Adine's Second Life

Adine's Second Life
Kekhawatiran Asher



Pagi ini Asher berangkat ke kantor dengan suasana hati yang tak tenang. ia tak ingin meninggalkan sang istri yang sedang tidak baik-baik saja. namun, pagi ini ia ada meeting dengan klien sehingga mau tak mau ia harus berangkat ke kantor.


selama meeting dimulai, pria itu kurang fokus mendengarkan pikirannya tertuju pada Adine yang sedang berada di rumah.


"Tuan," tegur Romi agar atasannya itu fokus dengan meeting kali ini.


Pria itu segera tersadar, Asher melanjutkan meeting nya dengan selesai.


Seusai meeting, pria itu langsung menuju ruangannya dan mendudukkan dirinya dikursi kebesarannya.


ia menghembuskan nafasnya sejenak, tak lama Romi masuk keruangan nya.


"Tuan, apa anda sedang ada masalah?" tanya Asisten Romi.


"Tidak."


"Rom, tolong buatkan saya kopi," pinta Asher meminta tolong.


Pria itu memijat pelipisnya.


"Baik, tuan."


Asisten Romi berlalu pergi untuk membuatkan kopi.


"Sepertinya tuan memang sedang ada masalah. apakah tuan dan nyonya bertengkar?"


Pria itu bermonolog dalam hati, ia tahu sebenarnya tuannya itu sedang ada masalah.


Romi segera membuatkan kopi untuk tuannya.


"Ini tuan, kopinya," ucapnya seraya meletakkan secangkir kopi itu diatas meja.


"hm, terimakasih," sahut Asher.


Setelah memberikan kopi itu, asisten Romi berlalu pergi keluar dari ruangan Asher.


"Adine, sedang apa ya dirumah? apa dia melamun lagi? sebenarnya ada masalah apa?" ucap Asher bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Sepulang dari rumah bunda Andini, Adine terlihat berbeda. ia menjadi lebih pendiam, berbicara seperlunya. Pria itu khawatir telah terjadi sesuatu pada sang istri.


Asher menyesap kopinya dengan perlahan. pikirannya masih tertuju pada sang istri.


Sedangkan ditempat lain, orang yang sedang dipikirkan ternyata tengah menemani sang anak bermain. walaupun suasana hatinya sedang tak baik, wanita itu tetap menemani sang anak bermain.


"Ma ma ma ma..."


Adine tidak menyahuti ia hanya tersenyum saat sang anak memanggil dirinya dengan sebutan Mama.


Saat ini Adine sedang tidak fokus dengan yang berada disekitarnya. pikirannya sedang tertuju pada perpisahan kedua orangtuanya. walaupun dirinya sudah dewasa, tetap saja rasa sakit itu ada.


Tak pernah terbayangkan oleh Adine, rumah tangga yang terlihat harmonis dan tampak baik-baik saja kini hancur karena kehadiran orang dari masa lalu.


Adine masih belum menerima kenyataan ini, ia masih tak percaya akan perceraian kedua orangtuanya.


Oek..oek..


Suara tangisan membuat Adine tersadar dari lamunannya. tanpa sadar sedari tadi ia melamun.


"Cup..cup..cup. maafin mama ya," ucapnya seraya menggendong Aldin.


Aldin masih menangis, entah apa yang membuatnya menangis. Adine membawa sang anak kedalam kamarnya, karena tadi ia bermain dilantai bawah.


bayi tampan itu diletakkan di ranjang, Adine mengecek popok sang anak. benar saja, ternyata Aldin pup dan itu membuatnya menangis karena merasa tidak nyaman.


"Ternyata kamu lagi pup," ucap Adine tersenyum menatap sang anak.


Dengan telaten wanita itu mengantikan popok sang anak.


Setelah selesai menggantikan popok sang anak, bayi itu tampaknya mulai mengantuk. Adine menimang-nimang Aldin agar segera tidur.


Tak membutuhkan waktu lama, bayi tampan itu mulai terpejam.


Dengan hati-hati Adine menidurkan Aldin di kasurnya.


Setelah menidurkan sang anak, Adine ikut berbaring disebelahnya. Handphonenya berbunyi pertanda pesan masuk.


Adine membuka pesan itu yang ternyata dari suaminya.


Adine tersenyum membaca pesan itu, iapun berbalas pesan dengan Asher.


Entah apa yang mereka bicarakan dipesan itu, yang pasti Adine mulai sadar bahwa ia seharusnya lebih terbuka lagi kepada suaminya. Masalah apapun itu sebaiknya ia ceritakan kepada suaminya agar tidak membuat pria itu mencemaskan dirinya.


"Maaf mas, sudah membuat kamu khawatir," ucap Adine setelah selesai berbalas pesan dengan sang suami.


"Maaf aku belum bisa terbuka dengan kamu. aku janji, setelah kamu pulang dari kantor nanti, aku akan menceritakan semuanya," sambungnya.


🍁🍁🍁