Adine's Second Life

Adine's Second Life
Tentang foto



"Kamu kenapa sih, mas?" tanya Adine yang sudah tak tahan menanyakan sikap Asher yang sedari tadi cuek itu.


Saat ini mereka sedang berada didalam kamar.


"Gak papa," jawab Asher datar.


Pria itu nampak sibuk dengan handphone nya.


"Aku ada salah sama kamu?" tanya Adine lagi.


"Gak."


Asher meletakkan handphonenya diatas nakas. pria itu mulai merebahkan tubuhnya di ranjang.


Adine mendekat, ia masih heran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah.


Wanita itu mulai berfikiran negatif, biasanya jika pria berubah sikap tiba-tiba, pasti ada sesuatu yang disembunyikan, pikirnya.


"kamu aneh, mas. tiba-tiba cuekin aku kayak gini," celetuk Adine.


Asher yang baru saja memejamkan mata, kini membuka matanya kembali saat mendengar celetukan sang istri.


Pria itu menghembuskan nafasnya, ia bangkit dan mendudukkan dirinya.


Asher meriah handphone nya yang berada diatas nakas, ia menyalakan nya lalu memberikan handphone itu kepada Adine.


Adine mengernyit heran namun, ia menerima handphone itu dan melihat sesuatu.


Adine terbelalak melihat foto dirinya dengan kakak kelas nya itu ada di handphone sang suami.


wanita itu menatap sang suami dengan kernyitan di dahinya.


Pria itu masih menatap sang istri dengan datar. ia menunggu penjelasan dari istrinya itu.


"loh, ini kan waktu di restoran kemarin, " ucap Adine.


Asher menatap tajam sang istri,"jadi, benar. kemarin kamu ke restoran sama pria yang ada difoto itu?"


Adine mengerjapkan matanya, nampaknya ia mulai paham. mengapa suaminya itu bersikap seperti itu.


"Iya, kemarin aku makan siang bareng di restoran," ujarnya jujur.


Asher membuka mulutnya, sepertinya pria itu akan berbicara namun, Adine langsung menyela.


"Jangan salah paham dulu! kemarin tuh kita gak sengaja ketemu di minimarket. pria itu kakak kelas aku saat SMA, namanya Mario. dia ngajak aku buat makan siang di restoran, awalnya aku gak mau. tapi, karena dianya terus memaksa, yaudah aku iya in," jelas Adine agar tak membuat Asher salah paham lagi.


Asher fokus mendengarkan, sekarang pria itu bisa bernafas lega setelah mendengarkan penjelasan sang istri.


"Tapi, kenapa saat aku telpon kamu gak bilang kalau pergi ke restoran?" Tanyanya menyelidik.


Adine menghembuskan nafasnya sejenak.


"Kan, kamu nanya aku pergi kemana aja? ya, aku jawab dong, pergi ke minimarket. terus, salahnya dimana?"


"ya, salahnya kamu gak bilang kalau kamu pergi sama pria, itu yang bikin aku kesal sama kamu," balas Asher dengan wajah kesalnya.


Bukannya menjelaskan lagi, Adine malah tersenyum menatap wajah kesal Asher. Ia mengerti sekarang, pria itu sepertinya sedang cemburu. Namun, Adine tahu bahwa sang suami adalah orang yang paling gengsian untuk mengakui.


"Kamu cemburu?"


Sontak, pria itu memalingkan wajahnya. terlihat menggemaskan jika seperti itu dimata Adine.


Adine semakin ingin menggoda Asher.


"Masa? yakin gak cemburu, Hem?" ucapnya seraya menaik turunkan alisnya, menggoda Asher.


wajah pria itu semakin memerah, karena kesal dan juga malu, secara tidak langsung dirinya memang cemburu.


"Yakinlah!"


Adine tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Oh, gitu..."


Asher masih memalingkan wajahnya tak ingin menatap sang istri.


"Sebenarnya sih, kemarin itu pertemuan untuk yang kedua kalinya," ucap Adine dengan santainya.


Mendengar itu, Asher langsung menoleh dengan cepat.


"Jadi kalian janjian buat ketemuan," tuduh Asher.


Wanita itu berdecak sebal,"bukan ketemuan tapi, gak sengaja ketemu!"


"Sama saja."


"Ya, jelas beda dong, mas."


Adine malah menjadi kesal sendiri pada suaminya.


"Sudah banget sih, tinggal bilang cemburu aja apa susahnya," cibir Adine.


"Gak usah ge'er, ngapain juga cemburu. orang nanya doang kok," balas Asher terus saja mengelak.


"Iya deh, yang gak cemburu," ucap Adine dengan penekanan dikata cemburu.


Mereka terdiam untuk beberapa saat.


"Tunggu! kamu dapet Poto itu dari mana?" Tanya Adine yang mulai menyadari sesuatu.


"Nomor yang gak dikenal," jawab Asher yang sepertinya mulai sadar.


"Berarti saat itu ada seseorang yang sengaja fotoin aku sama kak Mario di restoran," ucap Adine menduga-duga.


Pria itu mengangguk membenarkan dugaan Adine.


"Pertanyaan nya, untuk apa orang itu kirim ke kamu? Atau jangan-jangan..."


"Jangan-jangan apa?" timpal Asher.


"Orang itu sengaja kirim ke kamu dan dia berharap kamu marah sama aku..." seru Adine dengan yakin.


Pria itu nampaknya sedang berfikir.


"Dan, yeah. dia berhasil buat kamu marah sama aku."


"Sebenarnya orang itu siapa?" batin Adine bertanya-tanya.


🍁🍁🍁