
🏢 Damian Group office.
Asher tengah fokus pada laptopnya, pria itu sesekali mengecek berkas-berkas penting perusahaan.
Perusahaan Damian Group, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur. Membuat rancangan pembangunan seperti, mendesain sebuah rumah yang akan dibuat, membuat sebuah mall dan lain-lain.
Pria berusia 30 tahun ini sudah menjadi CEO diusianya yang ke 25 tahun, menggantikan peran sang ayah yaitu, Serkan Damian.
Memimpin sebuah perusahaan bukanlah hal yang mudah dilalui, begitupun yang Asher rasakan.
Dituntut sempurna untuk menjadi sebuah penerus perusahaan, membuat pria itu tak pernah sekalipun memikirkan tentang percintaan, karena didikan ayahnya yang keras membuat kepribadian Asher menjadi kaku dan dingin jika berhadapan dengan orang lain.
Hingga, diusianya yang ke 28 tahun dirinya dipaksa menerima perjodohan yang sudah disepakati oleh dua keluarga besar.
Ya, keluarga besar Damian dan juga Hutama. Adine alsava hutama, gadis yang dijodohkan dengan dirinya. Gadis cantik, tegas dan cerdas dimata Asher saat pertama kali pertemuan.
Namun, pria itu tak sedikitpun tertarik dalam artian menyukai, mungkin hanya sebatas kagum.
Siapa yang tidak mengagumi seorang Adine, anak semata wayang dari keluarga yang cukup berpengaruh dalam bisnis dan juga ia adalah seorang pemilik butik sekaligus desainer muda yang cukup terkenal.
Ketukan pintu terdengar, pria itu tetap fokus dengan laptopnya.
"Masuk!" Ucapnya.
Cklek.
"Hai bro, sibuk banget kayaknya." Ucap seorang pria berambut pirang berjalan menghampiri meja Asher, seraya menyapa.
"Ya."
Asher menjawab dengan singkat tanpa menoleh sedikit pun. Ia tetap fokus pada layar didepannya.
"Yaelah singkat banget jawabnya."
Pria berambut pirang itu mendengus kesal, ia berjalan menuju sofa.
Asher hanya berdehem.
"Oh iya, gimana sama pernikahan Lo?" Tanya pria itu
Pria beranak satu itu menghentikan kegiatannya mendengar pertanyaan dari sang sahabat mengenai pernikahan dirinya.
"Gak gimana-gimana." Jawabnya santai
Pria berambut pirang itu berdecak,"ck, maksud gue itu... Gimana, kalian udah ada kemajuan belum? Masa gak ada peningkatan sama sekali sih, aneh Lo berdua." Ujarnya.
Asher menyenderkan tubuhnya dikursi kebesarannya,"gue... gak tahu."
Pria itu kini sedang dilanda kebimbangan, sudah beberapa hari ini perasaannya menjadi tak karuan. Semenjak perubahan Adine yang tiba-tiba, entah mengapa membuatnya merasakan kenyamanan dan juga ingin selalu berdekatan, namun bukan Asher namanya kalau tidak gengsi untuk mengakui.
Untuk saat ini pria itu hanya bisa menahannya.
Kini sudah satu bulan, sikap Adine yang berubah dan tentu membuat perubahan pula pada diri Asher. Intinya, pria itu sedikit lebih terbuka dan juga sikap menyebalkan yang tidak Adine ketahui mulai keluar.
"Gini ya, sher. Lo tuh kan, cowok. Harusnya, Lo duluan dong yang mulai pendekatan. Gimana mau maju hubungan kalian, kalo Lo dan istri Lo sama-sama gak peduli." Ujar pria berambut pirang itu menasehati sang sahabat.
"Aneh Lo berdua, udah dua tahun pernikahan tapi sikap kalian masih sama-sama dingin, apalagi sekarang udah ada anak, masa masih gitu-gitu aja sih."
