
Galang masih terlelap saat Indira baru saja keluar dari kamar mandi. Indira memandangi wajah sang suami yang ia cintai lalu mencium pipi Galang sambil duduk di tepian ranjang.
" Pa... Bangun, mandi dulu keburu magrib ! " seru Indira menarik lengan Galang.
" Hem... " jawab Galang tanpa membuka matanya.
" Bangun ih ! Kalau udah keenakan jadi bablas tidurnya " dumel Indira lalu bergerak menjauh dari ranjang.
Tangan Galang terulur lalu menarik Indira hingga sang istri jatuh ke dalam pelukannya. Galang menghirup dalam-dalam aroma wangi tubuh sang istri yang baru saja selesai mandi.
" Kamu wangi banget, sayang... Jadi pengen lagi deh " ucap Galang berbisik di telinga Indira.
" Ya ampun, Papa... Masih belum puas nengokin debaynya heh ? " gerutu Indira lantas menjauhkan dirinya dari sang suami.
Indira masih kesal karena Galang selalu minta jatah nengok bayi dengan alasan supaya buka jalan lahir bayi.
" Belum sayang... Aku masih bisa lanjut nih ! " sebut Galang lalu meraih tangan sang istri dan mengarahkannya ke atas senjata andalannya yang sudah on fire.
" Dasar papa bayi mesum " cebik Indira sambil menarik tangannya dari benda yang sudah mengeras.
" Sana mandi ! " seru Indira lalu beranjak menjauh dari Galang.
Galang terkekeh melihat sikap sang istri tercinta. Ia kemudian bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
" Sayang... Yakin gak mau ditengokin lagi ? Aku masih kuat lho ! " goda Galang sebelum masuk ke kamar mandi.
" Enggak ! Sana mandi ! " seru Indira.
" Beneran nih sekarang gak mau lagi ? " tanya Galang sambil menaik turunkan alisnya.
" Ish, enggak ! Kamu ni kenapa sih " tukas Indira
" Ya udah, kalau sekarang gak mau ditengokin. Nanti malam jangan nolak Abang Galang, papa bayimu ini nengokin anak kita lagi ! " ucap Galang enteng dengan tersenyum smirk.
" Dasar mesum... ! Di otak kamu tuh cuma ada acara nengokin bayi doang ? " tanya Indira setengah menyindir.
" Ya iya dong, mama bayi sayang. Kita kan harus sering-sering buat jalan lahir bayi kita biar gak nyasar. Bayinya nemu jalan, mama papanya nemu enak ! " jawab Galang sambil terkekeh.
Indira mendelik melirik sebal ke arah Galang. Bisa-bisanya suaminya itu cuma mikirin jalan lahir yang itu-itu aja. Padahal ada cara lain untuk membuat jalan lahir bayi.. Jalan-jalan.salah satunya.
Melihat lirikan mata Indira, membuat Galang langsung masuk ke dalam kamar mandi. Lebih baik sekarang Galang cari aman dulu. Atau dia harus undur diri dari pembuatan jalan lahir. Tentunya, Galang tak ingin kehilangan momen. Anggap saja ia sedang melakukan dua kebaikan. Yang pertama membuat jalan lahir untuk anak mereka. Dan yang kedua sedang menabung bekal, saat nanti ia harus berpuasa menunggu Indira selesai masa nifas setelah melahirkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usia kehamilan Indira kini hanya tinggal menghitung waktu untuk melahirkan. Usia kandungannya kini sudah 39 minggu dan perkiraan melahirkan adalah satu minggu lagi.
Saat ini, Indira tengah berada di pusat perbelanjaan ditemani oleh sang ibu. Indira sengaja pergi ke sana hanya sekedar untuk berjalan-jalan agar membuka jalan lahir.
Kendati sedikit merasakan nyeri linu pada bagian perut bawahnya, juga sesekali mengalami kontraksi namun Indira tak terlalu memusingkannya.
" Kamu gak beli sesuatu, sayang ? " tanya Adinda karena Indira hanya berjalan-jalan saja melewati counter-counter yang ada.
