Adorable Love

Adorable Love
AL 13



Indira melihat ke arah pintu lalu tersadar jika bayangan dirinya memantul di cermin dan Galang sedang menikmatinya.


" Ish... Dasar kamu ngintip ya ! " kesal Indira. Ia berjalan tergesa ke arah Galang, hingga tak memperhatikan lajunya dan akhirnya...


Bruuk...


Indira terjatuh di lantai yang basah.


Melihat hal itu sontak Galang bereaksi dengan menghampiri sang istri yang tengah berusaha untuk bangun.


Dengan sigap Galang mengangkat tubuh Indira tak peduli, istrinya itu menolaknya. Galang kemudian menggendong Indira lalu mendudukkannya di tepi ranjang


Galang berjongkok memegangi kaki Indira.


" Bilang bagian mana yang sakit ? " tanya Galang mendongak menatap Indira yang juga tengah mengamatinya.


" Gak ada... " jawab Indira lalu memalingkan wajah.


" Aku tuh khawatir lho sama kamu. Kalau ada yang sakit bilang aja " sahut Galang lalu menangkup wajah sang istri.


" Ish... Galang lepas ! " Indira mencoba menurunkan tangan Galang dari wajahnya.


" Kamu tuh ya, gak bisa dibilangin. Aku kan udah bilang akan hukum kamu kalau panggil nama doang " Galang memajukan wajahnya mendekati wajah Indira.


Indira mencoba menahan tubuh Galang dengan mencoba untuk bangkit, namun sayangnya justru ia kehilangan keseimbangan dan malah membuatnya jatuh ke tempat tidur dengan Galang di atas tubuhnya.


Pada saat yang sama, Adinda masuk ke dalam kamar Indira.


" Astaga ! Dira... Galang... " pekik Adinda sambil membalik badannya.


" Bunda... " ucap Galang dan Indira bersamaan menoleh ke arah Adinda.


" Kalian tuh ya... Kalau mau itu, kunci dulu pintunya ! " omel Adinda, kemudian kembali keluar sambil mengusap dadanya.


Astaghgirullohal adziim... Anak jaman sekarang, gak tahu waktu dan tempat !


gerutu Adinda, lalu segera turun ke lantai bawah.


Indira segera mendorong tubuh Galang dari atas tubuhnya hingga terjengkang.


" Kamu... Jangan suka cari kesempatan ya ! " tuduh Indira sedikit menjauh dari Galang.


" Pasti, Bunda mikirnya macam-macam " oceh Indira meraup kasar wajahnya.


" Biar aja Bunda mikir macam-macam. Gak ada yang salah kok, orang kita berdua udah sah ini " ucap Galang tanpa beban.


Indira melempar Galang dengan guling.


" Iiiih... Galang...! " pekik Indira kesal.


" Iya istriku sayang, cintaku, sholehahku " sahut Galang tenang lalu mendekati Indira kembali.


Cup... Galang memberikan kecupan di pipi Indira padahal istrinya itu sedang dalam mode kesal.


" Panggilnya Abang sayang ya ! Atau kamu mau aku cium terus-terusan " ucap Galang menaik turunkan alisnya.


Indira semakin kesal dengan sikap Galang. Sementara Galang kini berjalan santai menuju kamar mandi.


Indira membenamkan wajahnya ke atas bantal.


Hah... Bisa mati berdiri kalau terus-terusan begini


Indira menghentak-hentakkan kakinya di atas kasur.


Sementara itu, Adinda turun dari tangga sambil menggerutu membuat Zaid mengernyitkan keningnya.


" Kenapa ngomel-ngomel gitu, sayang... ? " tanya Zaid mendekati lalu merangkul istri tercintanya.


" Itu lho Mas, Dira sama Galang " adu Adinda.


" Memangnya mereka kenapa ? " tanya Zaid heran karena seingatnya tadi sang istri akan memanggil Indira untuk membantunya di dapur tapi tak lama kemudian kembali sambil menggerutu.


" Mereka... Ah, udahlah... " ucap Adinda tak ingin memperpanjang lagi.


" Mereka kenapa hem ? " tanya Zaid sambil mengangkat dagu sang istri sehingga ia bisa menatap wajah Adinda.


" Tadi pas Dinda ke kamar mereka lagi... Ah udahlah, Mas juga pasti ngerti " tukas Indira.


Zaid terkekeh mendengar penuturan sang istri.


" Ih, malah ketawa sih... " cebik Adinda.


" Lagian kamu tuh ya, masuk kamar pengantin baru main nyelonong aja " tegur Zaid.


