
Pagi ini terasa lebih hangat, sepasang suami-isteri itu saling bersitatap, lalu tersenyum malu-malu seperti pengantin baru.
Pria berkemeja putih dengan jas hitam yang melekat ditubuh tegapnya itu terlihat lebih tampan dari biasanya, mungkin karena pria itu banyak tersenyum.
Asher memberikan senyumannya kepada sang istri yang kini sedang sibuk dengan alat-alat dapur.
Ya, Adine sedang memasak untuk sarapan dirinya dan sang suami.
sesekali Adine melirik kebelakang yang dimana suaminya berada. Asher duduk dikursi meja bar.
Setelah perkataan Asher semalam, mengenai pernikahan mereka. hari ini keduanya terlihat lebih ceria, apalagi pria kaku itu yang kini tak henti-hentinya tersenyum.
Mereka sepakat memulai semuanya dari awal. memulai pendekatan yang seharusnya sudah dilakukan sejak awal sebelum pernikahan terjadi, agar mengetahui seperti apa yang akan menjadi pasangan hidupnya.
Adine mematikan kompornya, kini ia menata piring yang berisi masakannya.
berjalan menuju meja makan seraya membawa piring, Asher yang melihat itupun segera berdiri dan membantu sang istri untuk menata makanannya dimeja.
Mereka duduk saling berhadapan, Adine berdiri meraih piring sang suami untuk ia layani.
"Mm, kamu mau lauk apa?" tanya Adine setelah menuangkan nasi ke piring Asher.
"Semuanya," sahut Asher sambil menatap makanan yang Adine masak.
wanita itu menuruti keinginan suaminya, ia menyimpan beberapa lauk di piring Asher.
setelah melayani sang suami, Adine menuangkan nasi dan juga lauk ke piringnya sendiri.
Mereka memakan makanannya dan tak lupa membaca doa terlebih dahulu.
Tak ada yang bersuara hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Tanpa mereka sadari, tingkah pasutri itu menjadi tontonan sang babysitter. ya, Risa sedang menggendong Aldin, ia tadinya ingin ke dapur namun setelah melihat keberadaan tuan dan nyonya nya ia pun mengurungkan niatnya.
gadis itu malah menonton sang majikan yang terlihat sedang malu-malu itu, seperti pengantin baru saja, pikir Risa.
"Tuan muda senang ya, melihat mama dan papa sekarang sudah akur." ucap Risa dengan pelan agar tak terdengar oleh tuan dan nyonya nya.
Bayi berusia jalan tiga bulan itu tersenyum memperlihatkan gusinya. Aldin sekarang semakin berisi, sangat terlihat menggemaskan dengan pipi chubby nya itu.
Puk.
Tepukan dipundaknya membuat Risa tersentak kaget.
"Sedang apa kamu disini?" tanya bi Sumi yang datang dengan membawa sapu, karena ia memang sehabis menyapu.
"Aih, bibi ngagetin aja deh." kesal Risa
"Lagian kamu ngapain berdiri disini?"
Gadis itu cengengesan,"ee.. itu bi, Risa lagi ngintip tuan sama nyonya." bisiknya berkata dengan jujur.
sontak bi Sumi melihat kedepan, benar saja di sana ada tuan dan nyonya yang sedang makan bersama.
Bi Sumi pun tersenyum melihat tuan nya yang mulai terlihat akrab dengan nyonya.
"Semoga saja mereka terus seperti ini," ucap bi Sumi dalam hati.
Bayi tampan itu nampaknya mulai bosan, ia rengek dengan suara tangisan bayinya.
Oek...oek...oek.
Sontak saja Adine dan Asher menoleh kearah babysitter dan juga pelayannya.
"Aldin," ucap Adine beranjak dari duduknya, menghampiri sang anak.
berbeda dengan Asher, mendengar tangisan sang anak malah membuatnya merasa kesal. pria itu tetap duduk dan lanjut menikmati makanannya.
Adine mengambil Aldin dari tangan Risa.
setelah berada digendong sang mama, bayi itu malah semakin mengeraskan tangisannya.
Adine kebingungan melihat tangisan Aldin yang semakin menjadi.
"Aduh, tuan muda kenapa ya, tadi masih baik-baik aja deh," ucap Risa yang juga bingung.
"Apa tuan muda haus, ya?" seru bi Sumi.
"Masa sih, orang baru tadi kok dikasih susu," sahut Risa.
Wanita itu berjalan menghampiri sang suami yang terlihat tenang dan seolah cuek dengan sang anak.
Adine mulai kesal dengan Asher, pria itu kecuekannya mulai kumat, pikirnya.
"Mas!" Tegur Adine kesal
wanita itu tanpa sadar memanggil sang suami dengan sebutan mas.
"Kok kamu diem aja sih, bukannya bantuin nenangin Aldin. ini anak kamu loh, lagi nangis." cerca Adine.
Oek...oek..oek.
Bukannya tidak ingin menenangkan sang anak, pria itu hanya tidak tahu harus bagaimana. ia tak pernah mengasuh anak kecil dan tak pernah juga mengajak berinteraksi anak kecil.
Pria itu mengambil tisu dan diusapkan ke area mulutnya.
"Terus, saya harus bagaimana, Dine?" tanya Asher yang kini berdiri berhadapan dengan sang istri.
"ya, tenangin lah."
"iya, tenanginnya gimana coba?"
wanita itu menghembuskan nafas, ia memberikan Aldin kepada sang suami.
"eh," Asher dengan sigap memegang Aldin.
Pria itu hanya diam tidak melakukan apapun, sebenarnya ia bingung sendiri harus bagaimana.
Tangisan Aldin berhenti setelah berada digendong Asher. nampaknya, Aldin tahu bahwa pria yang saat ini menggendongnya adalah sang papa.
"Owalah, tuan muda sepertinya memang ingin digendong oleh tuan," seru bi Sumi.
"iya, benar kata bi sumi. dari tadi gak ada yang bisa nenangin tuan muda, eh setelah ada digendong tuan, tuan muda langsung diam." timpal Risa seraya mengangguk.
"Tuh denger. kayaknya Aldin kangen sama papanya." seru Adine.
Pria itu berdehem, entahlah ia harus berekspresi seperti apa. ada rasa senang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ia memilih diam.
Menatap wajah sang anak yang benar-benar mirip dengan dirinya, Asher seperti bercermin. Aldin mewarisi garis wajah sang papa, tak ada satupun yang diwarisi dari sang mama.
"Dine, ini bau apa?" tanya Asher melirik Adine
"Kok, tangan saya agak lengket ya?" sambungnya.
Adine mengendus mendekati sang anak.
"Kayaknya Aldin pup deh, mas." ucap Adine
"APA!" pekik Asher.
wajah pria itu berubah masam, tampaknya ia sangat kesal.
"Dine, hari ini saya ada meeting dengan klien. ini gimana ini, saya harus berangkat sekarang." ucap Asher memelas.
wanita itu terlihat santai,"yaudah sih, tinggal ganti baju apa susahnya."
Adine melengos pergi sambil membawa Aldin.
Terlihat tangan pria itu mengepal erat. anaknya itu masih kecil tapi sudah terlihat menyebalkan.