
Damar kini berada di kediaman Galang. Sama halnya seperti pasangan suami istri, Indira dan Galang. Damar pun begitu antusias mendesain kamar untuk baby boy Indira dan Galang.
Damar adalah seorang arsitek yang juga sangat ahli dalam desain interior. Ia berusaha untuk membangun usahanya sendiri dan ia berhasil.
Tanpa orang-orang ketahui, Damar merupakan anak seorang pengusaha kaya raya. Meskipun begitu tetapi Damar tak pernah berlagak selayaknya anak seorang pengusaha kaya. Ia tetap sederhana dan berusaha dengan kakinya sendiri.
Karina tidak tahu latar belakang Damar. Ia hanya tahu Damar adalah mahasiswa berprestasi dan sedang merintis dan menjalankan usahanya sendiri. Hanya Galang ditambah Indira saja yang mengetahui siapa Damar sebenarnya.
Sebagai sahabat, tentunya tidak ada yang Damar dan Galang tutupi. Keduanya lebih suka tampil apa adanya dan tidak berlebihan, kendati mereka memiliki harta yang melimpah ruah.
Akan tetapi, dalam urusan hubungan pernikahan Galang selangkah lebih maju dibandingkan dengan Damar. Itu terbukti dengan Galang yang justru bisa menikah lebih dulu dibandingkan Damar yang telah lama berpacaran. Bahkan Galang akan segera memiliki anak dengan Indira. Beda halnya dengan Damar yang masih harus berusaha agar Karina mau menikah dengannya.
" Gimana Mar, Karina mau nikah sama kamu ? " tanya Indira ketika mereka telah selesai mendekorasi kamar.
Damar menggelengkan kepalanya, ia masih menampilkan senyuman meskipun terlihat gurat kecewa di wajahnya.
" Masih nolak ? " tebak Galang.
" Hem... Bukan cuma nolak, doi malah ngancam putus kalau gue masih maksa dia nikah " jawab Damar.
" Aslinya, Mar ? " tanya Galang.
" Asli lah. Dia malah tadi minta langsung udahan aja. Untung aja gue bisa nahan " jawab Damar.
" Itu berarti dia gak serius sama lo, Mar ! " celetuk Galang.
" Ck... Kalau dia gak serius mana mau dia lanjutin hubungan sampai sekarang. Udah 3 tahun lho, Lang gue sama dia " kilah Damar.
" Kalau emang dia serius sama lo. Dia pasti mau waktu lo ajak nikah. Perasaan dia ngulur waktu terus. Pasti alasannya karena karir, iya kan ? " ucap Galang sambil duduk di samping sang istri yang hanya menyimak obrolan dua sahabat itu.
Damar terdiam, lantas menyeruput kopi yang ada di atas meja.
" Dia minta waktu 1 sampai 2 tahun lagi buat nikah " Damar memberikan alasan.
" Terus lo sanggup nunggu selama itu ? Bukannya keluarga lo minta supaya lo cepet-cepet nikah ? " tanya Galang lagi.
Damar mengangguk kemudian menghela nafasnya.
" Gue bingung, Lang... Kalaupun dia belum mau nikah, seenggaknya dia mau gue kenalin ke keluarga gue. Tapi dia malah gak mau juga " ucap Damar.
" Berarti dia memang gak mau ! " sela Galang.
" Udah, lo cari perempuan lain aja. Atau lo terima aja perjodohan dari keluarga lo itu. Kali aja calonnya, kayak istriku tercinta ini... " tambah Galang sambil melingkarkan tangannya ke pundak Indira lalu mencium pipinya.
" Eh, sialan lo... Jangan manas-manasin gue ! " kesal Damar sambil melempar bantal sofa ke arah Galang.
" Makanya buruan cari istri, biar bisa bebas ngapain aja kayak gue " sahut Galang sambil terkekeh.
" Eh, Ra... Boleh gak gue nampol pala laki lo ini ! " celetuk Damar keki.
" Udah ah, aku gak mau ikut-ikutan " sahut Indira kemudian berdiri sambil mengelus perutnya.
" Eh, mau kemana sayang ? " tanya Galang menahan tangan sang istri yang mulai beranjak dari sofa.
" Aku mau rebahan dulu di kamar. Kamu ngobrol aja sama Damar. Kayaknya anak kita mau istrirahat " jawab Indira kembali mengelus perutnya yang terasa sedikit mengencang.
