
Drtt.
Dering ponsel berbunyi nyaring ditengah-tengah rapat penting.
Kini, semua mata menatap pemilik ponsel yang berdering itu.
Asher meraih ponselnya dan ternyata sang istri lah yang menelpon. awalnya akan mengangkat panggilan namun, ia urungkan. karena saat ini sedang rapat dan sebentar lagi juga selesai.
Setelah selesai, nanti ia kan menelpon balik sang istri, pikirnya.
pria itu mematikan ponselnya agar tak ada yang menelpon.
"Maaf, tuan Asher. apa sekarang bisa dilanjutkan?" tegur salah satu investor.
"Ah, iya. lanjutkan!" ucap Asher yang sudah tersadar bahwa saat ini masih banyak orang yang berada di ruangan itu.
Lagipula, pria itu juga ingin segera rapat ini selesai.
Mereka kembali melanjutkan rapat penting mengenai perencanaan pembangunan sebuah mall.
Ditempat lain, tepatnya disebuah rumah sakit.
Wanita beranak satu itu sedang menghubungi sang suami namun, panggilan nya malah ditolak.
Percobaan kedua tetap sama, sang suami tidak mengangkat panggilan nya.
"kamu kemana sih, mas?" kesalnya.
"Ditelpon kok gak diangkat-angkat," sambungnya.
Tiba-tiba pikiran negatif terlintas di otak nya, apalagi pagi tadi ia melihat wanita itu datang ke kantor suaminya.
"Apa jangan-jangan dia lagi berduaan lagi sama si Mey-mey itu."
"Awas aja kalau sampai terjadi," ucapnya dengan kesal.
"Gimana, Dine? Asher udah di telpon belum?" tanya bunda Andini yang baru saja datang, karena tadi ia ke toilet sebentar.
Adine menghembuskan nafasnya,"hufft, udah Bun. udah ditelpon tapi dari tadi gak diangkat," ujarnya.
"Yaudah, mungkin Asher sedang meeting," ucap bunda Andini menenangkan karena ia merasa Adine sedang gusar.
"Jangan berpikiran negatif, udah, kamu fokus saja sama Aldin," kata bunda Andini.
"Lagipula Aldin sudah ditangani oleh dokter, panasnya juga sudah mulai turun. kamu tenang saja, sebentar lagi juga Aldin boleh pulang," sambungnya.
Adine mengangguk,"iya, Bun."
***
Asher kira, setelah selesai rapat ia bisa menghubungi istrinya. namun ternyata ia tak bisa, tiba-tiba ada klien yang memajukan jadwal meeting nya, yang seharusnya besok hari menjadi hari ini.
"Rom, buatkan saya kopi," titahnya kepada sang asisten.
"baik, tuan."
Asisten Romi segera pergi untuk membuatkan kopi.
Tak butuh waktu lama, Romi datang dengan membawa secangkir kopi hitam.
"Ini tuan, kopinya." ucap Romi meletakkan kopi itu di meja kerja sang tuan.
"Terimakasih," ucap Asher.
"Oh ya, ini makanan buat kamu saja," sambungnya seraya menyerahkan bekal makan siang yang sudah istri nya bawa untuk dirinya.
Nampaknya, Asisten Romi ragu untuk menerima makanan itu karena ia tahu, itu adalah makanan dari istri tuannya.
"Tapi, tuan--"
Asher lebih dulu menyela, ia saat ini tak ingin makan. walau sebenarnya saat rapat ia merasa lapar, tapi karena ada meeting dadakan, ia menjadi tak bernafsu makan.
pikirannya hanya ingin cepat-cepat selesai agar ia bisa beristirahat.
"Udah, kamu makan saja. dari pada nanti mubazir, lebih baik kamu yang makan..."
"...Lagi pula saya sudah tak ingin makan, masih banyak kerjaan yang belum selesai,"
Asisten Romi menerima bekal itu, kapan lagi tuannya itu berbaik hati, mau memberikan makanan yang dibuat oleh istrinya sendiri kepada orang lain, pikirnya.
"Terimakasih, tuan," ucap asisten Romi tersenyum senang.
Pria itu hanya berdehem, ia mulai membuka laptopnya.
"Kalau begitu saya permisi, tuan," pamit asisten Romi berlalu pergi.
"Ya."
Asher menyesap kopi buatan asisten nya itu, lalu ia menyenderkan tubuhnya dikursi kebesarannya.
Pria itu memejamkan matanya sejenak.
"Adine marah gak ya, kalau dia tahu bekalnya dikasih ke Romi?" monolognya.
Asher menegakkan tubuhnya kembali.
"Udahlah ngapain dipikirin, mending sekarang selesai in kerjaan dulu," ujarnya.
🍁🍁🍁