
Kini, sudah dua Minggu Adine dan Asher melakukan pendekatan. selama itu pula mereka mulai sedikit-sedikit saling terbuka.
Saat ini Adine sedang berada di butik miliknya.
ponselnya berdering, ia tersenyum melihat nama yang tertera dilayar itu.
"Iya, halo. ada apa mas?" ucap Adine saat mengangkat panggilan.
📞:"Dine, kamu siang ini bisa ke kantor aku gak?" tanya seorang pria yang tak lain adalah sang suami.
Ya, yang menelpon Adine adalah Asher. kini Adine mengganti panggilannya menjadi, mas.
"bisa kok. tumben kamu nyuruh aku ke kantor?"
"Ada apa?" sambung Adine.
Wanita itu heran saja, pasalnya Asher tidak pernah menyuruhnya ke kantor selama mereka menikah. dan hari ini adalah pertama kalinya sang suami menyuruhnya ke kantor.
📞:"Gak ada apa-apa sih. khem, kangen aja sama kamu."
sontak wajah Adine memerah, wanita itu menangkup wajahnya.
"Gombal," kata Adine.
📞:"kok gombal sih, aku serius loh. aku emang kangen sama kamu. aku mau nanti siang kamu ke kantor aku, temenin aku makan siang."
"Oke. nanti aku ke sana," balas Adine.
📞:"Aku tunggu. yaudah aku mau kerja dulu." ucap Asher
"Iya, mas. semangat," sahut Adine.
Tut.
panggilan sudah berakhir, Adine senyam-senyum sendiri.
Setelah Adine pikir-pikir, kenapa tidak dari dulu mereka seperti ini. Namun, ia bersyukur bisa mengulang waktu.
Dilain sisi, Asher juga tak kalah senangnya. pria itu menjadi lebih semangat bekerja. siang ini sang istri akan datang ke kantor nya.
***
Adine mengendarai mobilnya menuju kantor sang suami. ia juga membawa rantang berisi makanan. sebelum berangkat ke kantor Asher, wanita itu pulang terlebih dahulu untuk memasak dan membawa masakannya itu ke kantor sang suami. mereka akan makan siang bersama.
wanita itu jadi tak sabar menemui sang suami.
beberapa menit berlalu, kini mobil Adine sudah terparkir diparkiran perusahaan Damian Group.
wanita itu keluar dari mobilnya dan tak lupa menenteng rantang.
Adine merapikan tataan rambutnya seraya mengaca di kaca spion. ia menghembuskan nafasnya, ia mendadak gugup karena ini adalah pertama kalinya menginjakkan kakinya di perusahaan sang suami. dan Adine tidak tahu, apakah karyawan Asher mengenali dirinya.
ya walaupun seingatnya, saat pernikahan dirinya dan Asher semua karyawan di kantor pria itu diundang.
Saat ini Adine sudah berada didepan resepsionis untuk menanyakan dimana letak ruangan CEO.
"Permisi mbak," kata Adine kepada resepsionis itu.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" balas wanita dengan rambut yang diikat satu.
"Saya mau nanya, ruangan CEO dimana ya?" tanya Adine.
Resepsionis itu sejenak menatap tampilan Adine.
"Maaf, apakah mbak sudah ada janji dengan pak Asher?" tanyanya tersenyum dengan ramah.
"iya, saya sudah ada janji dengan beliau," balas Adine tersenyum.
Wanita itu langsung percaya melihat penampilan Adine yang terbilang formal dan wanita itu beranggapan bahwa Adine adalah salah satu klien bosnya.
Resepsionis itu tidak menyadari bahwa Adine adalah istri bosnya.
Adine masuk kedalam life menuju ruangan Asher.
Cklek.
"Hai, mas. aku bawa makanan kesukaan kamu loh," ucap Adine yang belum menyadari keberadaan orang lain di ruangan itu.
Ia berjalan dengan santai menghampiri meja sang suami.
Asher tersenyum senang melihat sang istri sudah datang.
sementara di sofa, terlihat sang sahabat yang menatap aneh. siapa lagi jika bukan, Ran Erlangga.
"kenapa gak ngabarin kalo udah sampai?" tanya Asher.
"ya gak papa, takut ganggu kamu lagi kerja," jawab Adine santai.
wanita itu membuka rantangnya, aroma masakan Adine masuk di indra penciuman Asher.
"Wah, kayaknya enak nih." ucap Asher seraya menatap makanan itu.
"Iya dong, siapa dulu yang masaknya," seru Adine bangga pada hasil masakannya.
"Iya. masakan kamu emang paling enak."
Perkataan sang suami terdengar manis ditelinga Adine.
Pria itu bisa saja membuat Adine tersipu malu. Adine kira, Asher adalah pria yang benar-benar kaku. namun nyatanya, pria itu sangat bisa membuat seorang wanita cuek bebek menjadi tersipu malu.
"Dine~" panggil Asher.
"Ya," balas Adine singkat.
"Suapin," rengek pria itu terlihat menggemaskan sangat mirip dengan Aldin, namun bedanya Asher adalah versi dewasanya.
Ran yang mendengar itupun mendadak mual, pria seperti Asher sangat tidak cocok merengek seperti itu, pikir Ran.
"Huek, gak pantes Lo kayak gitu," Celetuk Ran yang sedari tadi hanya diam menjadi penonton diantara pasutri itu.
Adine yang melihat ada orang lain pun mendadak merasa malu. ia melirik pria yang terlihat tak kalah tampan dari sang suami.
"Eh, ada orang lain ternyata," seru Adine tersenyum kikuk.
"nggak sayang, dia bukan orang," sahut Asher yang tanpa sadar menyebut kata sayang kepada Adine.
Wanita itu menunduk malu.
"Udah, cepat suapin. gak usah malu, anggap aja gak ada orang." Seru Asher menyuruh Adine untuk segera menyuapinya.
Ran yang mendengar itupun menjadi kesal.
"Sialan Lo!" umpatnya kesal.
"Gue pergi aja deh, dari pada jadi nyamuk disini."
Pria berambut pirang itu memilih pergi dari ruangan Asher.
"Baguslah kalau Lo sadar," ucap Asher mengejek.
setelah kepergian Ran, mereka melanjutkan kegiatannya.
"Iseng banget sih kamu," seru Adine.
Jam makan siang sudah berlalu beberapa menit yang lalu, Adine sudah pulang ke rumah, sementara Asher melanjutkan pekerjaannya.
Dilain sisi, Adine mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. disaat sedang fokus-fokusnya menyetir, matanya tak sengaja melihat seseorang yang terasa familiar. Adine menghentikan mobilnya, ia sangat penasaran akan sosok wanita yang terasa tak asing.
Wanita berambut gelombang yang Adine lihat itu baru saja keluar dari sebuah rumah sakit.
Setelah dilihat-lihat, Adine mulai menyadari sesuatu. tiba-tiba perasaannya menjadi tak tenang.
Deg!
🍁🍁🍁