
Setelah sampai rumah, Asher langsung disambut oleh sang anak yang kini sedang digendong oleh Sheira.
Pria itu mengambil alih Aldin dari gendongan sang adik.
"Dek, bawain koper kakak," ucap Asher memerintah.
"iya."
Asher masuk kedalam dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. ia menciumi wajah sang anak dengan gemas.
"Semakin hari, semakin bulat saja, sangat jelek," ejeknya pada sang anak.
Tak lama Adine menghampiri sang suami yang baru saja sampai. ia baru selesai memasak.
"Mas, kamu mau langsung makan atau istirahat dulu?" tanya Adine.
"Makan," jawabnya singkat.
pria itu bangkit dan melangkah menuju ruang makan dengan Aldin yang masih berada digendongnya.
Terlihat sudah tersaji berbagai macam makanan yang semuanya adalah makanan kesukaan Asher.
Pria itu mendudukkan dirinya dikursi, Adine dengan cekatan melayani suaminya. ia menuangkan nasi dan juga lauk pauknya.
Setelah selesai, wanita itu memberikan piring itu kehadapan Asher.
"Ini, mas."
Asher hanya diam tak menanggapi.
"Sini Aldin nya, mas," ucap Adine seraya mengambil sang anak dari pangkuan suaminya.
Sheira pun ikut bergabung dimeja makan itu, mereka mulai memakan makanannya.
Adine memakan sambil memegang sang anak. untungnya, bayi itu tidak banyak tingkah. Aldin menatap mereka yang sedang makan dengan mulut yang seperti sedang mengunyah. nampaknya, bayi itu ingin makan juga.
Sheira yang melihat tingkah keponakannya itu pun dengan sengaja memakan sambil bersuara, menggoda bayi gembul itu.
"Nyam, nyam, nyam."
"Masakan kakak ipar gak pernah gagal, selalu enak," ucap Sheira memuji masakan Adine.
"Iya gak, kak?" sambungnya seraya bertanya pada sang kakak.
Pria itu hanya berdehem dan mengangguk, karena ia sedang mengunyah makanan nya.
Adine hanya tersenyum, wanita itu melirik sang suami sekilas, lalu ia fokus pada makanannya kembali.
Setelah selesai memakan, Asher pergi ke kamarnya untuk beristirahat. sementara Adine dan Sheira membereskan piring kotor dan mencucinya.
"Gak usah, Shei. biar kakak aja yang cuci," ucap Adine.
"gak papa kak, aku bantuin," seru Sheira tersenyum.
Mereka mencuci piring bersama, sedangkan Aldin sedang di asuh oleh Risa.
***
Matanya mulai terasa berat dan pada akhirnya ia pun tertidur.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka.
Cklek.
Adine masuk dan tak lupa menutup pintu kembali.
Ia berjalan menghampiri sang suami yang sedang tertidur dengan pulas.
Adine menggeleng kepala melihat Asher tidur dengan masih memakai pakaian kasualnya dan sepatu yang belum dibuka.
wanita itu mencopot sepatu yang masih melekat di kaki Asher.
"Kayaknya kamu capek banget, mas," gumamnya.
Tak terasa hari semakin sore, Sheira berniat menginap dirumah sang kakak. saat ini, gadis itu tengah menonton televisi diruang keluarga. Asher ikut bergabung bersama sang adik, pria itu sudah terlihat lebih fresh karena sudah mandi.
"Dek, kamu mau nginep?" tanya nya duduk disebelah sang adik.
Gadis itu menjawab tanpa melirik lawan bicaranya,"Iya."
Sheira fokus menatap layar didepannya.
Didalam kamar, Adine tengah memakaikan baju sang anak. kini, bayi itu sudah wangi dan semakin terlihat tampan dengan bedak bayi yang dipakai oleh sang mama diwajahnya.
"Umm, wanginya anak mama," ucap Adine seraya mencium harum tubuh sang anak.
Wanita itu membawa Aldin dalam gendongannya. ia keluar dari kamar dan ikut bergabung bersama suami dan adik iparnya.
"Hai, papa! aku udah ganteng nih," kata Adine menirukan suara anak kecil.
Asher tersenyum melirik sang anak, ia meraih tubuh sang anak agar berada di pangkuannya.
Pria itu mencubit pelan pipi Aldin, mengajak mengoceh bayi tampan itu.
Adine tersenyum melihat ayah dan anak itu, namun ia merasa entah mengapa Asher seperti mengabaikannya.
Sedari datang, sikap Asher terlihat cuek kepada dirinya.
Adine menggeleng, mungkin hanya perasaannya saja, pikirnya.
"Mas, mau aku bikinin teh atau kopi?" tanya Adine menawarkan minuman.
"gak usah."
Pria itu menjawab tanpa menoleh sedikitpun kepada Adine.
Adine diam dan fokusnya kini pada televisi.
"Dia kenapa, ya?" batin Adine bertanya-tanya.
🍁🍁🍁