapun ia merasa bersalah atas apa yang menimpa Indira saat ini. Jika saja ia tidak masuk ke dalam mobil Tante Adinda tadi, tentu hal ini bisa dihindari.
" Maafin Luna, Tante... Gara-gara Luna, mba Dira jadi begini... " ucap Luna penuh penyesalan.
" Siapa bilang salah Luna ? Ini sudah suratan takdir sayang " sahut Adinda sambil memeluk tubuh Luna.
" Maafin papa juga ya tante... "
Adinda mengangguk.
" Sekarang lebih baik kamu pulang sama ayah kamu. Bicarakan masalah kalian dengan pikiran terbuka. Cari penyelesaiannya bersama " seru Adinda.
Aluna mengangguk paham, lalu berpamitan dengan Adinda, Zaid dan Pak Surya. Ayahnya Aluna pun ikut berpamitan, juga meminta maaf atas keteledorannya.
" Saya minta maaf atas perbuatan saya tadi yang menyebabkan masalah ini " mohon Pak Halim, ayah kandung Aluna.
" Tidak apa, Pak....Mungkin ini sudah takdir... " sahut Adinda.
" Kalau begitu kami permisi ! " ucapnya sambil membawa Aluna pergi.
" Maaf, Pak....Aluna itu benda hidup, jadi tolong jangan membebaninya. Saya tahu Aluna anak yang baik. Segala hal bisa dibicarakan baik-baik. Saya yakin sebagai orang tua, anda bisa bersikap bijaksana " tambah Adinda lagi.
Pak Halim menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih " ucapnya lalu membawa Aluna pergi.
" Bye, Tante Dinda. Tolong sampaikan permintaan maaf Luna buat Mba Indira. Semoga anaknya lahir dengan selamat dan sehat " harap Aluna sambil memeluk Adinda
" Aamiin... Terima kasih Luna. Semoga kamu juga selalu dilimpahi kebahagiaan " ucap Adinda.
" Aamiin " sahut Aluna lalu memutuskan untuk mengikuti langkah sang ayah yang telah berjalan mendahuluinya menuju tempat parkir.
Sementara itu, di dalam ruang bersalin. Galang dengan penuh perhatian menemani sang istri berjalan-jalan di ruang bersalin. Galang siaga penuh membuat sang istri merasa nyaman kendati rasa sakit terus menyerangnya dengan intens.
Setengah jam kemudian, dokter Siska kembali mengontrol bukaan yang terjadi. Dan ternyata bukaan sudah naik menjadi bukaaan 8. Dan 10 menit kemudian, bukaan Indira kini telah komplit dan siap untuk segera melahirkan
Dokter meminta Indira untuk mengatur nafasnya dan bersiap untuk mengejan. Sementara Galang senantiasa berada di samping sang istri untuk memberinya kekuatan.
Hingga akhirnya pada percobaan ke empat, bayi mungil itu pun lahir ke dunia. Tangisannya terdengar nyaring hingga ke luar ruang bersalin membuat Adinda, Zaid, juga Pak Surya sangat bersyukur karena telah kedatangan anggota keluarga baru yang akan meramaikan hari-hari mereka nanti.
Bayi mungil itu kini diletakkan di atas dada Indira. Melihat bayi imut yang bergerak di atas tubuhnya membuat Galang dan Indira begitu takjub. Bayi yang selama ini berada dalam kandungannya, kini bisa mereka lihat dan sentuh. Tak terasa air mata menetes dari kedua sudut mata Galang dan Indira.
Inilah bayi yang mereka nantikan, bayi yang akan menambah kebahagiaan mereka. Bayi berjenis kelamin laki-laki dengan berat 3,2 kg dan panjang 52 cm itu, kini bergerak-gerak di atas dada Indira. Mulutnya yang begitu mungil mencari-cari ****** sang ibu yang merupakan sumber makanannya namun ia masih belum kuat untuk menghisap asi.
Sungguh kebahagiaan yang sempurna dan tak ternilai bagi Galang dan juga Indira.
Welcome to the world Baby boy , kesayangan Papa Galang dan Mama Indira😍😍