" Bukan nyelonong, Mas... Dinda udah panggil terus ketuk-ketuk pintu tapi gak disahutin. Nah Dinda cobain aja buka pintu karena gak dikunci. Ya udah, Dinda masuk aja. Eh tahunya... Lagian mereka tuh harusnya kan kunci pintunya dulu " kilah Adinda.


" Ya sudah... Kamu kayak gak pernah ngerasain jadi pengantin baru aja " tukas Zaid sambil terkekeh.


" Ish, Mas Zaid... " rengek Adinda.


" Ya udah sayang... Mendingan kita ngamar aja yuk ! Jangan kalah sama pengantin baru ! " ajak Zaid membawa sang istri menuju ke kamar.


" Inget umur, Mas ! " sembur Adinda .


" Kalau gituan gak inget umur, sayang... Mau muda atau tua pasti suka " sahut Zaid tanpa dosa sambil terus menarik tangan sang istri dan masuk ke dalam kamar.


Gak mau kalah sama yang muda nih 🤭🤭


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Indira dan Galang kini telah berada di ruang tengah menunggu Zaid dan Adinda.


Tak lama orang yang mereka tunggu-tunggu keluar dari dalam kamar.


" Bunda sama ayah ngapain aja sih ? " tanya Indira penasaran saat kedua orang tuanya datang.


" Mau tahu aja... Emangnya cuma pengantin baru aja yang bisa ngamar terus " jawab Zaid.


" Siapa yang ngamar ? " tanya Indira polos.


" Kamu sama Galang, sampai lupa ngunci pintu segala " sindir Adinda.


Wajah Indira dan Galang bersemu merah.


" Itu tadi gak kayak yang bunda pikir kok. Tadi itu... "


" Sudah... Sudah... Kami ngerti, lagi pula tidak salah suami istri melakukan itu, apalagi kalian pengantin baru " potong Adinda.


" Ish kita tuh gak ngapa-ngapain... Masih dalam tahap pengenalan belum lebih " sahut Indira kesal karena merasa disudutkan.


Zaid dan Adinda saling berpandangan, keduanya lantas tersenyum. Merasa de javu atas kisah pernikahan mereka dulu.


Adinda dan Zaid duduk bersama Galang dan Indira.


" Kami mengerti bagaimana perasaan kalian karena kami dulu juga mengalaminya " ucap Zaid memulai obrolan.


" Saat itu, bunda belum bisa menerima ayah sebagai suami. Bahkan merahasiakan pernikahan kami dari teman-teman kampusnya. Malah ada seorang pemuda yang terang-terangan menyatakan perasaannya kepada bunda di depan ayah " tutur Zaid sambil melirik sang istri.


" Mas... Gak usah diingetin lagi " ingat Adinda mencubit lengan Zaid.


Zaid terkekeh mengenang kisah cinta mereka dulu.


" Terus gimana yah ? " tanya Galang antusias.


" Ya, kesel lah. Apalagi dia mikir kalau ayah ini kakaknya bunda " jawab Zaid mengingat Aldi.


" Ayah berusaha untuk meyakinkan bunda dengan cinta yang ayah miliki, sampai akhirnya bunda menerima ayah seutuhnya dan menyerahkan jiwa raganya untuk ayah " tambah Zaid lagi dengan bangga.


" Jadi... kamu Galang, jangan pernah lelah mengejar cinta Indira. Kalau dia nolak, kamu bujuk terus sampai dia mau ! " seru Zaid.


" Terus kalau nolak terus gimana yah ? " tanya Galang sambil melirik Indira.


" Ya, kamu paksa aja. Kamu kan suaminya, kamu berhak atas istri kamu. Selama itu tidak menyakitinya " jawab Zaid seolah memahami maksud dari pertanyaan Galang.


" Tapi lebih bahagia, kalau sudah sama-sama ridho. Sebagai suami kamu harus bisa memahami istri kamu. Dan sebagai istri kamu juga harus menghormati suamimu. Kalian harus tahu apa hak dan kewajiban kalian sebagai suami istri " nasehat Adinda.


" Kalian berdua harus saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kalian. Ingat selalu, tanamkan rasa percaya dalam diri kalian masing-masing. Dengan begitu, kalian akan bisa membangun pondasi yang kuat dalam berumah tangga. Ayah dan bunda yakin, kalian bisa melakukannya ! Meskipun ayah tahu, semua itu membutuhkan waktu untuk memantapkan hati " tambah Zaid sambil melihat Indira dan Galang.