
Pria bermata hitam itu menatap tajam seorang wanita yang berada dimeja yang cukup jauh dari meja yang ditempatinya, namun masih terlihat oleh pandangan.
"Tuan," tegur sang asisten, Romi.
"Ah, ya." Asher segera fokus kembali.
"Kenapa, Rom?" Tanya Asher
"Itu, tanda tangan tuan." Ucap Romi berbisik.
"Oh, ya." Pria itu segera menanda tangani surat kontrak kerjasama.
"Jadi, sudah sepakat ya tuan Asher." Ucap pria yang lebih muda dari Asher, yang tak lain adalah kliennya.
"Iya." Asher celingak-celinguk seperti mencari keberadaan seseorang, sehingga membuat kliennya itu bingung dan juga menoleh kebelakang.
"Tuan sedang mencari seseorang, kah?" Tanya klien itu.
Asher yang menyadari tingkahnya pun, langsung tersadar kembali.
"Ah, tidak. Saya tidak mencari seseorang." Ucapnya.
"Yasudah. kalau begitu, senang bekerja sama dengan anda tuan Asher." Pria muda itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Asher mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan sang klien.
"Senang juga bekerjasama dengan anda tuan-" ucapnya terhenti karena tidak mengetahui nama sang klien.
"Fabian," sela pria muda itu memberitahukan namanya.
"Ya, tuan Fabian."
"Kalau begitu, saya permisi." Izin tuan Fabian mengundurkan diri bersama sekretaris nya.
"Ya, silahkan." Ucap Asher
Setelah keberadaan kliennya, Asher kembali duduk di kursinya.
"Kok gak ada ya, apa dia sudah pergi?" Gumam Asher yang tentu saja masih terdengar oleh sang asisten.
Romi yang sudah tak tahan pun menanyakan tingkah tuannya itu.
"Tuan sebenarnya kenapa? Saya perhatikan sedari tadi tidak fokus." Ujar Romi.
"Diam kamu, Rom!" Sentak Asher dengan perasaan yang tak karuan.
Pria itu melengos pergi, sementara Romi mengelus dadanya melihat tingkah sang tuan yang membingungkan itu.
Dia kan hanya bertanya, kenapa tuannya marah, pikir Romi.
Romi segera menyusul atasannya.
Didalam mobil, Asher terus memikirkan Adine yang sedangย bercanda dengan teman prianya itu. Entah mengapa pria itu tak suka melihat sang istri tertawa bersama pria lain, padahal dimeja itu bukan hanya mereka berdua.
"Sial! Ada apa dengan ku?" Tanyanya dalam hati.
Asher bingung dengan dirinya sendiri, apakah ini yang dinamakan cemburu, pikirnya.
Pria itu menggeleng kepala,"tidak mungkin aku cemburu,"gumamnya.
Romi yang samar-samar mendengar gumaman Asher, pria itu mengernyit melirik tuannya lewat kaca.
"Ada apa tuan?" Tanya Romi
Pria itu melirik tajam sang asisten,"tidak ada. Fokus saja menyetir!"
Romi yang mendengar jawaban itupun memilih diam dan fokus menyetir.
Tuannya hari ini sedang sensitif, ditanya baik-baik langsung marah, pikir Romi.
***
"Misel," panggil Adine.
Seorang gadis berkulit putih berjalan menghampiri Adine.
"Iya, mbak. Ada apa?" Sahut gadis yang bernama Misel itu.
"Karena kerajaan saya sudah selesai, saya mau pulang sekarang. Saya titip butik ini, ya." Ucap Adine
"Baik, mbak." Sahut Misel patuh.
"Oh ya, kalau ada apa-apa hubungi saja," ucap Adine.
"Siap, mbak."
Adine melenggang pergi keluar dari butiknya.
Wanita itu mengemudikan mobilnya menuju rumah.
Beberapa menit berlalu, Adine telah sampai dirumahnya.
Ia membuka pintu utama dan masuk kedalam rumah.
"Bunda," seru Adine saat mendapati sang bunda yang sedang mengasuh sang anak ditemani Risa, sang babysitter.
Wanita paruh baya itu menoleh dan mendapati sang anak yang berjalan menghampirinya.
"Adine, tumben udah pulang?" Sahut sang bunda mengernyit heran menatap sang putri yang tak biasanya pulang cepat.
Memang, ibunda Adine belum mengetahui perubahan sang anak. Karena, selama satu bulan ini ibunda Adine berada diluar kota. Dan besannya pun tak memberi tahu apapun tentang sang anak.
Adine mencium tangan sang bunda.
"Iya, Bun. Kenapa? Gak suka?" Seru Adine sedikit kesal.
Sang bunda malah menepuk bahu Adine,"bukan gitu, aneh aja. Biasanya juga sibuk kerja terus, anak sendiri gak diurus."
Adine tiba-tiba merasa bersalah kembali mengingat masa lalunya.
Wanita itu terlihat murung,"iya, Bun. Aku salah selama ini, tapi sekarang aku sadar kok, Bun. Aku udah berubah kok, iya kan, Ris?" Kata Adine seraya melirik Risa
Risa yang disebutkan namanya itupun langsung mengiyakan,"iya, nyonya besar. Nyonya Adine sudah berubah, sekarang nyonya sudah peduli dengan tuan muda Aldin." Jelas Risa.
Nyonya Andini pun tersenyum senang mendengar bahwa sang anak sudah berubah.
"Beneran kamu udah berubah, sayang?" Tanya bunda Andini untuk meyakinkan.
Adine mengangguk mantap,"iya, Bun."
"Syukurlah, bunda senang mendengarnya." Ujar bunda Andini seraya memeluk sang anak.
Adine membalas pelukan sang bunda.
Adine mengambil alih sang anak. Ia mendudukkan dirinya di sofa dekat sang bunda.
"Gimana hubungan kamu sama Asher?"
Pertanyaan sang bunda yang membuat Adine terdiam sejenak.
"Entahlah, tapi sekarang mulai ada kemajuan sedikit sih." Jawab Adine
"Baguslah kalau begitu."
Adine berdehem. Ia memainkan tangan sang anak yang tak mau diam memasukan kepalan tangannya kedalam mulut kecilnya.
Sedangkan disisi lain, seorang pria tengah dilanda kegelisahan. Ingin marah, namun tak tahu apa alasannya.
๐๐๐