" Enggak ah, Bun. Lagian niatnya kan memang cuma jalan-jalan aja, gak belanja. Paling banter nanti makan aja sih " jawab Indira.
" Sudah komplit semua, bunda sayang " jawab Indira sambil tersenyum.
" Ssshh... " Indira mendesis sambil memegangi perutnya.
" Kamu kenapa ? Ada yang kerasa ?" tanya Adinda sambil mengelus perut sang putri.
Indira mengangguk lalu mencoba mengatur nafasnya.
" Mungkin kontraksi palsu Bun. Lagian kan HPLnya masih lebih dari satu minggu lagi. Kita makan dulu yuk Bun, Dira lapar nih ! " ajak Indira sambil mengusap perutnya.
Mereka berdua kemudian memasuki sebuah restoran dan segera memesan makanan. Sambil menunggu makanan yang di pesan datang, Indira mengedarkan pandangan melihat sekeliling.
" Perempuan jaman sekarang, seneng banget ya jalan sama om-om. Memangnya yang seumuran udah habis stock ya " ucap Adinda melihat ke arah seorang wanita muda yang duduk berdua dengan seorang pria paruh baya.
" Kenapa, Bunda ? " tanya Indira.
Pandangan matanya beralih ke arah tatapan sang ibu tertuju.
" Karina... " gumam Indira sambil terus mengamati gadis yang nampak mesra dengan bergelayut manja pada lengan pria matang tersebut.
" Siapa sayang ? " tanya Adinda sambil melihat ke arah Indira.
" Perasaan Dira kenal sama perempuan itu " jawab Indira.
" Ah, tapi mirip aja kali Bun. Lagian mana ada dia jalan sama orang tua begitu, orang udah punya pacar " tambah Indira lagi menyudahi ucapannya sendiri.
Indira dan sang ibu segera menyantap pesanan mereka setelah pelayan mengantar makanan yang mereka pesan. Sesekali Indira mencuri pandang ke arah gadis yang asyik bermesraan dengan pria yang lebih pantas menjadi om nya itu.
Pikiran Indira terus terusik, karena merasa jika gadis itu begitu mirip dengan Karina meskipun ia baru satu kali bertemu dengannya. Hingga kemudian Indira memutuskan untuk mengambil foto mereka. Ia akan memperlihatkannya kepada Galang nanti begitu sampai di rumah.
Indira dan sang ibu, lantas keluar dari restoran setelah menyelesaikan makan siang mereka. Sebelum keluar, Indira melirik dua manusia beda generasi yang masih terlihat begitu mesra. Tangan sang pria menggenggam tangan sang wanita lalu mengecupi tangannya berulang kali bak sedang dimabuk asmara.
Astaga... Udah tua gak sadar diri !
Dumel Indira dalam hatinya lalu mengelus perutnya sembari beristighfar dan berucap amit-amit berulang kali.
Saat mereka keluar dari pintu restoran seorang gadis dengan tergesa masuk ke dalam restoran dan tanpa sengaja menabrak Adinda.
" Eh, Maaf ya Bu ! Maaf... ! " ucap gadis itu merasa tak enak hati.
" Lain kali kalau jalan hati-hati ya, nak ! " seru Adinda tak mempermasalahkan.
" Iya, sekali lagi saya minta maaf Bu... Mba... Saya permisi ! " pamitnya kepada Adinda dan Indira lalu memasuki area restoran.
" Anak jaman sekarang tuh, ada-ada aja ! " ucap Adinda sambil menggelengkan kepalanya.
Adinda dan Indira kemudian berlalu. Mereka mampir ke super market sebentar untuk membeli beberapa bahan makanan yang persediaannya sudah habis. Setelahnya mereka pun meminta supir untuk menjemput ke depan mal.
Mobil sudah berada di depan Indira dan Adinda, Pak Ali, supir keluarga Adinda dengan sigap memindahkan barang belanjaan dari troli menuju bagasi mobil. Sementara Indira dan Adinda masuk ke dalam mobil. Saat pintu akan tertutup, seorang gadis berlari ikut masuk ke dalam mobil Adinda. Membuat ibu dan anak itu terkejut.
" Lho, kamu... "