Galang menyimpan tangannya ke atas perut sang istri, ia pun ikut mengelus perut Indira.
" Baik-baik ya, jagoan Papa... Istirahat dulu sama Mama " ucap Galang kemudian mencium perut Indira.
" Heh, ngapain lo senyum-senyum sendiri ! " suara Galang mengagetkan Damar, membuyarkan semua bayangan indahnya.
" Kurang asem... Gangguin gue aja ! " gerutu Damar.
" Lo lagi mikirin apaan ? Pasti lagi bayangin kalau si Karina hamil " ucap Galang menebak isi kepala Damar.
" Kok tahu sih, Lang ! Lo bisa ngeramal ya ? " sahut Damar sambil terkekeh.
" Dasar mupeng ! Kalau lo mau si Karina hamil, ya nikahin dulu lah ! " seru Galang.
" Ish ! Ini juga gue lagi usaha, Den Galang Arya Saputra, suaminya Neng Indira Azzura Prasetya yang sebentar lagi jadi Papa Mama... Torok tok... Tok... Tok... ! " ceroscos Damar layaknya seorang dalang.
Galang menyemburkan tawanya setelah mendengarkan ucapan Damar.
" Astaga, Mar ! Gue gak nyangka, ternyata lo ada bakat jadi dalang juga... " Galang masih terkekeh sementara Damar mencebikkan bibirnya.
" Ya, bagus ! Ketawa aja terus ! Puas-puasin deh ngetawain gue. Gue rela, ridho... Ikhlas dah ! Biarlah penderitaan gue, jadi hiburan buat lo " cibir Damar yang justru membuat Galang semakin terkekeh.
" Sorry, Mar... Sorry... ! " ucap Galang lalu menghentikan tawanya.
" Terus, sekarang mau lo gimana ? " tanya Galang yang sudah mulai beralih ke mode serius.
" Eh, si Dira dah masuk kamar kan ? " Damar balik bertanya.
" Udah sih " jawab Galang sambil melihat ke arah kamarnya.
" Kenapa emang ? " tanya Galang penasaran.
" Gak enak aja ngomongnya kalau dia denger " jawab Damar.
" Mau ngomong apaan sih ? Kenapa gak enak kalau Dira denger ? " tanya Galang lagi.
" Takut, nanti dia ilfeel sama gue " jawab Damar lagi.
" Apa sih yang mau lo omongin ? " Galang semakin penasaran dibuatnya.
" Sebenernya gue ada rencana maksa Karina supaya dia mau nikah sama gue " ucap Damar.
Damar akhirnya menceritakan rencananya kepada Galang untuk memaksa Karina menikah dengannya dengan menjebak Karina.
" Kalau gitu mah bukan cuma Indira yang ilfeel. Gue juga ilfeel sama lo, Mar ! Memangnya gak ada cara lain yang lebih baik ? " tanya Galang.
" Cara apa, Lang ? Gue udah buntu nih. Gak ada ide lain ! " jawab Damar frustasi, ia mengacak rambutnya sendiri.
" Tapi gak gitu juga, Mar. Kalau lo lakuin hal itu, Karina pasti benci sama lo. Walalupun pada akhirnya dia mau nikah sama lo tapi alasannya karena terpaksa dan itu gak akan sehat untuk hubungan kalian ke depannya " jelas Galang.
" Bukan cuma itu aja... Nama baik lo, sama keluarga lo juga bakal jadi taruhannya. Lo gak mau kan keluarga lo kecewa ? " tambah Galang lagi.
" Jadi menurut lo, gue harus gimana ? "
" Kamu nanyaak ? " ledek Galang yang dibalas dengan tinjuan oleh Damar.
" Serius dong, Lang ! " seru Damar.
" Oke... Oke... Sorry ! Itu mah intermezo aja biar lo gak bete. He...he... " sahut Galang.
" Gue cuma bisa saranin lo buat doa aja, Mar. Lo minta sama Tuhan Yang Maha Kuasa supaya ngasih jalan terbaik buat lo. Kalau Karina memang jodoh lo, pasti bakalan tetap sama lo. Tapi kalau bukan jodoh lo... Ya, Lo berdoa aja supaya Tuhan ngasih jodoh yang lebih baik dari Karina. Lo itu harus yakin kalau Tuhan itu memberikan apa yang lo butuh bukan apa yang lo mau !" tambah Galang lagi.