Adorable Love

Adorable Love
AL 34



Indira menghembus kasar nafasnya saat melihat Damar kini berdiri di ambang pintu ruang kerjanya di restoran. Ini ketiga kalinya Damar diminta Galang untuk menjemputnya.


Indira segera merapikan perlengkapannya, karena tidak ingin membuat Damar menunggunya terlalu lama.


" Galangnya kemana lagi ? Kok nyuruh kamu terus yang jemput Dira kesini ? " selidik Indira.


" Ada urusan penting di proyekan desa, makanya dia minta aku yang jemput kamu " jawab Damar.


" Ck... Proyek terus yang diurus, kayaknya sekarang lebih penting ngurusin proyek deh daripada ngurusin istri " decak Indira yang dapat didengar oleh Damar meskipun dilakukan Indira dengan suara yang cukup pelan.


Damar tersenyum kecut,


Seandainya kamu tahu yang sebenarnya Dira...


" Ayo, Mar... Kamu pasti masih banyak urusan kan ? " ucap Indira sambil berjalan mendahului Damar.


" Galang bilang, hari ini kamu harus kontrol kandungan kamu. Sekalian aku anter ke Rumah sakit " ucap Damar membuka pembicaraan saat mereka sudah memasuki mobil Damar.


" Gak usah deh, Mar. Lagian Dira maunya ditemenin sama Galang. Kan bapaknya anak ini Galang bukan kamu " sahut Indira sambil mengelus perutnya.


" Maaf ya, Mar... Dira cuma gak mau ngerepotin kamu terus. By the way, terima kasih karena kamu sudah mau direpotin Galang " tambah Indira kemudian.


" Gak apa-apa kali Ra... Aku seneng bisa bantuin kalian " sahut Damar tulus.


" Eh, kandungan kamu sekarang udah berapa bulan ? " tanya Damar sambil melajukan mobilnya.


" Sekarang tuh udah masuk 6 bulan " jawab Indira dengan antusias sambil mengelus perutnya kembali.


" Ohh, berarti udah kuat dibawa jalan-jalan dong ya " ucap Damar lagi.


" Boleh lah, dari kemarin-kemarin juga jalan-jalan melulu. Emang kenapa ? " tanya Indira heran.


" Aku mau minta tolong boleh kan " jawab Damar.


" Bisa tolong anterin aku ke toko perhiasan ? " pinta Damar.


" Boleh sih, tapi mau ngapain ? " tanya Indira lagi.


" Mau beli cincin buat ngelamar calon istri " jawab Damar malu-malu.


" Oh jadi kamu mau ngelamar nih ceritanya... Oke, oke... Hayu aku bantuin nyari " ucap Indira.


" Eh, tapi kamu ngomong dulu sama Galang. Nanti dia cemburu lagi. Kan tahu sendiri, kalau suami kamu itu gak bisa lihat kamu dideketin laki-laki lain " sahut Damar asal.


" Iya, tapi anehnya malah ijinin kamu deket-deket sama aku " sindir Indira.


" Eit, itu mah beda Ra.. Dia tahu, kalau aku gak bakalan nikung dia... " kelakar Damar.


" Iya... Iya tahu ! Kalian mah bestie, pastinya saling dukung bukannya saling tikung " sahut Indira yang diiringi kekehan oleh Damar.


Setelah meminta ijin pada Galang, mereka kini berada di sebuah mal perbelanjaan dan segera menuju toko perhiasan. Damar memilih sebuah cincin berlian untuk sang pujaan hati dibantu oleh Indira.


" Pacar kamu pasti seneng deh, dilamar sama kamu " ucap Indira setelah Damar selesai membeli cincin.


" Mudah-mudahan gitu, Ra... " harap Damar.


" Kok mudah-mudahan sih ? Bukannya kalau orang pacaran pasti seneng banget kalau diajak lebih serius ? " tanya Indira.


" Harusnya sih gitu. Tapi setiap kali aku ajakin jalin hubungan yang lebih serius, dia selalu nolak. Alasannya dia masih mau ngejar karirnya... " jawab Damar dengan guratan sedih di wajahnya.


" Pacar kamu memang kerjanya apa ? " tanya Indira lagi.


" Dia itu model, Ra... Kita udah 3 tahun pacaran dan masih begini-begini aja. Keluarga aku udah nyuruh aku cepat nikah, kalau engga mereka sendiri yang bakal pilih calon istri buat aku " jawab Damar.


" Mungkin keluarga kamu, udah siapin calon yang baik untuk kamu... Kayak aku sama Galang " Indira tersenyum tipis mengenang perjodohannya dengan Galang.


