
Adine meminta izin kepada sang suami untuk berkunjung ke rumah bunda Andini. Asher pun mengijinkan sang istri, pria itu menunda untuk membicarakan tentang niatnya yang ingin mengajak Adine untuk berlibur.
Setelah dipikir-pikir, sejak awal menikah mereka memang tidak pernah kemana-mana. tidak ada waktu untuk jalan berdua, seperti pasangan pada umumnya.
Dan kali ini, Asher ingin menikmati moment kebersamaannya bersama Adine, hanya berdua. si kecil Aldin bisa ia titipkan kepada Mama Ambar ataupun bunda Andini, pikirnya.
Tanpa sadar Asher senyum-senyum sendiri membayangkan waktu berduanya dengan sang istri.
"Mas!" tegur Adine ia takut Asher menjadi gila karena senyum-senyum sendiri, entah apa yang pria itu pikirkan.
"kamu kenapa sih, senyum-senyum sendiri," ucap Adine.
Saat ini pria itu sedang menyetir mobil, Asher menoleh sekilas.
"Gak papa," balasnya tersenyum.
"Aneh," gumam Adine.
Tujuan mereka sekarang adalah ke rumah bunda Andini.
"Pa pa pa papa..." celotehan Aldin memanggil sang papa.
Asher sedikit terkejut mendengar Aldin menyebutnya, papa.
"Wah, ternyata Aldin udah bisa panggil papa, ya," ucap Asher senang menatap wajah sang anak yang kini sedang menatapnya juga.
"Iya, mas. Aldin juga udah bisa panggil aku, mama," sahut Adine menimpali.
"Gak kerasa Aldin sudah semakin besar," ucap Asher seraya melirik sang istri, pria itu sepertinya sedang memberi kode.
"Iya, mas."
Pria itu tiba-tiba senyum-senyum sendiri.
"Jadi gak sabar," ucapnya.
Adine mengernyit,"gak sabar apa?"
"Aldin punya adik," jawab Asher dengan santainya.
Senyum Adine luntur seketika mendengar ucapan Asher. bukan, bukan ia tidak ingin. hanya saja Aldin masih terlalu kecil untuk memiliki adik.
"Nggak, ya. Aldin masih kecil," ucap Adine ketus.
"Bagus dong, Aldin jadi ada temennya, kan?"
"Itu sih maunya Kamu!"
Asher tertawa melihat wajah masam Adine.
Tidak terasa kini mereka sudah sampai dirumah bunda Andini.
mereka turun dari mobil, Adine segera menuju pintu utama.
Ting... nong...
Cklek.
"Adine," ucap bunda Andini setelah melihat tamu yang datang.
Adine segera menyalami sang mama diikuti oleh Asher.
Mereka masuk kedalam rumah.
"Bi Darmi," panggil bunda Andini.
Bi Darmi segera menyahuti dan menghampiri.
"Iya, nyonya?"
"Tolong buatkan minuman, ya," pinta bunda Andini.
"Baik, nyah."
Bi Darmi bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman.
Saat ini mereka sedang duduk diruang tamu.
"Asher, kamu gak ke kantor?" tanya bunda Andini.
Entah mengapa hari ini ia lebih hangat dan santai saat diajak berbicara.
"Dasar, kamu!" kata bunda Andini.
"jangan gitu, gak profesional. harusnya kamu yang jadi contoh buat karyawan-karyawan kamu," ucap Adine menimpali, wanita itu tidak suka sang suami tidak profesional dalam bekerja.
"Iya, sayang," sahut Asher yang mana membuat Adine mencubit perut sang suami.
"Aduh, kok dicubit sih," ucap Asher meringis karena cubitan Adine.
Adine malu karena Asher mengucapkan kata sayang kepadanya dihadapan sang bunda.
Bunda Andini tersenyum senang melihat Adine dan Asher yang nampak lucu dimatanya.
Bi Darmi datang dengan membawa minuman untuk disuguhkan.
"Ini minumannya, Tuan, non Adine, silahkan diminum," ucap bi Darmi.
"Iya, Bi. terima kasih," ucap Adine tersenyum.
"Makasih, bi," ucap Asher.
Setelah menyuguhkan minuman, bi Darmi kembali ke dapur.
Mereka meminum minuman yang sudah disuguhkan itu.
"Bun, besok Asher titip Aldin ya," ucapnya.
"Iya boleh, emang kamu mau kemana?" sahut bunda Andini bertanya.
Adine menatap sang suami dengan heran," loh, mas. memangnya kita mau kemana? kenapa Aldin harus dititipin ke bunda?"
Pria itu tidak menjawab pertanyaan sang istri.
"Bunda, gak papa kan besok Aldin sama bunda?" tanya Asher memastikan bahwa ibu mertuanya itu mau menjaga cucunya.
"Kamu ini kayak sama siapa aja, Aldin kan cucu bunda, ya gak papa dong. besok biar Aldin sama bunda, kalian pasti butuh waktu berdua," jawab bunda Andini tersenyum.
Wanita paruh baya itu mengerti keinginan sang menantu. ia tahu, Asher pasti menginginkan waktu berduanya dengan sang istri.
Pria itu nampak senang mendengar jawaban bunda Andini.
"Memangnya kita mau kemana sih, mas? kenapa Aldin gak dibawa aja?" tanya Adine semakin penasaran.
Pria itu masih tidak menanggapi pertanyaan Adine, membuat Adine mengerucutkan bibirnya kesal.
Asher melirik jam tangannya,"Bun, Asher ke kantor sekarang aja deh," ucapnya seraya berpamitan.
"yaudah, hati-hati dijalan," seru bunda Andini.
"Siap, Bun."
Pria itu mengalihkan pandangannya menatap sang istri.
"Dine, mas berangkat sekarang," ucapnya.
"hm."
Nampaknya Adine sedang merajuk, Asher tersenyum melihatnya.
Ia mengusap rambut Adine sebelum keluar dari rumah.
Melihat Asher yang sudah keluar dari rumah, Adine mendengus kesal.
"Belum dijawab juga, udah pergi aja," gerutunya.
"kayaknya Asher mau ngajak kamu buat bulan madu," Celetuk bunda Andini.
Adine mengernyit,"bulan madu?"gumamnya.
Bunda Andini menggeleng melihat tingkah anak dan menantunya itu.
Wanita paruh baya itu mengambil alih Aldin yang masih berada ditangan Adine.
Bunda Andini akan mengajak sang cucu ketaman belakang.
🍁🍁🍁