Pria berambut pirang itu menggeleng kepala, tak habis pikir dengan Asher.
Sementara Asher terdiam mencerna perkataan Ran Erlangga, sahabatnya.
"Dia berubah," celetuk Asher.
"Hah? Dia siapa?" Tanya Ran dengan raut wajah bingung.
Ran berdecak kesal,"kalo ngomong jangan setengah-setengah dong. Yang jelas, dia siapa?"
Pria itu memutar bola matanya malas,"Adine."ucapnya.
"Oh, gitu kek dari tadi."
"Tinggal sebutin namanya aja susah amat."
Asher hanya diam.
"Oh iya, kata Lo dia berubah? Berubah gimana maksudnya?" Tanya Ran penasaran.
"Dia lebih hangat sih belakang ini. Yang biasanya gak pernah nyapa ataupun basa-basi dan gak peduli sama... Hm, Aldin. Sekarang dia lebih peduli sama Aldin, dan juga suka nyapa atau basa-basi sama gue." Ungkap Asher panjang lebar.
"Dan yang kalian semua gak tahu, dia tuh aslinya cerewet."sambungnya.
"Hah? Masa sih, gak mungkin lah. Waktu gue datang ke pernikahan Lo berdua, gue nyapa tapi dia gak bales sapaan gue. Senyum aja kagak, mukanya datar. Benar-benar keliatan kalo kalian tuh terpaksa." Sahut Ran seraya mengingat saat pernikahan Asher dan Adine.
"Menurut Lo, aneh gak sih?" Tanya Asher dengan wajah seriusnya. Ia tak menanggapi perkataan Ran yang tadi.
"Hem, gitu ya." Ran menganggukkan kepalanya
"Ya, emang aneh sih. Tapi baguslah kalo dia kayak gitu, Lo juga harusnya berubah kaya istri Lo! Mungkin aja dia mau lebih dekat sama Lo. Secara Lo kan, orangnya gengsian, datar, dingin, gak asik, nyebelin, sok cakep--" ucap Ran yang berakhir dengan meledek Asher.
Tak.
Pulpen berwarna hitam mendarat sempurna di kening Ran.
Pria itu mendengus kesal kepada sahabatnya itu, yang meledek dirinya.
"Aww," ringis Ran seraya memegang keningnya.
Sang pelaku hanya memutar bola matanya malas,"cih, lebay."
"Sialan, Lo." Umpat Ran.
***
Disebuah restauran, tepatnya disalah satu meja yang berisikan dua orang pria dan juga dua orang wanita.
Mereka terlihat asyik berbincang.
"Dine, nantikan ada reunian di SMA, Lo datang, kan?" Tanya wanita berambut ikal.
"Hm, gimana ya. Gue gak tahu, gimana nanti deh." Jawab Adine bingung.
"Yah, kok gitu sih. Udah lama loh gak pernah ikut, masa kali ini gak ikut lagi. Gak asik Lo." Kata wanita itu.
"Iya nih, kapan lagi Dine, bisa kumpul-kumpul bareng." Timpal pria yang memakai kemeja maroon.
"Nah, bener tuh." Sahut pria yang duduk berhadapan dengan wanita berambut ikal.
"Bukan gitu, gimana ya jelasinnya. Yaudah deh, nanti kalo gue ikut gue chat kalian." Ucap Adine.
Ya, wanita itu adalah Adine dan teman-temannya. Mereka tak sengaja bertemu, Adine yang memang sedang bertemu klien di restoran itu. Dan kebetulan, teman-teman Adine ada di restoran yang sama sehingga mereka memanggil Adine untuk ikut bergabung dimeja mereka, setelah Adine selesai dengan urusannya. Mereka sekedar berbincang-bincang mengenai masa-masa sekolah dulu.
Adine tertawa saat teman prianya itu melontarkan candaannya.
Tanpa Adine sadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam dari kejauhan.
🍁🍁🍁