" Kalau si Galang mah beda, Ra..." sahut Damar.


Indira menautkan kedua alisnya.


" Paksa ? Maksudnya gimana ? " tanya Indira.


Galang tersenyum smirk.


" Pokoknya aku bakalan bikin dia gak bisa nolak buat nikah sama aku. Kamu doain ya biar dia mau nikah sama aku " pinta Damar.


" Aku doain yang terbaik buat kamu, Mar. Siapapun nantinya yang jadi istri kamu, semoga kamu bahagia... " ucap Indira.


" Aamiin... " sahut Damar sambil mengangkat kedua tangannya.


" Ya udah, yuk. Sekarang anterin Dira pulang ! " seru Indira kemudian.


" Ya udah, ayo ! " sahut Damar, keduanya pun lantas meninggalkan toko tersebut.


Tanpa mereka ketahui, ada sepasang mata yang memperhatikan kebersamaan keduanya dan mengikuti mereka.


Damar dan Indira berjalan menuju mobil Damar. Tanpa mereka duga seorang pria paruh baya mendekati mereka.


" Jadi, karena ini kamu menolak menikah ? Ck... Papi tidak menyangka ternyata kamu akan segera memiliki anak ? " ucap pria itu.


Indira dan Damar menoleh dan pandangan mereka jatuh kepada pria yang berjalan mengekori mereka.


" Haish... Ngomong apaan sih, papi ini " sahut Damar saat melihat sang ayah yang berada di belakang mereka saat ini.


" Jadi ternyata diam-diam kamu sudah menikah ya ? Ternyata cantik juga istri kamu ini. Memang pinter kamu cari calon istri " ucap pria itu sambil memperhatikan Indira.


" Sini nak ! Saya ini Bima, ayahnya bocah pecicilan ini, mertua kamu " ucapnya sambil melambaikan tangannya pada Indira.


Indira menatap Damar dengan tatapan bingung.


" Maaf, Om ... Tapi saya bukan istrinya Damar " ucap Indira berusaha meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.


" Apa ? Jadi bocah ini belum menjadikan kamu istri tapi udah nabung duluan. Dasar gak tahu adab " gerutunya sambil menatap Damar dengan kesal.


" Eh, bukan gitu maksudnya Om. Om ini salah paham. Saya ini istrinya Galang, temennya Damar. Tadi saya cuma anterin Damar beli cincin buat calon istrinya " jelas Indira.


" Iya, Pi... Ini tuh Indira, istrinya Galang. Makanya Papi tuh jangan asal nuduh aja. Masa Damar nabung duluan, celengannya aja belum ada " timpal Damar sewot.


Pria paruh baya yang tak lain merupakan ayah Damar itu tersenyum malu.


" Oh gitu toh... Maaf ya, Nak...! Om pikir kamu ini perempuan yang bikin Damar nolakin calon-calon dari Om. Padahal kalau Om lihat, kamu ini cocok banget jadi menantunya, Om. Ya, tapi Galang lebih beruntung dapat kamu sebagai istrinya " ucap pria itu lagi.


" Terus kamu kapan ? Tuh lihat, Galang aja bisa dapetin istri kayak gini. Terus udah mau punya buntut lagi. Lah kamu kapan ? " tanyanya pada Damar.


Damar memutar bola matanya, rasanya bosan mendengar pertanyaan yang terus dilontarkan oleh sang ayah.


" Secepatnya, Pi... Tungguin aja ! " ucap Damar santai.


" Tunggu, tunggu sampai kapan ? Sampai lebaran monyet ? " sindir sang ayah.


" Ya tunggu tanggal mainnya aja, Pi. Pokoknya, nanti Damar juga nikah " sahut Damar.


" Ayo, Ra... Damar anterin pulang ! " ajak Damar pada Indira.


" Eh, iya... Dira permisi ya, Om... " pamit Indira sambil meraih tangan Om Bima dan menyalaminya.


" Iya, hati-hati ya nak... Oh, iya... Semoga Galang cepet sembuh ya ! Dia pasti kuat menjalaninya, kamu yang sabar ya ! " ucapnya pada Indira.


" Cepet sembuh... ? " gumam Indira heran.


" Pi... " Damar menggelengkan kepalanya memberi kode pada sang ayah agar tidak berbicara lebih banyak.


" Eh.. Maksud Om, kalian sehat-sehat. Kamu juga yang sabar menjalani kehamilan kamu ini " dalih Om Bima mencoba menutupi.


Indira mengangguk, namun tetap saja perkataan dari Om Bima itu membuatnya berpikir tentang kesehatan sang suami.